Kamis, 23 September 2010

Apa, Kuburan !!!!


Banyak orang di kampungku yang mengatan kalau rumahku letaknya sangat strategis dan indah. Pemandangan di sekelilingnya sangat menentramkan jiwa. Angin bukit yang bertiup sepoy-sepoy membuat siapapun betah untuk santai berlama-lama duduk di bawah pohon mangga rindang di halaman samping rumahku. Halaman rumahku memiliki ukuran yang cukup luas. Banyak pohon buah-buahan yang tumbuh, seperti: pohon belimbing, pohon asam jawa, pohon kelapa, pohon pete, pohon jengkol, pohon sirsak, dan pohon yang paling banyak jumlahnya, yaitu pohon mangga.

Di bawah salah-satu pohon mangga berdiri sebuah saung yang berukuran tidak kecil, namun juga tidak terlalu besar. Di saung itu, paling tidak satu minggu dua kali aku dan keluarga makan bersama. Seperti kebiasaan selera orang sunda lainnya, menu makanan favorit kami sekeluarga adalah nasi putih dan ditemani dengan ikan asin peda, sambal terasi, sayur asem dan tidak ketinggalan lalab-lalaban hijau.

Rumahku dibangun tepat di pinggir jalan, namun bukan jalan raya utama, malainkan hanya jalan desa. Diseberang jalan agak sedikit ke kanan, terhampar rumput hijau, para pemuda kampung, pada sore hari biasa bermain sepak bola disana, tidak terkecuali juga aku, jika memiliki waktu luang, aku selalu menyempatkan diri untuk bermain sepak bola, karena aku sangat suka sepak bola.

Satu kata kunci mengapa semua orang memuji-muji letak rumahku, yaitu pemandangan laut biru dari atas bukit. Ya, dengan hanya duduk santai saja di saung, kita bisa melihat indahnya laut, hal ini karena dataran tempat rumahku berdiri termasuk cukup tinggi.

Jarak rumahku ke pantai adalah sekitar tiga ratus meteran. Dua puluh meter pertama dari bibir pantai, itu merupakan seperti pantai pada umumnya, yaitu tempat orang-orang melepas stres. Setelahnya adalah jalan raya tempat lalu lalang kendaraan. Seratus lima puluh meter dari jalan raya merupakan tanah yang relatif datar, di sini ada pertigaan jalan menuju ke perkampunganku. Di pinggir-pinggir jalan desa ini terdapat hanya beberpa rumah warga saja. Setelah itu ada tanjakan dengan kemiringan yang landai, kurang-lebih panjang tanjakan itu adalah lima puluh meteran. Seratus meter terakhir sebelum menuju rumahku, permukaan kembali lagi relatif daftar. Di samping kiri jalan terdapat perkebunan-perkebunan milik warga, sedangkan di samping kanannya adalah lapangan sepak bola yang sudah aku ceritakan dimuka. Dengan hanya berdiri saja atau sambil duduk santai di sekitar rumahku dan menghadapkan kepala ke arah barat, siapapun akan takjub melihat bentang alam hasil maha karya dari Sang Maha Pencipta, yaitu hamparan laut biru.

Apapu itu yang ada di permukaan bumi ini, tentu tidak akan peprnah ada yang sempurna, pasti ada saja kekurangannya. Begitupun dengan letak rumahku. Ada satu hal yang membuatku sering protes kepada bapakku kenapa membangun rumah di posisi ini.

“ Kenapa sih bapak membangun rumahnya di sini? Kenapa gak di tempat lain aja?” protesku pada bapak. Ya, karena satu kekurangan itulah aku kecil tidak berani untuk keluar rumah lewat dari selepas magrib. Apa penyebabnya??? Penyebabnya adalah tanah kosong yang luas dan ditumbuhi banyak pohon besar, antara rumahku dan lahan itu hanya dipisahkan oleh jalan desa saja. Di lahan itu, terdapat banyak sekali gundukan-gundukan tanah yang menyerupai miniatur gunung tangkuban perahu, namun di ujung miniatur gunung itu, tertancap sebuah kayu ataupun batu yang bertuliskan sebuah nama manusia, tempat itu tidak lain dan tidak bukan adalah pemakaman umum, alias KUBURAN.

