Tampilkan postingan dengan label Catatan Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Guru. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 Januari 2018
Botol Mimpi
NGIIIK NGIIIK NGIIIK
Suara spidol yang bergesekan dengan papan tulis.
TUKKK
Dentuman suara hasil tekanan spidol yang membuat titik pada akhir huruf yang saya tulis. White board yang tadi mulus. Kini sudah ada beberapa tulisan huruf, angka, dan gambar.
BAYU DWI NUR WICAKSONO
MUHAMMAD ALAWI ABDURROHIM
NCP
Di bawah tiga baris nama itu ada gambar sebuah pohon rindang. Lalu tepat di samping pohon ada angka yang dikurung sebuah garis kotak.
8-3
"Apa itu Stadz?" Tanya seorang santri.
"Siapa itu Stadz?" Tanya santri yang lain.
Saya tidak menjawab. Hanya memberi senyum saja.
"Apaan itu Stadz?" Tanya santri yang lain lagi.
"Dulu," ucap saya pendek. Lalu diam lagi. Para santri serius melihat saya.
"Dulu. Saya pernah seperti teman-teman sekarang. Saya nyantri. Belajar di pesantren. Tidur bareng dengan banyak orang dalam satu kamar."
Beberapa santri merapatkan badannya ke meja. Menyimpan tangan di atas meja. Guna menopang tubuhnya yang condong ke depan.
"Saat itu menjelang pesantren usai. Mas Bayu, Alawi, dan saya sepakat untuk mengikat janji. Janji untuk berkumpul pada setiap tahun di suatu tempat yang hanya kami bertiga saja yang tahu."
"Kami tuliskan seratus mimpi pada sebuah kertas. Mas Bayu satu lembar. Alawi satu lembar. Juga saya." Saya goreskan ujung telunjuk kanan saya ke telapak tangan kiri. Menguatkan kalimat yang saya ucapkan.
"Setelah selesai. Kami gulung ketiga kertas itu. Lalu kami masukkan pada sebuah botol. Dan botol itu kami kubur di bawah pohon besar yang ada di sebuah taman di kampus UPI."
"Botol itu kami kubur sore hari. Pada tanggal delapan Maret."
"Semenjak itu. Setiap tanggal delapan pada bulan ketiga. Kami wajib bertemu di bawah pohon tempat terkuburnya botol mimpi-mimpi kami. Pada hari itu kami keluarkan botolnya. Kami keluarkan juga tiga buah kertas di dalam botol. Kami ambil mimpi kami masing-masing. Kemudian kami coret beberapa tulisan mimpi yang sudah kami wujudkan. Terakhir. Kami tambahkan beberapa tulisan mimpi terbaru kami. Lalu botol kembali dikubur pada tempat yang sama."
"Begitu terus setiap tahunnya. Pada tanggal delapan di bulan ketiga. Kami berkumpul untuk mencoret mimpi yang sudah mewujud. Lalu menambahkan mimpi-mimpi baru. Kemudian botol dikubur lagi. Dan akan kembali digali pada tahun berikutnya."
Saya melihat wajah para santri. Semuanya. Tanpa terkecuali. Wajah mereka cerah merona. Senyum melengkung. Mata mereka berkerlip seperti bintang di malam cerah.
"Sekarang," saya memberi jeda. "Mas Bayu sudah menjadi dosen D3 jurusan penerbitan di UI. Alawi menjadi ustadz di Bandung."
"Waaah," gumam para santri lirih.
"Dan saya. Alhamdulillah berhasil mencoret salah satu mimpi terbesar saya. Sekarang saya berdiri di tanah kelahiran saya."
"Saat kuliah. Saya berjanji pada diri. Apapun yang terjadi. Setelah lulus nanti. Saya harus kembali ke daerah. Mengabdi pada tanah kelahiran. Apapun peran saya nanti. Pokoknya saya wajib kembali."
"Mimpi besar itu terwujud. Dan sekarang saya bisa bertemu dengan teman-teman di dalam kelas ini." Saya tutup kalimat saya dengan sebuah senyuman.
"Cieee," lirih santri berjamaah.
"Kemarin saya sudah menghubungi Mas Bayu dan Alawi. Sekedar mengingatkan tentang perjumpaan kami pada angka delapan dan tiga. Yang insyaAllah hanya tinggal hitungan dua bulan saja."
"Kalau lagi pada sibuk gimana itu Stadz?" Celetuk seorang santri.
"Sebisa mungkin kami utamakan harus pada tanggal itu. Tapi jika memang tidak bisa. Kami mundurkan beberapa hari. Kami cari hari Sabtu atau Minggu yang berdekatan dengan tanggal delapan Maret."
"Oooh."
"Dan sekarang!" Saya memberikan penekanan pada ucapan saya. "Adalah waktunya untuk teman-teman!"
Saya melangkah ke dekat meja guru.
"Saya akan bagikan sebuah kertas pada semuanya. Silahkan tuliskan semua mimpi yang teman-teman miliki. Semakin banyak semakin bagus. Jika sudah selesai. Kumpulkan kertasnya ke saya. Nanti saya akan cari botol untuk tempat menyimpan kertas mimpi teman-teman. Kemudian kita cari sebuah tempat di NF yang sekiranya tidak akan berubah hingga tahun-tahun yang akan datang. Kita tanam botol mimpi teman-teman di sana."
"Oke!"
"Sekarang tanggal berapa?" Saya bertanya.
"Tiga belas Januari." Jawab beberapa santri serempak.
"Nanti. Tahun depan. Atau tahun-tahun berikutnya. Entah itu tiga tahun. Lima tahun. Atau sepuluh tahun kedepan. Siapapun diantara teman-teman yang ingin melihat, mencoret, atau menambahkan mimpi. Harus pada tanggal yang sama dengan sekarang. Botol mimpi boleh digali hanya pada tanggal tiga belas bulan kesatu saja. Hanya pada tanggal itu!"
"Teman-teman banyak orang. Akan sangat sulit bagi teman-teman bisa berkumpul pada hari itu. Ingat! Peraturannya hanya satu saja. Siapapun yang kelak merindukan botol mimpi. Silahkan datang ke tempat rahasia teman-teman pada angka tiga belas dan satu. Silahkan gali. Lihat. Coret. Dan tambahkan lagi mimpi. Kemudian harus dikubur lagi. Wajib!"
"Sepakat?!"
"Sepakaaat!"
"Untuk teman-teman kita yang masih di Jordan. InsyaAllah mimpi-mimpi mereka akan menyusul masuk botol pada tahun depan."
"Stadz. Sebentar lagi bulan Maret. Ustadz akan ke Bandung lagi dong?"
"Ya."
"Gimana kalo bentrok dengan ngajar?"
"Saya akan izin. Jika tidak diberi izin. Seperti apa yang saya katakan tadi. Akan kami mundurkan pada hari Minggu setelah tanggal tiga."
"Ya yaaa." Santri yang tadi bertanya manggut-manggut.
"Sepertinya pertemuan tahun ini akan sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya."
"Kenapa Stadz?"
"Karena Mas Bayu dan Alawi sudah ada gandengan. Istri-istri mereka mungkin akan diajak. Hehe."
"Jiaaaaaaah. Jomblo. Nasib nasib. Haha."
"Hahahahahha!" Santri lain ikut terbahak.
Terkadang. Pada momen-momen tertentu. Anak-anak saya berubah menjadi anak yang menyebalkan. Seperti hari ini. Ah sialan! Hahaha.
***
Tutup Telinga
TRING!
Hape berdering. Sebuah pesan whatsapp masuk. Langsung saya buka.
(Pak Niko tulisan yang dipost di grup menarik. Boleh saya muat di web Nurul Fikri ya).
Begitulah kira-kira isi pesannya. Dari Ibu Fifi. Amanah beliau di bagian sekretariat umum (sekum).
(Mangga Bu. Semoga bermanfaat bagi yang membaca. Semoga semakin banyak yang akan mendoakan mimpi para santri yang ada di foto itu).
Sehari sebelum pesan ibu Fifi masuk. Saya membagikan catatan harian guru di grup whatsapp guru dan pegawai Nurul Fikri. Judul tulisannya adalah Mimpi. Isinya adalah tentang mimpi-mimpi para santri yang tertulis pada sebuah kertas. Kemudian difoto untuk diabadikan.
(Pak Niko, kualitas foto yang dibagikan kurang bagus. Mungkin karena kamera hape kali ya. Jika bisa nanti foto ulang saja ya. Nanti dari bagian sekum yang akan ambil fotonya. Pak Niko tolong kondisikan anak-anaknya ya).
Ibu Fifi kembali mengirim pesan. Berselang beberapa jam dari pesan pertama.
(Baik Bu).
Langsung saya sampaikan berita baik ini kepada anak-anak X IPS 1.
"Ada kabar baik untuk teman-teman," ujar saya di depan kelas. Wajah anak-anak tak sabar menunggu sang kabar.
"Foto tentang mimpi-mimpi kita. Saya tuliskan dan bagikan di grup guru dan pegawai NF. Dan, pihak sekum minta tulisan itu untuk dimuat di web NF." Sampai kalimat ini saya berhenti dulu. Senyum merona bermunculan di bibir para santri.
"Tapi. Karena kualitas fotonya kurang bagus. Jadi kita diminta untuk foto ulang. Pake kamera Bagus. Nanti dari sekum yang akan fotonya."
"Yeeeeey!" Anak-anak bersorak. Mungkin kegirangan.
