Minggu, 27 Oktober 2013

Dua Sahabat (14)



Sore ini kembali hujan. Tapi kecil. Masih banyak orang yang hilir mudik di jalan tidak menggunakan payung. Mereka hanya menempelkan kedua telapak tangan di kepala, lalu berjalan cepat, atau setengah berlari menghindari hujan. Dan langitpun tidak begitu hitam. Ada beberapa bagian wajah langit yang tidak tertutup awan hitam. Meskipun memang hanya sebagian kecil saja. 

Selepas solat ashar berjamaah tadi, Fajar dan Sabil belum keluar mesjid. Mereka masih berbincang ringan. Padahal jam pengajian sore tinggal hitungan menit lagi sudah akan dimulai. 

Fajar menatap layar hapenya.

“Sms dari siapa, Jar?”

“Akang. Katanya dia masih di sekolah. Pulangnya mungkin agak sorean. Pengajian ini mungkin Akang datang telat. Kalau-kalau nanti Ustad Ipun nanyain.”

“Ceritanya jadi Sang Penyampai nih, hehe...”

Kedua orang sahabat yang sudah saling kenal sejak lama itu tertawa renyah.

“A...!” Suara lembut Rani menghentikan tawa Fajar dan Sabil. Mereka menoleh pada pintu belakang. Di luar, Rani berdiri seorang diri.

“Masih di sini? Sebentar lagi mau mulai,” telunjuk tangan kanan santriwati itu menempel pada pergelangan tangan sebelah kirinya. Isyarat untuk mengingatkan waktu. Walaupun sebenarnya tidak ada jam tangan di tangannya.

“Duluan aja, Teh. Bentar lagi Aa nyusul bareng A Sabil.”

Rani melirik sabil. Sabil tersenyum. Rani membalas.

“Yaudah. Rani duluan atuh ya. Assalamu’alaikum!

Fajar dan Sabil menjawab salam Rani berbarengan.

Sabil berdiri. Ia merapihkan peci haji putihnya. “Cabut sekarang?” kedua tangannya masih menempel pada peci.

“Yuk!” Fajar memasukan hape pada saku celananya. Lalu berdiri.
***

Fajar dan Sabil adalah dua di antara sekian banyak santri yang tidak tinggal di pondok. Mereka tinggal di rumahnya masing-masing. Untuk Sabil, dia memang tinggal bukan di rumah aslinya. Remaja laki-laki ini sudah lama menetap di rumah pamannya, yaitu Ustad Rafi. Ustad Rafi adalah kakaknya bapak Sabil. Beliau adalah satu dari beberapa ustad yang ada di kampung Kepuh. Beliau tidak punya pondok pesantren. Ustad Rafi lebih fokus untuk mengajar anak-anak usia sekolah dasar membaca Al-Qur’an. Waktunya yaitu setelah magrib dan selepas subuh. Pada dua waktu itu, teras depan rumah ustad Rafi ribut oleh celotehan anak-anak yang membaca kitab suci umat islam.

Waktu tujuh tahun sudah lebih dari cukup bagi Sabil untuk menjadikan kampung Kepuh sebagai tanah air kedua setelah kota kelahirannya, yaitu kota Serang. Tujuh tahun lalu, saat Sabil duduk di kelas tiga SMP, dia pindah sekolah ke MTS Kepuh. Sebuah sekolah yang berdiri tidak jauh dari rumah pamannya, yang Sabil panggil dengan sebutan “Abi Rafi”. Waktu itu Sabil tidak pindah sendirian. Dia ditemani oleh adik perempuannya yang masih kelas enam SD. Dian namanya. Bersama Dian, adiknya, Sabil dididik dengan ilmu agama yang baik. Lingkungan pesantren membuat Sabil dan Dian tumbuh menjadi sosok anak yang tahu aturan. Itulah memang tujuan utama mengapa kedua orang tua Sabil meminta sang kakak, Ustad Rafi untuk membantu mendidik kedua anak terakhirnya. Sabil empat bersaudara. Dia dan Dian adalah dua anak terakhirnya.

Bersama dengan Fajar, Sabil berkuliah pada jurusan pendidikan agama islam di IAIN Banten. Sekarang mereka sudah menginjak mahasiswa tingkat akhir. Bersama dengan Fajar pula, meskipun kedua mahasiswa ini belum lulus, mereka sudah dipercaya untuk menjadi guru bantu di MA yang dulu tempat mereka menuntut ilmu. Yaitu MA Kepuh. 