“ TIDAAAAAAAAAKK, aku ingin pindah rumah….., Eh…, bukan !!! bukan pindah rumah, tapi bikin rumah lagi saja yang letaknya jauh dari kuburan, soalnya kalau pindah, aku tidak akan bisa lagi memandangi indahnya laut biru di depan rumahku.”
********

BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN

Aku dihadapkan dengan masalah yang super banyak dan berat. Karena masalah-masalah itu, hidupku terasa hampa dan tidak bergairah lagi. Semua yang kulakukan seakan tidak ada gunanya. Hati ini sunyi, sepi, kering dan kosong. Mungkin semua masalah ini penyebabnya adalah karena aku jauh dari-Nya. Jauh dari jalan-Nya.

Aku tidak ingin hidupku seperti ini terus. Aku ingin berubah, berubah ke arah yang lebih baik, dan kembali lagi menempuh jalan yang lurus. Untuk itu, aku meminta izin kepada kedua orang tuaku yang kini tinggal dirumah yang berbeda, untuk menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren yang tidak jauh dari kampungku. Di sana aku ingin menggali ilmu keislaman sebanyak-banyaknya. Di sana aku ingin memperbaiki sifat-sifatku.

Alhamdulillah, keinginan itupun terwujud, hanya beberapa hari saja tinggal di pondok, perlahan hatiku mulai membaik, semangat hidupku mulai terbangun kembali. Mungkin salah-satu faktor penyebabnya adalah suasana yang sangat sarat dengan islam, ditambah lagi dengan lokasi pondok yang pas, pemandangan disekitarnya tidak kalah dengan pemandangan di rumahku. Pondok itu berdiri gagah di atas sebuah bukit, di bawah bukit itu terhampar persawahan hijau yang cukup luas, aku meyakini, siapapun yang tinggal di pondok ini, akan merasakan kenyamanan setadium akhir, karena suasananya sangat hening, pondok ini numayan jauh dari perumahan warga.

Pada suatu sore, sekitar satu minggu aku menjadi penghuni pondok, aku dan teman satu kobong (sebutan kamar di pondok pesantren), yang lebih lama masuk dariku, kami duduk santai di teras depan kobong. Aku duduk di sofa butut berwarna coklat, sementara temanku duduk di lantai membaca kitab kuning. Sesekali kami mengobrol ringan. Sekelompok burung pipit bernyanyi-nyanyi di sebuah pohon mangga besar yang tumbuh di bukit seberang yang jaraknya tidak jauh. Aku perhatikan bukit itu, ku lihat pohonnya yang besar-besar. Karena penasaran akan guna dari lahan itu, aku menanyakannya kepada temanku yang sudah lama di pondok ini.

“ Fren, bukit itu digunakan untuk apa? Apakah itu juga masih perkebunan milik warga?” tanyaku.

“ Bukan, itu bukan kebun, tapi itu adalah pemakaman umum kampung sini,” jawab temanku sambil melihat bukit itu.

“ WHAAAT, KUBURAN !!!! TIDAAAAAAKKK !!!!”
********

BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN

Menjadi mahasiswa, asyik, sekarang aku sudah menjadi mahasiswa. Berat perjuangan yang ditempuh untuk bisa mewujudkan salah-satu mimpiku yang satu ini. Tidak terhitung berapa banyak keringat dan air mata darah yang telah aku keluarkan. Do’a tulus dari ibu dan bapakku turut menghantarkanku pada cita-cita ini. Masa-masa sulit dalam berjuang kini telah menjadi kenangan indah yang bisa membuatku tersenyum-senyum sendiri jika sedang mengingatnya.

Karena jasa seorang teman yang baik hati, aku bisa tinggal dengan sedikit nyaman pada awal-awal masa kuliah. Dia mempersilahkan aku untuk tinggal sementara di kos-kosannya selama aku belum mendapatkan kos-kosan sendiri.