"Semoga dengan dimuatnya foto teman-teman di web NF nanti. Akan ada lebih banyak lagi orang yang melihat. Kemudian akan lebih banyak pula yang mendoakan agar semua mimpi teman-teman bisa terwujud."
"Aamiiiiiiiiiiiin!" Teriak anak-anak berjamaah.
***
Saya dan anak-anak sudah berkumpul di depan gedung SMA tholib. Menunggu untuk difoto ulang. Anak-anak sudah berseragam rapih. Kertas mimpi sudah mereka genggam.
TRING!
Pesan dari ibu Fifi.
(Pak Niko. Dari sekum berhalangan hadir. Nanti yang akan foto adalah Adit kelas dua belas. Saya sudah bilang. Pak Niko dan anak-anak tunggu saja di SMA).
Kami mengobrol sambil menunggu. Beberapa anak mengambil kursi kelas untuk keperluan pemotretan. Saat itu adalah jam istirahat. Jadi banyak santri kelas lain yang memperhatikan kami.
"Mau ngapain ini Stadz?" Tanya seorang santri kelas lain.
"Mau foto kelas."
"Oooh."
Adit tiba. Dia menghampiri saya. Sedikit ngobrol tentang teknis pemotretan.
Adit menyiapkan kamera. Saya mengkondisikan anak-anak untuk berbaris rapih. Lengkap dengan kertas mimpi di genggaman tangan masing-masing. Tidak sedikit santri lain yang melihat dan memperhatikan kami.
"Oke. Semuanya lihat kamera." Titah Adit.
"Ciiiirrsss!" Saya bilang. Anak-anak mengikuti.
CKREKKK!
"Itu kamu mau jadi juragan. Juragan apaan? Haha." Ucap seorang santri yang melihat kami. Telunjuknya mengarah pada salah-satu tulisan anak. Reflek saya memandang pada wajah anak yang ditunjuk. Dia hanya tersenyum dingin. Ingatan saya langsung melesat pada sebuah kenangan beberapa tahun silam. Ketika tidak sedikit orang yang meragukan mimpi-mimpi yang saya ucapkan.
Saya berprasangka baik jika ucapan santri tadi hanya bercanda. Saya juga tetap berprasangka baik jika anak yang ditunjuk tadi paham bahwa ucapan itu hanya sebuah gurauan. Tapi saya juga tidak harus diam saja. Saya harus berbuat sesuatu untuk anak-anak. Karena boleh jadi. Suatu hari nanti. Entah kapan dan dimana. Anak-anak akan menemui ucapan-ucapan yang benar-benar akan menyerang mimpi mereka. Meremehkan keinginan mereka. Meragukan mereka untuk bisa mewujudkan cita-cita mereka.
Saya sudah tak sabar untuk segera menemukan momen yang pas guna membagikan sebuah kisah sederhana yang dulu telah mampu membantu saya bertahan dalam keyakinan saya. Membantu saya tetap percaya akan terwujudnya cita-cita. Tidak peduli berapa banyak orang yang meragukan. Bahkan menertawakan. Sebuah kisah yang saya dapatkan dari seorang teman yang saat ini telah banyak merengkuh mimpi-mimpinya. Seorang kawan yang telah dua atau tiga langkah melaju di depan saya. Saya sudah tidak sabar ingin menceritakan kembali kisah kecil ini kepada anak-anak. Tak sabar.
***
"Assalamualaikum," saya ucapkan saat masuk kelas. Dengan langkah masih melaju. Sebagian anak-anak menjawab salam. Sisanya masih asik berbincang.
Saya simpan tas saya di kursi guru. Lalu mengambil spidol di atas meja. Tanpa bersuara saya menghampiri papan tulis. Pelan-pelan saya menggambar sebuah menara tinggi. Perlahan obrolan anak-anak meredup. Mungkin mereka penasaran dengan apa yang akan saya lakukan. Kemudian saya menggambar sebuah katak kecil di bawah menara.
"Oooh. Saya tahu," lirih seorang anak di belakang.
Saya berbalik badan. Menghadap anak-anak. "Ada yang tahu kenapa saya menggambar in?" Saya menunjuk papan tulis.
"Cerita katak yang lomba memanjat menara, Stadz," ujar seorang anak.
"Iya Stadz. Itu cerita katak yang lomba panjat menara," ujar anak yang lainnya.
"Eh. Teman-teman sudah tahu cerita ini?"
"Sudah Stadz," ucap beberapa anak berbarengan.
"Tadinya saya akan bercerita tentang kisah katak kecil ini. Tapi karena sebagian teman-teman sudah tahu. Mmm..." Saya menyisir anak-anak. "Coba acungkan tangan yang sudah tahu!"
Empat puluh persen dari anak-anak mengacungkan tangan mereka.
"Oke. Adakah yang berani ke depan untuk menceritakan kisah ini?"
Sebagian dari yang tadi mengangkat tangan kini menurunkan tangannya.
"Saya Stadz." Pinta seorang anak.
"Saya stadz!" Pinta anak yang lain. Dia mengangkat tangan lebih tinggi lagi. Faqih namanya.
"Oke. Faqih maju," saya menunjuk Faqih.
Faqih beranjak. Ia melangkah ke depan. Siap untuk bercerita.
***
# Suatu hari, berkumpul sejumlah katak kecil di sebuah lapangan luas yang di tengahnya berdiri sebuah menara yang sangat tinggi. Mereka sedang melakukan pemanasan. Sebab sebentar lagi perlombaan menaiki menara akan segera dimulai.
# Terdapat banyak katak besar yang berkumpul di sekitar menara. Mereka bersorak sorai tidak sabar ingin segera melihat perlombaan. Setiap menit, semakin banyak saja katak besar yang berdatangan untuk menonton. Lapangan yang luas itu penuh sesak oleh para penonton itu.
# PRIIIIIITT!!!! Peluit ditiup. Perlombaan dimulai. Para katak kecil mulai berlari menghampiri menara. Beberapa dari mereka sudah mulai menaiki menara super tinggi itu.
# Semakin banyak katak kecil yang sudah menaiki menara. Para penonton berteriak menyaksikan perlombaan. Sebagian besar dari mereka meragukan para katak kecil untuk bisa menaiki menara sampai ke puncaknya. Mereka berteriak lantang, “Menaranya tinggi! Mereka tidak akan mungkin sampai ke puncaknya!”. Kemudian ada juga katak besar yang berteriak seperti ini,” Tidak akan ada yang berhasil! Saya sangat yakin! Menaranya sangat sulit untuk dinaiki!”
# Beberapa katak kecil berhenti memanjat. Mereka menyerah untuk tidak melanjutkan perlombaan.
# “Benar kan?! Kata saya juga apa. Mereka pasti tidak akan berhasil dalam perlombaan ini!” teriak para penonton dengan suara lantang.
# Namun, sebagian katak kecil lain tetap lanjut memanjat. Mereka adalah katak kecil yang memiliki semangat yang cukup tinggi. Perlahan mereka memanjat lagi.
# Para kumpulan penonton mulai bersorak lagi. Kali ini semakin banyak saja katak besar yang meragukan para peserta lomba. Mereka yakin bahwa tidak akan ada satupun katak kecil yang berhasil memanjat sampai ke puncak. “Iya benar! Tidak akan ada yang berhasil! Mustahil mereka bisa sampai ke puncak menara!”
# Semakin lama, semakin banyak saja katak kecil yang berjatuhan. Kini hanya tinggal beberapa katak saja yang tersisa dan tetap menaiki menara.
# “Tuh kan benar?! kata saya juga apa?! Mereka tidak akan berhasil!” teriak para penonton di bawah menara.
# Satu demi satu katak yang tersisa itu mulai berjatuhan. Kini hanya tinggal hitungan jari saja katak kecil yang tersisa.
# “Sudah jangan dipaksakan! Percuma! Kalian tidak akan berhasil!” ucap sekumpulan penonton di sudut lapangan.
# Katak tersisa berjatuhan. Mereka menyerah. Mereka berhenti mengikuti lomba. Tapi, masih ada satu katak kecil yang tetap naik. Dia terus naik, seperti tidak kenal lelah.
# “Tuh lihat. Katak kecil itu tampak kelelahan. Sebentar lagi dia pasti akan jatuh juga!” ujar beberapa penonton. Tapi sayangnya, satu-satunya katak yang tersisa itu tetap memanjat.
# Sang katak kecil terus memanjat. Keringat bercucuran. Nafasnya terengah-engah. Dia mulai merasa lelah, namun tetap memanjat.
# Dan akhirnya, sang katak kecil itu berhasil menuju puncak. Dia bersorak di atas menara. Gembira kerena telah menjuarai perlombaan ini.
# Para katak lain penasaran. Mereka heran dengan keberhasilan si katak kecil. Bagaimana bisa dia melakukan hal aneh ini? bagaimana bisa katak sekecil itu bisa memanjat hingga ke puncak menara super tinggi itu? Mereka bertanya kepada sang katak kecil.” Bagaimana Anda bisa melakukan ini?”
# sang katak kecil itu tidak menjawab. Setelah diselidiki, ternyata sang juara itu tuli. Dia tidak bisa mendengar.
(Inti cerita yang Faqih kisahkan sesuai dengan cerita yang ingin saya berikan pada anak-anak. Untuk keperluan tulisan. Saya sempurnakan cerita Faqih menjadi seperti yang di atas)
***
"Oke bagus! Beri tepuk tangan untuk Faqih!" saya bertepuk tangan. Anak-anak ikut bertepuk tangan.
