Selasa, 04 Oktober 2011

Masih Ada


Hapeku rusak. Kejadiannya sekitar empat hari yang lalu. Ketika itu aku menyimpan hapeku di atas lemari. Entah seperti apa kejadian pastinya, tahu-tahu, hape malangku itu sudah tergeletak di lantai dengan layarnya yang sedikit retak. LCDnya rusak. Sebenarnya, hapenya masih bisa menyala, tapi layarnya tidak tampak selain warna putih berkedip-kedip, layaknya mata seorang playboy cap ikan teri yang sedang menggodai wanita jadi-jadian di pinggir jalan. Genit.

Awalnya aku kebingungan atas peristiwa ini. Tapi, setelah direnungkan lebih dalam lagi, sebenarnya buat apa aku memusingkan hal sepele semacam ini. Toh, orang-orang zaman dulu tetap bisa hidup meskipun tanpa alat komunikasi genggam itu. Life must go on, boy. Semuanya aku serahkan kepada Sang Maha Pengatur. Pasti akan ada hikmah dibalik rusaknya hapeku ini. Dan, ketika segalanya telah benar-benar dipasrahkan padaNya, pertolongan itupun datang. Dia mengulurkan tanganNya pada diriku. Sore hari, saat aku bersilaturahim dan berbincang dengan teman santri PPM di kamarnya. Santri ini tidak lain adalah Aditia Sam Kamarulloh, teman satu kamarku ketika dulu masih menghuni ghurfah tiga belas. Ghurfah yang selalu menggondol trofi Darussalam cup (lomba futsal antar kamar, se-asrama Darussalaam).

“ Oya, kartu kamu masukin aja ke hape saya yang dua sim Ko. Kebetulan yang satunya masih kosong, gak saya isi,” tawar Adit di sela-sela obrolan kami. Tanpa banyak pikir lagi, aku serahkan kartu hapeku pada Adit. Adit menerima kartuku, kemudia langsung memasukan pada hapenya. Meskipun aku sering telat membaca pesan masuk karena jarang-jarang bertemu Adit, sebab kami memiliki kegiatan masing-masing, namun ini tetap bisa mengatasi sedikit kesulitanku.

Ada beberapa cara untuk aku bisa membaca pesan masuk pada kartu sim-ku. Pertama, jika aku dan Adit sedang sama-sama berada di asrama, suara Adit setengah teriak memanggil namaku.

“ Ko, ada SMS masuk,” ujar Adit sambil berjalan menuju kamarku.

Kedua, saat aku sedang santai atau sedang mengerjakan sesuatu di asrama, tiba-tiba deruman suara motor Adit terdengar dari luar. Adit masuk asrama dengan masih menyalakan mesin motornya. Beberapa detik setelah suara motor itu hilang, sesosok pria muncul di pintu kamarku. Pria itu mengenakan jaket hitam tebal, celana jeans, sepatu kets, dan sebuah tas gendong menempel di punggungnya.

“ Ko, ada SMS masuk nih, ma’af yah, saya telat ngasih tahu, soalnya saya tadi lagi ada di luar,” ucap Adit sambil menyodorkan hapenya padaku. Setelah hape berada di genggamanku, Adit keluar begitu saja. Dia berjalan menuju kamarnya. Sedangkan hapenya dibiarkan tetap padaku. Mungkin, Adit mempersilahkan diriku untuk menyelesaikan urusanku terkait pesan-pesan yang masuk.

Dan yang ketiga, caranya adalah dengan memberdayakan pihak ketiga. Untuk memilih pihak ketiga ini, kriteria yang harus ada adalah, dia harus sering stay di asrama. Dan, orang yang terpilih itu adalah temanku juga saat tidur di ghurfah tiga belas. Adalah Arahmat Jatnika, alias Mamat.

Jika Adit sedang berada di luar, dan dia merasa pulang kandangnya akan sedikit lama. Adit akan mengirimkan terlebih dahulu SMS yang masuk di kartuku pada nomer Mamat. Jadi, aku bisa baca pesan masuk pada sim-ku dari sim-nya Mamat. Seperti itu.
***

Sore hari, sekitar jam lima. Ketika sinar Mentari mulai berubah menjadi jingga. Ketika burung walet banyak yang berseliweran di atas asrama Darussalaam. Dan ketika beberapa santri PPM pulang kandang dengan wajah yang lesu dan tidak keruhan karena padatnya aktivitas di kampus. Ketika itu aku masuk kamar mandi. Aku hendak menuntaskan hak untuk tubuhku, yaitu mandi. Adegan selanjutnya aku sensor, karena aku sedang berada di dalam kamar mandi. Tiiiiiiiiiiiitttttttt.

Sepuluh menit berselang, aku keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk warna hijau muda. Tangan kanan menjinjing alat mandi dan tangan kiri menggenggam kaos, celana dan kolor kotor yang tadi aku gunakan. Aku melangkah menuju kamarku. Sesampainya di kamar, aku menyimpan alat mandi dan pakaian kotor pada tempatnya masing-masing. Pada cermin berukuran empat puluh kali seratus senti yang tertempel di salah-satu sudut kamarku, aku melihat diriku sendiri yang masih hanya terlindungi oleh sehelai haduk. Aku melihat diriku sekali lagi. Meskipun intensitas olah ragaku tidak seperti yang dulu lagi, ketika aku masih menjadi atlet sepak bola, namun, sisa-sisanya masih nampak padaku. Otot-ototku masih ada. Perutku masih terlihat six-pack, walau tidak sekekar dulu. Setelah flash back pada zaman dulu, segera aku mengganti pakaian baru dengan yang masih bersih dan wangi. Tiba-tiba, tidak dijemput juga tidak di undang, Mamat muncul.