“ Sudah, selama kamu belum memiliki uang untuk menyewa kos-kosan, tinggal saja dulu di sini denganku,” ujar seorang teman yang baik hati. Aku sangat berterima kasih atas tawaran yang dia berikan.

Kos-kosan temanku itu letaknya tidak jauh dari kampus. Bangunanya berlantai dua. Di lantai yang pertama terdapat empat kamar, gudang, dapur, tempat mencuci dan dua kamar mandi. Di lantai dua juga terdapat empat kamar dan satu mushola. Satu dari empat kamar yang ada di lantai dua digunakan sendiri oleh ibu pemilik kos-kosan, dia hidup hanya berdua saja dengan seorang anak perempuannya yang masih duduk di kelas lima SD. Di sebelah pojok dekat dengan kamar yang diisi ibu kos, terdapat sebuah tangga yang tembus ke atap. Atap kos-kosan ini bukan dari genting, melainkan hanya coran tembok saja. Di atap itu, para penghuni kos-kosan menjemur cucian-cucian mereka. Di atas atap itu, terlihat sebagian kecil kota Bandung yang indah. Banguna-bangunan terlihat dengan ukuran yang kecil-kecil. Indah sekali.

Sepulang dari kuliah, mencoba melepas lelah, aku melihat pemandangan kota Bandung dari atas atap kos-kosan. Ku hirup nafas dalam-dalam, urat-urat syaraf serasa segar kembali. Aku balikan badan dan melangkah ke sisi yang satunya, di sana terdapat sebuah lahan kosong yang numayan cukup luas. Aku memandangi lahan kosong itu. Tiba-tiba saja pikiranku tertuju ke sebuah lahan di seberang rumahku dan sebuah bukit di pondok pesantren tempat aku menuntut ilmu islam dulu. Namun bersamaan dengan itu, jantungku serasa berhenti berdetak. Badanku mematung susah untuk digerakan. Mataku melotot dan mulutku mangap karena kaget.
“ WHAAAATTTT !!!! KUBURAN !!!! TIDAK, TIDAAAK, TIDAAAAKK !!!!”

Kamis, 08 Juli 2010

MELIHAT LEBIH DEKAT


Ternyata, sekarang aku bisa menyadari apa yang mereka pikirkan dulu. Sebelumnya aku sedikit acuh dengan pendapat mereka. “ Apa bagusnya???” pikirku ketika itu. Aku tersenyum kecut menanggapi apa yang mereka pikirkan, mereka katakan dan mereka lakukan.

Seorang teman perempuan SMA ku dulu, dia menggunakan waktu luangnya di sekolah dengan membaca novel-novel karangan JK. Rowling. Bahkan, kakak sepupuku lebih gila lagi. Dia mengoleksi semua edisi novelnya, baik itu yang berbahasa Inggris, ataupun yang terjemahan indonesianya. Di berita di televisi, di Koran-koran, ataupun di tabloid-tabloid, tidak henti-hentinya memuji novel hasil imajinasi penulis berambut pirang ini. Selain itu juga masih banyak ucapan-ucapan ataupun tulisan-tulisan yang aku temui, yang pada intinya memuji novel yang satu ini.

“ Apa untungnya? Mendingan beli buku-buku karangan penulis Indonesia, lebih nasionalisme !!!, selain itu juga, secara tidak langsung kita mengangkat citra para penulis tanah air,” Ujarku kepada salah-satu teman beberapa tahun lalu. Temanku hanya tersenyum menanggapi apa yang aku katakan.

“ Ya, itu sih terserah kamu, mau setuju atau tidak, yang jelas menurutku itu buku super mantap, imajinasi penulisnya sangat menakjubkan dan tidak terbayangkan olehku sebelumnya,” ucap temanku yang lainnya.