"Jadi hikmahnya apa, Faqih?" Saya bertanya.
"Menurut saya hikmah dari cerita ini adalah: Kalimat yang tertuju kepada kita itu akan mempengaruhi sikap dan prilaku kita. Untuk itu, kita harus berusaha untuk mendengarkan kalimat yang baik saja. Jangan dengarkan dan segera lupakan setiap kalimat negatif yang bisa meruntuhkan semangat kita dalam berjuang meraih mimpi. Kita harus bersikap tuli terhadap setiap kalimat yang pesimis. Yakinkan pada diri bahwa kita bisa."
"Mantap!" Saya mendekati Faqih. "Oke terima kasih Faqih. Silahkan kembali."
Faqih kembali duduk. Warna wajahnya puas telah membagi cerita.
Saya diam di hadapan anak-anak.
"Jadi. Jika suatu hari nanti ada orang yang meragukan bahkan menertawakan mimpi teman-teman. Maka teman-teman jangan dengarkan semua kalimat itu! Tetap yakin pada diri! Bahwa teman-teman bisa mewujudkan mimpi teman-teman itu! YAKIN!"
Anak-anak tajam menatap saya. Terlebih anak-anak yang baru mendengar kisah katak kecil yang juara lomba panjat menara yang barusan Faqih kisahkan.
Saya melangkah ke meja guru. Bersiap memulai jam wali kelas minggu ini.
Demikian.
***
Kamis, 21 Desember 2017
Semangat Itu Menular
Lantas? Apakah benar semangat itu bisa menular? Jika boleh saya menjawab. Maka jawabannya adalah YA.
Oke. Saya akan bercerita dua buah kisah tentang semangat yang menular ini. Keduanya nyata. Begini.
Kisah pertama. Saya punya seorang teman. Namanya Yoga. Asal Subang,
Jawa Barat. Akan sangat panjang jika kisah kami saya ceritakan semua.
Saya akan berbagi sepenggalnya saja.
Beberapa hari yang lalu. Hape saya berdentang. Ada sebuah WA masuk. Dari Yoga. Begini isinya:
Ko. Kamu sahabat pertama saya yang mengenalkan dan memotivasi saya
tentang sebuah mimpi. Waktu itu saya hanya menulis lima mimpi saja. Saya
lihat tulisan mimpi kamu banyak, Ko. Lebih dari lima. Saya lima saja
mikirnya lama banget. Saking gak punya mimpinya. Saya jadi penasaran
untuk menulis banyak mimpi juga. Saya contek mimpi-mimpi kamu saat itu,
Ko. Bangun tidur. Jam tiga pagi. Saya tulis seratus mimpi yang sama
dengan mimpi yang kamu tulis. Begitu mengalir. Banyak. Dan
Alhamdulillah. Perlahan satu persatu mimpi-mimpi itu tercoret, Ko.
Sampai kemarin. Takdir-Nya saya mencoret mimpi saya lagi. Yaitu mimpi
ingin punya rumah di Bandung. Mungkin ini adalah mimpi yang tidak
terbayang bisa saya wujudkan. Tapi Allah menakdirkan saya mampu
mewujudkannya. Terima kasih kawan. Kamu telah menginspirasi saya dengan
mimpi dan harapan yang selalu kamu sampaikan kepada saya dengan
menggebu-gebu. Jika nanti ke Bandung. Silahkan datang ke saung saya.
Tidak begitu besar memang. Tapi cukup untuk sekedar bercerita tentang
masa lalu kita yang sangat indah. Saya gemetaran menulis ini, Ko.
Sampai-sampai saya keluar air mata. Hayu kejar terus mimpi kita! Yakin
kita akan coret semuanya!
***
Dulu. Saya sering berkata
kepada teman-teman saya. "Jika tidak ingat bahwa saya ini laki-laki.
Mungkin saat ini saya akan menangis". Saya ucapkan jika sedang menemui
momen yang cukup mengharukan. Tapi perlahan saya sadar. Bahwa laki-laki
juga adalah manusia. Dengan berat hati. Saya ingin jujur. Air mata saya
meleleh selepas membaca kalimat demi kalimat yang dikirimkan sahabat
lama saya. Yoga.
Terima kasih, Kawan. Semangat dan kebahagiaanmu
yang telah Kau ceritakan, membuat lentera mimpi-mimpi saya yang mulai
redup kini insyaAllah membara kembali. Sungguh benar. Bahwa semangat itu
menular.
Kisah kedua. Waktu itu saya pernah menulis catatan
harian guru. Judulnya "Mimpi". Tulisan yang bercerita tentang mimpi saya
dan mimpi anak-anak saya di kelas X IPS 1. Tidak lama setelah saya
membagikan tulisan sederhana itu. Seorang santri perempuan (tholibah)
kelas X IPS 2 menodong saya.
"Stadz, saya ingin difoto juga!" Tembaknya.
Kening saya mengkerut. "Foto?"
"Iya, Stadz. Foto yang bareng tolib itu. Yang ada kertas tulisan cita-citanya." Dia menjelaskan.
"Iya. Kami juga ingin difoto seperti mereka Stadz. Supaya cita-cita
kami bisa dilihat dan didoakan banyak orang." Ucap tholibah lain.
"Oh...," saya mulai paham maksud mereka.
Saya duduk di kursi guru. "Oya, teman-teman tahu darimana foto dan tulisan itu?"
"Dari hape ayah saya. Pas saya lihat hape ayah, ada foto ustadz dan
tholib anak-anak Ustadz, hehe." Ujar seorang tholibah putrinya seorang
ustadz di tempat saya mengajar.
"Oh...," Saya manggut. "Oke.
InsyaAllah nanti kita foto ya. Tapi sebelumnya teman-teman harus
tuliskan dulu mimpi teman-teman di kertas. Tulisannya yang besar dan
berwarna."
"Oke Stadz!" Jawab mereka berbarengan.
"Teman-teman sudah punya cita-citanya kan?!"
Sebagian tholibah menjawab sudah. Namun sebagian sisanya hanya menggeleng saja.
"Lho. Katanya mau
foto mimpi. Kok mimpinya belum punya?" Saya tujukan pada yang menggeleng.
foto mimpi. Kok mimpinya belum punya?" Saya tujukan pada yang menggeleng.
"Masih bingung Stadz, hehe."
"Pokoknya saya tidak akan mulai foto jika semuanya belum ada tulisan cita-citanya!"
"Iya deh Stadz. Nanti kita mikir dulu cita-citanya."
Saya beranjak dari kursi. Berdiri di depan kelas. Diam sejenak. Menggaruk kepala belakang. Mencoba berpikir.
"Saya boleh minta dua buah kertas." Pinta saya pada tholibah.
"Buat apa Stadz?" Tanya seorang tholibah.
"Sini minta dulu. Nanti akan saya jelaskan untuk apanya."
Rencananya. Saya akan sampaikan juga simulasi pentingnya memiliki mimpi
yang pernah saya sampaikan pada anak-anak saya (X IPS 1) kepada mereka.
Semoga setelahnya mereka tidak bingung lagi dalam menentukan cita-cita.
Lalu berusaha keras untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Aamiin.
***
"Oke. Semuanya lihat ke kamera dan bilang CIIIRS!" Titah saya.
"CIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRSSSS!!!!"
Hari itu. Saya disadarkan lagi. Bahwa semangat itu memang menular.
Benar-benar bisa menular. Karenanya. Selalu perhatikan dengan siapa kita
berteman. Sayyidina Umar bin Khotob ra pernah berkata. Ceritakan kepada
saya dengan siapa dia berkawan. Maka saya akan tahu orang seperti apa
dia. Wallahualam.
***
Senin, 30 Oktober 2017
Going Extra Miles
Selepas
mengajar di kelas XII IPS 2, saya ada jam lagi di kelas saya. Kelas X
IPS 1. Sebelum masuk, saya rehat sejenak di kantor guru.
"Pak Niko, saya lupa, ini ada titipan dari anak kelas sepuluh," ujar Pak Prio Purwanto. Guru matematika yang duduk tepat di samping kanan saya.
Pak Prio menyerahkan bungkusan kripik ukuran jumbo.
"Dari siapa Pak?"
"Aduh, saya lupa orangnya."
"Dari anak saya bukan? Kelas sepuluh IPS satu?"
"Aduh, saya lupa. Saya belum kenal anaknya, hehe."
***
"Assalamualaikum!" Sapa saya di pintu kelas.
"Walaikumussalaaam Stadz!" Jawab beberapa anak serempak. Sisanya masih asik mengobrol.
BRUK BRUK BRRUKK
Enam sampai delapan siswa setengah berlari menghampiri saya. Mereka berebut mencium tangan kanan saya.
"Kripik sudah diterima Stadz?" Tanya seorang siswa yang lebih dulu dapat tangan saya.
Saya mengernyitkan dahi. Mencerna pertanyaan.
"Oooh, kripik yang bungkusnya besar?"
"Iya Stadz."
"Sudah. Terima kasih ya. Itu dari siapa?"
"Dari kami Stadz."
"Kami?"
"Iya. Itu hadiah untuk kelas kita. Kita dapat penghargaan kelas paling disiplin apel pagi. Tadi hadiahnya dapat banyak. Itu satu buat Ustadz."
"WAH!!!!"
Saya terkejut. Bukan karena hadiahnya. Tapi karena penghargaan yang diraih kelas kami. Kelas X IPS 1.
