Akhir-akhir ini rindu Fajar pada sang pujaan hati kian membesar.
Lajunya sudah tidak terbendung lagi. Bejana hatinya kini sudah tidak
mampu menampung lagi rindunya. Pelan-pelan rindu itu meluap. Bahkan
tidak jarang sebagian tetes itu menyelinap melalui sudut mata Fajar.
Tidak ada yang tahu tentang semua ini. Kecuali hanya Fajar dan Dia yang
bersemayam di atas ‘Arasy.
Untuk menanggulangi hal ini,
mau tidak mau Fajar harus membagikan beban rindunya kepada seseorang.
Sebab katanya, salah satu terapi untuk gejolak jiwa di dalam dada adalah
dengan menceritakannya. Dan, orang yang terpilih itu adalah Akang.
Fajar tahu, Akang adalah orang yang mampu menyimpan sebuah rahasia
dengan sangat rapat. Meskipun terkadang Akang juga bisa menyebalkan.
Tersebab sebuah alasan inilah, saat ini Fajar sedang ada di kamar Akang.
Membersamai Akang yang sedang membaca buku.
Tiga puluh
menit sudah Fajar duduk di samping Akang. Tingkahnya seperti orang yang
kebingungan. Dia tidak tahu hendak memulainya dari mana. Dan Akang dapat
dengan jelas mencium gelagat itu. Tapi Akang tidak ambil pusing. Dia
lanjut konsentrasi membaca buku di tangannya.
Fajar
menoleh pada Akang. Ini adalah tolehan untuk yang kesekian kalinya.
Tidak lama, wajah Fajar kembali menghadap pada buku yang sedang dia
pegang. Hanya dipegang saja, tidak dibaca.
Bulatan hitam
mata Akang melirik ke arah Fajar. Tapi tidak diikut dengan tolehan
kepalanya. Sepertinya Fajar hendak menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang
teramat penting. Tebak Akang di dalam hati. Bulatan hitam mata Akang
kembali pada buku.
Fajar menoleh lagi. Kemudian melihat buku lagi. Dahinya mulai berkeringat. Nafasnya jadi tidak teratur.
“Ada apa, Jar?” Akang membuka pembicaraan. Pertanyaan Akang sedikit meringankan beban hati Fajar.
Fajar menghembuskan nafas panjang. Ia menutup bukunya.
“Mmm, anu Kang,” Fajar terbata.
“Anu apa?” Akang menatap Fajar.
“Begini Kang,” ucap Fajar kembali terhenti.
Akang
menutup bukunya, lalu diletakan pada meja di hadapannya. Kemudian Akang
menyerongkan arah duduknya. Kini Akang menghadap Fajar. “Begini apa?”
Fajar masih tergagap. Ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk membahasakan apa yang ada di dadanya.
Akang masih menunggu Fajar mengeluarkan kata.
“Saya mau jujur, Kang.”
Akang menatap Fajar. Ia tahu masih ada beberapa kata lagi yang akan Fajar keluarkan. Untuk itu Akang hanya diam saja.
“Sebenarnya
saya memang mencintai Dian,” bersama terlantunnya kalimat ini, kedua
mata Fajar menyipit. Mungkin karena malu dengan pengakuan ini.
“Oooh,”
Akang manggut-manggut perlahan. “Ternyata dari tadi seperti orang
linglung itu karena ini,” Akang memandang muka Fajar beberapa saat.
Setelah itu kembali menyerongkan duduknya menghadap meja kecil. Akang
mengambil buku lagi. Kemudian membaca.
Mata Fajar kembali
menyipit. Keningnya melipat. Ia heran dengan tanggapan Akang. Hanya
sebatas itu sajakah tanggapan orang yang Fajar percayai untuk diberikan
sebuah rahasia besar miliknya. Benar-benar jauh dari harapannya. Dikira
Fajar, Akang akan mengeluarkan kalimat bijaksana dan memberikan solusi
untuk permasalahan hatinya yang satu ini. Jika tahu responnya hanya
seperti ini, Fajar tidak akan membagi rahasia penting ini.
“Saya
sudah tahu,” Akang kembali mengeluarkan kata. Namun pandangnya tetap
pada buku. “Tanpa dibicarakanpun saya sudah tahu tentang hal ini. Dan
saya juga tahu, salah satu yang menyebabkan Fajar mengucapkan pengakuan
ini adalah karena pengakuan saya kemarin lusa yang mengatakan bahwa saya
suka Teh Anita. Jadi Fajar ikut-ikutan saya. Iya kan?” Akang menoleh ke
Fajar. Lalu berpaling lagi. Sekuat jiwa Akang menahan bibirnya untuk
tidak tersenyum. Ini kesempatan langka, bisik hati Akang. Kapan lagi dia
bisa mengerjai Fajar seperti ini.
Fajar mematung. Kenapa hari ini Akang bisa semenyebalkan ini? Gerutu kalbu Fajar.
“Kalo
memang suka, kenapa gak segera dilamar?” cercos Akang lagi. Kedua
alisnya ia gerak gerakan. Tapi tetap belum ada senyum di bibirnya.
Fajar menarik nafas panjang. Ia bersiap menanggapi pertanyaan tantangan dari Akang. Eit, eit, nyuruh segera melamar lagi. Yang menyuruh apa kabar? Apakah sudah melamar juga?