Aku keukeuh dengan pikiranku. Tidak secuilpun aku tertarik kepada novel yang banyak orang bangga-banggakan itu. Jika memiliki sedikit uang berlebih, aku hanya membeli buku-buku fiksi karangan para penulis pribumi. Koleksiku sudah cukup banyak di perpustakaan pribadiku. Namun, tampaknya ini hanya akan menjadi cerita masa lalu. Mungkin sebentar lagi aku akan menjilat ludahku sendiri. Mengapa??? Hal ini karena, beberapa hari yang lalu, hidayah itu menghampiriku. Di sebuah layar kotak televisi 14 inci, milik teman kuliahku, lewat situlah hidayah itu muncul.

Bermaksud melepas lelah setelah sibuk tiga hari mengerjakan laporan praktikum kerja lapangan (PKL), aku main ke kosan teman yang letaknya tidak jauh dari kosanku. Aku ingin menonton televisi, niatku waktu itu. Setelah solat isya, dengan tidak banyak pikir lagi, aku langsung meluncur. Sesampainya di tempat tujuan, aku disambut dengan sebuah film yang berjudul ‘Harry Potter and The Prisoner Of Azkaban’. Acara nontonpun berjalan dengan lancar dan menyenangkan, karena kebetulan waktu itu temanku baru pulang dari kampung halamannya. Berbagai jenis kue-kuehan tersaji menemani kami menonton. Pikiranku kembali segar dan perutpun menjadi kenyang.

“ Busyeeeeet, filmnya mantap Bi, setingnya indah-indah dan menakjubkan, jalan ceritanya juga mantap,” Ujarku kepada Robi sang pemilik kosan, sesaat setelah film berakhir.

“ Inimah ‘gak ada apa-apanya Nik, jika dibandingkan dengan novelnya, jauh berbeda, lebih seru novelnya, kita bebas berimajinasi menurut pikiran kita sendiri,” jawab Robi. Kemudian dia menambahkan,” Jangan-jangan kamu belum baca novelnya ya?!!” Tanya Robi. Raut wajahnya seakan sudah mengetahui kalau aku belum membaca novelnya. Bibirnya tersenyum asam. Alisnya dia gerak-gerakan.

Akhirnya, lewat film ini, aku merasakan apa yang mereka rasakan dulu. Yang jelas, jika suatu saat nanti aku memiliki uang berlebih, aku akan langsung membeli novel-novel Harry Potter, semua edisi dari tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, Indonesia dan Bahasa Sunda (kalau memang ada).

Yang paling aku ingat dari film itu adalah adegan ketika Harry Potter dan temen perempuannya yaitu ‘Harmione’ memutar waktu ke masa lalu berniat menyelamatkan kuda yang memiliki sayap dan kepala elang yaitu ‘Buckbeak’. SubhanAllah, adegan itu mengungkap semuanya. Siapa yang melempar batu hingga guci menjadi pecah. Siapa yang melempar kepala Harry. Apa yang di kampak oleh orang bertopeng hitam. Siapa yang mengaum hingga membuat Harry tidak jadi dibunuh oleh manusia serigala. Dan yang paling menakjubkan adalah siapa sosok misterius yang menyelamatkan Harry dari ‘Dementor’ dan mengusir Dementor-dementor itu. Aku tidak habis pikir dengan imajinasi dari penulisnya.

Akhirnya aku menyadari apa kesalahanku selama ini. Akhirnya hijab itu telah terbuka dan terlihatlah semua yang sebelumnya tidak aku lihat. Hikmah yang aku dapat dari peristiwa ini adalah hanya satu kata yaitu ‘Melihat Lebih Dekat’. Kesalahanku kemarin adalah menanggapi apa yang tidak aku ketahui dan hasilnya pun tidak sesuai dengan yang seharusnya. Sedangkan mengenai pendapatku yang terdahulu, yaitu mengenai membeli buku yang penulisnya adalah orang luar, selama itu bisa dijadikan untuk pembelajaran bagi kita, mengapa tidak. Ilmu datang dari mana saja, tidak memandang apakah dia orang miskin ataupun orang kaya, orang bodoh ataupun orang pintar, orang suci ataupun orang berdosa, dan orang tua ataupun anak kecil.