Senyum saya mengembang. Pokoknya, sebelum saya instruksikan anak-anak ke perpustakaan untuk reading time pada jam wali kelas siang ini. Saya harus bicara dulu dengan mereka. Harus. Tentang satu hal saja. Ya, tentang satu hal saja. Tidak lebih.
***
"Oke. Agenda kita hari ini adalah reading time di perpustakaan. Namun sebelumnya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan."
Masih ada sedikit obrolan di dalam kelas. Serupa suara lebah yang mendengung.
"Sssssstttt." Seorang siswa mendesis. Isyarat perintah diam.
Pelan-pelan kelas hening.
"Sebelumnya saya ingin bertanya dulu."
Para siswa melihat saya. Menunggu pertanyaan.
"Kira-kira, kenapa kelas kita bisa mendapat penghargaan kelas paling disiplin apel?"
"Karena kelas kita jarang telat Stadz!" Celetuk seorang siswa di pojok.
"Oke. Ada lagi?"
"Karena kita dipimpin oleh ketua kelas yang keren Stadz!" Celetuk siswa lain. Dia ucapkan sambil menunjuk ke arah ketua kelas.
"Hahahaha!" Kelas bergemuruh.
"Mmm, okeee," saya manggut-manggut sembari tersenyum.
"Ada lagi?"
"Karena do'a dari orang tua dan guru Stadz." Jawab yang lain.
"Cie cieee...," goda beberapa siswa.
"Ya ya. Itu benar. Perlu diketahui. Orang tua teman-teman itu selalu mendoakan yang terbaik untuk teman-teman. InsyaAllah saya saksinya. Boleh jadi penghargaan ini adalah salah satu jawaban atas doa orang tua teman-teman."
"Oke. Saya rasa sudah cukup. Sekarang saya ingin mencoba memberikan tambahan jawaban. Tapi saya ingin bercerita dulu."
Anak-anak merapihkan posisi duduk mereka.
"Dulu. Ada seorang remaja yang hobi bulu tangkis. Dia sangat rajin latihan dengan teman-temannya. Waktu latihannya adalah jam tujuh. Tapi dia datang lebih awal dari yang lain. Dia datang ke lapangan jam enam. Dia latihan sendiri sebelum latihan bareng teman-temannya. Begitu terus setiap waktu latihan. Hingga suatu hari. Apa yang terjadi pada remaja yang satu ini?"
Anak-anak tidak ada yang mau menjawab. Mereka hanya diam.
"Kemudian dia menjadi pebulutangkis nomer satu di dunia. Sekarang dia telah menjadi legenda hidup bulu tangkis Indonesia. Bahkan dunia. Siapakah dia?"
"Taufik Hidayat!" Jawab seorang siswa.
Saya menggerakkan telunjuk. Isyarat jawabannya belum tepat.
"Dia adalah peraih delapan kali juara All England. Tujuh diantaranya diraih secara beruntun."
"Rudi Hartono!"
"Benar! Dialah Rudi Hartono! Karena dia latihan lebih banyak dari yang lain, maka sekarang dia mendapatkan lebih banyak dari yang lainnya. Kuncinya adalah satu. Ketika kita melakukan lebih. Maka kita akan mendapatkan hasil yang lebih pula!"
"Masih ada lagi," ucap saya sambil menatap anak-anak.
"Acungkan tangan yang suka moto GP?"
Beberapa anak mengangkat tangan mereka.
"Acungkan tangan yang suka Valentino Rossi?"
Beberapa siswa mengacungkan tangan.
"Saya adalah penggemar Rossi. Tapi kali ini saya tidak akan bercerita tentang dia. Saya ingin bercerita tentang salah satu kompetitornya. Yaitu Lorenzo."
"Begini. Pada gelaran moto GP 2014. Juaranya adalah Marques. Keduanya Rossi. Dan ketiga Lorenzo. Saat itu, ada seorang wartawan yang bertanya kepada Lorenzo. Pertanyaannya adalah seperti ini: Apa yang akan Anda lakukan untuk gelaran moto GP tahun depan. Jawaban Lorenzo adalah seperti ini: Saya akan lebih banyak latihan dari yang lain. Lebih banyak berlatih untuk persiapan tahun depan. Kemudian, apa yang terjadi pada moto GP tahun 2015?"
Saya diam.
"Juara dunianya adalah Lorenzo."
Saya diam lagi.
"Lorenzo melakukan lebih. Lalu dia mendapatkan lebih."
Anak-anak melongo.
"Terakhir. Hari ini kelas kita mendapat penghargaan kelas paling rajin apel. Kenapa kira-kira?" Saya akhiri dengan pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban.
"Ini karena kelas kita telah melakukan lebih dari yang lain. Sebab itu kelas kita mendapatkan hasil yang lebih pula."
"Sesungguhnya inilah satu pelajaran yang ingin saya sampaikan pada teman-teman. Yaitu melakukan lebih. Maka kita akan mendapatkan hasil yang lebih pula."
"Going Extra Miles!"
"Going extra miles-nya Rudi Hartono adalah latihan lebih awal. Dan dia sekarang menjadi legenda bulutangkis dunia. Going extra miles-nya Lorenzo adalah latihan lebih banyak. Dan pada tahun 2015 dia menjadi juara dunia Moto GP. Going extra miles-nya kelas kita adalah rajin apel pagi. Dan hasilnya sekarang kita menggondol predikat kelas terdisiplin apel! Alhamdulillah!"
"Ingat! Satu saja pelajaran hari ini! Going extra miles! Jika teman-teman ingin mendapatkan lebih! Maka harus berbuat yang lebih. Titik!!!!"
***
* Nurul Fikri, Sabtu, 9 September 2017
"Pak Niko, saya lupa, ini ada titipan dari anak kelas sepuluh," ujar Pak Prio Purwanto. Guru matematika yang duduk tepat di samping kanan saya.
Pak Prio menyerahkan bungkusan kripik ukuran jumbo.
"Dari siapa Pak?"
"Aduh, saya lupa orangnya."
"Dari anak saya bukan? Kelas sepuluh IPS satu?"
"Aduh, saya lupa. Saya belum kenal anaknya, hehe."
***
"Assalamualaikum!" Sapa saya di pintu kelas.
"Walaikumussalaaam Stadz!" Jawab beberapa anak serempak. Sisanya masih asik mengobrol.
BRUK BRUK BRRUKK
Enam sampai delapan siswa setengah berlari menghampiri saya. Mereka berebut mencium tangan kanan saya.
"Kripik sudah diterima Stadz?" Tanya seorang siswa yang lebih dulu dapat tangan saya.
Saya mengernyitkan dahi. Mencerna pertanyaan.
"Oooh, kripik yang bungkusnya besar?"
"Iya Stadz."
"Sudah. Terima kasih ya. Itu dari siapa?"
"Dari kami Stadz."
"Kami?"
"Iya. Itu hadiah untuk kelas kita. Kita dapat penghargaan kelas paling disiplin apel pagi. Tadi hadiahnya dapat banyak. Itu satu buat Ustadz."
"WAH!!!!"
Saya terkejut. Bukan karena hadiahnya. Tapi karena penghargaan yang diraih kelas kami. Kelas X IPS 1.
Senyum saya mengembang. Pokoknya, sebelum saya instruksikan anak-anak ke perpustakaan untuk reading time pada jam wali kelas siang ini. Saya harus bicara dulu dengan mereka. Harus. Tentang satu hal saja. Ya, tentang satu hal saja. Tidak lebih.
***
"Oke. Agenda kita hari ini adalah reading time di perpustakaan. Namun sebelumnya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan."
Masih ada sedikit obrolan di dalam kelas. Serupa suara lebah yang mendengung.
"Sssssstttt." Seorang siswa mendesis. Isyarat perintah diam.
Pelan-pelan kelas hening.
"Sebelumnya saya ingin bertanya dulu."
Para siswa melihat saya. Menunggu pertanyaan.
"Kira-kira, kenapa kelas kita bisa mendapat penghargaan kelas paling disiplin apel?"
"Karena kelas kita jarang telat Stadz!" Celetuk seorang siswa di pojok.
"Oke. Ada lagi?"
"Karena kita dipimpin oleh ketua kelas yang keren Stadz!" Celetuk siswa lain. Dia ucapkan sambil menunjuk ke arah ketua kelas.
"Hahahaha!" Kelas bergemuruh.
"Mmm, okeee," saya manggut-manggut sembari tersenyum.
"Ada lagi?"
"Karena do'a dari orang tua dan guru Stadz." Jawab yang lain.
"Cie cieee...," goda beberapa siswa.
"Ya ya. Itu benar. Perlu diketahui. Orang tua teman-teman itu selalu mendoakan yang terbaik untuk teman-teman. InsyaAllah saya saksinya. Boleh jadi penghargaan ini adalah salah satu jawaban atas doa orang tua teman-teman."
"Oke. Saya rasa sudah cukup. Sekarang saya ingin mencoba memberikan tambahan jawaban. Tapi saya ingin bercerita dulu."
Anak-anak merapihkan posisi duduk mereka.
"Dulu. Ada seorang remaja yang hobi bulu tangkis. Dia sangat rajin latihan dengan teman-temannya. Waktu latihannya adalah jam tujuh. Tapi dia datang lebih awal dari yang lain. Dia datang ke lapangan jam enam. Dia latihan sendiri sebelum latihan bareng teman-temannya. Begitu terus setiap waktu latihan. Hingga suatu hari. Apa yang terjadi pada remaja yang satu ini?"