Ada
sekelebat pikiran yang mencegah Fajar untuk tidak membahasakan geretak
hatinya itu. Penyebabnya adalah pertanyaan titipan Akang kemarin lusa.
Tebakan Fajar, jika kalimat serangan balik ini dikeluarkan, sepertinya
akan percuma saja. Sebab kemungkinan besar Akang akan mengeluarkan kartu
As yang masih dia genggam. Lupa kemarin lusa saya titip pertanyaan apa untuk Teh Anita? Ya, mungkin kalimat itulah yang nanti Akang gunakan sebagai tameng dari serangan balik Fajar.
Pada ujungnya Fajar hanya bisa diam. Dia tidak berkutik.
“Saya
belum siap nikah, Kang,” ucap Fajar lemas. “Tapi, jika tahun depan
mungkn saya sudah siap,” tambah Fajar. Masih tanpa tenaga.
“Mudah-mudahan
masih ada umur ya. Dan, sekiranya masih ada jatah usia. Semoga tidak
ada laki-laki yang mendahului,” Akang menyerang Fajar lagi.
Gusti Allah!
Hari ini Akang benar-benar sangat menyebalkan. Dahi Fajar melipat.
Ingin rasanya Fajar menyerang balik. Namun sayang seribu kali sayang.
Pada kesempatan kali ini Fajar tidak memiliki cukup amunisi. Dan pada
akhirnya, Fajar hanya bisa diam. Ia tidak mampu melawan. Fajar sudah
seperti rakyat jelata. Sedangkan Akang adalah rajanya. Sedikit saja
melakukan kesalahan. Maka Fajar akan dihukum pancung.
Tanpa
Fajar sadari, Akang melepas senyumnya. Akang sudah tidak tahan lagi
dalam menahan kedua ujung bibirnya untuk tidak melebar. Kasihan juga
temanku yang butuh bantuan moril ini. Ujar Akang dalam hati. Baiklah,
saya akan coba untuk membantumu. Membantu semampu yang saya bisa.
Akang
menutup buku. Ia bergeser menghadap Fajar. Akang tersenyum. Bersiap
untuk menguatkan hati Fajar. Bersiap memberikan setumpuk tameng untuk
Fajar yang sedang diserang puluhan, bahkan ratusan torpedo kerinduan.
***
Tampilkan postingan dengan label Angin Sore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angin Sore. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Mei 2015
Sabtu, 29 Maret 2014
Nyanyian Hati (19)
Esoknya
adalah hari Minggu. Seperti biasa, beberapa santri melakukan operasi bersih,
yaitu bersih-bersih kobong atau asrama santri. Kali ini, hanya segelintir
santri saja yang ikut gotong royong membereskan kobong santri laki-laki.
Beberapa adalah santri yang tinggal di kobong dan beberapa sisanya santri yang
menginap di rumah masing-masing yang ikut membantu. Untuk pagi ini, Fajar tidak
terlihat diantara para santri itu.
Seusai
operasi bersih kobong, Akang mencuci beberapa potong pakaiannya yang kotor. Tiga
puluh menit bergelut dengan baju dan celana kotor, deterjen serta air, Akang
menggantungkan cuciannya pada tali jemuran di halaman kobong. Jajaran kain
basah itu tertimpa hangatnya sinar matahari pagi. Setetes demi setetes air yang
masih menempel berjatuhan menyapa bumi.
Akang
meluncur kembali ke kamar mandi. Ia hendak mandi. Beberapa santri lain ada yang
masih duduk-duduk istirahat sembari mengobrol bermaksud melepas lelah. Lima
menit berselang, Akang keluar kamar mandi dengan bugar sebab telah diguyur oleh
air segar. Akang melangkah menuju kamarnya. Tidak lupa ia menyapa beberapa
santri yang masih mengobrol di teras kobong. Akang masuk kamarnya. Pintunya ia
tutup rapat. Di dalam, Akang sedang berganti pakaian.
Pintu
kamar Akang terbuka kembali. Tapi hanya sedikit saja. Sekira bisa masuk sinar
dan udara pagi saja. Di dalam, Akang sudah berpakaian rapih. Sajadah telah
tergelar. Akang berdiri di atasnya. Bersiap untuk mendirikan solat sunah dhuha.
Akang
masih berdiri. Rukuk. I’tidal. Turun untuk sujud. Beranjak duduk diantara dua
sujud. Sujud lagi. Kemudian beranjak berdiri lagi. Masuk rakaat kedua.
Dari luar,
ada seseorang yang membuka pintu kamar Akang perlahan. Dia adalah Fajar.
Mendapati Akang sedang solat, Fajar masuk pelan-pelan. Lalu duduk pada karpet,
sekitar satu meter di samping Akang. Fajar duduk sila, tidak sabar menunggu
Akang meneyelesaikan solatnya. Ia hendak memberikan kabar tentang hari kemarin.
Tentang sebuah tulisan pada sebuah halaman buku yang ditulis Anita.
Akang
berucap salam. Kepalanya menoleh ke kanan. Lalu salam lagi. Kali ini menoleh ke
kiri.
“Kang,”
ucap Fajar semangat. Ia tidak memberi jeda bagi Akang untuk sebentar berdzikir.
Akang
menoleh. “Iya, Jar?”
“Ada kabar
baik untuk Akang.”
“Kabar
baik?” kedua mata Akang menyipit. Pertanda sedang menerka apa maksud ucapan
Fajar.