Mengapa bintang bisa bersinar? Mengapa air bisa mengalir? Mengapa dunia bisa berputar? Mengapa angin bisa bergerak? Mengapa bendera Indonesia berwarna merah dan putih? Mengapa kita bisa tumbuh? Lihat segalanya lebih dekat. Maka aku ataupun kamu akan lebih megerti.

Minggu, 27 Juni 2010

SUARA KERINDUAN


Kenapa harus dia lagi yang muncul dalam pikiranku. Aku ingat wajahnya. Aku ingat tubuhnya. Aku ingat bibirnya. Aku ingat tingkahnya. Aku sangat ingat saat-saat dia merasakan kesal ketika aku selalu mendekati dia, tetapi ‘tak kunjung juga aku mengungkapkan perasaanku kepadanya.

Aku tahu dia merasa sangat kesal. Sampai detik ini masih terngiang jelas ditelingaku, kalimat yang sering dia ucapkan ketika sedang merasa kesal, “ Mau aku seperti ini, atau seperti bagaimanapun, ya, terserah aku, ‘gak ada hubungannya dengan kamu kan?”

Aku faham. Bahkan aku sangat faham. Dari kalimat yang dia ucapkan itu, terselip maksud agar aku memperjelas hubungan aku dengan dia. Dia ingin hubungan kami jelas, bukannya menggantung ‘tak bertuan.

Bukannya aku ‘tak ingin mengutarakan isi hatiku. Sungguh berat rasanya. Aku ‘tak mampu. Lidah ini kelu dan kaku. Tubuhku gemetar. Wajahku pucat ‘tak berwarna. Aku ‘tak sanggup melepas kata jika membicarakan masalah yang satu ini. Aku ‘tak bisa. Aku ‘tak mampu. Aku ‘tak sanggup.

Hingga saat perpisahan itu tiba, Aku ‘tak kunjung juga mengutarakan apa yang ada di hatiku. Kami berpisah layaknya teman biasa, yang tidak ada kesan manis seperti di film-film romantis

Aku tahu tidak sedikit waktu yang dia butuhkan agar bisa mengikis apa yang telah terjadi antara kami berdua. Aku sangat yakin akanhal itu, seyakin kalau aku juga butuh banyak waktu supaya kenangan kami bisa menghilang dari otakku.

Aku tahu ini terlambat dan tidak ada gunanya untuk diungkapkan. Seperti apapun warna hatimu sekarang dan tersampaikan atau tidaknya suara hatiku ini, aku tidak perduli. Aku sungguh tidak perduli. Sayangku, perlu engkau ketahui, sesungguhnya aku sangat mencintaimu.

Duhai sayangku, masih ingatkah engkau dimana tempat kita berkenalan dulu. Ketika kita saling bertanya nama, ketika kita saling bertanya kelas. Ketika itu kita berbicara layaknya seorang anak manusia yang baru belajaar berbicara.

Masih ingatkah engkau dimana tempat kita saling bertemu dan melepas rindu. Ketika kita saling berpandangan dan engkau menunduk menyembunyikan rasa malu. Apakah engkau ingat? Ketika itu kita tidak membuat janji untuk bertemu di tempat itu. Tetapi cinta dan rasa rindulah yang membuat aku dan kamu untuk terus dating dan dating lagi ketempat bersejarah itu. Tempat yang tidak mungkin bias aku lupakan. Sayangku, apakah engkau ingat dimana tempat itu?

Sayangku, ingatkah engkau ketika meminjamkan sebuah buku kepadaku? Perlu engkau ketahui, sebenarnya aku meminjam buku itu bukan karena bukunya, akan tetapi karena engkau, sayangku, karena aku ingin selalu berada disampingmu. Dan perlu juga engkau ketahui, sebenarnya saat itu aku sangat anti dan tidak suka membaca, tapi, lagi-lagi cintalah penyebabnya. Cintalah yang bisa membuat aku melahap habis buku itu dalam waktu yang sangat singkat. Sayangku, masih ingatkah engkau apa judul buku itu?