“ Kang Niko, ini ada SMS dari Adit, katanya ada pesan masuk untuk Kang Niko,” Mamat memberikan hapenya padaku.

“ Nanti hapenya Akang pegang dulu aja ya, soalnya saya mau ke warung dulu, mau beli makan,” ucap Mamat padaku.

“ Oh iya Mat, sip-sip,” jawabku. Mamat meluncur menuju luar asrama. Aku tutup pintu kamarku, lalu duduk di dekat lemariku. Aku baca SMS untukku.

Ko, ini ada SMS dari nomer 08XXXXXXXXXX
Ini sebuah catatan untukmu dan saya sendiri. Untukmu wahai saudaraku, sudah saatnya engkau malu pada Tuhanmu. Tentang rasa cinta yang tak halal untuk dirasa. Tentang angan yang tak pantas dibayangkan. Karena semua itu adalah sebuah penghianatan padaNya, dan juga pada seseoarang yang kini sedang menjaga hatinya untukmu. Ketahulilah, disana ada insan yang setia menundukan pandangannya, yang menghijab hatinya, yang menunggu dengan mengisi hari-harinya penuh dengan do’a terbaik untukmu. Ia yang tak ingin jauh mengenalmu sebelum halal atasmu. Karena dengan itu ia menjagamu. Maka dengarkanlah saudaraku, tak inginkah kau menghargainya dengan berbuat seperti apa yang ia perbuat untukmu? Menundukan hati dan pandanganmu untuknya, sampai datang waktunya? Wallohu’alam yamuqolibalqulub.


Seketika aku membaca SMS itu, seketika itu juga pikiranku terbang menghampiri seseorang. Seseorang yang kupanggil dengan sebutan bidadari surga. Seseorang yang sering ku obrolkan dengan diriku sendiri. Seseorang yang selalu ingin kujaga dengan ketiada berdayaanku. Seseorang yang jika ingin melihatnya, aku lukiskan dia dengan rangkaian kata dan kalimat, lalu kubaca lukisan itu sampai aku merasa lelah.

Sempat terpikir, apakah ini merupakan teguran dari-Nya untukku? Meskipun sejauh ini aku merasa interaksiku di dunia nyata dapat dikatakan sangat baik, atau sesuai dengan yang telah diajarkan islam. Namun, tidak demikian dengan dunia khayalku. Terkadang, memang, saat aku tak mampu mencuri pandang, dalam dunia khayal aku bisa memandangi lekat-lekat wajahnya. Saat aku tak bisa mengobrol dan berbagi cerita, dalam dunia khayal aku sanggup berbincang dengannya. Saat aku berpapasan dan tak mampu memberikan seutas senyuman, dalam dunia khayal aku tarik lebar-lebar bibirku untuk senyum selebar-lebarnya. Dan saat aku termenung sendiri, dalam dunia khayal aku hadirkan dia disampingku. Jika kupikirkan lagi, sepertinya pesan itu memang benar-benar sebuah teguran untukku dari-Nya, dan Dia gerakan hati seorang temanku ini untuk menuliskan sesuatu dan mengirimkannya padaku. Teguran itu Dia sampaikan lewat jalan SMS ini. Terima kasih Yaa Allah, kasih sayangMu untukku, juga untuk hamba-hambaMu yang lain, melebihi luasnya langit dan bumi.
***

Teruntuk sahabat-sahabatku, dimanapun engkau berada, amat rugi kiranya jika sebuah pesan yang sarat akan hikmah yang dikirim oleh seorang teman ini kita abaikan begitu saja. Mari kita gali kembali pelajaran yang tersembunyi dari untaian kata yang ada.

Sahabat, coba bayangkan, disana, di sudut bumi sana, ada seorang wanita/laki-laki yang diam-diam mengagumi dirimu. Wanita/laki-laki itu memiliki perangai yang baik. Dia sangat mencintai dirimu. Tapi, disisi hatinya yang lain, dia tidak ingin meninggalkan cintanya pada Allah hanya karena cintanya kepadamu. Karenanya, mati-matian dia melawan perasaannya padamu itu untuk tetap bisa dikendalikan. Mati-matian dia menjaga pandangannya, menghijab hatinya, dan menjaga dirinya untuk ridhoNya dan untuk dirimu. Berharap, esok hari, ketika hari itu tiba, dia memang benar-berar pantas disandingkan dengan dirimu.

Sahabat, tidakkah engkau menginginkan kelak disandingkan dengan seseorang yang seperti itu. Seseorang yang cantik jelita/tampan serta hatinya yang putih bersih itu. Jika ia, sudah sepantasnya sekarang kita menundukan hati dan pandangan kita untuk ridhoNya dan untuknya. Jika tidak, jangan pernah berharap untuk mendapatkan seseorang yang sangat istimewa itu, atau seseorang lain yang sama istimewanya dengan dia. Kelak, engkau akan mendapatkan yang sesuai dengan bagaimana keadaan dirimu. Baik dan buruknya, kita yang menentukan. Hendak pilih yang mana?
***

Teruntuk bidadari surgaku, dimanapun engkau berada, ma’afkanlah dengan apa yang telah aku lakukan padamu di dunia khayalku. Mohon kirimi aku sebuah do’a, agar aku bisa istiqomah dalam menjaga jiwa dan tubuh ini. Duhai dirimu disana, mari kita jaga hati kita. Kalaupun nanti takdir tidak mempertemukan kita, insyAllah, Dia akan memberikan seseorang yang telah benar-benar menjaga hatinya untuk kita, untuk diriku dan dirimu. Duhai dirimu disana, namun, tetap, disini, di dalam lubuk hati ini, masih tersimpan sebuah asa. Sebuah asa yang meskipun tidak kubahasakan, aku meyakini, engkau mengetahuinya.