“Iya,”
Fajar mengangguk tegas. “Tentang Teh Anita.”
Kening
Akang melipat. Ada segurat senyuman di bibirnya. Akang diam. Ia hanya menatap
Fajar. Senyumnya belum hilang dari ujung bibir.
Akang
masih menatap Fajar. Senyumya masih tampak.
Akang
beranjak dari duduknya. Ia melipat sajadah. Lalu diletakan di atas bantal.
Akang melangkah pada pintu. Ia menutupnya rapat-rapat. Akang kembali
menghampiri Fajar. Mengambil posisi duduk tepat di hadapan keponakannya ustad
Ipun itu. Akang bersiap untuk menerima kabar lebih lengkapnya dari kawan
santrinya itu.
Kedua
orang santri itu mulai berbincang. Fajar mulai bercerita. Bercerita tentang
hari kemarin. Akang memasang wajah serius menatap wajah Fajar. Mendengarkan
dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki di hadapannya.
Fajar
terus bercerita. Hati Akang membuncah. Luapan kebahagiaannya itu tergambar dari
senyumnya yang mengembang. Terlebih saat Fajar menceritakan kronologis ketika
Anita hanya berani memberi jawabannya melalui coretan. Kemudian melangkah masuk
kamar. Meninggalkan sang adik sepupu seorang diri.
Belum
lepas senyum di bibir Akang. Sebuah senyum penanda kebahagiaan jiwa.
Fajar
berhenti berucap. Sang informan itu kini hanya menatap seraut wajah cerah di
hadapannya.
Pada
kubangan kebahagiaan yang sedang dirasakan hatinya, Akang masih berusaha untuk
tetap berpikir setenang mungkin. Ketenangan itu keluar dari sebuah mata air
ketauhidan. Pada takdir Allah. Pada suratan tentang jodoh dariNya. Sebab jodoh
adalah rahasia Illahi. Setiap kemungkinan masih memiliki peluang yang sama
besarnya. Begitu pula tentang Akang dan Anita. Akang memang bahagia, tapi dia
tidak ingin berlebihan. Sebab boleh jadi kehendak Allah akan berbeda. Namun,
harapan di hati Akang tidak pernah berhenti menyanyikan tentang keinginannya.
Keinginan untuk bersanding dengan gadisnya ustad Ipun.
***
Pada
sepertiga malam yang tenang. Langitnya cerah. Bulan baru, melengkung bak
belahan kecil buah melon. Kerlipan bintang bertaburan serupa serpihan emas yang
tersorot matahari. Titik-titik kilau cahaya itu seperti berebut ingin
menonjolkan keindahan mereka.
Udara dini
hari ini masih perawan. Tiupan angin kecil menyapa dedaunan. Mereka melambai
membalas sapaan sang angin dini hari.
Di dalam
kamarnya, Akang sedang bersimpuh di atas sebuah sajadah. Akang membisikan kembali
nyanyian hatinya. Sebuah nyanyian yang dipersembahkan untuk Sang penggenggam
hati. Dipersembahkan untuk Sang Penguasa jagat raya. Raja dari segala raja.
Akang
bermunajat. Ia meminta agar takdirNya seiring sejalan dengan harapan sang hati.
Akang meminta lagi. Lagi. Dan lagi. Hanya kepada Allah Akang berharap. Hanya
kepada Dia Akang memohon permintaan. Sebab sesuatu apapun itu, tidak akan pernah
terjadi jika tanpa seizinNya. Pun sebaliknya, segala sesuatu pasti akan terjadi
jika atas izinNya. Meski semua makhluk berkumpul mencoba untuk menghentikan
kuasaNya. Tidak akan pernah bisa. Sungguh tidak akan pernah bisa.
Sementara
di tempat lain. Pada sebuah kamar yang tidak begitu jauh dari kobong Akang.
Anita telah lebih dulu menyenandungkan bisik hatinya. Do’anya telah lebih dulu
terbang ke langit ke tujuh.
Saat ini
Anita sedang rebahan di atas tempat tidurnya. Ia rebahan untuk menunggu waktu
subuh. Meski raganya diam. Tapi sang hati tidak pernah berhenti bernyanyi.
Bernyanyi tentang keinginannya. Nyanyian hati itu meluncur ke langit.
Berkejaran dengan nyanyian yang dilantunkan oleh hati Akang. Dua buah nyanyian
itu melesat di antara bintang-bintang.
***
Jumat, 28 Maret 2014
Pertanyaan Titipan (18)
Terkadang, ada beberapa waktu dimana pengajian
malam berakhir lebih lambat dari biasanya. Jika ustad sedang semangat dalam
menjelaskan materi pengajian, atau saat materi yang diberikan merupakan perkara
yang sangat penting untuk diketahui. Seperti malam ini. Saat para santri sedang
mendapatkan pengajian akidah.
Beberapa santri masih tidak bergeming dari
duduknya. Mereka tampak masih antusias dalam menikmati hidangan pengajian.
Namun ada beberapa santri lain yang duduknya sudah bergoyang-goyang. Mereka
ingin segera melepas pantatnya dari lantai majelis dan ingin segera merebahkan
tubuhnya di tempat tidur. Seperti Fajar. Dia merasakan kelopak matanya yang
perlahan terasa berat. Dan bertambah berat seiring jarum detik jam dinding
majelis yang terus berputar.