Sayangku, apakah engkau ingat juga dengan memori telepon genggam. Saat itu aku sangat senang ketika aku tahu semua SMS yang kukirim tersimpan rapih di memori telepon genggammu, ‘tak satupun yang hilang. Sayangku, aku juga tahu kalau engkau merasakan hal yang sama ketika aku berucap semua SMS yang engkau kirim tersimpan rapih di memori telepon genggamku. Ingakah engkau, sayangku, ketika mendengar kalimat itu, engkau tersipu malu dan memalingkan pandangannmu dariku. Wajahmu memerah. Engkau menahan senyum manismu, meskipun saat itu engkau gagal melakukannya. Sayangku, cinta jualah yang membuataku dan kamu mempertahankan SMS-SMS itu.

Ratusan kilo jarak yang memisahkan kita, ‘takkan pernah bias membuat hati ini jauh darimu. Tidak akan pernah sayangku, sungguh tidak akan pernah.

Tahukah engkau, Sayangku. Dalam hembusan angin yang menerpa wajah cantikmu, disitu ada rinduku. Dalam butiran air hujan yang membasahi tubuhmu, disitu ada cintaku. Dan dalam sinar matahari pagi yang menerpa kulit putihmu, disitu ada aku.

Sayangku, aku melihatmu diantara indahnya warna pelangi. Aku mendengar senandungmu diantara kicauan burung. Aku merasakan amarahmu diantara dentuman Guntur.

Sayangku, suatu saat nanti, entah itu esok, lusa, atau kapanpun, aku ingin engkau berada disampingku. Engkau menghiburku disaat aku merasa lelah. Engkau menyemangatiku dikala aku terpuruk. Engkau menghapus air mataku ketika aku menangis. Dan engkau membacakan sebuah dongeng apabila aku merasa ngantuk.

Sayangku, jika esok engkau bersamaku, akan aku peluk erat tubuh mu hingga engkau merasakan kehangatan berada dalam pelukku.Tidak akan kubiarkan engkau jauh lagi dari sisiku. Aku akan membuat engkau merasa damai hidup denganku. Aku akan melakukan semuanya untuk mu, Sayangku.

Sayangku, tahukah engkau siapa yang aku pikirkan ketika menulis kalimat kerinduan ini? Engkau sayangku, Engkau yang aku pikirkan, tiada lain hanyalah engkau.

Sayangku, meskipun tangan kita tidak saling berjabat. Walaupun mata kita tidak saling bertatap. Dan biarpun bibir kita tidak saling berucap. Tetapi hati ini berbicara, sayangku, dia mengucapkan sesuatu. Dengan penuh ketulusan¸hati ini mengajakmu untuk ikut memanjatkan sebuah do’a, agar semuanya bias menjadi nyata.

Jumat, 25 Juni 2010

KADO ISTIMEWA


Satu kata yang dapat mewakili perasaan saya saat itu, yaitu KAGET. Bagaimana tidak, tanpa pemberitahuan terelebih dahulu, kakak angkatan menunjuk saya sebagai juragan acara atau yang lebih keren disebut dengan Master of Ceremony di acara Musyawarah Mahasiswa atau MUMAS jurusan saya yaitu Jurusan Pendidikan Geografi. Padahal, belum genap lima menit saya memasuki ruangan tempat MUMAS dilaksanakan.

Awalnya saya menolak permintaan itu, tapi karena beberapa pertimbangan, walaupun dengan perasaan yang sedikit ragu, akhirnya saya menyanggupinya. Saya bergelut dengan waktu tersisa untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saya perhatikan siapa saja tamu undangan yang hadir, dan gelar apa yang mengekor di belakang namanya. Khawatir salah sebut nama dan gelar, maka untuk memastikan, saya tanyakan kepada kakak angkatan yang mengetahui.

