Kamis, 23 September 2010

Apa, Kuburan !!!!


Banyak orang di kampungku yang mengatan kalau rumahku letaknya sangat strategis dan indah. Pemandangan di sekelilingnya sangat menentramkan jiwa. Angin bukit yang bertiup sepoy-sepoy membuat siapapun betah untuk santai berlama-lama duduk di bawah pohon mangga rindang di halaman samping rumahku. Halaman rumahku memiliki ukuran yang cukup luas. Banyak pohon buah-buahan yang tumbuh, seperti: pohon belimbing, pohon asam jawa, pohon kelapa, pohon pete, pohon jengkol, pohon sirsak, dan pohon yang paling banyak jumlahnya, yaitu pohon mangga.

Di bawah salah-satu pohon mangga berdiri sebuah saung yang berukuran tidak kecil, namun juga tidak terlalu besar. Di saung itu, paling tidak satu minggu dua kali aku dan keluarga makan bersama. Seperti kebiasaan selera orang sunda lainnya, menu makanan favorit kami sekeluarga adalah nasi putih dan ditemani dengan ikan asin peda, sambal terasi, sayur asem dan tidak ketinggalan lalab-lalaban hijau.

Rumahku dibangun tepat di pinggir jalan, namun bukan jalan raya utama, malainkan hanya jalan desa. Diseberang jalan agak sedikit ke kanan, terhampar rumput hijau, para pemuda kampung, pada sore hari biasa bermain sepak bola disana, tidak terkecuali juga aku, jika memiliki waktu luang, aku selalu menyempatkan diri untuk bermain sepak bola, karena aku sangat suka sepak bola.

Satu kata kunci mengapa semua orang memuji-muji letak rumahku, yaitu pemandangan laut biru dari atas bukit. Ya, dengan hanya duduk santai saja di saung, kita bisa melihat indahnya laut, hal ini karena dataran tempat rumahku berdiri termasuk cukup tinggi.

Jarak rumahku ke pantai adalah sekitar tiga ratus meteran. Dua puluh meter pertama dari bibir pantai, itu merupakan seperti pantai pada umumnya, yaitu tempat orang-orang melepas stres. Setelahnya adalah jalan raya tempat lalu lalang kendaraan. Seratus lima puluh meter dari jalan raya merupakan tanah yang relatif datar, di sini ada pertigaan jalan menuju ke perkampunganku. Di pinggir-pinggir jalan desa ini terdapat hanya beberpa rumah warga saja. Setelah itu ada tanjakan dengan kemiringan yang landai, kurang-lebih panjang tanjakan itu adalah lima puluh meteran. Seratus meter terakhir sebelum menuju rumahku, permukaan kembali lagi relatif daftar. Di samping kiri jalan terdapat perkebunan-perkebunan milik warga, sedangkan di samping kanannya adalah lapangan sepak bola yang sudah aku ceritakan dimuka. Dengan hanya berdiri saja atau sambil duduk santai di sekitar rumahku dan menghadapkan kepala ke arah barat, siapapun akan takjub melihat bentang alam hasil maha karya dari Sang Maha Pencipta, yaitu hamparan laut biru.

Apapu itu yang ada di permukaan bumi ini, tentu tidak akan peprnah ada yang sempurna, pasti ada saja kekurangannya. Begitupun dengan letak rumahku. Ada satu hal yang membuatku sering protes kepada bapakku kenapa membangun rumah di posisi ini.

“ Kenapa sih bapak membangun rumahnya di sini? Kenapa gak di tempat lain aja?” protesku pada bapak. Ya, karena satu kekurangan itulah aku kecil tidak berani untuk keluar rumah lewat dari selepas magrib. Apa penyebabnya??? Penyebabnya adalah tanah kosong yang luas dan ditumbuhi banyak pohon besar, antara rumahku dan lahan itu hanya dipisahkan oleh jalan desa saja. Di lahan itu, terdapat banyak sekali gundukan-gundukan tanah yang menyerupai miniatur gunung tangkuban perahu, namun di ujung miniatur gunung itu, tertancap sebuah kayu ataupun batu yang bertuliskan sebuah nama manusia, tempat itu tidak lain dan tidak bukan adalah pemakaman umum, alias KUBURAN.

“ TIDAAAAAAAAAKK, aku ingin pindah rumah….., Eh…, bukan !!! bukan pindah rumah, tapi bikin rumah lagi saja yang letaknya jauh dari kuburan, soalnya kalau pindah, aku tidak akan bisa lagi memandangi indahnya laut biru di depan rumahku.”
********

BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN

Aku dihadapkan dengan masalah yang super banyak dan berat. Karena masalah-masalah itu, hidupku terasa hampa dan tidak bergairah lagi. Semua yang kulakukan seakan tidak ada gunanya. Hati ini sunyi, sepi, kering dan kosong. Mungkin semua masalah ini penyebabnya adalah karena aku jauh dari-Nya. Jauh dari jalan-Nya.