Betapa sumringahnya Fajar ketika ustad Ipun
menutup pengajian. Selepas merapihkan majelis, Fajar berjalan menguntit Akang.
Dia hendak bermalam di kamar sahabatnya yang dua tahun lebih tua dari dirinya
itu.
“Kang...,” gumam Fajar pelan.
“Iya,” jawab Akang masih tetap berjalan di
depan sang penanya.
“Malam ini saya nginep di kamar Akang lagi
ya.”
“Hmm,” Akang mengiyakan. Kedua santri itu
melanjutkan langkah menuju kobong santri laki-laki.
Setibanya di kamar, Fajar langsung merebahkan
tubuhnya di karpet yang sudah tergelar. Dia tidak sempat untuk membuka sarung
dan baju kokonya. Bahkan pecinya pun masih menempel di kepala. Kantuk adalah
penyebab utamanya.
Akang menggeleng melihat tingkah Fajar.
Akang melepas peci dan baju koko. Lalu ia
cantelkan pada gantungan baju di balik pintu. Kemudian Akang duduk di samping
Fajar. Ia menempelkan punggungnya pada dinding. Akang menarik nafas panjang.
Lalu dikeluarkan. Akang menarik nafas lagi. Lalu dikeluarkan lagi. Perlahan
raga Akang rileks kembali.
Akang menoleh pada Fajar. Ditatapnya kedua mata
santri yang sedang tepar di sampingnya. Mata itu setengah terpejam. Akang
tersenyum menatap pemandangan itu.
“Jar,” panggil Akang.
Fajar menggeliat sedikit. “Hmm...”
“Usia Fajar berapa?”
Fajar menggeliat lagi. Malam-malam begini.
Tidak ada angin juga tidak ada hujan, malah tanya usia. Protes Fajar dalam
hati.
Fajar membuka matanya perlahan. Ia beranjak
duduk. Pandangannya menerawang pada dinding di hadapannya. Sepertinya dia
sedang mencoba menghitung biji usianya.
“Dua puluh satu,” Fajar menoleh pada Akang.
Lalu berpaling lagi.
Akang manggut-manggut mendengar jawaban Fajar.
“Kapan menikah?”
Cepat sekali Fajar kembali menoleh pada Akang.
“Menikah?!” tanyanya heran. Mungkin heran dengan bunyi pertanyaan dari Akang.
“Iya.”
“Akang aja yang usianya sudah dua puluh empat
belum menikah, apalagi saya yang masih dua puluh satu.”
“Dua puluh tiga,” Akang meralat pernyataan
Fajar.
“Iya. Tapi tetap saja lebih tua dari saya.”
Fajar mengakhiri kalimatnya dengan sebuah cengiran. Jumlah usia Akang yang
lebih banyak mungkin penyebab cengiran itu. Akang ikut tersenyum juga. Meski
hanya sedikit.
Akang memalingkan matanya dari wajah Fajar. Ia
menatap dinding kembali.
Beberapa detik, kedua pemuda itu tidak
bersuara. Akang masih menerawang seperti sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa detik berikutnya kembali terlewat
begitu saja.
Akang melirik Fajar.
“Jar,” panggil Akang lirih.
“Iya,” Fajar menoleh pada sumber suara.
“Saya boleh tanya?”
“Gak boleh.”
Akang bersiap untuk bertanya. Sebab dia tahu
bahwa jawaban Fajar barusan hanyalah canda semata.
“Jar.”
“Iya.”
“Teh,” Akang berhenti. “Teh Anita sudah ada
yang melamar?”
“Eh!” mata Fajar membulat tersebab pertanyaan
Akang. Kedua ujung bibirnya melebar. “Apa Kang?!” Fajar malah kembali bertanya.
Bertanya untuk meyakinkan bahwa telinganya tidak salah dengar.
“Apa Kang?!” Fajar bertanya lagi. Senyumnya
bertambah lebar. Ada bau-bau ledekan dari bentuk senyum itu.
Akang merasakan ledekan Fajar. Ia tidak
tinggal diam begitu saja.
“Neng Dian adiknya Sabil yang imut itu sudah
ada yang melamar belum kira-kira ya? Jika belum, saya hendak melamar gadis imut
itu,” Akang menutup ledekannya dengan sebuah senyum yang tidak kalah kerennya
dengan senyuman Fajar.
Seketika itu juga senyum Fajar hilang. Kini
wajahnya menekuk ke bawah.
“Gimana Jar? Fajar tahu gak? Saya berharap sih
neng Dian belum ada yang melamar. Biar besok saya langsung bisa melamarnya.”
Akang tersenyum lagi.
Fajar berpaling dari Akang. Ia melempar
pandangnya pada dinding. Wajahnya masih menekuk. Meski ia tahu Akang hanya
bercanda.
Fajar diam.
“Setahu saya Teh Anita belum ada yang melamar,
Kang.” Setelah diserang balik, akhirnya Fajar menjawab juga pertanyaan utama
Akang.
Akang belum memberi respon atas jawaban Fajar.
Ia masih diam. Diam memikirkan sesuatu.
“Jar.”
“Iya.”
“Saya boleh meminta tolong?” pinta Akang.
“Tentang apa?”
Akang menatap Fajar. Fajar juga melihat Akang.
Akang sedikit ragu untuk berujar. Fajar siap untuk menampung pinta Akang.
