Aku dengar kamu sedang merasa sedih. Air matamu menetes seperti gerimis di pagi hari.
Kenapa? Apa karena kamu lelah sebab tenagamu habis untuk menahan bendungan di dalam hatimu agar tidak bocor?
Tetaplah tenang. Topang perjuanganmu dengan seuntai do'a. Sebab bulan saja bisa dibelah karena do'a. Lalu bagaimana mungkin kegundahanmu tidak bisa hilang karenanya?
Selasa, 05 Mei 2015
Selasa, 20 Mei 2014
Tempat Terindah
“A.
Kalo menurut Aa, tempat yang paling indah itu dimana?” Putri bertanya untuk
yang kesekian kalinya. Malam ini Putri memang lebih mendominasi perbincangan.
Mungkin karena Adam merasakan lelah yang lebih dari hari-hari sebelumnya.
Jemari Putri bermain di dada Adam.
“Surga,”
jawab Adam cepat. Hanya satu detik setelah tanya sang istri.
Putri
mendongakan kepalanya bermaksud menatap wajah sang suami. “Maksud Neng itu
tempat yang ada di dunia, A. Lagian, emang Aa sudah pernah liat surga?” Putri
sedikit protes.
“Aa
memang belum pernah lihat surga, tapi setidaknya Aa bisa membayangkannya dari
ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang gambaran surga,” Adam menjelaskan
alasan dari jawaban sebelumnya.
Kepala
Putri masih mendongak. Tatapnya masih pada wajah Adam.
“Walaupun
memang Aa tahu, jika bayangan indah Aa tentang surga itu masih belum ada
apa-apanya jika dibandingkan dengan surga yang sebenarnya,” Adam menambahkan
jawabannya.
Putri
diam. Kali ini dia menyerah pada argumen sang suami. Putri kembali menormalkan
posisi kepalanya. Jemarinya kembali bermain di dada Adam.
“Iya
deh...,” Putri mengakui kekuatan kalimat sang suami. “Untuk tempat yang ada di
dunia gimana? Mana yang menurut Aa paling indah?”
“Mmmm,”
Adam melipat keningnya hingga menjadi bergelombang. “Apa ya?”
Putri
kembali mendongakan kepalanya. “Pasti pantai ya?” dia mencoba menebak.
“Mmm,
pantai bagus, tapi bukan yang terbaik kalo menurut Aa.”
“Oya,
pasti sawah ya? Aa kan suka kalo melihat pemandangan persawahan,” tebakan Putri
diakhiri dengan sebuah senyuman.
“Sawah
indah, tapi bukan yang terbaik juga.”
“Terus
apa?”
“Mmmm,
apa ya?” Adam berpikir. Putri menunggu jawaban. “Kalo untuk tempat terbaik
kedua sepertinya sekolah.”
“Sekolah?”
“Iya.”
“Alasannya?”
“Karena
disana Aa bisa melakukan salah-satu kegiatan yang paling Aa sukai, yaitu
mengajar,” Adam menatap wajah Putri. Dia tersenyum.
“Mmmm,”
Putri manggut pelan. Muka bagian kanannya bergeser lembut di dada Adam. “Oya,
kalo yang paling indahnya?” Putri mendongak lagi.
“Mmmm,
kasih tahu gak ya...,” Adam masih mencoba menggoda Putri disela-sela rasa
lelahnya.
“Iiiiih.
Kasih tahu atuh...,” Putri merengek manja. Dia mencubit pinggang sang suami.
Tubuh Adam bergidik karena cubitan wanita di pelukannya.
“Kasih
tahu gak ya.....,” sekali lagi Adam menggoda.
“Iiiiiih!”
lagi-lagi Putri mendaratkan cubitannya.
“Nanti
atuh InsyaAllah besok Aa kasih
tahunya ya.”
“Sekarang!”
“Besok
aja ya, soalnya Aa sudah ngantuk berat nih.”
Putri
lebih mendongakan kepalanya. Dia bermaksud untuk memaksa sang suami untuk
mengeluarkan jawabannya sekarang juga. Namun, maksud itu lenyap saat pandangan
Putri terfokus pada wajah sang suami yang tampak lelah. Memang, hari ini Adam
pulang dari sekolah lebih sore dari biasanya.