Jumat, 30 September 2011

Cerita Tentang Dia (Allah Tuhanku, dan Tuhan Kita Semua)


Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Dialah Sang Maha Raja. Kerajaannya meliputi luas langit dan bumi. Dia raja yang paling Kuasa, raja yang paling Perkasa, raja yang paling Bijaksana, raja yang paling Adil, raja yang paling Mulia. Dialah Raja dari segala raja.

Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia memberikan rizki kepada semua makhlukNya, dari makhluk yang paling kecil hingga yang paling besar, tanpa terkecuali. Dialah Allah, yang maha Memelihara segalanya. Dia mengatur seluruh jagat raya ini. Dia mengatur lintasan setiap galaksi, lintasan setiap planet, lintasan bulan. Dia yang mempergantikan siang dan malam. Dia yang menurunkan hujan dari langit. Dia yang melukis pelangi. Dialah yang memberikan sinar kepada mentari, sinar yang membawa kehidupan untuk makhluk lainnya.

Allah Maha Pencipta. Dia menciptakan segala yang ada di bumi, di langit dan seisinya. Dialah yang maha Mengadakan. Dialah yang memberikan ilmu kepada Thomas Alfa Edison, hingga dia bisa mencipta sebuah lampu bolham. Dialah yang mengilhamkah kepada James Waat, sampai akhirnya dia bisa membuat mesin uap. Dialah yang menuntun wright bersudara, yaitu Wilbur Wright dan Orville Wright untuk menciptakan pesawat terbang. Dialah yang membimbing Ts’ai Lun hingga bisa membuat kertas. Dialah Allah, yang memudahkan manusia zaman sekarang dalam menjalankan kegiatannya. Memudahkan melihat pada malam hari dengan adanya lampu listrik. Memudahkan bepergian jauh dalam waktu yang cukup singkat dengan pesawat terbang. Memudahkan menuliskan dan mengabadikan tulisan pada lembaran kertas. Dialah yang memudahkan segalanya.

Dialah Allah, yang maha Melihat apa-apa yang kita kerjakan. Dia bisa melihat yang dekat ataupun yang jauh. Dia bisa melihat yang jelas ataupun yang disembunyikan. Dia bisa melihat yang besar ataupun yang kecil sekalipun. Dia bisa melihat sesuatu yang terbuka ataupun yang ditutup-tutupi. Dia bisa melihat di siang hari yang terang benderang, ataupun pada malam hari yang gelap gulita. Dia bisa melihat yang ada di atas, di bawah, di samping kanan, di samping kiri, di depan dan di belakang. Dia bisa melihat apa-apa yang ada di dalam dan apa-apa yang ada di luar. Dia bisa melihat isi perut bumi. Dia bisa melihat isi ruang angkasa. Dia mampu melihat segalanya yang selama ini kita sembunyikan. Dia mampu melihat ketika kita diam-diam berbuat maksiat. Dia mampu melihat kebohongan yang tersembunyi dalam diri kita. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik dan setiap tarikan nafas kita. Dia bersama kita dimanapun kita berada. Tidak satu detikpun Dia tidak memperhatikan kita.

Dialah Allah, yang maha Mendengar semuanya yang kita ucapkan. Dia mendengar bahasa lisan kita. Dia mendengar bahasa hati kita. Dia bisa menerjemahkan bahasa tubuh kita. Dia mampu mendengar sekelebatan pemikiran yang terbersit dalam hati kita. Dia mendengarkan pembicaraan kita ketika kita diam-diam membicarakan seseorang. Dia menguping ketika kita menggunjingkan seseoarang. Dia mendengarkan semua itu. Tidak satu kata atau satu hurufpun yang tidak Dia dengar.

Dia mendengar bahas setiap binatang. Dia mendengar bahasa angin, bahasa awan, bahasa air, bahasa api, bahasa udara, bahasa semuanya. dia juga mendengar bahasa bulan, bahasa bintang, bahasa komet, bahasa matahari, bahasa galaksi, bahasa gugus galaksi dan bahasa alam semesta. Dia mendengar bahasa segalanya.

Dialah Allah, yang memberikan rezeki melalui orang tua kita. Dialah yang memberikan ilmu melalui perantara guru. Dialah yang melindungi kita dari kejahatan makhlukNya yang jahat. Dialah Allah yang mengurusi segala keperluan makhlukNya. Dia tidak ngantuk dan tidak juga tidur. Tidak satu detikpun Dia luput untuk tidak mengurusi kita.

Dialah Allah, yang maha perkasa. Dialah tempat bergantung dan tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Dia maha pemberi pertolongan. Dia mengabulkan do’a setiap hambaNya yang meminta. Dia mengampuni dosa setiap hambaNya yang memohon ampunan. Dialah yang memberika segalanya yang dibutuhkan oleh makhlukNya.

Dialah Allah, yang menciptakan wanita cantik jelita dan laki-laki gagah perkasa. Dia yang menumbuhkan rasa cinta pada hati-hati hambaNya. Dialah yang menjodohkan orang-orang yang sesuai dengan keperibadian dirinya, yang baik dengan yang baik, yang kurang baik denga yang kurang baik serta yang tidak baik daengan yang tidak baik.