***
Waktu dhuha. Langit sedang cerah. Mentari pagi
mulai beranjak. Sinarnya hangat menerpa rumah ustad Ipun.
Hari ini Fajar mengajar agak siang. Untuk itu,
dia menyempatkan untuk mampir ke rumah sang paman, ustad Ipun. Selepas sarapan bareng
sang paman dan sang bibi, Fajar ikut solat dhuha di mushola rumah. Sepuluh
menit setelah itu, Fajar menghampiri teteh sepupunya di ruang tamu. Ia hendak
menjalankan amanah yang semalam telah diberikan kepadanya.
Fajar mendapati Anita sedang membaca buku. Ia
duduk di sofa sebelah sofa yang Anita duduki.
“Lagi ngapain Teh?” Fajar bertanya basa basi.
“Baca,” Anita menoleh sebentar. Tidak lupa dia
memberi seutas senyuman pada sang adik sepupu.
“Oooh,” Fajar mengangguk. Anita kembali
membaca.
“Baca buku apa Teh?” Fajar bertanya lagi.
Anita kembali berhenti membaca. Ia menatap
Fajar lagi. Ia tidak menjawab. Sang Teteh sepupu itu hanya tersenyum saja.
Kemudian menunjukan sampul buku yang ada di tangannya.
Fajar membaca judul buku yang ditunjukan
Anita. “Oooh.” Ia mengangguk.
Anita membaca lagi.
“Teh,” ucap Fajar.
“Iya,” jawab Anita pelan. Suaranya lembut
sekali. Kali ini ia tetap menatap buku.
“Fajar boleh tanya sesuatu pada Teteh?”
“Mangga atuh tanya saja,” Anita masih tidak
berpaling dari buku.
“Teh.”
“Iya,” Anita tetap membaca.
“Teteh udah ada yang melamar belum?”
Anita kaget. Tidak menyangka dengan pertanyaan
yang diberikan adik sepupunya. Ia berhenti membaca. Dahinya melipat.
Anita menutup buku di tangannya. Ia menoleh
pada Fajar.
“Melamar?”
“Iya. Apakah Teteh sudah ada yang melamar?”
Anita tersenyum lembut. “Nanti juga Fajar akan
tahu jika memang sudah waktunya.” Anita masih tersenyum pada Fajar.
Fajar diam. Diam karena belum menemui jawaban
atas pertanyaannya.
Anita membuka bukunya lagi.
“Teh.”
“Iya,” Anita tetap menatap buku.
“Pertanyaan yang tadi adalah pertanyaan
titipan,” Fajar memberi jeda. Anita masih membaca. “Titipan dari seseorang,”
Fajar melanjutkan. “Pertanyaan tadi adalah pertanyaan titipan dari Akang. Akang
meminta tolong Fajar untuk menanyakannya kepada Teteh.”
Anita tersentak. Dadanya seperti ada yang
menghantam.
Anita masih melihat buku, tapi tidak sedang
membaca. Gadis itu memikirkan ucapan Fajar beberapa detik lalu.
Pelan-pelan Anita menyimpan pandangannya pada
Fajar. Kedua sepupuan itu beradu pandang. Tidak ada kata. Hanya bertabrak
pandang saja. Benarkah? Sorot mata Anita bertanya demikian.
Anita kembali melihat buku. Namun tetap, meski
pusat matanya tertuju pada susunan kata, tapi pikirannya masih belum lepas dari
kalimat yang keluar dari mulut sang adik sepupu. Hampir satu menit Anita
seperti itu. Fajar tetap diam. Ia setia menunggu jawab dari sang teteh sepupu.
Anita perlahan menutup buku. Ia tidak menoleh
pada Fajar.
Anita mengambil pulpen yang tergeletak pada
meja tamu di hadapannya. Ia membuka sampul buku. Lalu menuliskan sesuatu di
lembar pertama buku.
Fajar masih diam. Ia hanya memperhatikan apa
yagn dilakukan Anita.
Anita menyelipkan pulpen pada lembar yang ia
coretkan sebuah tulisan. Kemudian ia simpan buku di tanganya pada meja. Anita beranjak.
Ia meleos pergi. Melangkah menuju kamarnya. Anita meninggalkan Fajar. Tanpa
sepatah kata pun. Bahkan walau hanya isyarat sekalipun.
Saat Anita hilang ditelan pintu kamar yang
tertutup, Fajar mengalihkan tatapnya pada buku di atas meja. Ia mengambil buku
itu.
Fajar membuka lembaran yang terselip pulpen.
Pada lembar kosong itu, Fajar menemukan sebuah tulisan tangan yang terbaca “Teteh
belum ada yang khitbah.”.
Fajar sekali lagi membaca coretan itu.
“Teteh belum
ada yang khitbah.”
Bibir Fajar mengembang setelah membaca kalimat
itu. Ia tidak sabar ingin segera mengabari hal ini kepada Akang. Juga tidak
sabar untuk melihat ekspresi seperti apa yang akan Akang tunjukan setelah
mendengar berita ini.
Bibir Fajar masih mengambang. Sementara
disana. Di dalam kamarnya. Anita berdiri menyandarkan tubuhnya pada balik
pintu. Tubuhnya gemetar tersebab berita dari Fajar. Telapak tangan kirinya masih
tetap membekap mulutnya sendiri. Sedangkan tangan kanannya ia simpan di
dadanya. Mencoba meredakan detaknya yang masih bergelora. Anita sendiri tidak
tahu. Apakah bibir di balik telapak tanganya itu sedang tersenyum atau
menangis. Yang jelas, matanya berkaca-kaca.