Putri
luluh oleh wajah lelah Adam. Dia berhenti memaksa. Wajahnya kembali mendarat
pada dada sang suami. Dia merangkul tubuh tegak di sampingnya. Lalu perlahan
menutupkan kedua kelopak matanya. Dan, tanpa Putri sadari, Adam melukis sebuah
senyum nakal di kanvas bibirnya. Dia berhasil mengelabui istrinya. Meski lelah
sebagaimanapun, sesungguhnya bukan perkara yang sulit hanya untuk mengeluarkan
satu kalimat saja. Adam kembali tersenyum dalam pejam matanya. Sabar Neng, InsyaAllah besok Aa akan berikan
jawaban itu. ujar Adam dalam hati.
***
Sebuah
pagi yang menakjubkan. Aroma udaranya segar menyapa rongga dada Adam. Tapi
tidak demikian dengan Putri. Sesak di dalam dadanya tergambar jelas dari wajahnya
yang cemberut di hadapan sang suami. Tidak seperti kemarin yang cerah ceria
ketika melepas sang suami berangkat mengajar. Penyebabnya hanya satu. Karena
saat di meja makan tadi, Adam belum mau memberikan jawaban atas pertanyaannya
yang semalam.
Putri
mencium punggung tangan Adam. Adam membalas dengan sebuah kecupan pada kening
Putri. Namun, tetap saja muka Putri belum berubah. Masih menekuk. Putri masih
merasa kesal. Jika saja bukan karena janji diantara mereka, sesungguhnya Putri
enggan untuk melakukan kebiasaan menjelang keberangkatan Adam ini. Ya, mereka
memang telah mengikat janji untuk selalu melakukan prosesi cium tangan dan kecup
kening saat hendak bepergian. Tujuannya adalah untuk menjaga kemesraan diantara
sepasang suami-istri itu. Dan benar saja. Jurus yang satu ini begitu terasa
manfaatnya ketika berada pada situasi yang semacam pagi ini. Setidaknya, jurus
ini bisa sedikit meredam gejolak yang ada pada dada Putri.
Adam
melangkah menghampiri si putih. Motor vespa warna putih itu siap untuk
mengantar sang juragan menuju medan jihadnya.
***
Menjelang
waktu ashar. Matahari sudah condong ke arah barat. Suhu bumi tidak sepanas satu
atau dua jam yang lalu. Sinarnya yang beberapa jam lalu itu menyengat kulit,
kini sudah tidak lagi. Sinar lembut itu lebih cenderung mampu menenangkan.
Lebih bisa membuat nyaman setiap kulit yang menerima pancarannya.
Putri
duduk santai di sofa ruang tengah. Dia sedang membaca sebuah buku.
Bunyi
hape membuyarkan konsentrasi Putri. Ada sebuah pesan masuk. Putri membuka pesan
itu.
Neng, sekarang Aa sedang ada di tempat yang
paling indah di dunia.
Isi pesan
dari Adam. Belum satu menit, sebuah
pesan datang lagi.
Neng mau tahu dimana tempat itu?... :-)
Putri
hendak mengetik balasan. Jemarinya menari di keypad hape.
TUK
TUK TUK
Belum
selesai Putri mengetik, ada suara ketukan pintu di depan. Putri menoleh pada
pintu depan.
TUK
TUK TUK
Putri
menyimpan hape di atas sofa. Kemudian dia beranjak menghampiri pintu.
TUK
TUK TUK
Siapa
yang mengetuk pintu? Tidak ada kalimat salam yang Putri dengar. Mungkin ini
tamu dari jauh. Pikir Putri sesaat sebelum membuka pintu.
Tangan
kanan Putri menggenggam pegangan pintu. Dia menariknya ke bawah. Hampir
bersamaan dengan itu, pintu terbuka. Putri terkejut saat menatap sesosok
laki-laki di hadapannya.
“Lho!”
sebuah kata pendek itu mewakili keheranan Putri.
Seorang
laki-laki di hadapan Putri melebarkan kedua ujung bibirnya. Dia tersenyum.
Sementara Putri masih mematung di dekat pintu. Seorang laki-laki itu melangkah
mendekat pada Putri. Dia menjulurkan tangannya. Masih dengan bingkai wajah yang
heran Putri menyambut tangan itu, lalu mencium punggungnya. Tiga detik
berikutnya giliran sang pemilik tangan yang mengecup kening Putri.
“Di
sinilah tempat yang paling indah itu. Bagi Aa, ini adalah surga dunia. Tidak
ada tempat yang lebih nyaman dari tempat ini. Rumah kita,” bisik Adam pada
telinga sang istri. “Selain itu, di sini juga ada bidadarinya. Bidadari itu
selalu mencium tangan Aa ketika Aa datang maupun ketika Aa pergi. Dia adalah
seorang bidadari surga yang sengaja Allah turunkan ke dunia hanya untuk menemani
Aa,” bisik Adam lagi pada Putri.
Putri
tersenyum. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Tidak ada kata ataupun kalimat yang
mampu dia keluarkan. Sebab sehebat apapun kalimat yang nanti akan keluar, itu
tidak akan pernah mampu untuk mewakili sebuah rasa yang kini Putri rasakan. Hanya
sebuah pelukan yang mungkin bisa mewakili perasaan itu.
Putri
menabrakan tubuhnya pada tubuh tegap Adam. Dia memeluk sang suaminya. Sebuah
pelukan yang sangat erat.
***
Sabtu, 29 Maret 2014
Nyanyian Hati (19)
Esoknya
adalah hari Minggu. Seperti biasa, beberapa santri melakukan operasi bersih,
yaitu bersih-bersih kobong atau asrama santri. Kali ini, hanya segelintir
santri saja yang ikut gotong royong membereskan kobong santri laki-laki.
Beberapa adalah santri yang tinggal di kobong dan beberapa sisanya santri yang
menginap di rumah masing-masing yang ikut membantu. Untuk pagi ini, Fajar tidak
terlihat diantara para santri itu.
Seusai
operasi bersih kobong, Akang mencuci beberapa potong pakaiannya yang kotor. Tiga
puluh menit bergelut dengan baju dan celana kotor, deterjen serta air, Akang
menggantungkan cuciannya pada tali jemuran di halaman kobong. Jajaran kain
basah itu tertimpa hangatnya sinar matahari pagi. Setetes demi setetes air yang
masih menempel berjatuhan menyapa bumi.
Akang
meluncur kembali ke kamar mandi. Ia hendak mandi. Beberapa santri lain ada yang
masih duduk-duduk istirahat sembari mengobrol bermaksud melepas lelah. Lima
menit berselang, Akang keluar kamar mandi dengan bugar sebab telah diguyur oleh
air segar. Akang melangkah menuju kamarnya. Tidak lupa ia menyapa beberapa
santri yang masih mengobrol di teras kobong. Akang masuk kamarnya. Pintunya ia
tutup rapat. Di dalam, Akang sedang berganti pakaian.
Pintu
kamar Akang terbuka kembali. Tapi hanya sedikit saja. Sekira bisa masuk sinar
dan udara pagi saja. Di dalam, Akang sudah berpakaian rapih. Sajadah telah
tergelar. Akang berdiri di atasnya. Bersiap untuk mendirikan solat sunah dhuha.
Akang
masih berdiri. Rukuk. I’tidal. Turun untuk sujud. Beranjak duduk diantara dua
sujud. Sujud lagi. Kemudian beranjak berdiri lagi. Masuk rakaat kedua.
Dari luar,
ada seseorang yang membuka pintu kamar Akang perlahan. Dia adalah Fajar.
Mendapati Akang sedang solat, Fajar masuk pelan-pelan. Lalu duduk pada karpet,
sekitar satu meter di samping Akang. Fajar duduk sila, tidak sabar menunggu
Akang meneyelesaikan solatnya. Ia hendak memberikan kabar tentang hari kemarin.
Tentang sebuah tulisan pada sebuah halaman buku yang ditulis Anita.
Akang
berucap salam. Kepalanya menoleh ke kanan. Lalu salam lagi. Kali ini menoleh ke
kiri.
“Kang,”
ucap Fajar semangat. Ia tidak memberi jeda bagi Akang untuk sebentar berdzikir.