Dialah Allah, yang mengilhamkan diriku untuk membuat tulisan ini. Dialah Allah, yang menuntunmu hingga bisa membaca tulisan ini. Semuanya sudah diatur olehNya. Semuanya sudah tertulis pada kitab lauhul mahfudz.

Dialah Allah yang maha Raja, yang maha Suci, yang maha Kuasa, yang maha Perkasa, yang maha Agung, yang maha Tinggi, yang maha Besar, yang maha Mulia, yang maha Kaya, yang maha Luhur, yang maha Kuat, yang maha Kekal. Dialah Allah, yang maha Segalanya. Dialah Allah, yang tidak bisa kugambarkan melalui tulisan ini. Dialah Allah, yang sungguh-sungguh tidak akan pernah bisa kugambarkan melalui tulisan ini.

Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Aku lemah dihadapanMu. Aku mohon bimbingan dariMu. Mohon dengan sangat.
***

Selasa, 27 September 2011

Jawaban yang Diplomatis


InsyAllah, jika Allah memberikan kesempatan padaku untuk menyempurnakan separuh dari agamaku, pasti aku akan menjumpai suatu hari yang mana diriku akan meminang satu dari milyaran wanita penghuni bumi ini. Secara hitung-hitungan sederhana yang didasarkan pada jadwal hidupku, aku baru akan menikah sekitar empat atau lima tahun lagi. Dengan rincian sebagai berikut: dua tahun pertama, aku berusaha agar segera merampungkan kuliahku. Dan dua atau tiga tahun berikutnya akan aku gunakan untuk mencari perbekalan segalanya, baik itu ilmu, materi, fisik, mental dan yang lainnya yang berkaitan dengan bagaimana cara mengelola keluarga dengan baik tentunya.

Terkait calon, atau siapa wanita yang akan aku lamar kelak, sejauh ini, aku sudah memiliki bayangan. Tapi entah, apakah nantinya akan tetap bertahan dengan calon yang satu ini, atau Allah akan membalikan hatiku untuk meminang wanita yang memang telah Allah gariskan untukku. Namun, sejauh ini, jika boleh meminta padaNya, aku tetap ingin dengan yang sekarang sedang bersemayam dihatiku. Dialah wanita yang hingga detik ini bisa kupandang tanpa mataku, suaranya dapat kudengar tanpa telingaku, jemarinya dapat kugenggam tanpa tanganku, baunya dapat kucium tanpa hidungku dan kehadirannya dapat kurasakan tanpa jasadnya disisiku.

Namun, berkenaan dengan calon ini, masih ada tiga rintangan yang menghalangi diriku. Rintangan pertama adalah: apakah dia mau, jika suatu hari nanti aku melamarnya? Baiklah, untuk mempermudah, aku asumsikan saja kami satu hati. Aku bayangkan kelak dia akan menerima dengan sepenuh hati pinanganku. Dan, rintangan yang selanjutnya, atau yang kedua tampak lebih berat dari yang pertama. Mengapa? Mari kita bahas bersama.

Pada rintangan ini, sifatnya eksternal, atau berasal dari pihak luar. Aku tidak tahu, apakah selama jangka waktu empat atau lima tahun itu tidak ada laki-laki lain yang mencoba untuk mengkhitbahnya. Bagiku, disinilah rintangan yang sesungguhnya itu, mengingat, secara kasat mata, dia adalah wanita yang cantik lagi baik perangainya. Jika aku boleh mengarang-ngarang sebuah prosentase, mungkin, lima dari sepuluh laki-laki yang mengenalnya dan sudah siap untuk melaksanakan pernikahan, maka laki-laki itu akan segera melamarnya. Mungkin. Dan, satu hal inilah yang sedikit mengganggu perasaanku. Jika aku berada pada posisi dia yang sedang menjumpai peristiwa seperti ini, yaitu ada seorang laki-laki yang memintaku untuk menjadi isterinya, padahal aku sudah mencintai seseorang (dalam hal ini diriku, misalnya), dan menunggu seseorang itu (aku), untuk segera melamarku, namun tidak juga lamaran itu datang, tiba-tiba ada seorang pangeran lain yang datang. Sungguh, akupun berat untuk menentukan pilihan. Mengingat, usia menikah seorang wanita itu relatif lebih cepat atau lebih muda dari usia menikah laki-laki. Berat bagiku.

Dan yang ketiga, atau yang terakhir, yaitu yang paling penting. Adalah takdirNya. Sehebat apapun upayaku untuk memperisterinya, hanya keputusanNyalah yang menentukan. Jika aku boleh meminta dengan keadaan hatiku yang sekarang, aku menginginkan memang dialah yang ditakdirkan akan menemani diriku dalam mengarungi hidup ini. Dialah yang nanti memasak dan membuatkan sambal terasi pedas, sayur asem dan cah kangkung untukku. Dialah yang nanti mengasuh anak-anak kami yang cantik dan tampan juga soleh dan solehah, insyAllah. Dialah yang menjaga rumah dan harta kami. Dialah yang setia menasihatiku untuk tetap terus berada pada jalan yang benar, yaitu jalan islam. Dialah yang menghiburku dikala aku benar-benar berada dalam keadaan lelah. Dan dialah yang mengingatkanku akan amanah-amanahku sebagai seorang hambaNya.