Anak-anak tidak ada yang mau menjawab. Mereka hanya diam.
"Kemudian dia menjadi pebulutangkis nomer satu di dunia. Sekarang dia telah menjadi legenda hidup bulu tangkis Indonesia. Bahkan dunia. Siapakah dia?"
"Taufik Hidayat!" Jawab seorang siswa.
Saya menggerakkan telunjuk. Isyarat jawabannya belum tepat.
"Dia adalah peraih delapan kali juara All England. Tujuh diantaranya diraih secara beruntun."
"Rudi Hartono!"
"Benar! Dialah Rudi Hartono! Karena dia latihan lebih banyak dari yang lain, maka sekarang dia mendapatkan lebih banyak dari yang lainnya. Kuncinya adalah satu. Ketika kita melakukan lebih. Maka kita akan mendapatkan hasil yang lebih pula!"
"Masih ada lagi," ucap saya sambil menatap anak-anak.
"Acungkan tangan yang suka moto GP?"
Beberapa anak mengangkat tangan mereka.
"Acungkan tangan yang suka Valentino Rossi?"
Beberapa siswa mengacungkan tangan.
"Saya adalah penggemar Rossi. Tapi kali ini saya tidak akan bercerita tentang dia. Saya ingin bercerita tentang salah satu kompetitornya. Yaitu Lorenzo."
"Begini. Pada gelaran moto GP 2014. Juaranya adalah Marques. Keduanya Rossi. Dan ketiga Lorenzo. Saat itu, ada seorang wartawan yang bertanya kepada Lorenzo. Pertanyaannya adalah seperti ini: Apa yang akan Anda lakukan untuk gelaran moto GP tahun depan. Jawaban Lorenzo adalah seperti ini: Saya akan lebih banyak latihan dari yang lain. Lebih banyak berlatih untuk persiapan tahun depan. Kemudian, apa yang terjadi pada moto GP tahun 2015?"
Saya diam.
"Juara dunianya adalah Lorenzo."
Saya diam lagi.
"Lorenzo melakukan lebih. Lalu dia mendapatkan lebih."
Anak-anak melongo.
"Terakhir. Hari ini kelas kita mendapat penghargaan kelas paling rajin apel. Kenapa kira-kira?" Saya akhiri dengan pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban.
"Ini karena kelas kita telah melakukan lebih dari yang lain. Sebab itu kelas kita mendapatkan hasil yang lebih pula."
"Sesungguhnya inilah satu pelajaran yang ingin saya sampaikan pada teman-teman. Yaitu melakukan lebih. Maka kita akan mendapatkan hasil yang lebih pula."
"Going Extra Miles!"
"Going extra miles-nya Rudi Hartono adalah latihan lebih awal. Dan dia sekarang menjadi legenda bulutangkis dunia. Going extra miles-nya Lorenzo adalah latihan lebih banyak. Dan pada tahun 2015 dia menjadi juara dunia Moto GP. Going extra miles-nya kelas kita adalah rajin apel pagi. Dan hasilnya sekarang kita menggondol predikat kelas terdisiplin apel! Alhamdulillah!"
"Ingat! Satu saja pelajaran hari ini! Going extra miles! Jika teman-teman ingin mendapatkan lebih! Maka harus berbuat yang lebih. Titik!!!!"
***
* Nurul Fikri, Sabtu, 9 September 2017
Mimpi
Ketika
pertemuan sekolah dengan orang tua siswa, ada informasi menarik yang
diungkapkan oleh Ibu Ani Hanifah saat memaparkan program bimbingan dan
konseling sekolah. Intinya, ada beberapa persoalan siswa yang paling
sering muncul. Peringkat tiga teratas adalah: Belum terbiasa tinggal di
asrama, belum menemukan bakat dan minat yang dimiliki, dan belum
menemukan orientasi masa
depan/cita-cita. Dari tiga hal mendasar ini, kemudian mereka belum
menemukan alasan kuat untuk selalu bergairah dalam menjalani hari-hari
sekolah.
Saya manggut-manggut mendengar penjelasan Ibu Ani. Teringat saat kuliah BK di kampus dulu.
Kemudian saya teringat satu hal lagi. Yang masih ada kaitan antara kenangan masa kuliah dengan materi Ibu Ani. Adalah menemukan dan menguatkan cita-cita. Kala itu saya berbincang dengan Kang Jayus. Teman satu kosan yang sekarang sudah menjadi dosen muda di Surya Institut. Buah dari obrolan ringan itu kemudian membuat saya semakin bergairah untuk segera menemukan mimpi saya, lalu berjuang keras untuk menjadikannya nyata.
Oke. Saya akan coba. Saya akan coba menyampaikan kembali apa yang saya dapat dari Kang Jayus kepada anak-anak. Semoga mereka bisa merasakan apa yang dulu saya rasakan. Semoga siswa yang belum menemukan impian, segera berusaha untuk menemukannya. Dan semoga siswa yang sudah menentukan mimpinya, terus berusaha keras untuk segera mewujudkannya.
Ah, saya tak sabar ingin segera bertemu anak-anak. Tak sabar.
***
"Acungkan tangan bagi siapa saja yang sudah memiliki cita-cita?"
"Angkat tangan yang tinggi bagi siapapun yang sudah memiliki impian?!" Saya menegaskan.
Anak-anak mengangkat tangan mereka. Antusias!
"Oke. Turun." Saya menyisir wajah anak-anak satu persatu.
"Sekarang angkat tangan bagi yang belum memiliki mimpi, atau yang masih ragu dalam memilihnya?"
Pelan-pelan lima anak mengangkat tangan mereka. Ragu-ragu.
Saya menunjuk satu dari mereka. "Jika boleh saya tahu, kenapa belum memiliki cita-cita?"
"Masih ragu-ragu, Stadz, hehe." Jawabnya sambil menyeringai. Tidak yakin.
"Kamu kenapa?" Saya menunjuk yang lain.
"Bingung Stadz. Kebanyakan."
"Hahahaha." Kelas bergemuruh. Siswa yang satu ini memang tidak jarang membuat kelas dihias tawa karena celotehnya.
"Yaa yaaa," saya manggut dan tersenyum ikut terhibur.
Saya berjalan ke meja. Mengambil dua lembar kertas kosong yang sudah saya siapkan. Lalu kembali ke depan kelas.
Satu lembar kertas ada di tangan kanan saya. Satunya di tangan kiri. Kemudian bersamaan saya remas keduanya. Anak-anak melihat apa yang saya lakukan. Terfokus pada tangan saya yang meremas kertas. Mereka diam saja. Dari warna wajahnya, tampaknya mereka penasaran dengan apa yang akan saya lakukan.
"Saya minta dua orang untuk membantu saya. Silahkan dua orang ke depan!"
Dua siswa beranjak maju. Saya minta mereka berdiri berseberangan. Satu di pojok kanan. Satunya di pojok kiri.
Kelas mendesis oleh bisikan. Bisikan anak-anak yang menertawakan dua temannya di depan. Akan diapakan mereka? Mungkin itu tanya dalam kepala mereka.
"Coba teman-teman perhatikan dua bola kertas ini!" Saya angkat bola kertas di tangan saya. "Ini apa?"
"Bola kertas Staaaaadz," jawab siswa berjamaah.
"Benar. Sekarang saya akan berikan dua bola ini pada teman kita," saya melangkah ke pojok kanan. Memberikan bola pada siswa yang berdiri. Dia menerima dengan wajah yang masih bingung. Masih belum paham maksudnya.
"Oke teman-teman. Sekarang saya minta semuanya perhatikan dua teman kita yang ada di depan. Perhatikan juga dua bola kertasnya. Perhatikan apa yang akan saya perintahkan. Semuanya. Jangan terlewatkan momen apapun, meski satu detik saja. Lalu di akhir saya minta ada yang bisa menarik kesimpulan dari simulasi ini."
"Baik. Ini instruksi pertama saya." Saya memberi jeda. Melihat wajah-wajah di hadapan saya. "Bagi yang pegang bola. Saya minta lemparkan satu bola!"
"Kemana Stadz?" Tanya siswa yang pegang bola. Wajahnya penuh tanya.
Saya tidak jawab. Hanya tersenyum saja. Langkah pertama simulasi ini berhasil.
"Saya minta lemparkan satu bola!" Saya mengulang perintah saya.
"Kemana Stadz?" Dia bertanya lagi.
Saya tidak jawab.
"Silahkan lemparkan satu bola!" Sekarang saya melihat wajah yang memegang bola. Dia melihat saya. Ada pertanyaan pada sorot matanya. Kemana Stadz? Saya jawab dengan gestur terserah. Dengan muka masih bingung dia ragu-ragu melempar bola kertas ke depan.
"Oke!"
Saya kembali melihat anak-anak. Rupa-rupa wajah mereka. Ada yang mengernyitkan dahi. Menyipitkan mata. Mengangkat alis. Mereka mencoba mencari maksud.
"Instruksi selanjutnya. Saya minta lemparkan bola kedua pada teman kita yang sedang berdiri di sana!" Saya menunjuk siswa di pojok kiri depan.
TUWIIIIING!
Bola kertas terbang ke seberang kiri. Mengenai tubuh yang mematung berdiri.