***
Sabtu, 30 November 2013
Langit Berwarna jingga (17)
Jam kayu besar berdiri kokoh di
dekat mimbar. Bandulnya berayun-ayun. Jarum pendek menunjuk angka tiga. Jarum
panjangnya ada di angka sebelas. Beberapa menit lagi waktu ashar akan tiba.
Fajar dan Sabil duduk terkulai
di dalam mesjid, di dekat jendela. Mereka lelah. Seharian penuh kedua guru
bantu itu mengajar di MA Kepuh. Tenaganya terkuras. Otaknya menguap.
Sabil tampak sedikit lebih segar
dibanding Fajar.
“Gak kerasa, Jar ya.”
“Apa?” Fajar menoleh malas pada
Sabil.
“Perasaan baru kemarin lusa saya
pindah ke sini. Juga seperti kemarin kita masuk kuliah. Eh, sekarang sudah mau
lulus lagi,” jelas Sabil dengan pandangan menerawang ke mihrab imam.
Fajar menatap Sabil. Lalu ikut
menerawang seperti Sabil. Tapi yang ditatap bukan mihrab, melainkan jam kayu
besar. “Iya, ya. Waktu terasa cepat berlalu.”
“Dua bulan lagi kita sudah mau
wisuda. Setelah itu fokus ngajar. Kemudian nabung. Lalu nikah deh,”
Sabilmelirik Fajar. Lalu kembali menerawang pada mihrab. Ia tersenyum sendiri.
Mendengar kata menikah, rasa
lelah Fajar sedikit berkurang. Terlebih kata itu keluarnya dari Sabil. Sahabat
sekaligus sang kakak dari Dian.
“Kamu ingin punya istri yang
seperti apa, Jar?” tanya Sabil dengan tidak menatap wajah orang yang ditanya.
Dia masih terbuai dengan imajinasi pikirannya sendiri.
Fajar menoleh cepat pada Sabil.
“Istri?!” Ada nada kikuk dari
pertanyaan pendek Fajar.
“Iya,” ucap Sabil tenang saja.
“Mmm..., ya standar lah. Sama
seperti keinginan laki-laki pada umumnya.”
“Standarnya seperti apa itu?”
“Solehah. Pintar. Cantik.
Pokoknya sebangsa itu lah.”
“Mmhh,” Sabil manggut-manggut.
“Kalau kamu, Bil?” Fajar
bertanya balik. Ia lebih menegakan posisi duduknya.
“Sepertinya begitu juga. Sama
dengan yang tadi kamu sebutkan.”
Bandul jam kayu besar masih
terus berayun. Jarum panjang tepat menunjuk angka dua belas. Bersamaan dengan
itu, berdentang seperti bunyi lonceng tiga kali dari jam itu. Tinggal hitungan
menit, ashar akan segera tiba.
“Oya, kalau untuk adik ipar
nanti, kamu inginnya seperti apa, Jar?”
“Adik ipar? Suami untuk adik
saya, Rani, maksudnya?”
“Iya.”
Fajar berpikir sebentar.
“Apa ya?” Fajar menerawang
menatap langit-langit mesjid. “Pada intinya saya berharap laki-laki itu baik
dan bisa membimbing Rani ke arah yang lebih baik lagi. Mungkin itu.”
Sabil manggut-manggut. Dan
kembali menerawang ke arah mihrab imam.
Fajar melirik Sabil. Dia melirik
dengan diam-diam. Ingin sekali ia bertanya balik soal kriteria adik ipar yang
diingikan oleh Sabil. Tapi apa mau dikata. Nyalinya lenyap entah kemana. Fajar
tidak berani. Atau mungkin belum berani.
“Jar,” panggil Sabil membuyarkan
lamunan Fajar yang sedang memupuk keberanian untuk bertanya.
“Iya,” Fajar kikuk. Sepanjang
sejarah hidupnya, baru kali ini Fajar grogi saat berbincang dengan Sabil.
“Kalau untuk bayangan wanita
yang nanti akan di lamar, apakah sudah ada?”
“Hah?” Fajar kaget tersebab
pertanyaan Sabil. “Bayangan?”
“Iya.”
“Mmm...,” Fajar diam sebentar. “InsyaAllah sudah ada.”
“Kalau kamu, Bil?” Fajar bertanya
balik untuk menyembunyikan sikap kikuknya.
Sabil tersenyum mendengar
pertanyaan Fajar. Sabil memang seperti yang sedang menunggu kedatangan
pertanyaan itu.
“InsyaAllah sudah.”
Hening. Fajar diam karena
canggung dengan isi perbincangan ini. Sementara Sabil lebih karena sibuk dengan
pikiran di dalam kepalanya.
“Saya do’ain atuh nanti bisa
mendapatkan bidadari impian itu ya,” Fajar mendo’akan Sabil. Ia mengakhiri
do’anya dengan tawa kecil.
Sabil menggumamkan kata
“Aamiin”. Wajahnya bertambah cerah.
“Saya do’ain juga. Semoga kamu
bisa mendapatkan seorang wanita yang jauh lebih baik dari bayanganmu,” Sabil
menatap sahabatnya. “Kamu laki-laki baik, Jar. InsyaAllah akan mendapatkan wanita yang super baik pula.”
Fajar tersenyum. Isi kepalanya
dipenuhi oleh bayangan wajah Dian.
“Aamiin Yaa Allah,” Ucap Fajar
penuh harap.
Sabil menoleh pada jam. Ia
berdiri. “Hayu, Jar. Siap-siap!” Sabil melangkah menuju stand mikrofon di dekat mimbar. Bersiap untuk mengumandangkan adzan
ashar.
Fajar melangkah keluar. Ia
hendak mengambil wudhu. Sebab saat baru tiba tadi, ia tidak langsung mengambil
air wudhu bersama Sabil.
***
Vespa warna kuning melaju dengan
kecepatan sedang di jalan raya susur pantai Anyer. Helm nyentrik khas anak muda
membekap melindungi kepala Akang. Sarung tangan hitam yang membungkus kedua
tangan Akang mencengkeram kedua ujung kemudi. Jaket kulit membungkus tubuh
Akang. Tali tas cangklong membelit pundak sang bapak guru muda itu.
Hampir sepanjang perjalanan,
pikiran Akang hanya tertuju pada sebuah kata yang akhir-akhir ini seperti
menghantuinya. Adalah “Menikah”. Tidak di pondok, tidak di sekolah, tidak di
kampung, topik yang satu ini selalu menjadi bahan perbincangannya dengan para
lawan biara. Di pondok ada Fajar. Di kampung ada para kawan satu angkatan
semasa SD dulu yang telah menyempurnakan separuh agama mereka. Bahkan, ada di
antara mereka yang sudah memiliki anak. Dan tentunya juga di sekolah. Di tempat
Akang mengabdi itu, ada satu sosok guru yang sering kali mencandai Akang
perihalpernikahan. Seperti hari ini. Sesaat sebelum kepulangan Akang. Beliau
adalah guru pelajaran agama islam. Namanya Bapak Barta.
“Pulang, Pak?” sapa Akang pada
Pak Barat yang sudah duduk di jok motor bebeknya.
Pak Barta sedang melihat
hapenya. Lalu melirik pada sang penyapa.
“Eh, Pak Akang. Iya, ini baru
mau pulang. Pak Akang pulang juga?” Pak Barta melihat layar hape lagi.
“Iya, Pak,” Akang menaiki vespa
kuningnya. “Serius amat baca SMSnya, Pak.”
“Oh iya dong. Soalnya isi SMS ini
spesial dari sang bidadari Bapak di rumah,” Pak Barta menunjukan layar hapenya
pada Akang. Tapi hanya sebentar. Sepertinya sang bapak guru senior itu memang
tidak berniat untuk menunjukan isi SMSnya. Melainkan hanya untuk mencandai
Akang saja. Pak Barta tertawa.
“Kapan atuh Pak Akang segera
menikah? Apalagi coba yang ditunggu? Ngajar sudah. Usia mencukupi,” Pak Barta
memanas-manasi Akang. Ini adalah bukan untuk yang pertama kali. Jika dihitung,
entah untuk yang keberapa kali. Tidak terhitung.
Jika pembulian seperti ini
sedang terjadi, Akang hanya mampu tersenyum saja. Sesekali mengangguk
mengiyakan ucapan Pak Barta.
“Pak Akang, nih dengarkan,
katanya, jika ada pemuda yang umurnya sudah mencapai usia menikah,” Pak Barta
diam sejenak. Ia seperti sedang berpikir. “Mungkin seusia Pak Akang ini lah
kurang lebih. Belum menikah-menikah juga. Katanya itu mengindikasikan bahwa
pemuda itu tergolong kepada pemuda yang lemah.”
Pak Barta mengantongi hapenya.
Ia melanjutkan kalimatnya. “Ada beberapa indikasi kelemahan,” kata sang guru
pelajaran agama islam itu. “Pertama.” Pak Barta mengacungkan jari telunjuknya.
“Katanya pemuda itu lemah iman. Dia tidak percaya dengan Ke-Maha Kaya-an Allah.
Biasanya alasan mereka itu kan selalu menyoal materi.”
“Kedua.” Pak Barta mengacungkan
dua jarinya. Telunjuk dan jari tengah. “Katanya pemuda itu lemah mental.
Keberaniannya lembek seperti bubur. Alasannya belum siap-lah atau apa-lah.”
“Ketiga.” Pak Barta
memberdirikan jari manisnya untuk menemani telunjuk dan jari tengah. “Mereka
lemah komunikasi. Komunikasi dengan siapa? Tentunya dengan orang tua. Mereka
berdalih belum ada restu dari orang tua. Padahal mencoba meminta izin saja
sebenarnya belum pernah.”
“Terakhir.” Jari kelingking
sekarang ikut berdiri. “Ini yang paling menyeramkan,” Pak Barta sedikit
mencondongkan wajahnya kedepan. “Adalah lemah syahwat!” pak Bara tertawa
renyah. Entah memang ada yang lucu, atau sekedar untuk mengejek Akang.
Akang nyengir.
“Tuh, silahkan direnungkan di
rumah. Kira-kira, Pak Akang masuk kategori lemah yang mana,” Pak Barta
melanjutkan tawanya.
Pak Barta memperbaiki posisi
duduknya pada jok motor. Ia bersiap untuk menyalakan mesin tunggangannya.