Sebenarnya, bisa saja niatan suci itu terlaksana lebih cepat dari rencana. Bilamana sebagai berikut: pertama, tiba-tiba aku menemukan harta karun yang cukup besar, yang mana dengan hasil dari harta karun itu aku bisa membahagiakan semua keluargaku, dan setelah itu, baru aku akan melamar dia. Kedua: aku terpilih menjadi salah-satu peserta acara kuis di tv yang berhadiah uang milyaran rupiah, dan tidak disangka serta tidak diduga, aku menjadi juara satunya dan berhak menggondol uang milyaran rupiah itu. Dengan uang itu, aku bisa membahagiakan keluarga, serta segera melamar wanita itu. Dan yang terakhir, ini yang terasa lebih realistis, yaitu, diriku membuat sebuah tulisan. Kemudian tulisan itu aku kirimkan ke penerbit. Alhamdulillah, pihak penerbit menyukai tulisanku. Setelah ada kesepakatan dari dua belah pihak, yakni pihak diriku dan pihak penerbit, maka dicetaklah buku itu. Alhamdulillah lagi, tulisanku itu mendapatkan respon yang baik dari para pembaca, hingga membuat buku itu laris dipasaran. Royalti yang kudapatkan dari buku itu lumayan banyak dan cukup untuk membiayai kehidupan keluargaku, bahkan masih banyak uang sisa yang menganggur di rekeningku. Dengan menghujamkan bismilah dalam hati yang paling dalam, segera aku meminang wanita pujaan.

Wahai dirimu yang berada disana, jika Allah mengilhamkan pada dirimu untuk tahu perasaanku padamu, dan engkau juga memiliki rasa yang sama, berdo’alah untuk semua ini, berdo’a untuk segala kelancarannya. InsyAllah, Dia akan mempermudah ini. Insyallah. Bersama tulisan ini, aku kirimkan sebuah senyuman tulus untuk dirimu. Hanya untuk dirimu wahai bidadari surgaku. Pesanku, teruslah berusaha untuk memperbaiki diri. InsyAllah, akupun akan seperti itu. Mari kita saling mendo’akan, agar kita menjadi hambaNya yang baik. Aamiin.
***

Ridho Allah berada pada ridhonya orang tua. Karenanya, supaya segalanya barokah, maka, sebelum aku melangkah lebih jauh, terlebih dulu aku harus meminta restu dari orang tuaku. Hari ini adalah dua hari terakhirku berada di kampung halaman, dengan jiwa yang sangat gemetar, aku memberanikan diri untuk berbicara pada kedua orang tuaku. Karena sekarang ibu dan bapak tidak tinggal pada rumah yang sama, maka aku putuskan untuk berbicara kepada orang tua yang lebih akrab denganku terlebih dahulu, yaitu ibuku tercinta. Saat itu ibu sedang memasak sendiri di dapur. Segera aku menghampiri ibu dan pura-pura untuk membantunya memasak. Aku melakukan apa yang bisa kulakukan. Aku mencuci bumbu-bumbu dan mengiris-irisnya. Aku mengulek guna menghaluskan bumbu. Ketika momennya pas, aku buku suara.

“ Mah, seandainya ketika kuliah ini Aa ada rezeki nomplok tiba-tiba, dan dengan rezeki nomplok itu Aa bisa membantu kehidupan keluarga, lalu masih ada uang tersisa yang numayan banyak, kemudian Aa melamar seorang wanita, gimana menurut Mamah?” tanyaku dengan suara yang mengalir tanpa ragu. Memang seperti inilah obrolanku jika dengan ibu, semuanya meluncur begitu saja, bagai peluru yang melesat ketika ditembakan. Tidak ada keraguan dan malu sedikitpun.

Setelah pertanyaan itu keluar, pandanganku tertuju pada ibu yang masih sedang konsentrai menguah-nguah pasakan. Ibu tampak tidak kaget sedikitpun mendengar pertanyaanku yang satu ini. Ibu hanya tersenyum sambil memandangi diriku, dimulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah kira-kira pandangannya sampai ujung jemari kakiku, ibu kembali melihat wajahku lagi. Beliau tersenyum lagi padaku, lalu memalingkan pandangannya pada pasakan lagi. Sambil menguah pasakan, ibu belum juga menghapus senyum di bibirnya.

“ Sudah besar ternyata anak laki-laki Mamah yang satu ini. Obrolannya sekarang sudah mengati-ngait tentang pernikahan,” ujar Ibu dengan suara lembut. Aku masih memandangi ibu.

“ Kan masih misalnya Mah,” belaku. Ibu tersenyum lagi.

“ Mamah yakin kalau Aa itu sudah cukup dewasa. Mamah juga yakin, sebelum Aa membicarakan hal ini, Aa sudah mempertimbangkan semuanya dengan sangat matang, Mamah tahu siapa Aa. Jika menurut Aa, segera menikah itu baik, meskipun keadaan Aa masih sedang kuliah, selama Aa itu merasa mampu dan berani untuk mempertanggung jawabkan semua keputusan Aa, Mamahmah setuju-setuju saja. Do’a Mamah pasti menyertai kebahagiaan Aa,” jawaban ibu terdengar begitu merdu di telingaku. Kami saling tatap, lalu melempar sebuah senyuman satu sama lain.

“ Pesan Mamah untuk Aa, perlu Aa ketahui, membina sebuah keluarga itu tidak semudah yang dibayangkan. Jadi, sebelumnya, Aa harus benar-benar mempersiapkan ilmunya dengan sangat matang. Untuk itu, Mamah akan setia mendo’akan Aa, agar Allah mempermudah semuanya. Aamiin,” pesan dan do’a ibu untukku.

“ Aamiin,” jawabku.