Saya diam beberapa detik. Melihat wajah siswa satu Persatu. Senyum mulai terlukis pada beberapa bibir mereka. Ada yang mengangguk-angguk seperti sudah memecahkan sebuah teka-teki berhadiah besar.
Saya masih diam.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Angkat tangan yang paham dengan arti dari simulasi ini?"
Tujuh siswa mengangkat tangan. Berebut ingin ditunjuk.
"Kamu!" Saya menunjuk yang acungan tangannya paling tinggi.
"Lemparan pertama belum jelas tujuannya. Jadi bingung akan melempar kemana. Tapi lemparan kedua, karena tujuannya sudah ada. Bola langsung dilempar pada instruksi pertama."
"Lantas apa artinya?"
"Kita harus memiliki tujuan yang jelas. Kita harus memiliki impian yang jelas. Supaya kita tidak bingung dalam menjalani hidup ini." Jawabnya yakin.
"Yakiiiin?" Saya menguji.
"Yakin Stadz!"
"Yang lain bagaimana?"
"Iya Stadz. Sama. Setujuuu."
"Oke. Kalau memang seperti itu. Lalu apa yang harus teman-teman lakukan sekarang?"
"Miliki cita-cita!"
Saya tersenyum puas. Jika digambarkan dengan sebuah kata. Kata itu adalah: Bahagia! Sungguh.
"Mulai hari ini. Diawali dari detik ini. Di kelas ini. Mari kita pilih satu impian kita. Yang sudah, silahkan perkuat lagi. Bagi yang belum, tentukan impian itu sekarang juga!"
Pada akhir sesi. Saya membagikan kertas pada anak-anak. Saya perintahkan untuk menuliskan impian mereka. Dengan jelas!
Di ujung waktu. Kami berfoto bersama. Menunjukkan mimpi-mimpi kami. Menunjukkan mimpi kami pada kamera. Menunjukkan mimpi kami pada dunia!
Setelah sesi foto bersama usai. Anak-anak kembali duduk.
"Oke teman-teman. Foto ini akan saya simpan baik-baik. Saya sangat berharap. Sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang. Ketika kita melihat kembali foto ini. Kita tersenyum mengenang memori hari ini. Sebab pada waktu itu kita semua sudah benar-benar membuat mimpi kita menjadi nyata!"
"Aamiin!!!!!!!" Teriak semua siswa.
Saya melihat foto di hape saya. Lalu tersenyum. Sebab di antara anak-anak. Ada saya di sana. Ikut menggenggam sebuah kertas yang ada tulisannya. Saya tidak mau kalah oleh mereka. Saya juga ingin terus menghidupkan impian saya. Terus. Terus sampai mewujud. Hehe.
***
Nurul Fikri, Cinangka, Serang, Banten. Senin, 21 Agustus 2017
Saya manggut-manggut mendengar penjelasan Ibu Ani. Teringat saat kuliah BK di kampus dulu.
Kemudian saya teringat satu hal lagi. Yang masih ada kaitan antara kenangan masa kuliah dengan materi Ibu Ani. Adalah menemukan dan menguatkan cita-cita. Kala itu saya berbincang dengan Kang Jayus. Teman satu kosan yang sekarang sudah menjadi dosen muda di Surya Institut. Buah dari obrolan ringan itu kemudian membuat saya semakin bergairah untuk segera menemukan mimpi saya, lalu berjuang keras untuk menjadikannya nyata.
Oke. Saya akan coba. Saya akan coba menyampaikan kembali apa yang saya dapat dari Kang Jayus kepada anak-anak. Semoga mereka bisa merasakan apa yang dulu saya rasakan. Semoga siswa yang belum menemukan impian, segera berusaha untuk menemukannya. Dan semoga siswa yang sudah menentukan mimpinya, terus berusaha keras untuk segera mewujudkannya.
Ah, saya tak sabar ingin segera bertemu anak-anak. Tak sabar.
***
"Acungkan tangan bagi siapa saja yang sudah memiliki cita-cita?"
"Angkat tangan yang tinggi bagi siapapun yang sudah memiliki impian?!" Saya menegaskan.
Anak-anak mengangkat tangan mereka. Antusias!
"Oke. Turun." Saya menyisir wajah anak-anak satu persatu.
"Sekarang angkat tangan bagi yang belum memiliki mimpi, atau yang masih ragu dalam memilihnya?"
Pelan-pelan lima anak mengangkat tangan mereka. Ragu-ragu.
Saya menunjuk satu dari mereka. "Jika boleh saya tahu, kenapa belum memiliki cita-cita?"
"Masih ragu-ragu, Stadz, hehe." Jawabnya sambil menyeringai. Tidak yakin.
"Kamu kenapa?" Saya menunjuk yang lain.
"Bingung Stadz. Kebanyakan."
"Hahahaha." Kelas bergemuruh. Siswa yang satu ini memang tidak jarang membuat kelas dihias tawa karena celotehnya.
"Yaa yaaa," saya manggut dan tersenyum ikut terhibur.
Saya berjalan ke meja. Mengambil dua lembar kertas kosong yang sudah saya siapkan. Lalu kembali ke depan kelas.
Satu lembar kertas ada di tangan kanan saya. Satunya di tangan kiri. Kemudian bersamaan saya remas keduanya. Anak-anak melihat apa yang saya lakukan. Terfokus pada tangan saya yang meremas kertas. Mereka diam saja. Dari warna wajahnya, tampaknya mereka penasaran dengan apa yang akan saya lakukan.
"Saya minta dua orang untuk membantu saya. Silahkan dua orang ke depan!"
Dua siswa beranjak maju. Saya minta mereka berdiri berseberangan. Satu di pojok kanan. Satunya di pojok kiri.
Kelas mendesis oleh bisikan. Bisikan anak-anak yang menertawakan dua temannya di depan. Akan diapakan mereka? Mungkin itu tanya dalam kepala mereka.
"Coba teman-teman perhatikan dua bola kertas ini!" Saya angkat bola kertas di tangan saya. "Ini apa?"
"Bola kertas Staaaaadz," jawab siswa berjamaah.
"Benar. Sekarang saya akan berikan dua bola ini pada teman kita," saya melangkah ke pojok kanan. Memberikan bola pada siswa yang berdiri. Dia menerima dengan wajah yang masih bingung. Masih belum paham maksudnya.
"Oke teman-teman. Sekarang saya minta semuanya perhatikan dua teman kita yang ada di depan. Perhatikan juga dua bola kertasnya. Perhatikan apa yang akan saya perintahkan. Semuanya. Jangan terlewatkan momen apapun, meski satu detik saja. Lalu di akhir saya minta ada yang bisa menarik kesimpulan dari simulasi ini."
"Baik. Ini instruksi pertama saya." Saya memberi jeda. Melihat wajah-wajah di hadapan saya. "Bagi yang pegang bola. Saya minta lemparkan satu bola!"
"Kemana Stadz?" Tanya siswa yang pegang bola. Wajahnya penuh tanya.
Saya tidak jawab. Hanya tersenyum saja. Langkah pertama simulasi ini berhasil.
"Saya minta lemparkan satu bola!" Saya mengulang perintah saya.
"Kemana Stadz?" Dia bertanya lagi.
Saya tidak jawab.
"Silahkan lemparkan satu bola!" Sekarang saya melihat wajah yang memegang bola. Dia melihat saya. Ada pertanyaan pada sorot matanya. Kemana Stadz? Saya jawab dengan gestur terserah. Dengan muka masih bingung dia ragu-ragu melempar bola kertas ke depan.
"Oke!"
Saya kembali melihat anak-anak. Rupa-rupa wajah mereka. Ada yang mengernyitkan dahi. Menyipitkan mata. Mengangkat alis. Mereka mencoba mencari maksud.
"Instruksi selanjutnya. Saya minta lemparkan bola kedua pada teman kita yang sedang berdiri di sana!" Saya menunjuk siswa di pojok kiri depan.
TUWIIIIING!
Bola kertas terbang ke seberang kiri. Mengenai tubuh yang mematung berdiri.
Saya diam beberapa detik. Melihat wajah siswa satu Persatu. Senyum mulai terlukis pada beberapa bibir mereka. Ada yang mengangguk-angguk seperti sudah memecahkan sebuah teka-teki berhadiah besar.
Saya masih diam.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Angkat tangan yang paham dengan arti dari simulasi ini?"
Tujuh siswa mengangkat tangan. Berebut ingin ditunjuk.
"Kamu!" Saya menunjuk yang acungan tangannya paling tinggi.
"Lemparan pertama belum jelas tujuannya. Jadi bingung akan melempar kemana. Tapi lemparan kedua, karena tujuannya sudah ada. Bola langsung dilempar pada instruksi pertama."
"Lantas apa artinya?"
"Kita harus memiliki tujuan yang jelas. Kita harus memiliki impian yang jelas. Supaya kita tidak bingung dalam menjalani hidup ini." Jawabnya yakin.
"Yakiiiin?" Saya menguji.
"Yakin Stadz!"
"Yang lain bagaimana?"
"Iya Stadz. Sama. Setujuuu."
"Oke. Kalau memang seperti itu. Lalu apa yang harus teman-teman lakukan sekarang?"
"Miliki cita-cita!"
Saya tersenyum puas. Jika digambarkan dengan sebuah kata. Kata itu adalah: Bahagia! Sungguh.
"Mulai hari ini. Diawali dari detik ini. Di kelas ini. Mari kita pilih satu impian kita. Yang sudah, silahkan perkuat lagi. Bagi yang belum, tentukan impian itu sekarang juga!"