Satu alasan yang membuat saya menerima permintaan kakak angkatan untuk menjadi MC adalah sebuah buku kecil pemberian dari motivatorku, namanya Fifit Sari Nur Alam. Dia adalah motivator terbak dunia, paling tidak menurut saya. Buku kecil tapi penuh motivasi itu dia berikan kurang lebih sekitar satu setengah tahun yang lalu, yaitu hanya beberapa bulan sebelum saya dinyatakan lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SNMPTN. Ketika itu, saya merasa semangat belajar saya menurun drastis. Mungkin salah satu penyebabnya adalah suatu peristiwa yang sedang terjadi dalam keluarga saya.

Setelah mendengarkan perkataan-perkataan ajaib beliau, semangat belajar saya sedikit demi sedikit berangsur-angsur naik.

“ Oh ya, ini ada buku untuk Niko. Siapa tahu dapat menolong. Buku ini Teteh beli ketika kuliah dulu,” ujar Teh fifit, sesaat setelah saya pamit untuk pulang.

Yang paling saya ingat, karena ada hubungannya dengan peristiwa yang baru-baru ini saya alami, yaitu salah satu bahasan dalam buku kecil pemberian sang motivator. Di dalam salah satu bab bukunya, sang penulis membedakan sifat-sifat yang dimiliki oleh sang pemenang dengan sang pecundang. Penulis buku itu menjelaskan bahwa, salah satu perbedaan sang pemenang dan sang pecundang adalah, ketika dihadapkan kepada perintah untuk berbicara di depan umum, dalam hal yang baik-baik tentunya, sang pemenang menjawab permintaan itu dengan satu kata, yaitu “SIAP”, sedangkan sang pecundang sibuk mencari beribu-beribu alasan agar dia terbebas dari perintah itu. Karena saya tidak ingin masuk kedalam golongan orang-orang yang pecundang, maka dari itu saya terima dan bersedia menjadi MC dalam acara MUMAS ini.

Meskipun pada akhirnya ada saja kesalahan kecil yang terjadi ketika memandu acara, akan tetapi saya sudah merasa puas dengan tindakan yang telah saya lakukan, dengan tindakan itu, setidaknya saya adalah bukan termasuk kedalam golongan orang yang pecundang.

“ Terima kasih ya, Ko. Tadi sangat bagus, Teteh tidak menyangka, ternyata kamu bisa melucu juga,” puji salah satu kakak angkatan sesaat setelah acara pembukaan MUMAS selesai.

“ Sama-sama, Teh,” jawab saya berselimut bangga.
**********

Tiba-tiba saja suasana ruangan ini menjadi hening. Dengan perlahan, kicauan mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi menjadi melemah, hingga akhirnya menghilang, yang terdengar hanyalah suara lembaran-lembaran kertas yang dibolak-balik. Agenda sekarang adalah pemilihan presidium MUMAS. Setidaknya hati saya sudah merasa aman dan tenang. Hal ini karena fraksi angkatan saya telah memutuskan untuk memilih Teh mercy dari angkatan 2008 sebagai bakal calon presidium. Saya sandarkan badan saya pada kursi empuk berwarna merah yang sedang saya duduki sembari menikmati ketenangan jiwa karena terbebas dari kemungkinan terpilihnya menjadi pimpinan MUMAS.

“ Fraksi 2008 memilih Niko sebagai bakal calon presidium,” ujar presidium sementara dengan lantang. Suaranya serasa menghujam jantungku. Dengan reflek badanku tegak kembali. Puluhan kepala serempak menoleh kearah dimana saya berada dan disambung dengan riuhan tepuk tangan dan sorakan. Presidium sementara memperlihatkan kertas kecil kepada dua orang saksi yang telah disepakati forum.

“ Sah,” ucap dua orang saksi, sambil kepala mereka manggut-manggut. Terlihat Teteh yang tadi menyuruh saya menjadi MC tersenyum sambil mengangkat dua jempolnya.
Astaganaga, lirih saya dalam hati. Apa gerangan yang harus saya lakukan??? Kenapa harus saya yang terpilih? Kenapa tidak yang lain? Hati saya bertanya-tanya. Haruskah saya berpura-pura ada keperluan penting yang mendadak untuk lari dari amanah ini. Atau, beralasan pulang kampung karena ada acara keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Atau, bagaimana??? Saya sudah tidak bisa berpikir lagi.