Untuk sesaat kami terdiam. Ibu kembali memasak dan aku mengulek bumbu lagi. Tiba-tiba, secara mengejutkan, aku mendengar sura tawa yang terkekeh-kekeh, layaknya tawa genderuwok yang sedang menonton film komedi. Tawa jelek itu bersumber dari belakangku, di belakang aku dan ibu. Sontak, aku dan ibu memalingkan wajah ke belakang. MasyaAllah, benar saja dugaanku. Beberapa meter di belakangku, disana berdiri sesosok makhluk aneh. Makhluk itu hanya mengenakan celana kolor pendek. Model rambutnya mengacung ke atas, layaknya menara pengintai pada jaman penjajahan dulu. Pada lehernya menggantung sebuah kalung yang mirip dengan tasbih. Anehnya, makhluk itu mengenakan baju koko warna putih. Sepertinya, makhul itu hendak bertobat dan meminta wejangan pada kyai yang bersemedi di sebuah goa yang tersembunyi di hutan belantara. Ketika kyai memberikannya nasihat, makhluk itu tidak benar-benar melaksanakan semua nasihat itu. Lantas dia kabur dan berlari, lalu nyasar kesini, ke dapur yang mana diriku dan ibu sedang memasak.

Makhluk aneh itu terkekeh-kekeh lagi. Pandangannya hanya tertuju padaku, tidak pada ibu. Tatapannya sangat tajam. Sepertinya makhluk itu hendak menelanku bulat-bulat.

“ Hahaha… weleh-weleh, disini ada yang lagi ngebet kawin ternyata,” ujar makhluk itu dengan suara yang keras. Seolah-olah dia ingin agar semua orang di dunia ini mendengar ocehannya. Sesosok makhluk ini, tiada lain dan tiada bukan adalah adikku sendiri. Dialah Fadlan, yang biasa kami panggil Adam.

“ Pilih bininya yang cantik ya A,” ujar Adam menambahkan.

“ Hehehe…..,” Adam tertawa lagi. Dia menggerak-gerakan halisnya keatas, seperti ada arti dari tingkahnya itu, namun, ilmuku belum sanggup untuk menerjemahkannya.
***

Masih di hari yang sama, namun pada tempat yang berbeda. Aku dapati bapak sedang membaca sebuah buku di teras samping rumah. Sebuah kaca mata mengait pada kedua daun telinga bapak. Bapak terlihat khusuk dan menikmati buku bacaannya. Sementara aku, hanya bisa mengintip bapak dari ruang paviliun melalui jendela. Nyali ini belum terlalu siap untuk membicarakan sesuatu hal besar pada bapak. Sejenak terpikir, apakah akan dibatalkan saja pembicaraan ini. Tapi, mengingat lagi waktuku di rumah hanya tinggal dua hari saja, sebelum berangkat kuliah lagi ke Bandung, seolah itu menguatkan mentalku. Dengan langkah yang gontai, aku menghampiri bapak. Aku duduk tidak jauh disamping bapak. Nafasku naik-turun, seolah diriku baru saja berlari sejauh sepuluh kilo meter. Aku terengah-engah. Berbeda ketika aku hendak memulai obrolan dengan ibu tadi. Dengan suara yang fals dan terbata-bata, aku bertanya pada bapak dengan redaksi yang kurang-lebih sama dengan pertanyaan yang tadi kusampaikan pada ibu. Setelah mendengarkan dengan seksama kata perkata yang aku sampaikan, bapak menutup buku yang sedang beliau baca, kemudian bapak melepas kacamata yang dikenakan. Bapak merapihkan posisi duduknya. Kini, kami saling berhadap-hadapan satu sama lain. tidak ada hijab sehelai benangpun yang menghalangi.

“ A,” ucap bapak.

“ Iya Pak,” jawabku.

“ Aa sudah besar. Bapak yakin, Aa sudah bisa membedakan yang benar dengan yang salah. Nikah itu sebuah tujuan yang baik, yang mana, dengannya Aa bisa segera menyempurnakan separuh agama Aa. Tapi, sebelumnya, ada satu hal yang perlu Aa ingat. Aa itu adalah anak pertama. Aa memiliki tiga adik. Jika Aa sudah siap dan mampu untuk mengemban amanah sebagai suami untuk isteri Aa, sebagai ayah untuk anak-anak Aa dan sebagai seorang kakak untuk adik-adik Aa, Bapak akan segera melamarkan Aa untuk wanita pilihan Aa itu,” jawaban bapak atas pertanyaanku. Jawaban itu terdengar sangat diplomatis di telingaku. Terimakasih pak, bapak memang bapak nomer satu di dunia bagiku.
***

Senin, 26 September 2011

Melihat Jaket


Setahun yang lalu. Aku memiliki keinginan untuk menjadi santri ponpes Daaruut Tauhiid (DT). Tepatnya pada program pesantren mahasiswa (PPM). Sebelum itu, aku berusaha untuk mencari informasi terkait PPM sebanyak-banyaknya. Semua informasi itu aku gali dari berbagai sumber, seperti: dari teman satu jurusan yang ikut program ini, browsing di dunia maya dan bertanya langsung ke departemen pendidikan ponpes DT. Dari sini, aku mendapatkan banyak info seputar PPM. Setelah info kudapatkan, aku langsung menghubungi orang tua di kampung guna mendapatkan restu untuk berkuliah sambil menuntut ilmu agama di PPM DT. Dan gayung pun bersambut. Niatku ini Alhamdulillah disetujui oleh ibu dan bapak.