Pada akhir sesi. Saya membagikan kertas pada anak-anak. Saya perintahkan untuk menuliskan impian mereka. Dengan jelas!
Di ujung waktu. Kami berfoto bersama. Menunjukkan mimpi-mimpi kami. Menunjukkan mimpi kami pada kamera. Menunjukkan mimpi kami pada dunia!
Setelah sesi foto bersama usai. Anak-anak kembali duduk.
"Oke teman-teman. Foto ini akan saya simpan baik-baik. Saya sangat berharap. Sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang. Ketika kita melihat kembali foto ini. Kita tersenyum mengenang memori hari ini. Sebab pada waktu itu kita semua sudah benar-benar membuat mimpi kita menjadi nyata!"
"Aamiin!!!!!!!" Teriak semua siswa.
Saya melihat foto di hape saya. Lalu tersenyum. Sebab di antara anak-anak. Ada saya di sana. Ikut menggenggam sebuah kertas yang ada tulisannya. Saya tidak mau kalah oleh mereka. Saya juga ingin terus menghidupkan impian saya. Terus. Terus sampai mewujud. Hehe.
***
Nurul Fikri, Cinangka, Serang, Banten. Senin, 21 Agustus 2017
Kecerdasan Sosial
"Saya
adalah wakil orang tua teman-teman di sini. Jika teman-teman butuh
bantuan atau apapun, silahkan ceritakan pada saya," ucap saya di
sela-sela pembelajaran.
"Asiiiiiiik," ujar beberapa santri dengan bibir mengembang. Juga wajah sumringah.
"Tapi!" Saya mengangkat telunjuk. Tanda sebuah persyaratan. "Selama permintaan itu baik, dan saya bisa melakukannya. InsyaAllah akan saya bantu," saya melanjutkan kata.
"Kemudian. Karena saya adalah wakil orang tua. Jadi teman-teman juga harus nurut. Tentang apapun itu. InsyaAllah semuanya adalah untuk kebaikan teman-teman semua. Sebab tidak ada orang tua yang ingin anak-anaknya celaka."
"Yaaa...," duduk tegap beberapa siswa melemah. Namun, senyum mereka masih ada.
"Demi kebaikan."
"Iya Stadz."
***
"Saya ingin cerita."
Jika ada kata "cerita" dalam kalimat saya. Biasanya kelas menjadi hening. Para santri fokus melihat saya.
"Begini. Ketika sosialisasi international education program yang ke Jordan kemarin. Ada beberapa orang tua yang berharap dan bahkan menekankan agar pihak sekolah memberikan fokus lebih pada rasa persaudaraan antara santri yang ikut ke Jordan dengan yang tidak. Dan saya menangkapnya, sesungguhnya kalimat itu mengarah pada rasa persaudaraan pada semuanya."
"Kemudian. Seusai acara, saya sempat berbincang dengan salah satu orang tua teman-teman," saya berhenti sebentar. "Uniknya, isi obrolan kami memiliki inti yang serupa dengan harapan orang tua yang saya katakan tadi. Yang beliau tanyakan adalah bagaimana hubungan putranya dengan teman-temannya."
"Jika kita tarik sebuah kesimpulan, maka benang merahnya adalah kecerdasan sosial. Bagaimana sikap teman-teman pada orang-orang sekitar. Bagaimana kepedulian teman-teman pada kawan-kawan."
"Pertanyaannya. Mengapa yang dikhawatirkan dan ditanyakan orang tua teman-teman itu adalah rasa persaudaraan dan kepedulian teman-teman? Mengapa yang ditanyakan itu bukan bagaimana nilai akademik atau nilai pelajaran teman-teman?"
Mereka diam. Tidak ada yang menjawab.
"Karena kecerdasan sosial itu jauh lebih penting dari nilai rapot teman-teman."
"Saya sangat berharap. Mulai detik ini, kita semua harus saling peduli. Saling mengingatkan. Kita ikut senang saat teman senang. Kita sedih ketika teman sedih." Saya menekankan kalimat dengan sebuah kepalan tangan.
***
Esoknya. Ujian pertama akan kami mulai. Setengah jam sebelum kelas usia. Saya mengarahkan para santri untuk melakukan pemilihan perangkat kelas. Yakni ketua kelas dan jajarannya. Setelah diskusi tentang cara pemilihan, akhirnya kami putuskan dengan cara musyawarah mufakat.
Santri mulai bermusyawarah. Hasilnya mengerucut pada tiga nama. Dari sini diskusi mulai alot. Hingga akhirnya diputuskan untuk melakukan voting.
Voting dilakukan. Hasilnya disambut sorak riuh rendah. Saya hanya tersenyum melihat pandangan di hadapan saya. Ya, hanya tersenyum. Sebab tidak ada satupun santri yang menampakkan wajah tidak terima dengan hasil pemilihan. Tidak satupun.
Kelas kami tutup dengan foto bersama. Para santri yang terpilih sebagai perangkat kelas saya arahkan untuk jongkok/berdiri selutut. Sementara yang lain untuk berdiri di belakang.
"Ciiiirrss!" Titah saya sambil pegang kamera hape.
Bersamaan dengan senyum anak-anak di depan. Saya ikut tersenyum. Satu saja sumbernya. Adalah kebersamaan mereka. Memang banyak yang mengatakan bahwa hanya Allah yang tahu apa isi hati seseorang. Tapi, ustadz saya di pesantren dulu pernah berkata seperti ini. "Allah melihat hati. Manusia tidak bisa melihatnya. Tapi fisik itu (penampilan, ucapan, raut wajah, dll) menunjukkan bagaimana isi hati."
Alhamdulillah. Ujian pertama insyaAllah telah kamu lewati. Saya yakin, akan ada ujian lebih berat di depan nanti. Semoga kami bisa melaluinya. Meski saya yakin itu tidak mudah.
***
* Rabu, 2 Agustus 2017
"Asiiiiiiik," ujar beberapa santri dengan bibir mengembang. Juga wajah sumringah.
"Tapi!" Saya mengangkat telunjuk. Tanda sebuah persyaratan. "Selama permintaan itu baik, dan saya bisa melakukannya. InsyaAllah akan saya bantu," saya melanjutkan kata.
"Kemudian. Karena saya adalah wakil orang tua. Jadi teman-teman juga harus nurut. Tentang apapun itu. InsyaAllah semuanya adalah untuk kebaikan teman-teman semua. Sebab tidak ada orang tua yang ingin anak-anaknya celaka."
"Yaaa...," duduk tegap beberapa siswa melemah. Namun, senyum mereka masih ada.
"Demi kebaikan."
"Iya Stadz."
***
"Saya ingin cerita."
Jika ada kata "cerita" dalam kalimat saya. Biasanya kelas menjadi hening. Para santri fokus melihat saya.
"Begini. Ketika sosialisasi international education program yang ke Jordan kemarin. Ada beberapa orang tua yang berharap dan bahkan menekankan agar pihak sekolah memberikan fokus lebih pada rasa persaudaraan antara santri yang ikut ke Jordan dengan yang tidak. Dan saya menangkapnya, sesungguhnya kalimat itu mengarah pada rasa persaudaraan pada semuanya."
"Kemudian. Seusai acara, saya sempat berbincang dengan salah satu orang tua teman-teman," saya berhenti sebentar. "Uniknya, isi obrolan kami memiliki inti yang serupa dengan harapan orang tua yang saya katakan tadi. Yang beliau tanyakan adalah bagaimana hubungan putranya dengan teman-temannya."
"Jika kita tarik sebuah kesimpulan, maka benang merahnya adalah kecerdasan sosial. Bagaimana sikap teman-teman pada orang-orang sekitar. Bagaimana kepedulian teman-teman pada kawan-kawan."
"Pertanyaannya. Mengapa yang dikhawatirkan dan ditanyakan orang tua teman-teman itu adalah rasa persaudaraan dan kepedulian teman-teman? Mengapa yang ditanyakan itu bukan bagaimana nilai akademik atau nilai pelajaran teman-teman?"
Mereka diam. Tidak ada yang menjawab.
"Karena kecerdasan sosial itu jauh lebih penting dari nilai rapot teman-teman."
"Saya sangat berharap. Mulai detik ini, kita semua harus saling peduli. Saling mengingatkan. Kita ikut senang saat teman senang. Kita sedih ketika teman sedih." Saya menekankan kalimat dengan sebuah kepalan tangan.
***
Esoknya. Ujian pertama akan kami mulai. Setengah jam sebelum kelas usia. Saya mengarahkan para santri untuk melakukan pemilihan perangkat kelas. Yakni ketua kelas dan jajarannya. Setelah diskusi tentang cara pemilihan, akhirnya kami putuskan dengan cara musyawarah mufakat.
Santri mulai bermusyawarah. Hasilnya mengerucut pada tiga nama. Dari sini diskusi mulai alot. Hingga akhirnya diputuskan untuk melakukan voting.
Voting dilakukan. Hasilnya disambut sorak riuh rendah. Saya hanya tersenyum melihat pandangan di hadapan saya. Ya, hanya tersenyum. Sebab tidak ada satupun santri yang menampakkan wajah tidak terima dengan hasil pemilihan. Tidak satupun.
Kelas kami tutup dengan foto bersama. Para santri yang terpilih sebagai perangkat kelas saya arahkan untuk jongkok/berdiri selutut. Sementara yang lain untuk berdiri di belakang.
"Ciiiirrss!" Titah saya sambil pegang kamera hape.