Pak Barta memencet tombol
starter. Mesin motor menyala.
“Pak Akang. Sekiranya Bapak
menunggu benar-benar sudah siap, maka sampai kapanpun Pak Akang tidak akan
pernah menikah. Sama dengan saya juga. Seandainya dulu saya menikah menunggu
untuk siap seratus persen dulu, maka hingga detik ini saya tidak akan pernah
menikah,” Pak Barta menginjak gigi satu.
“Pak Akang. Nomer satunya ada
niatan saja dulu. Kemudian yakinkan pada diri. Setelah itu, dengan sendirinya
kesiapan juga akan mengikuti,” Pak Barta memberi senyum perpisahan. “Saya
duluan ya. Sudah tidak sabar nih untuk melihat bidadari di rumah,” Pak Barta menutup
dengan sebuah tawa.
Motor Pak Barta melaju pelan ke
luar gerbang sekolah. Mata Akang mengikuti kepergian sang guru yang kenyang
dengan pengalaman itu. Setelah itu Akang diam. Diam mencoba untuk merenungkan
setiap kalimat yang keluar dari mulut bertuah Pak Barta.
Sepanjang perjalanan Akang masih
memikirkan obrolan dengan Pak Barta itu.
Vespa masih melaju dengan
kecepatan sedang.
Sebelum perbincangan di tempat
parkir sekolah tadi, sesungguhnya Akang sudah mulai serius untuk memikirkan hal
sakral ini. Dan pasca perbincangan tadi, Akang menjadi lebih yakin untuk
memulai langkah.
Akang kembali teringat dengan
ucapan Pak Barta beberapa waktu lalu.
“Pokoknya bilang saja dulu pada
orang tua. Itung-itung sebagai pemanasan. Nanti, ketika Pak Akang sudah
benar-benar meminta restu untuk yang sebenarnya, maka Bapak dan Ibu tidak kaget
lagi mendengarnya.”
Akang meyakinkan diri.
Sepertinya dia akan mampir dulu ke rumah. Semoga saja nanti akan ada kesempatan
baginya untuk mengutarakan maksud hatinya pada sang bapak dan sang Ibu.
Vespa masih melaju. Akang menarik
gas lebih dalam. Si kuning berlari lebih cepat.
Akang berpikir. Mencoba mencari
kalimat pembuka apa yang akan ia gunakan dalam perbincangannya nanti dengan
orang tua. Dan, di antara itu, muncul bayangan seorang wanita yang tergambar
jelas di kepala Akang. Bayangan seorang wanita yang cantik jelita. Siapa lagi
kalau bukan Anita.
Gas semakin dalam ditarik. Vespa
kuning berlari cepat.
Siang menjelang sore ini, wajah
langit Anyer tampak cerah. Kulitnya
masih biru. Beberapa awan cirro cumullus
menghiasinya. Awan-awan itu berbentuk seperti sisik-sisik ikan. Di titik lain,
ada juga yang menyerupai sekumpulan domba yang dilihat dari atas. Awan-awan itu
putih. Terang bercahaya.
***
Jam setengah enam sore. Kaki
langit perlahan menjingga.
Bapaknya Akang sedang duduk sila
di teras samping rumah. Beliau duduk menghadap langit jingga. Tangannya
memegang sebuah buku tebal yang sedang ia baca. Sebuah kaca mata membantu sang
Bapak yang sebagian rambutnya sudah tumbuh uban itu dalam memperjelas susunan
kata yang dibaca. Teduh sekali wajah Bapaknya Akang sore ini. Berbeda dengan
wajah Akang yang sedang duduk beberapa jarak di belakang sang Bapak.
Sore ini Akang sudah mengenakan
sarung. Tapi pakaian atasnya masih kaos. Tidak berbeda dengan sang Bapak. Akang
juga memegang sebuah buku. Hanya saja, buku itu bukan untuk Akang baca.
Melainkan hanya sebuah kamuflase untuk tujuan Akang yang sebenarnya. Apa itu? Adalah
mengobrol soal masa depan yang sudah sedari siang mengiang-ngiang di kepalanya.
Namun sayang seribu kali sayang. Setengah jam sudah terlewat, belum juga Akang
berani menyuarakan maksudnya pada sang Bapak.
Akang mulai kesal. Kesal pada
dirinya sendiri. Kenapa dia tidak mampu? Apakah memang benar apa yang telah
dikatakan oleh Pak Barta tadi siang. Bahwa dirinya telah mengidap sebuah
kelemahan di antara beberapa kelemahan mengapa dirinya tidak kunjung juga
menikah. Boleh jadi dia mengidap penyakit lemah komunikasi? Atau lemah mental?
Dan tidak menutup kemungkinan juga mengidap penyakit lemah iman?Ah!
Yaa Allah.mohon berilah kemudahan. Lirih Akang dalam hati.
“A,” sang Bapak memanggil anak
laki-laki sulungnya.
“Iya, Pak,” jawab Akang lemas.
“Kapan Aa mau menikah?”
Akang melotot. Ia tidak percaya.
Secepat inikah Allah mengabulkan do’a yang barusan ia panjatkan.
Separuh tubuh matahari sudah
tenggelam di garis horison. Kaki langit barat berwarna jingga.
Angin sore bertiup lembut. Dan
Akang pun tersenyum.
***
Langganan:
Postingan (Atom)