Keinginan dari diri sudah ada. Informasi sudah didapatkan. Restu orang tua telah dikantongi. Kini hanya tinggal izin Allah saja yang menentukan apakah diriku bisa masuk PPM atau tidak. Kini tugasku tinggal dua saja, yaitu ikhtiar semampuku dalam melewati seleksi dan berdo’a kepada Allah tentunya.
***
Masih setahun yang lalu. Malam itu aku berniat untuk solat berjama’ah isya di masjid DT. Sebenarnya, kos-kosanku letaknya dekat dengan sebuah masjid, Nurul Falah namanya. Tapi, untuk malam ini, aku ingin sekali lagi merasakan atmosfer solat berjama’ah di DT. Aku merindukan hentakan suara keras imam utamanya. Suaranya keras dan pasti. Siapapun yang mendengarkannya dijamin akan merinding hatinya. Yakin.

Sekitar seperampat jam sebelum waktu adzan, aku meluncur menuju masjid DT. Aku tiba di mesjid hanya beberapa menit saja sebelum adzan. Ketika aku sampai di lantai utama masjid dan duduk pada shaf kedua yang masih tampak kosong, salah satu pengurus masjid, yang usianya masih muda, mungkin usianya hanya beberapa tahun di atasku. Dia berdiri di samping mimbar. Dia bersiap-siap untuk melantunkan adzan. Tidak lama berselang, adzan pun dikumandangkan. Jama’ah yang sudah ada di mesjid, tampak khidmat mendengarkan merdunya lantunan lafadz demi lafadz adzan. Selepas adzan selesai, kami, para jama’ah beranjak untuk mendirikan solat sunah, kemudian dilanjutkan dengan solat berjama’ah isya.

Setelah solat beres, aku turun hendak pulang lagi ke kos-kosan. Aku turun meniti anak tangga mesjid satu persatu. Melewati beberapa jama’ah yang masih sedang sibuk dengan dzikirnya masing-masing. Pada pertengahan tangga, aku dapati sebuah kotak amal yang terbuat dari kaca. Dari luar, aku bisa melihat kumpulan uang kertas yang ada di dalamnya. SubhanAllah, terdapat banyak uang di dalam sana. Dari yang pecahan kecil, sedang, sampai yang besar. Aku terus berjalan melewati kotak itu. Aku kembali menuruni anak tangga tersisa.

Sesampainya di lantai bawah, aku menghampiri tempat penitipan barang. Kurogoh sebuah kartu yang bertuliskan sebuah nomer penitipan di saku samping celana panjangku. Aku berikan kartu itu pada petugas. Dia menerima kartunya, kemudian mengambil sebuah sandal cepit butut warna biru. Sandal cepit butut warna biru itu adalah kepunyaanku. Petugas itu memberikan sandal padaku. Aku terima sandal butut kesayanganku, kemudian berjalan menuju luar mesjid sambil tangan kanan menenteng sandal.

Malam ini, jalanan geger kalong sedang ramai, hingga membuat diriku juga beberapa orang lain harus sabar menunggu untuk menyeberang jalan. Sambil menunggu kendaraan yang sedang lewat, aku membalikan badan mengarah pada mesjid DT lagi. Aku pandangi petugas penitipan barang yang terlihat sibuk karena banyak jama’ah yang hendak mengambil barang yang dtitipkan mereka. Kemudian ku arahkan pandanganku pada sebuah ruangan di lantai dasar mesjid. Ruangan itu hanya disekati oleh dinding dari kaca. Jadi, siapapun dapat dengan mudah melihat aktifitas yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di dalamnya. Kali ini, aku dapati beberapa orang sedang duduk sila dan tangannya sedang menggenggam sebuah mushaf Al-Qur’an. Sepertinya mereka sedang tilawah. Ada juga beberpa orang yang sedang memperbincangkan sesuatu. Posisi duduk mereka melingkar. Mereka saling pandang satu-sama lain. Nampaknya mereka sedang melaksanakan mentoring. Salah-satu dari orang-orang itu terlihat sedang membicarakan sesuatu, sedangkan sisanya hanya diam memperhatikan apa yang dibicarakan. Sepertinya memang benar, mereka sedang mentoring.

Namun, yang menjadi perhatianku saat itu adalah sekelompok remaja laki-laki yang juga sedang duduk bergerombol. Mereka terlihat sedang bercanda ria. Terlihat dari gelak tawa mereka. Hampir semua dari remaja itu mengenakan sebuah jaket dengan warna merah tua. Pada bagian punggung jaket itu terdapat sebuah tulisan dengan susunan huruf arab. Aku tidak tahu apa arti dari tulisan itu. Dan di bagian depan sebelah kirinya, tertulis kecil susunan kata “ Program Pesantren Mahasisa, Daaruut Tauhiid, Bandung”. Sepertinya jaket itu adalah jaket kebersamaan program PPM yang ingin aku masuki. Para remaja laki-laki itu terlihat gagah dengan balutan jaket merah itu. Ingin sekali aku menggunakan jaket itu dan menjadi bagian dari mereka. Oh, alangkah bahagianya hati ini jika itu benar-benar terjadi.

Jalanan tampak lebih lengang. Aku melangkah guna menyeberangi jalan menuju bahu jalan sebelah kiri. Sesampainya diseberang, aku kembali melihat para remaja laki-laki di lantai dasar mesjid DT. Aku masih mendapati mereka sedang duduk bergerombol sambil saling bercanda satu sama lain. Sekali lagi aku berfikir, apakah nanti aku akan menjadi bagian dari mereka?