Bersamaan dengan senyum anak-anak di depan. Saya ikut tersenyum. Satu saja sumbernya. Adalah kebersamaan mereka. Memang banyak yang mengatakan bahwa hanya Allah yang tahu apa isi hati seseorang. Tapi, ustadz saya di pesantren dulu pernah berkata seperti ini. "Allah melihat hati. Manusia tidak bisa melihatnya. Tapi fisik itu (penampilan, ucapan, raut wajah, dll) menunjukkan bagaimana isi hati."
Alhamdulillah. Ujian pertama insyaAllah telah kamu lewati. Saya yakin, akan ada ujian lebih berat di depan nanti. Semoga kami bisa melaluinya. Meski saya yakin itu tidak mudah.
***
* Rabu, 2 Agustus 2017
Penghargaan Kecil
Berbekal sebuah kalimat seorang guru saat berbincang di kantor.
"Kelas sepuluh IPS tholib sekarang baik-baik. Beda dengan sebelum-sebelumnya," ujar seorang ibu guru.
CLING!
Sontak saya berhenti menulis. Pandangan beralih ke sumber suara. Ibu Wulastrina. Ya, kalimat ini dilantunkan sangat manis oleh Ibu Wulastrina. Yang biasa kami panggil Ibu Lastri, atau juga ustadzah Lastri.
Perlahan bibir saya melebar. Tersenyum diam-diam. Sebuah senyum bukan untuk siapa-siapa. Hanya senyum pertanda ada sebuah ide berkilau di dalam kepala. Akan saya gunakan kalimat ibu Lastri sebagai amunisi untuk membelai lembut hati anak-anak saya. Yang tiada lain adalah kelas sepuluh IPS yang barusan dibicarakan ibu Lastri. Tahun ini saya dapat amanah menjadi wakil orang tua untuk anak-anak kelas X IPS 1.
Pada dasarnya, siapapun suka jika dirinya dipuji. Meski pujian itu kecil dan sederhana. Seperti penghargaan verbal setelah mereka melakukan sebuah kebaikan. Biasanya, pujian itu akan menjadi pemancing untuk kebaikan-kebaikan berikutnya. Setidaknya begitulah yang saya tahu.
***
"Saya ada kabar baik untuk teman-teman semua. Untuk kelas kita," saya beri jeda. Sengaja. Supaya mereka penasaran.
Dua puluh lima pasang mata menatap saya serempak. Menunggu kalimat saya selanjutnya.
"Saya harap kabar baik ini cukup menjadi rahasia kelas kita saja."
Mereka masih diam memandang saya.
"Sepakat?" Saya menegaskan.
"Sepakaaaaaat," jawab anak-anak bersamaan.
"Begini. Kemarin saya dapat kabar dari beberapa pengajar yang sudah masuk kelas ini. Katanya, kelas IPS sekarang baik-baik. InsyaAllah lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Bahkan, jika tidak salah dengar, katanya kelas ini lebih baik dari kelas baru lainnya."
Pelan-pelan senyum melengkung di bibir setiap anak. Melihat itu, bibir saya ikut melebar.
"Saya harap anggapan baik ini bisa menjadi pelecut bagi teman-teman untuk menjadi lebih baik lagi. Jika pun misalkan salah, semoga ini dapat menjadi motivasi bagi teman-teman untuk menjadikan anggapan itu menjadi nyata."
Anak-anak masih khusuk melihat saya.
"Sepakat?!"
"Sepakaaaaat!!!!" Ucap anak-anak berjamaah. Bahkan ada beberapa anak yang mengepalkan dan mengangkat tangan. Layaknya para mahasiswa yang tersulut semangatnya oleh pimpinan demo.
Alhamdulillah. Semoga pujian sederhana pada hari ini dapat menjadi penyengat mereka dalam melakukan hal baik lainnya. Semoga.
Saya akhiri kelas dengan mengingatkan anak-anak tentang kerapihan tata ruang dan kebersihan kelas. Juga tidak lupa saya ingatkan tentang program adiwiyata yang akan memberikan award kepada kelas paling rapih dan bersih.
***
Beberapa hari selepas saya sampaikan pujian, matahari kembali terbit di kelas kami. Sebuah pujian kembali hadir dari seorang guru. Adalah bapak Imam, atau Ustadz Imam. Beliau adalah penanggung jawab adiwiyata. Pujian itu sangat sederhana. Tapi saya yakin. Pujian kecil ini teramat sangat berarti bagi anak-anak saya.
"Kelas sepuluh IPS sudah bagus". Puji Pak Imam di grup whatsapp guru SMA. Tema pembicaraan saat itu adalah kebersihan kelas.
Binggo!
Segera! Segera akan saya sampaikan pujian ini pada anak-anak. Semoga setelah nanti saya sampaikan, akan ada keajaiban lagi yang bisa mereka ciptakan. Semoga.
Point penting yang ingin saya sampaikan pada tulisan singkat ini hanya satu saja. Bahwa terkadang sebuah pujian kecil itu dapat menjadi penyemangat dalam melakukan kebaikan lainnya. Semoga ini dapat menjadi pelajaran buat kita semua. Demikian.
* Jum'at, 28 Juli 2017
"Kelas sepuluh IPS tholib sekarang baik-baik. Beda dengan sebelum-sebelumnya," ujar seorang ibu guru.
CLING!
Sontak saya berhenti menulis. Pandangan beralih ke sumber suara. Ibu Wulastrina. Ya, kalimat ini dilantunkan sangat manis oleh Ibu Wulastrina. Yang biasa kami panggil Ibu Lastri, atau juga ustadzah Lastri.
Perlahan bibir saya melebar. Tersenyum diam-diam. Sebuah senyum bukan untuk siapa-siapa. Hanya senyum pertanda ada sebuah ide berkilau di dalam kepala. Akan saya gunakan kalimat ibu Lastri sebagai amunisi untuk membelai lembut hati anak-anak saya. Yang tiada lain adalah kelas sepuluh IPS yang barusan dibicarakan ibu Lastri. Tahun ini saya dapat amanah menjadi wakil orang tua untuk anak-anak kelas X IPS 1.
Pada dasarnya, siapapun suka jika dirinya dipuji. Meski pujian itu kecil dan sederhana. Seperti penghargaan verbal setelah mereka melakukan sebuah kebaikan. Biasanya, pujian itu akan menjadi pemancing untuk kebaikan-kebaikan berikutnya. Setidaknya begitulah yang saya tahu.
***
"Saya ada kabar baik untuk teman-teman semua. Untuk kelas kita," saya beri jeda. Sengaja. Supaya mereka penasaran.
Dua puluh lima pasang mata menatap saya serempak. Menunggu kalimat saya selanjutnya.
"Saya harap kabar baik ini cukup menjadi rahasia kelas kita saja."
Mereka masih diam memandang saya.
"Sepakat?" Saya menegaskan.
"Sepakaaaaaat," jawab anak-anak bersamaan.
"Begini. Kemarin saya dapat kabar dari beberapa pengajar yang sudah masuk kelas ini. Katanya, kelas IPS sekarang baik-baik. InsyaAllah lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Bahkan, jika tidak salah dengar, katanya kelas ini lebih baik dari kelas baru lainnya."
Pelan-pelan senyum melengkung di bibir setiap anak. Melihat itu, bibir saya ikut melebar.
"Saya harap anggapan baik ini bisa menjadi pelecut bagi teman-teman untuk menjadi lebih baik lagi. Jika pun misalkan salah, semoga ini dapat menjadi motivasi bagi teman-teman untuk menjadikan anggapan itu menjadi nyata."
Anak-anak masih khusuk melihat saya.
"Sepakat?!"
"Sepakaaaaat!!!!" Ucap anak-anak berjamaah. Bahkan ada beberapa anak yang mengepalkan dan mengangkat tangan. Layaknya para mahasiswa yang tersulut semangatnya oleh pimpinan demo.
Alhamdulillah. Semoga pujian sederhana pada hari ini dapat menjadi penyengat mereka dalam melakukan hal baik lainnya. Semoga.
Saya akhiri kelas dengan mengingatkan anak-anak tentang kerapihan tata ruang dan kebersihan kelas. Juga tidak lupa saya ingatkan tentang program adiwiyata yang akan memberikan award kepada kelas paling rapih dan bersih.
***
Beberapa hari selepas saya sampaikan pujian, matahari kembali terbit di kelas kami. Sebuah pujian kembali hadir dari seorang guru. Adalah bapak Imam, atau Ustadz Imam. Beliau adalah penanggung jawab adiwiyata. Pujian itu sangat sederhana. Tapi saya yakin. Pujian kecil ini teramat sangat berarti bagi anak-anak saya.
"Kelas sepuluh IPS sudah bagus". Puji Pak Imam di grup whatsapp guru SMA. Tema pembicaraan saat itu adalah kebersihan kelas.
Binggo!
Segera! Segera akan saya sampaikan pujian ini pada anak-anak. Semoga setelah nanti saya sampaikan, akan ada keajaiban lagi yang bisa mereka ciptakan. Semoga.
Point penting yang ingin saya sampaikan pada tulisan singkat ini hanya satu saja. Bahwa terkadang sebuah pujian kecil itu dapat menjadi penyemangat dalam melakukan kebaikan lainnya. Semoga ini dapat menjadi pelajaran buat kita semua. Demikian.
* Jum'at, 28 Juli 2017
Langganan:
Postingan (Atom)