“ Fraksi 2007 memilih…….” Presidium sementara menghentikan ucapannya. Pandangannya diarahkan ke semua fraksi secara bergantian. Bibirnya sedikit tersenyum.

“ Lagi-lagi adalah Niko…..” presidium sementara melanjutkan ucapannya sambil tersenyum melihat saya yang kebingungan. Suara sorakan dan tepukan tangan membuat saya serasa semakin terpuruk saja. Oh Tuhan, mimpi apa saya semalam.

“ Fraksi 2006 memilih Asep Ilham Saputro,” Asep adalah ketua angkatan saya. Dia mahasiswa asal Jogjakarta, akan tetapi sampai detik ini saya masih merasa heran, kenapa gerangan nama depannya adalah Asep, kenapa tidak Tarjo, Agus, Paimin, atau mungkin Parto, setahu saya, Asep adalah nama yang umumnya untuk orang yang bersuku Sunda.

“ Fraksi aliansi memilih Niko,” kalimat yang diucapkan presidium sementara membuat hati ini pilu. Pilu karena menurut riwayat yang saya dengar dari angkatan atas yang sudah-sudah, tugas menjadi presidium amatlah berat. Harus berani mengambil keputusan disaat-saat yang genting. Bahkan tidak jarang mendapat makian dari fraksi yang tidak merasa puas dengan keputusan yang diambil presidium.

“ Pokoknya, tidak beda dengan sidang DPR di Senayan yang tidak jarang terjadi konflik itu,” jawab salah satu kakak angkatan, disuatu hari ketika saya menanyakan tentang MUMAS.
********

Setelah sekitar lima belas menit diasingkan dari ruang sidang MUMAS. Saya, Asep Ilham Saputro dan Teh Mercy, berdiri berjajar menghadap meja presidium. Beberapa detik lagi penentuan siapa yang menjadi presidium ke-satu, ke-dua, dan ke-tiga akan diumumkan. Presidium sementara memegang erat selembar kertas. Kertas yang akan menentukan nasib Saya untuk beberapa hari kedepan.

Foto Bapak Presiden Indonesia dan wakilnya tertempel di dinding yang dibelakangi meja presidium. Bendera merah putih terikat pada tiang, sedikit di samping kanan meja presidium, sementara bendera berlambang Logo Himpunan Mahasiswa Geografi terikat pada tiang di sisi yang lainnya. Palu sidang yang terbuat dari kayu berwarna coklat, terlihat sakral di atas meja presidium.

“……. dan ……..” presidium sementara menghentikan ucapannya. Matanya memandang kami bertiga secara bergantian. Terdengar suara bisikan-bisikan diantara para peserta sidang.

“ NIKO…” presidium sementara memperhatikan saya. Tubuh saya serasa kaku untuk digerakan. Detak jantung semakin berdebar. Keringat dingin mengucur deras. Sudah ‘tak terhitung, berapa kali saya mengusap wajah. Presidium sementara memperhatikan saya lagi. Ah…, saya sudah tidak kuat lagi. Saya sudah pasrah. Saya hanya bisa menunduk dan memejamkan mata, berharap ada keajaiban datang.

“ NIKO…” sekali lagi presidium sementara menyebutkan nama saya. Bisikan-bisikan dibelakang semakin mengeras.

“ Selamat, Anda terpilih melalui musyawarah sebagai presidium pertama. Dan saudara Asep Ilham Saputro sebagai presidium ke-dua. Kemudian Saudara Mercy sebagai presidium ke-tiga.”

Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan??? Haruskah saya kabur dan membiarkan amanah yang dibebankan kepada saya ini begitu saja. Tapi, saya tidak ingin menjadi seorang yang pecundang.
********