Lamunan itu buyar ketika pandanganku terhalangi oleh mobil-mobil yang berjalan di depanku.
***

Satu tahun kemudian, tepatnya sekarang. Jam dinding yang tertempel di kamarku menunjukan pukul enam lewat empat puluh lima petang. Jadi, kurang-lebih sekitar lima belas menit lagi waktu solat isya tiba. Segera aku dan teman satu kamarku bersiap-siap untuk menuju mesjid DT. Kami berjalan bergerombol menuju sana.

Sesampainya di mesjid DT, iqomat sudah dikumandangkan. Segera kami masuk shaf dan ambil bagian pada solat berjama’ah. Selesai solat, kami berkumpul di lantai bawah mesjid. Kami mengobrol disana. Ditengah-tengah obrolan, aku minta izin teman-teman untuk keluar mesjid duluan, karena aku hendak membeli sesuatu digerai buku yang terletak tidak jauh dari mesjid DT. Aku beranjak dan melangkah menuju luar mesjid. Aku berdiri di bahu kiri jalan, menunggu kendaraan lewat. Sambil menunggu, aku berbalik melihat teman-temanku lagi. Disana, di sebuah ruangan lantai dasar mesjid, yang kini kutahu namanya adalah “Darul Hidayah”, teman-temanku masih sedang mengobrol. Mayoritas dari mereka mengenakan jaket kebersamaan PPM. Jaket itu berwarna merah. Pada bagian punggunya tertulis sebuah tulisan arab, arti dari tulisa itu kurang lebih adalah “Dakwah Untuk Peradaban”. Pada bagian depan sebelah kiri bertuliskan “Program Pesantren Mahasiswa, Daaruut Tauhid, Bandung”.

Maha suci Allah, tanpa saya sadari, bibir ini tersenyum sendiri, seperti ada yang menarik kedua ujung bibirku. Aku tersenyum bukan karena ada sesuatu yang lucu, tapi semata-mata karena takjub dengan kekuatan sebuah impian. Setahun lalu, aku memiliki mimpi untuk bisa menjadi bagian dari remaja laki-laki yang ketika itu mengenakan jaket kebersamaan warna merah. Dan kini, detik ini, di tempat yang sama dengan tahun lalu, namun pada waktu yang berbeda, aku telah menjadi bagian dari mereka. Kini, jaket yang dulu kuinginkan, sekarang sedang membalut erat tubuhku. Sekarang aku benar-benar mengenakan jaket itu. Kini, aku telah menjadi bagian dari keluarga PPM. SubhanAllah, betapa dahsyatnya kekuatan sebuah impian jika dibarengi dengan sebuah perjuangan untuk mewujudkannya.
***

Jalanan sudah mulai lengang. Aku berjalan menyeberangi jalan, lalu meluncur menuju gerai buku. Niatku adalah akan membeli sebuah buku kecil kumpulan hadits arba’in yang disusun oleh Imam Nawawi.

“ Teh, ada hadits arba’in?” tanyaku ketika sampai di gerai buku.

“ Ada A, itu di sebelah sana,” jawab teteh penjaga gerai buku, sambil menunjuk pada salah-satu rak. Aku menghampiri rak yang ditunjukan teteh penjaga gerai. Disana bertumpuk banyak buku-buku kecil yang pada covernya bertuliskan “ Hadits Arba’in”. Aku ambil satu buku kumpulan hadits arba’in itu.

Gerai buku ini tidak terlalu luas. Ukurannya kurang lebih hanya sekitar tiga kali tujuh meteran. Rak buku yang ada, semuanya berdiri mepet pada setiap dinding. Pada bagian tengahnya, terdapat sebuah meja yang di atasnya bertumpuk banyak mushaf Al-Qur’an dan buku seputar keislaman. Pada setiap rak yang berbeda, berbeda pula buku yang dipajang. Sebelum aku membayar hadits arba’in, menyengaja aku melihat-lihat buku pada rak bagian buku fiksi. Siapa tahu ada sebuah buku bagus disana. Jika ada, dan harganya pas dikantong, maka aku akan membelinya.

Aku berdiri menghadap pada rak bagian buku fiksi. Disana berjejer banyak buku berkualitas. Mataku terkunci pada sebuah novel yang pada covernya terselip gambar bintang merah bertuliskan “Best seller”. Aku pernah baca novel itu sekitar tiga tahun yang lalu. SubhanAllah, ceritanya begitu indah. Ingin rasanya suatu hari nanti aku bisa menulis novel sehebat dan selaris novel ini. Mudah-mudahan Allah SWT, mewujudkan impianku ini, aamiin.

Mataku masih terpaku pada novel yang sedang kulihat. Aku masih terbengong sendiri, berdiri mematung di depan rak buku. Tanpa sengaja, pandanganku beralih pada jaket merah yang sedang kukenakan. Tiba-tiba berkelebat sebuah pemikiran. Setahun yang lalu aku menginginkan untuk mengenakan jaket merah ini, dan kini, aku bisa mewujudkannya. Pandanganku beralih lagi pada novel yang tadi menyita perhatianku. Tepat di samping novel itu, terdapat space kosong yang cukup untuk dipajang satu buku lagi. Aku arahkan lagi pandanganku pada novel, kemudian kembali pada jaket merah PPM. Sekali lagi, aku melihat jaket merah yang setahun lalu aku memimpikan untuk memakainya, kemudian ku arahkan lagi pandanganku pada sebuah novel terkenal, lalu pada sebuah space kosong di samping novel itu. Aku meihat jaket merah lagi, lalu kembali melihat space kosong disamping novel.
***