Dian, sang adik, sekarang baru menginjak mahasiswa tingkat satu di kamus yang sama dengan sang kakak. Dian mengambil jurusan ekonomi syari’ah.

Sedangkan Fajar, sang sahabat karib Sabil, dia adalah anak Kepuh tulen. Semenjak berojol dari perut ibunya, hingga detik ini, dia tidak bisa lepas dari kampung Kepuh tercinta. 

Fajar adalah keponakan dari ustad Ipun. Bapaknya Fajar adalah kakak dari ustad Ipun. Rumahnya hanya terpisah tiga rumah dari pesantren sang paman. Beberapa bulan terakhir ini, saat Akang sudah mondok di pesantren ustad Ipun, Fajar lebih sering menginap di pondok. Di kamarnya Akang lebih tepatnya. Akhir-akhir ini, Fajar memang terlihat akrab dengan sang santri baru itu.

Fajar adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adik satu-satunya yaitu Rani. Selepas lulus dari MA Kepuh, Rani tidak melanjutkan kuliah. Dia lebih memilih untuk membantu mengajar ngaji di rumah ustad Rafi. Sekalian akan lebih fokus untuk menuntut ilmu di pesantren sang paman. Rani bercita-cita menjadi ibu rumah tangga seratus persen. Itulah jawaban yang selalu dia berikan jika ada seseorang yang menanyakan tentang cita-citanya.

“Rani ingin jadi ibu rumah tangga,” jawab Rani yakin. Jawaban ini terlontar sekitar lima tahun lalu. Saat Rani masih duduk di kelas dua MTS.

“Kenapa?” sang penanya bertanya sekali lagi.

“Karena ibu rumah tangga adalah sebuah profesi yangpaling mulia untuk kaum hawa,” jawab Rani dengan ciri khas remaja sekolah menengah pada umumnya.

“Oooh...” Sabil yang waktu itu masih remaja awal manggut-manggut. Waktu itu dia sedang main ke rumahnya Fajar, yang tidak lain rumahnya Rani juga.
***
Jam bulat yang menempel di sebelah atas papan tulis pada dinding sebelah depan majelis menunjukan pukul setengah enam lewat sedikit. Semua santriwati sudah keluar majelis. Gerombolan santri laki-laki mulai mengekor keluar. 

Fajar dan Sabil gotong royong mengangkat hijab. Hijab kayu yang terbungkus kain warna hijau itu mereka simpan di dekat dinding sebelah kanan majelis. Kemudian kedua santri itu melangkah keluar.

NGEEEEEK

DRRUUUGG

Fajar menutup pintu majelis dari luar. Ia kenakan sandal jepit birunya. Sabil sudah beberapa langkah di depan Fajar. Fajar mengikuti langkah Sabil.

“A...!” seru Dian pada sang kakak. 

Sabil menoleh. Fajar ikut menoleh. Pandangan kedua santri itu mendarat pada Dian yang sedang berdiri di depan rumah ustad Ipun.

Dian menghampiri sang kakak.

“Ini, A. Makasih ya,” Dian menyodorkan hape milik kakaknya yang tadi siang dia pinjam. Ia nyengir cengengesan. Seperti anak kecil yang ketahuan telah melakukan sebuah kesalahan.

Sabil menatap curiga. “Jangan katakan kalau pulsa Aa abis?” 

Dian nyengir lagi. 

Sabil mengecek pulsanya.

“Tadi Adek udah minta ke Bapak, nanti malam katanya diisi lagi,” belum hilang wajah bersalah tapi tidak ingin disalahkan itu. “Adek duluan ya. Dadah!” Dian meleos. “Mari, A Fajar,” santriwati ini menyempatkan untuk menyapa sang sahabat kakaknya.

“Iya,” Fajar mengangguk.

Dian berucap salam saat tubuhnya telah sempurna berbalik. Sabil dan Fajar menjawab pelan dan bersamaan.

Kedua sahabat itu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Mesjid adalah tujuan mereka. Sore ini, hamparan awan yang siang tadi berwarna kelabu, berubah menjadi jingga karena terpaan mentari sore.
***

Pengajian malam. Ustad Ipun sudah duduk di depan. Beliau duduk sila mengahadap sebuah meja kecil. Tangannya dengan lembut membolak-balik kitab yang sedang beliau baca. Sepertinya sang guru itu sedang mencari bab yang akan diterangkan pada pengajian bada isya kali ini. 

Akang baru tiba. Ia merapihkan sandal jepit miliknya. Kemudian segera masuk. Di dalam, sudah banyak santri yang tiba. Namun belum semua. 

Akang melangkah menuju kumpulan santri laki-laki. Saat melangkah, entah sengaja atau tidak, kedua bulatan hitam mata Akang melirik pada barisan santriwati. Bulatan hitam itu fokus menatap sang santriwati yang pada malam ini mengenakan gamis warna biru muda. Akang hanya melihat bagian punggungnya saja. Punggung milik santriwati yang Akang tahu bernama Anita. 

Akang melanjutkan langkah. 

Menyadari ada yang datang. Ada yang berdiri di balik hijab setinggi pinggang orang dewasa, Anita reflek menoleh. Pusat matanya mendarat tepat di wajah Akang yang bersiap untuk duduk. Segera, Anita memalingkan kembali wajahnya.

Ustad Ipun membaca ta’awudz dan basmallah. Pertanda pengajian akan dimulai.
***

Biasanya Fajar dan Sabil yang mengangkat hijab ke dekat dinding. Selepas ustad Ipun menutup pengajian, Sabil izin untuk pulang duluan. Oleh karenanya, kali ini Akang yang menggantikan posisi Sabil.

DRUKKK

Hijab dari kayu yang dibungkus kain hijau itu membentur keramik numayan keras.

Tidak ada santri tersisa di dalam majelis, kecuali Akang dan Fajar. Mereka melangkah menuju pintu. Fajar duluan yang keluar. Akang masih di dalam menarik pegangan pintu.

“Fajar!” seorang santriwati yang beberapa menit lalu berdiri menunggu sang sepupu di depan rumahnya memanggil Fajar. Kedua tangannya memeluk sebuah novel. Bergegas ia melangkah hendak menghampiri sang sepupu.

NGEEEK

DRRUUGGG

Akang menutup pintu dari luar. Ia mencari sendal jepitnya.

Langkah sang santriwati terhenti. Maksud hati ingin balik lagi. Tapi apa daya  Fajar sudah menyadari keberadaannya.

“Teh Anita. Ada apa, Teh?” Fajar menghampiri Anita.

Mendengar nama Anita telinga Akang seperti bergerak. Ia menoleh pada sang santriwati itu.

“Ini novelnya, Teteh udah selesai,” Anita menyodorkan novel yang tiga hari lalu dia pinjam dari Fajar.

“Oh iya,” Fajar menerima novel yang disodorkan Anita.

Akang melangkah pelan menghampiri Fajar. Lebih tepatnya hendak langsung pulang ke pondokannya. Sebab Fajar dan Anita berdiri di dekat gang, Akang seperti hendak menghampiri mereka berdua.

“Akang duluan, Jar ya,” Akang seperti tidak menghiraukan isi perbincangan kedua sepupu itu.

Fajar menoleh. Ia menarik lengan Akang. “Eh nanti dulu. Buru-buru amat, Fajar kan mau ke kamar Akang juga.”

Akang menurut saja apa kata Fajar. Sebentar ia melihat Anita. Anita juga demikian. Mereka saling memberi senyuman. Senyuman bernada malu-malu.

“Oh ya, kenalin dulu nih, Kang. Ini Teh Fatimah, dia teteh sepupu saya,” terang Fajar pada Akang. Tangannya terbuka mengarah pada Anita.

Mendengar ucapan Fajar, Anita kaget. Kedua matanya memicing. Tidak berbeda dengan Anita, Akang juga ikut heran. Kening Akang membentuk beberapa lipatan.

Fatimah?

“Teh Fatimah. Ini sohib Fajar, namanya Kaka Ali.”

Ali?

Kedua mata Anita berubah membulat. Tapi kulit dahinya yang tadi datar, sekarang menjadi bergelombang.

Kali ini mata Akang yang menyipit, menatap Fajar aneh.

“Lho, Teh Fatimah dan Kaka Ali wajahnya kok pada berubah jadi aneh gitu sih?”

Fajar memasang wajah datar. Seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

“Kenapa?” Fajar mengangkat bahu. “Memang Fajar salah sebut nama ya?” kemudian diakhiri dengan seringai bibirnya.

“Bukannya teteh ini adalah Teh Anita?” ucap Akang lirih. Entah untuk Fajar ataukah untuk Anita.

Fajar menyeringai lagi.

“Teteh tahu ini siapa?” Fajar menunjuk Akang.

Anita sedikit menunduk. Sudut mata atasnya tetap melihat Akang. “Aa Akang kan?”

Fajar manggut-manggut riang. Ia melihat Anita, lalu berganti menatap Akang. “Oooh, ternyata Akang dan Teh Anita itu sudah saling tahu tho?” Kepala Fajar masih bergoyang. “Mmmmh.”

Tawa Fajar pecah. Melihat kebingungan dua orang di depannya, mau tidak mau dia harus segera menjelaskan semua kejahilannya. Kejahilan yang ia perbuat kepada dua orang yang ada di hadapannya itu.

Fajar minta maaf atas kelancanganya barusan. Ia menjelaskan bahwa semua itu hanya untuk menghangatkan suasana malam yang masih lembab karena hujan kecil tadi sore. Fajar tertawa lagi.

Akang dan Anita hanya bisa diam sambil menatap Fajar. Jangankan untuk tertawa, tersenyum saja tidak bisa. Terlebih bagi Akang. Peristiwa malam ini semakin memperbesar kemenangan Fajar atas dirinya. Skor sementara, Fajar menang dua-kosong.

Selepas itu, Anita pamit untuk undur diri. Ia masuk rumahnya lewat pintu depan. Akang dan Fajar melangkah berbarengan melewati gang.

Setibanya di kamar Akang, Fajar nitip hape pada Akang. Ia letakan alat komunikasi itu di meja kerja Akang yang berukuran kecil. Sedangkan sang pemilik meluncur menuju toilet.

Belum satu menit Fajar keluar, hapenya berdering. Sebuah pesan masuk. Tidak sengaja Akang melihat layar hape Fajar yang menyala. Tertulis sebuah kata pesan masuk, dan di bahwahnya tertera nama “Dian”.

Akang menghiraukan pesan masuk itu. 

Tidak lama, Fajar datang. 

Akang juga diam. Tapi sesekali sudut matanya melirik Fajar.

Fajar duduk satu meter di samping Akang. Ia melihat hapenya. Kedua ujung bibirnya melebar. Manis sekali senyuman itu.

Sudut mata Akang masih melirik Fajar.

Fajar mengetik pesan balasan.

Tidak lama, pesan balasan masuk lagi pada hape Fajar. Ia tersenyum lagi. Senyuman itu masih sangat manis. Belum pernah Akang melihat Fajar tersenyum dengan rasa yang lebih manis dari malam ini.

Fajar menyergap novel yang barusan diberikan oleh Anita. Ia beranjak. “Saya kedepan sebentar, Kang. Assalamu’alaikum!

Akang tetap saja duduk. Tapi matanya mengikuti kepergian Fajar, hingga tubuhnya hilang terhalang tutupan pintu. “Wa’alaikumussalam.

Akang masih duduk di tempat yang sama. Pikirannya mencoba menerka-nerka.

Lima menit berjalan.

Fajar tiba. Novel yang tadi ia bawa sudah tidak ada di tangannya. Gurat wajahnya penuh keceriaan. Senyum dibibirnya belum hilang. Masih manis seperti sebelum kepergiannya. Ia kembali duduk satu meter di samping Akang.

Sudut mata Akang kembali melirik Fajar. Belum hilang senyuman manis itu.

“Jar,” ucap Akang tiba-tiba.

“Iya,” Fajar menoleh.

“Waktu kuliah di Bandung, Akang punya teman. Namanya Dian,” sambil berucap kalimat ini, Akang menatap lekat bola mata Fajar. Dia ingin tahu seperti apa reaksinya.

Fajar masih menatap Akang. Ada nada curiga dari tatapannya.

“Paras teman Akang yang bernama Dian itu sangat cantik,” Akang masih memperhatikan gerakan bulatan hitam mata Fajar.

Kecurigaan Fajar mulai berlipat.

“Hanya saja, Akang tidak tahu lebih cantik mana antara Dian teman Akang dengan Dian adiknya Sabil.”

Mata Akang berpaling dari Fajar. Sengaja.

Lima detik. Akang melihat Fajar lagi. Santri itu masih belum bergerak. Juga belum berucap. Ia masih melihat Akang dengan tatapan curiga berbalut sedikit malu.

“Tapi, jika Akang ingat-ingat lagi. Sepertinya lebih pantas Dian yang ini kalau untuk Fajar.”

Pandangan Akang meninggalakan wajah Fajar lagi. Akang tersenyum. Sebuah senyum beraroma kemenangan. 

Oke. Saat ini saya memang masih kalah. Tapi setidaknya skor berubah menjadi dua-satu!

Akang tersenyum. 

Fajar masih menatap wajah Akang. Sejak detik ini, dia mewasitkan pada dirinya sendiri. Mulai malam ini, saya harus lebih berhati-hati dalam menjahili Akang. Sebab sekarang, Akang sudah memegang jurus pamungkas untuk melawan kejahilan saya.

Fajar tersenyum dingin. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***

Sabtu, 26 Oktober 2013

Payung Merah Muda (13)



Vespa kuning melaju pelan di jalan raya susur pantai. Jalanan tampak sepi. Hanya sesekali mobil yang melesat cepat melewati motor jadul kuning ini.

Sepulang mengajar hari ini, Akang tidak mampir terlebih dahulu ke rumahnya. Sebab sore ini ada jadwal pengajian.

Sejak siang tadi, langit sudah terhalang awan hitam. Dan kini, gumpalan awan cumulo nimbus itu sudah semakin tebal saja menutupi langit. Awan hitam gemuk itu menggelayut di langit Anyer. Dalam hitungan menit, hujan mungkin akan segera turun. 

Sebentar Akang menengadah menatap langit. Vespa kuning masih melaju. Akang kembali menatap jalan. Laju vespa semakin bertambah. Akang tidak ingin kehujanan di jalan.

GREEEEEEENGG

Vespa melesat cepat.

GREEEEEEEEENG

Kedua mata Akang fokus menatap jalan.

Lima belas menit sebelum ashar hari ini terasa gelap. Gelapnya menyamai pukul enam pada sore-sore normal lainnya.

Deru ombak di pantai seperti menjadi alarm pertanda bahwa hujan akan segera tiba.

Vespa kuning masih melaju sendirian.
***

Adzan ashar sudah usai. Seorang santriwati melangkah pelan di dalam rumah. Beberapa meter lagi menuju pintu depan, langkahnya terhenti.

GREEEENG

GREEEENG

Penyebabnya adalah suara yang sudah ia kenal ini.

GREEEENG GREEEENG

JGRREEEEGG

Sang santriwati yang mengenakan gamis merah muda itu membalikan badannya. Ia kembali melangkah ke dalam rumah. Menuju ruang tengah. Ia duduk pada kursi meja makan yang menghadap pada sebuah jendela yang terbuka. Melalui jendela itu, dia menatap gang sempit yang terbentuk oleh rumahnya dan sebuah majelis.

Dada sang wanita itu bergemuruh. Setiap detik yang berdetak semakin menambah gemuruhnya. Kedua matanya masih memandang keluar jendela. Dadanya bergemuruh lagi.

Akhirnya.

Dari jendela kecil itu, santriwati bergamis merah muda mendapati seorang santri sedang menuntun vespa warna kuning. Sekejap saja pemandangan itu terlihat. Tapi, walaupun sekejap, itu sudah lebih dari cukup untuk bisa membuat dada sang santriwati perlahan normal kembali. Dia menunduk menatap meja makan. Bibirnya tersenyum tipis. Hatinya seperti diguyur air segar dari pegunungan.

Sekejap kemudian senyum tipis itu hilang. Lalu berganti dengan wajah penyesalan. 

Astaghfirullahal’adzim!

Wanita bergamis merah muda itu memejamkan kedua matanya. Dalam sekali.
***

Dua ujung lengan kemejanya sudah terlipat di atas siku. Akang membungkuk. Ia melipat ujung kedua celana panjangnya.

Akang mengambil wudhu pada keran di depan pondok santri laki-laki.

TESSS

Tetesan hujan pertama menghantam punggung Akang. Akang merasakan butiran kecil itu. Namun ia masih melanjutkan wudhunya. 

Wudhu selesai, tetesan hujan yang turun semakin banyak. Bergegas Akang memanjangkan kembali lipatan celananya. Lalu berlari kecil melewati gang sempit. Hendak menuju mesjid untuk solat berjamaah.

Hujan bertambah lebat. Iqomat mulai berkumandang.

Akang mempercepat larinya. Kedua tangannya ia jadikan sebuah payung dadakan.
***

Beberapa jamaah laki-laki tertahan di dalam mesjid. Begitu juga dengan jamaah perempuan. Di luar, hujan belum ingin berhenti. Sesekali gemuruh menggelegar. Tiupan angin membuat beberapa cipratan hujan yang membasahi teras-teras mesjid.

Akang duduk bersandar pada salah satu tiang di dalam mesjid. Pandangannya terarah pada jendela kaca besar. Ia diam menatap hujan sore kali ini. Tepat di samping kanan Akang, Fajar juga menatap ke luar jendela. Memandangi butiran hujan yang menyerbu bumi. Fajar duduk menekuk kedua kakinya. Tangannya memeluk lipatan kaki itu.

Assalamu’alaikum,” Sabil menghampiri dua orang pemuda yang sedang diam di dekat tiang mesjid. Ia langsung duduk di dekat kedua teman santrinya.

Akang dan Fajar menoleh bersamaan. Bersamaan pula dalam menjawab salam Sabil. Setelah itu mereka kembali melihat hujan. Sabil ikut-ikutan memandangi hujan sore ini.

Angin bertiup numayan kencang. Air hujan semakin jauh membasahi teras. Sisa-sisa dinginnya masuk ke dalam mesjid. Melalui pintu-pintu yang terbuka. Lewat jendela yang terbuka. Juga menyelinap di antara celah-celah lubang kecil di atas pintu dan jendela. Akang melipat kedua tangannya di dada. Fajar semakin erat memeluk lipatan kakinya. Tubuh Sabil bergidig dibelai dingin.

Akang sedikit memutar wajah. Ia menatap ke luar melalui jendela lain. Dari jendela kaca besar itu, Akang mendapati seorang wanita bergamis merah muda sedang membuka payung berwarna yang sama dengan gamis yang dikenakannya. 

Payung sang wanita sudah terbuka. Ia bersiap untuk melangkah menembus hujan.

Wanita bergamis merah muda menghentikan langkahnya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. 

Ia kembali mendekat pada dinding mesjid. Payungnya ia simpan di dekat jendela. Tanpa dilipat. Sementara dirinya kembali melangkah masuk mesjid. Lewat pintu belakang. Menuju ruang solat khusus jamaah wanita.

Angin bertiup lagi. Dingin berhembus lagi. 

Angin masih bertiup. Payung merah muda terdorong oleh tenaga tiupan angin. Payung milik wanita bergamis merah muda tadi bergeser mendekati ujung teras. 

Angin masih bertiup. Payung terus terdorong menuju ujung teras. 

Tanpa berpikir dua kali Akang berdiri. Ia berlari hendak menyelamatkan payung yang sedang ditinggalkan sang pemiliknya itu.

Payung sudah menemui ujung. Ia limbung dan bersiap untuk jatuh. Tapi...

HAPPP

Jemari Akang menggenggam erat pegangan payung. Akang datang tepat waktu. 

Akang simpan kembali payung itu pada posisinya semula. Kemudian berbalik hendak masuk mesjid lagi. Dan...

DEGGG

Belum sempurna tubuh Akang berbalik, ia dikagetkan dengan kehadiran seorang wanita yang berdiri sekitar dua meter di depannya. Hey! Dia! Dia! Dia pemilik payung ini! Dia wanita bergamis merah muda tadi!

Akang kaget.

“Payungnya tadi mau jatuh,” sedikit terbata Akang memberi tahu.

“Iya. Makasih A,” jawab wanita di hadapan Akang. Kemudian ia memberi sebuah senyuman.

Akang membalas senyuman seorang wanita yang baru sore ini ia lihat. Apakah dia asli orang sini? Apakah dia santri juga? Tanya Akang pada dirinya.

Kedua orang itu masih bediri mematung saling berhadapan. Bingung dengan apa yang akan dilakukan, mereka hanya saling memberi senyuman saja. 

Wanita bergamis merah muda sebentar menundukan pandangannya. Sekejap kemudian menatap sang laki-laki di hadapannya. “Mari A, saya duluan,” dia mengangguk pelan. “Assalamu’alaikum.

Wanita itu meleos pergi. Akang ingin mengikuti kepergian wanita itu dengan pandangan matanya. Tapi niat itu dia urungkan. Akang kembali ke dalam mesjid. Ia sampai lupa tidak menjawab salam sang wanita bergamis merah muda itu.

Lirikan Fajar dan Sabil menyambut kedatangan Akang kembali. Kedua santri itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun ada arti dari tatapan mereka.

Akang tidak menyadari dengan apa yang dilakukan Fajar dan Sabil. Ia kembali duduk pada posisi semula. Wajahnya terarah lagi pada jendela mesjid. Akang kembali menikmati hujan yang kini sedikit mereda. 

Fajar mulai menerka-nerka. Apa kira-kira yang ada di pikiran Akang saat ini? sesekali dia mencuri pandang pada wajah Akang. Mencoba membaca arti dari gurat wajah sang santri di sampingnya ini. 

“Jar,” Akang menoleh pada Fajar.

Bibir Fajar melebar. Ada aroma kelegaan di hatinya.

“Kenapa, Kang?”

“Wanita tadi santri juga?”

“Eh!” Fajar memfokuskan pandangannya pada Akang. “Akang belum tahu?!” kening Fajar melipat.

“Orang liat juga baru sekarang.”

“Hah! Serius, Kang?”

Wajah Akang meninggalkan muka Fajar. Ia melihat jendela lagi. “Hmmm.”

Hujan semakin mereda. Seperti beberapa hari ke belakang, meskipun lebat, hujan di bulan Oktober ini durasinya pendek-pendek. Bulan ini adalah pintu gerbang memasuki musim penghujan. 

“Ia, Kang. Dia santri juga.”

Fajar diam. Sengaja, santri yang satu ini ingin mengetahui bagaimana tanggapan Akang.

Akang masih tetap melihat jendela. “Oooh,” hanya itu tanggapan Akang.

“Namanya Teh Anita,” Fajar memberi jeda. Kembali menunggu respon Akang.

Akang menoleh sebentar pada Fajar, lalu kembali menatap ke luar jendela.

“Teh Anita itu anaknya Ustad Ipun.”

Akang menoleh cepat. Matanya melebar. “Anak ustad Ipun?!”

Fajar mengangguk. 

“Berarti sepupuan atuh sama Fajar?”

Fajar mengangguk. “Iya.” Ada warna kepuasan di wajah Fajar.

“Kenapa, Kang? Teh Anita cantik ya?” bibir Fajar menyeringai. Mencoba menggoda Akang. “Akang naksir ya...”

Akang melotot. “Ngawur. Ngeliat juga baru sore ini. Kenal juga belum. Lagian mana pantas saya dengan putrinya Ustad Ipun.”

“Eit-eit. Siapa yang nanya pantas atau tidak. Fajar cuman nanya apakah Akang suka doang kan?” Fajar kembali menyeringai.

Mata Akang menyipit. Ia limbung sebab serangan Fajar.

“Hayoooo...,” Fajar belum puas menggodai Akang.

Akang mati kutu. Sabil hanya tersenyum. Ia ikut menikmati permainan Fajar.

“Jangan salah tingkah gitu atuh, Kang,” Fajar kembali menyerang.

Sore ini Akang benar-benar kalah telak. Tidak ada serangan balik dari santri yang satu ini.

“Tapi Akang tenang aja ya. Jika memang benar Akang naksir Teh Anita, setidaknya Akang sudah satu langkah di depan para pemuda lain yang suka sama Teh Anita.”

Akang menatap Fajar. Maksudnya?!

Fajar mengerti arti tatapan Akang.

“Beberapa waktu lalu, ketika Teh Anita pertama kali melihat Akang, dia juga tanya siapa Akang ke Fajar.”

Mata Akang melebar. Ada gurat senyuman di bibirnya. Khawatir terbaca, Akang memalingkan wajahnya. Ia pura-pura kembali menatap jendela. Di luar, hujan hanya tinggal rintik-rintik saja.
***