Akang
menoleh. “Iya, Jar?”
“Ada kabar
baik untuk Akang.”
“Kabar
baik?” kedua mata Akang menyipit. Pertanda sedang menerka apa maksud ucapan
Fajar.
“Iya,”
Fajar mengangguk tegas. “Tentang Teh Anita.”
Kening
Akang melipat. Ada segurat senyuman di bibirnya. Akang diam. Ia hanya menatap
Fajar. Senyumnya belum hilang dari ujung bibir.
Akang
masih menatap Fajar. Senyumya masih tampak.
Akang
beranjak dari duduknya. Ia melipat sajadah. Lalu diletakan di atas bantal.
Akang melangkah pada pintu. Ia menutupnya rapat-rapat. Akang kembali
menghampiri Fajar. Mengambil posisi duduk tepat di hadapan keponakannya ustad
Ipun itu. Akang bersiap untuk menerima kabar lebih lengkapnya dari kawan
santrinya itu.
Kedua
orang santri itu mulai berbincang. Fajar mulai bercerita. Bercerita tentang
hari kemarin. Akang memasang wajah serius menatap wajah Fajar. Mendengarkan
dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki di hadapannya.
Fajar
terus bercerita. Hati Akang membuncah. Luapan kebahagiaannya itu tergambar dari
senyumnya yang mengembang. Terlebih saat Fajar menceritakan kronologis ketika
Anita hanya berani memberi jawabannya melalui coretan. Kemudian melangkah masuk
kamar. Meninggalkan sang adik sepupu seorang diri.
Belum
lepas senyum di bibir Akang. Sebuah senyum penanda kebahagiaan jiwa.
Fajar
berhenti berucap. Sang informan itu kini hanya menatap seraut wajah cerah di
hadapannya.
Pada
kubangan kebahagiaan yang sedang dirasakan hatinya, Akang masih berusaha untuk
tetap berpikir setenang mungkin. Ketenangan itu keluar dari sebuah mata air
ketauhidan. Pada takdir Allah. Pada suratan tentang jodoh dariNya. Sebab jodoh
adalah rahasia Illahi. Setiap kemungkinan masih memiliki peluang yang sama
besarnya. Begitu pula tentang Akang dan Anita. Akang memang bahagia, tapi dia
tidak ingin berlebihan. Sebab boleh jadi kehendak Allah akan berbeda. Namun,
harapan di hati Akang tidak pernah berhenti menyanyikan tentang keinginannya.
Keinginan untuk bersanding dengan gadisnya ustad Ipun.
***
Pada
sepertiga malam yang tenang. Langitnya cerah. Bulan baru, melengkung bak
belahan kecil buah melon. Kerlipan bintang bertaburan serupa serpihan emas yang
tersorot matahari. Titik-titik kilau cahaya itu seperti berebut ingin
menonjolkan keindahan mereka.
Udara dini
hari ini masih perawan. Tiupan angin kecil menyapa dedaunan. Mereka melambai
membalas sapaan sang angin dini hari.
Di dalam
kamarnya, Akang sedang bersimpuh di atas sebuah sajadah. Akang membisikan kembali
nyanyian hatinya. Sebuah nyanyian yang dipersembahkan untuk Sang penggenggam
hati. Dipersembahkan untuk Sang Penguasa jagat raya. Raja dari segala raja.
Akang
bermunajat. Ia meminta agar takdirNya seiring sejalan dengan harapan sang hati.
Akang meminta lagi. Lagi. Dan lagi. Hanya kepada Allah Akang berharap. Hanya
kepada Dia Akang memohon permintaan. Sebab sesuatu apapun itu, tidak akan pernah
terjadi jika tanpa seizinNya. Pun sebaliknya, segala sesuatu pasti akan terjadi
jika atas izinNya. Meski semua makhluk berkumpul mencoba untuk menghentikan
kuasaNya. Tidak akan pernah bisa. Sungguh tidak akan pernah bisa.
Sementara
di tempat lain. Pada sebuah kamar yang tidak begitu jauh dari kobong Akang.
Anita telah lebih dulu menyenandungkan bisik hatinya. Do’anya telah lebih dulu
terbang ke langit ke tujuh.
Saat ini
Anita sedang rebahan di atas tempat tidurnya. Ia rebahan untuk menunggu waktu
subuh. Meski raganya diam. Tapi sang hati tidak pernah berhenti bernyanyi.
Bernyanyi tentang keinginannya. Nyanyian hati itu meluncur ke langit.
Berkejaran dengan nyanyian yang dilantunkan oleh hati Akang. Dua buah nyanyian
itu melesat di antara bintang-bintang.
***
Jumat, 28 Maret 2014
Pertanyaan Titipan (18)
Terkadang, ada beberapa waktu dimana pengajian
malam berakhir lebih lambat dari biasanya. Jika ustad sedang semangat dalam
menjelaskan materi pengajian, atau saat materi yang diberikan merupakan perkara
yang sangat penting untuk diketahui. Seperti malam ini. Saat para santri sedang
mendapatkan pengajian akidah.
Beberapa santri masih tidak bergeming dari
duduknya. Mereka tampak masih antusias dalam menikmati hidangan pengajian.
Namun ada beberapa santri lain yang duduknya sudah bergoyang-goyang. Mereka
ingin segera melepas pantatnya dari lantai majelis dan ingin segera merebahkan
tubuhnya di tempat tidur. Seperti Fajar. Dia merasakan kelopak matanya yang
perlahan terasa berat. Dan bertambah berat seiring jarum detik jam dinding
majelis yang terus berputar.
Betapa sumringahnya Fajar ketika ustad Ipun
menutup pengajian. Selepas merapihkan majelis, Fajar berjalan menguntit Akang.
Dia hendak bermalam di kamar sahabatnya yang dua tahun lebih tua dari dirinya
itu.
“Kang...,” gumam Fajar pelan.
“Iya,” jawab Akang masih tetap berjalan di
depan sang penanya.
“Malam ini saya nginep di kamar Akang lagi
ya.”
“Hmm,” Akang mengiyakan. Kedua santri itu
melanjutkan langkah menuju kobong santri laki-laki.
Setibanya di kamar, Fajar langsung merebahkan
tubuhnya di karpet yang sudah tergelar. Dia tidak sempat untuk membuka sarung
dan baju kokonya. Bahkan pecinya pun masih menempel di kepala. Kantuk adalah
penyebab utamanya.
Akang menggeleng melihat tingkah Fajar.
Akang melepas peci dan baju koko. Lalu ia
cantelkan pada gantungan baju di balik pintu. Kemudian Akang duduk di samping
Fajar. Ia menempelkan punggungnya pada dinding. Akang menarik nafas panjang.
Lalu dikeluarkan. Akang menarik nafas lagi. Lalu dikeluarkan lagi. Perlahan
raga Akang rileks kembali.
Akang menoleh pada Fajar. Ditatapnya kedua mata
santri yang sedang tepar di sampingnya. Mata itu setengah terpejam. Akang
tersenyum menatap pemandangan itu.
“Jar,” panggil Akang.
Fajar menggeliat sedikit. “Hmm...”
“Usia Fajar berapa?”
Fajar menggeliat lagi. Malam-malam begini.
Tidak ada angin juga tidak ada hujan, malah tanya usia. Protes Fajar dalam
hati.
Fajar membuka matanya perlahan. Ia beranjak
duduk. Pandangannya menerawang pada dinding di hadapannya. Sepertinya dia
sedang mencoba menghitung biji usianya.
“Dua puluh satu,” Fajar menoleh pada Akang.
Lalu berpaling lagi.
Akang manggut-manggut mendengar jawaban Fajar.
“Kapan menikah?”
Cepat sekali Fajar kembali menoleh pada Akang.
“Menikah?!” tanyanya heran. Mungkin heran dengan bunyi pertanyaan dari Akang.
“Iya.”
“Akang aja yang usianya sudah dua puluh empat
belum menikah, apalagi saya yang masih dua puluh satu.”
“Dua puluh tiga,” Akang meralat pernyataan
Fajar.
“Iya. Tapi tetap saja lebih tua dari saya.”
Fajar mengakhiri kalimatnya dengan sebuah cengiran. Jumlah usia Akang yang
lebih banyak mungkin penyebab cengiran itu. Akang ikut tersenyum juga. Meski
hanya sedikit.
Akang memalingkan matanya dari wajah Fajar. Ia
menatap dinding kembali.
Beberapa detik, kedua pemuda itu tidak
bersuara. Akang masih menerawang seperti sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa detik berikutnya kembali terlewat
begitu saja.
Akang melirik Fajar.
“Jar,” panggil Akang lirih.
“Iya,” Fajar menoleh pada sumber suara.
“Saya boleh tanya?”
“Gak boleh.”
Akang bersiap untuk bertanya. Sebab dia tahu
bahwa jawaban Fajar barusan hanyalah canda semata.
“Jar.”
“Iya.”
“Teh,” Akang berhenti. “Teh Anita sudah ada
yang melamar?”
“Eh!” mata Fajar membulat tersebab pertanyaan
Akang. Kedua ujung bibirnya melebar. “Apa Kang?!” Fajar malah kembali bertanya.
Bertanya untuk meyakinkan bahwa telinganya tidak salah dengar.
“Apa Kang?!” Fajar bertanya lagi. Senyumnya
bertambah lebar. Ada bau-bau ledekan dari bentuk senyum itu.
Akang merasakan ledekan Fajar. Ia tidak
tinggal diam begitu saja.
“Neng Dian adiknya Sabil yang imut itu sudah
ada yang melamar belum kira-kira ya? Jika belum, saya hendak melamar gadis imut
itu,” Akang menutup ledekannya dengan sebuah senyum yang tidak kalah kerennya
dengan senyuman Fajar.
Seketika itu juga senyum Fajar hilang. Kini
wajahnya menekuk ke bawah.
“Gimana Jar? Fajar tahu gak? Saya berharap sih
neng Dian belum ada yang melamar. Biar besok saya langsung bisa melamarnya.”
Akang tersenyum lagi.
Fajar berpaling dari Akang. Ia melempar
pandangnya pada dinding. Wajahnya masih menekuk. Meski ia tahu Akang hanya
bercanda.
Fajar diam.
“Setahu saya Teh Anita belum ada yang melamar,
Kang.” Setelah diserang balik, akhirnya Fajar menjawab juga pertanyaan utama
Akang.
Akang belum memberi respon atas jawaban Fajar.
Ia masih diam. Diam memikirkan sesuatu.
“Jar.”
“Iya.”
“Saya boleh meminta tolong?” pinta Akang.
“Tentang apa?”
Akang menatap Fajar. Fajar juga melihat Akang.
Akang sedikit ragu untuk berujar. Fajar siap untuk menampung pinta Akang.
***
Waktu dhuha. Langit sedang cerah. Mentari pagi
mulai beranjak. Sinarnya hangat menerpa rumah ustad Ipun.
Hari ini Fajar mengajar agak siang. Untuk itu,
dia menyempatkan untuk mampir ke rumah sang paman, ustad Ipun. Selepas sarapan bareng
sang paman dan sang bibi, Fajar ikut solat dhuha di mushola rumah. Sepuluh
menit setelah itu, Fajar menghampiri teteh sepupunya di ruang tamu. Ia hendak
menjalankan amanah yang semalam telah diberikan kepadanya.
Fajar mendapati Anita sedang membaca buku. Ia
duduk di sofa sebelah sofa yang Anita duduki.
“Lagi ngapain Teh?” Fajar bertanya basa basi.
“Baca,” Anita menoleh sebentar. Tidak lupa dia
memberi seutas senyuman pada sang adik sepupu.
“Oooh,” Fajar mengangguk. Anita kembali
membaca.
“Baca buku apa Teh?” Fajar bertanya lagi.
Anita kembali berhenti membaca. Ia menatap
Fajar lagi. Ia tidak menjawab. Sang Teteh sepupu itu hanya tersenyum saja.
Kemudian menunjukan sampul buku yang ada di tangannya.
Fajar membaca judul buku yang ditunjukan
Anita. “Oooh.” Ia mengangguk.
Anita membaca lagi.
“Teh,” ucap Fajar.
“Iya,” jawab Anita pelan. Suaranya lembut
sekali. Kali ini ia tetap menatap buku.
“Fajar boleh tanya sesuatu pada Teteh?”
“Mangga atuh tanya saja,” Anita masih tidak
berpaling dari buku.
“Teh.”
“Iya,” Anita tetap membaca.
“Teteh udah ada yang melamar belum?”
Anita kaget. Tidak menyangka dengan pertanyaan
yang diberikan adik sepupunya. Ia berhenti membaca. Dahinya melipat.
Anita menutup buku di tangannya. Ia menoleh
pada Fajar.
“Melamar?”
“Iya. Apakah Teteh sudah ada yang melamar?”
Anita tersenyum lembut. “Nanti juga Fajar akan
tahu jika memang sudah waktunya.” Anita masih tersenyum pada Fajar.
Fajar diam. Diam karena belum menemui jawaban
atas pertanyaannya.
Anita membuka bukunya lagi.
“Teh.”
“Iya,” Anita tetap menatap buku.
“Pertanyaan yang tadi adalah pertanyaan
titipan,” Fajar memberi jeda. Anita masih membaca. “Titipan dari seseorang,”
Fajar melanjutkan. “Pertanyaan tadi adalah pertanyaan titipan dari Akang. Akang
meminta tolong Fajar untuk menanyakannya kepada Teteh.”
Anita tersentak. Dadanya seperti ada yang
menghantam.
Anita masih melihat buku, tapi tidak sedang
membaca. Gadis itu memikirkan ucapan Fajar beberapa detik lalu.
Pelan-pelan Anita menyimpan pandangannya pada
Fajar. Kedua sepupuan itu beradu pandang. Tidak ada kata. Hanya bertabrak
pandang saja. Benarkah? Sorot mata Anita bertanya demikian.
Anita kembali melihat buku. Namun tetap, meski
pusat matanya tertuju pada susunan kata, tapi pikirannya masih belum lepas dari
kalimat yang keluar dari mulut sang adik sepupu. Hampir satu menit Anita
seperti itu. Fajar tetap diam. Ia setia menunggu jawab dari sang teteh sepupu.
Anita perlahan menutup buku. Ia tidak menoleh
pada Fajar.
Anita mengambil pulpen yang tergeletak pada
meja tamu di hadapannya. Ia membuka sampul buku. Lalu menuliskan sesuatu di
lembar pertama buku.
Fajar masih diam. Ia hanya memperhatikan apa
yagn dilakukan Anita.
Anita menyelipkan pulpen pada lembar yang ia
coretkan sebuah tulisan. Kemudian ia simpan buku di tanganya pada meja. Anita beranjak.
Ia meleos pergi. Melangkah menuju kamarnya. Anita meninggalkan Fajar. Tanpa
sepatah kata pun. Bahkan walau hanya isyarat sekalipun.
Saat Anita hilang ditelan pintu kamar yang
tertutup, Fajar mengalihkan tatapnya pada buku di atas meja. Ia mengambil buku
itu.
Fajar membuka lembaran yang terselip pulpen.
Pada lembar kosong itu, Fajar menemukan sebuah tulisan tangan yang terbaca “Teteh
belum ada yang khitbah.”.
Fajar sekali lagi membaca coretan itu.
“Teteh belum
ada yang khitbah.”
Bibir Fajar mengembang setelah membaca kalimat
itu. Ia tidak sabar ingin segera mengabari hal ini kepada Akang. Juga tidak
sabar untuk melihat ekspresi seperti apa yang akan Akang tunjukan setelah
mendengar berita ini.
Bibir Fajar masih mengambang. Sementara
disana. Di dalam kamarnya. Anita berdiri menyandarkan tubuhnya pada balik
pintu. Tubuhnya gemetar tersebab berita dari Fajar. Telapak tangan kirinya masih
tetap membekap mulutnya sendiri. Sedangkan tangan kanannya ia simpan di
dadanya. Mencoba meredakan detaknya yang masih bergelora. Anita sendiri tidak
tahu. Apakah bibir di balik telapak tanganya itu sedang tersenyum atau
menangis. Yang jelas, matanya berkaca-kaca.
***
Langganan:
Postingan (Atom)