Aku tidak ingin hidupku seperti ini terus. Aku ingin berubah, berubah ke arah yang lebih baik, dan kembali lagi menempuh jalan yang lurus. Untuk itu, aku meminta izin kepada kedua orang tuaku yang kini tinggal dirumah yang berbeda, untuk menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren yang tidak jauh dari kampungku. Di sana aku ingin menggali ilmu keislaman sebanyak-banyaknya. Di sana aku ingin memperbaiki sifat-sifatku.

Alhamdulillah, keinginan itupun terwujud, hanya beberapa hari saja tinggal di pondok, perlahan hatiku mulai membaik, semangat hidupku mulai terbangun kembali. Mungkin salah-satu faktor penyebabnya adalah suasana yang sangat sarat dengan islam, ditambah lagi dengan lokasi pondok yang pas, pemandangan disekitarnya tidak kalah dengan pemandangan di rumahku. Pondok itu berdiri gagah di atas sebuah bukit, di bawah bukit itu terhampar persawahan hijau yang cukup luas, aku meyakini, siapapun yang tinggal di pondok ini, akan merasakan kenyamanan setadium akhir, karena suasananya sangat hening, pondok ini numayan jauh dari perumahan warga.

Pada suatu sore, sekitar satu minggu aku menjadi penghuni pondok, aku dan teman satu kobong (sebutan kamar di pondok pesantren), yang lebih lama masuk dariku, kami duduk santai di teras depan kobong. Aku duduk di sofa butut berwarna coklat, sementara temanku duduk di lantai membaca kitab kuning. Sesekali kami mengobrol ringan. Sekelompok burung pipit bernyanyi-nyanyi di sebuah pohon mangga besar yang tumbuh di bukit seberang yang jaraknya tidak jauh. Aku perhatikan bukit itu, ku lihat pohonnya yang besar-besar. Karena penasaran akan guna dari lahan itu, aku menanyakannya kepada temanku yang sudah lama di pondok ini.

“ Fren, bukit itu digunakan untuk apa? Apakah itu juga masih perkebunan milik warga?” tanyaku.

“ Bukan, itu bukan kebun, tapi itu adalah pemakaman umum kampung sini,” jawab temanku sambil melihat bukit itu.

“ WHAAAT, KUBURAN !!!! TIDAAAAAAKKK !!!!”
********

BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN

Menjadi mahasiswa, asyik, sekarang aku sudah menjadi mahasiswa. Berat perjuangan yang ditempuh untuk bisa mewujudkan salah-satu mimpiku yang satu ini. Tidak terhitung berapa banyak keringat dan air mata darah yang telah aku keluarkan. Do’a tulus dari ibu dan bapakku turut menghantarkanku pada cita-cita ini. Masa-masa sulit dalam berjuang kini telah menjadi kenangan indah yang bisa membuatku tersenyum-senyum sendiri jika sedang mengingatnya.

Karena jasa seorang teman yang baik hati, aku bisa tinggal dengan sedikit nyaman pada awal-awal masa kuliah. Dia mempersilahkan aku untuk tinggal sementara di kos-kosannya selama aku belum mendapatkan kos-kosan sendiri.

“ Sudah, selama kamu belum memiliki uang untuk menyewa kos-kosan, tinggal saja dulu di sini denganku,” ujar seorang teman yang baik hati. Aku sangat berterima kasih atas tawaran yang dia berikan.

Kos-kosan temanku itu letaknya tidak jauh dari kampus. Bangunanya berlantai dua. Di lantai yang pertama terdapat empat kamar, gudang, dapur, tempat mencuci dan dua kamar mandi. Di lantai dua juga terdapat empat kamar dan satu mushola. Satu dari empat kamar yang ada di lantai dua digunakan sendiri oleh ibu pemilik kos-kosan, dia hidup hanya berdua saja dengan seorang anak perempuannya yang masih duduk di kelas lima SD. Di sebelah pojok dekat dengan kamar yang diisi ibu kos, terdapat sebuah tangga yang tembus ke atap. Atap kos-kosan ini bukan dari genting, melainkan hanya coran tembok saja. Di atap itu, para penghuni kos-kosan menjemur cucian-cucian mereka. Di atas atap itu, terlihat sebagian kecil kota Bandung yang indah. Banguna-bangunan terlihat dengan ukuran yang kecil-kecil. Indah sekali.

Sepulang dari kuliah, mencoba melepas lelah, aku melihat pemandangan kota Bandung dari atas atap kos-kosan. Ku hirup nafas dalam-dalam, urat-urat syaraf serasa segar kembali. Aku balikan badan dan melangkah ke sisi yang satunya, di sana terdapat sebuah lahan kosong yang numayan cukup luas. Aku memandangi lahan kosong itu. Tiba-tiba saja pikiranku tertuju ke sebuah lahan di seberang rumahku dan sebuah bukit di pondok pesantren tempat aku menuntut ilmu islam dulu. Namun bersamaan dengan itu, jantungku serasa berhenti berdetak. Badanku mematung susah untuk digerakan. Mataku melotot dan mulutku mangap karena kaget.
“ WHAAAATTTT !!!! KUBURAN !!!! TIDAK, TIDAAAK, TIDAAAAKK !!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar