Sabtu, 29 Januari 2011

Perbaikan Gizi


Beberapa hari yang terlewat, dan mungkin sampai beberapa hari kedepan, kegiatan terasa lebih leluasa dari biasanya. Bagaimana tidak, waktu libur telah tiba, dan tidak hanya kuliah yang libur karena UAS telah usai, PPM juga ikut-ikutan libur, karena IAS (imtihan akhir semester) atau UASnya PPM juga telah usai, karenanya, tidak sedikit para santri yang mudik alias pulang kampung.

Alhamdulillah, akhirnya ane bisa mudik juga, ane sudah kangen berat sama keluarga di kampung nih,” ujar salah-satu santri. Mereka sangat antusias dalam mempersiapkan kepulangan mereka. Sehari sebelum keberangkatan, barang-barang sudah beres dikemasi, dan tidak lupa memborong makanan khas Bandung untuk oleh-oleh orang di rumah.

Senin, 24 Januari 2011

Si Ikhwan Centil Penghuni Darussalam


Ba’da Dzuhur, setelah solat berjamaah di mesjid DT, aku dan Asoy langsung meluncur menuju asrama darussalam tercinta. Sesampainya di kamar, aku langsung membuka kasur lipat dan mamasangnya di pojokan dekat lemariku. Baru saja akan memejamkan mata, hape yang kuletakan tepat di samping telingaku, supaya ketika nanti alarm sholat ashar berdering, aku langsung bisa bangun, bergetar. Ada SMS masuk dari kang Robi Awaludin. Dia adalah atasanku di organisasi LEPPIM, selain itu juga dia sekarang menjabat sebagai ketua keluarga besar program pesantren mahasiswa (KB PPM) yang baru tadi pagi di deklarasikan. Isi SMS itu adalah, agar aku datang ke sekretariat leppim, pada ba’da ashar.

Selesai solat berjamaah ashar di mesjid Baiturrahman dekat pasar Geger Kalong, aku langsung meluncur ke kampus, tepatnya ke sekre leppim di gedung PKM (pusat kegiatan mahasiswa). Sesampainya di sekreariat, ada seorang akhwat sedang duduk manis sambil membaca Alqur’an. Aku biasa memanggilnya Tita, nama lengkapnya aku lupa. Dia staff departeman PSDM (pengembangan sumber daya manusia) pada periode kepengurusan leppim tahun ini. Tidak berbeda dengan diriku, dia juga adalah santri di PPM. Tita adalah salah-satu dari dua santri akhwat PPM yang paling aku kenal, selain Azura, kami dekat karena sama-sama berjuang di leppim. Tugas kami sore ini adalah menjadi tim penilai para calon kader leppim. Para calon kader itu diharuskan mempresentasikan makalah yang telah kami tugaskan. Jika memenuhi syarat, mereka berhak masuk leppim dan berjuang bersama-sama dengan kami dalam memajukan dunia penelitian di UPI, lebih jauh lagi di Indonesia.

Jumat, 14 Januari 2011

Baskomku Sayang, Baskomku Malang


SubhanAllah, aku mendapatkan tugas praktikum yang numayan sederhana, tapi dibilang berat juga iya. Bagaimana tugas itu? Sederhana, tapi berat juga? Kok, bisa begitu?Jika penasaran, mari kita bahas bersama-sama.

Tugas ini merupakan praktikum mata kuliah Meteorologi dan Klimatologi, mata kuliah yang mempelajari tentang cuaca dan iklim. Pada praktikum kali ini, semua mahasiswa diharuskan untuk mengukur beberapa unsur iklim. Unsur iklim itu ada banyak, seperti: suhu udara, tekanan udara, kelembaban udara, angin, awan dan hujan. Namun, Prof. Dede Rohmat, selaku pengajar mata kuliah ini hanya menugaskan mengukur beberapa unsur saja, yaitu: suhu udara, curah hujan dan penguapan.

Untuk mengukur suhu udara, mahasiswa diharuskan memiliki termometer, masing-masing satu buah, karena tugas ini untuk perorangan, bukan tugas kelompok. Untuk itu, aku harus merogoh kocek sebanyak sepuluh ribu rupiah guna membeli termometer itu.Sedangkan untuk mengukur curah hujan dan penguapan, alat yang dibutuhkan adalah sebuah baskom yang berdiameter kurang lebih empat puluh centi meteran, juga sebuah penggaris berukuran panjang tiga puluh centi meter dan pipa dengan ukuran panjang dua puluh centi meter serta berdiameter sekitar sepuluh senti meter. Untuk baskom dan penggaris, aku tidak perlu repot mencari, karena ada banyak baskom cucian di asrama darussalam, sedangkan penggaris sudah lama aku memilikinya, karena mahasiswa jurusan pendidikan Geografi wajib memiliki penggaris untuk mengerjakan tugas pembuatan peta.Namun, yang sedikit merepotkan adalah ketika mencari pipa. Setelah berusaha keras, akhirnya aku mendapatkan pipa tersebut, aku mendapatkannya dari hasil meminta kepada teman satu jurusan, namanya Ari Luqman, dia mahasiswa asal Cirebon. Jika dihitung-hitung, sudah beberapa kali dia membantu kesultan-kesulitan yang aku alami.InsyAllah, jika kelak aku sukses, aku tidak akan pernah melupakan jasa-jasa dia.

Cara pengambilan data suhu udara adalah dengan hanya mengamati temometer. Cara meletakan termometer itu tidak boleh sembarangan. Prof. Dede Rohmat menyuruh kami untuk menggantungkan termometer di luar ruangan, namun tetap terlindungi dari kontak matahari langsung. Untuk itu , aku menggantungkan termometernya tepat di pojokan kanopi yang meneduhi teras depan kamar-kamar asrama bawah, tapatnya di pojok atas kanopi yang meneduhi kamar nomer enam belas.Sedangkan untuk pengambilan data curah hujan dan penguapan digabung sekaligus. Caranya adalah dengan mengisikan air secukupnya pada sebuah baskom, letakan sebuah pipa yang telah dilubangi bagian bawahnya tepat di tengah baskom, kemudian penggaris tinggal diberdirikan saja disandarkan pada pipa.

Alat-alat yang sudah siap itu disimpan di tempat terbuka dan harus langsung beratapkan langit, agar hujan dapat langsung tertampung oleh baskom dan sinar matahari bisa langsung menguapkan air dari baskom. Terdapat beberapa halaman kosong yang menjadi pilihanku untuk meletakan alat penelitia ini, namun, karena lapangan futsal sering digunakan untuk tempat berolah raga para santri dan di halaman depan sedikit mengganggu pemandangan, akhirnya aku memutuskan untuk meletakannya di halaman belakang dekat parkiran motor. Untuk memberitahukan kepada seluruh penghuni asrama agar tidak mengganggu penelitianku ini, aku menuliskan sebuah pengumuman di mading asrama. Pengumuman itu aku tulis di sebuah kertas HVS putih dengan menggunakan sepidol permanen besar warna hitam. Pengumuman itu tertulis sebagai berikut, “ BARANG-BARANG (ALAT PENELITIAN) YANG ADA DI HALAMAN BELAKANG ADALAH KEPUNYAAN SAUDARA PROF. DR. H. NIKO CAHYA PRATAMA, M.SC, A.MIN. DIHARAPKAN KEPADA SELURUH PENGHUNI ASRAMA UNTUK TIDAK MENGGANGGU ATAU MENGUTAK-ATIKNYA. ATAS PERHATIANNYA, SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH. TTD: CALON PROFESOR (AMIN),”.

Pengamatan data-data praktikum ini dilakukan dua kali dalam satu hari, yaitu pada pukul enam pagi dan enam sore. Pengamatannya harus setiap hari, tidak boleh ada satu haripun yang terlewat, jika ada yang terlewat, ini akan mempersulit dalam pengolahan data akhir.Pengamatan ini harus dilakukan selama dua minggu, cukup untuk membuatku tidak bepergian jauh-jauh dari asrama.

DELAPAN HARI KEMUDIAN

Delapan hari sudah aku melakukan penelitian, berarti hanya tinggal enam hari lagi aku menyelesaikan praktikum tentang unsur iklim. Data-data sudah terkumpul banyak, kebetulan di Bandung sekarang lagi sering-seringnya turun hujan. Data-data itu baru aku tulis di sebuah kertas folio yang aku tempel di pintu lemariku dan belum disalin di Ms. Excel. Aku akan menyalinnya nanti, jika data-datanya sudah terkumpul semua sampai akhir. Supaya lebih simpel, pikirku.

Pagi ini, aku dan santri lain baru pulang dari darul hidayah (lantai satu mesjid DT). Tadi kami mendengar sedikit nasihat dari Aa Gym tentang bagaimana agar tenang dalam menjalani hidup yang sementara ini. Sebelum ke kamar, aku menyempatkan diri menuju aula bermaksud minum air putih. jam dinding di aula asrama menunjukan pukul lima lewat lima puluh lima menit, sekitarlima menit lagi aku akan mengecek hasil data hari ini. Setelah minum dua gelas air putih, aku meluncur menuju halaman belakang. Di dapur aku melihat bang Afgan sedang mencuci piring-piring kotor bekas semalam makan oleh-oleh dari bang Afgan yang baru pulang tadi malam jam setengah sepuluh dari kampung halamannya, yaitu Balikpapan.

Afgan merupakan nama panggilan, nama aslinya adalah Arif. Dia salah-satu santri lanjutan, sudah dua tahun lebih dia tinggal di asrama darussalam. Karenanya, dia tahu seluk beluk keadaan asrama.Hari apa dan jam berapanya Aa Gym biasa mengontrol asrama. Kapan diadakan operasi kamar santri oleh ustad Hamdani selaku penanggung jawab asrama darussalam. Dimana tempat Wati (kucingnya bang Afgan) membuang hajatnya. Dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan lainnya yang dia ketahui.

Oleh semua santri ikhwan, dia dipilih sebagai mentri kebersihan dalam kepengurusan santri PPM periode tahun ini. Jabatan ini diraih karena kebiasaannya dalam hal bersih-bersih. Sepertinya beres-beres adalah hobi dia dan sudah mendarah daging di jiwanya. Karena kebiasaannya ini, dia kami beri julukan sebagai Santrius Rajinbersih-bersihus. Sambil terus berjalan menuju halaman belakang, sepintas aku melihat bang Afgan sedang mencuci sebuah baskom berwarna merah. Baskom itu sedikit menyita perhatianku, karena bentuk, ukuran dan warnanya mirip dengan baskom yang aku gunakan untuk penelitianku. “ Ah, mungkin hanya mirip saja, di asrama kan banyak benda yang sama, begitupun dengan baskom itu, mungkin cuman mirip saja,” pikirku dalam hati.Aku melanjutkan langkah.

DDUUUUUURRRRRRRRRRRRR

Masya Allah, cuaca yang tadinya sangat cerah, seolah berubah drastis menjadi mendung. Kini langit tampak gelap karena tertutupi oleh gumpalan awan hitam yang tebalnya berkilo-kilo meter. Tidak setitikpun sinar matahari yang tampak. Kilatan cahaya petir menyala-nyala. Serasa ada guntur kesasar yang menghantam kepalaku hingga tidak ada sehelaipun rambut yang tersisa. Baskom itu, baskom kekasih hatiku tidak ada di tempatnya. Jadi, baskom yang tadi bang Afgan cuci adalah baskom penelitianku. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Bagaimana dengan data untuk enam hari tersisa? Haruskah hamba memanipulasi data demi keperluan nilai kuliah hamba? Atau apa yang harus hamba lakukan? Tolonglah beri petunjukMu, Ya Allah!
Jujur, kalau boleh bicara, perasaan sedih ini masih belum mau pergi dari hatiku, tapi, setidaknya masih ada sedikit harapan yang tersisa, karena data-data delapan hari kebelakang sudah aku tuliskan di kertas folio. Aku tidak ingin menyalahkan bang Afgan, karena mungkin dia belum melihat pengumuman yang tertempel di mading, karena baru tadi malam bang Afgan ada di asrama lagi. Mungkin ini merupakan pembelajaran yang Allah berikan kepadaku agar lebih memperhatikan hal yang kecil-kecil. Kejadian ini juga terjadi karena aku telah melalaikan sesuatu hal yang teramat kecil, yaitu, tentang peraturan mading. Salah-satu ayat yang mengatur tentang mading adalah lamanya sebuah tulisan atau pengumuman atau yang sejenisnya, hanya diberi waktu satu minggu, lebih dari itu, petugas mading akan mencopotnya.

Dengan kepala tertunduk lesu, aku melangkah menuju kamar. Dikamar aku melihat Mamat menghadap pada laptop kesayangannya, sepertinya dia sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, karena sebelum solat subuh tadi, aku mendengar sedikit obrolan antara Mamat dan kang Hakmal perihal perijinan Mamat untuk tidak mengikuti materi pagi. Tanpa menyapa Mamat, aku langsung rebahan di kasur lipat. Tubuhku terkulai lemas, serasa tidak ada tenaga lagi yang kumiliki. Sambil rebahan, aku sempatkan untuk melihat kertas folio di pintu lemari.

JJJLLLLEEEEGGGGEEEEEERRRRRRRRRRRRRR

Astagfirulloh. Kali ini bukan hanya guntur, melainkan sudah mencapai tingkatan petir yang tersasar dan menyambar tubuhku. Tidak hanya rambut kepala yang hilang, dimulai dari halis, bulu mata, kumis dan jenggot tipisku terbakar tidak bersisa.Kertas folio yang ada data-data hasil praktikumku delapan hari kebelakang tidak ada di tempatnya. Aku reflek terbangun. Kupalingkan wajahku pada Mamat dan bertanya apakah dia melihat kertas folioku. Sesaat Mamat tidak menjawab pertanyaanku, sambil mengetik dia mengatakan bahwa ba’da solat subuh tadi, ustad Hamdani melakukan operasi kamar. Karena salah-satu aturan asrama adalah tidak boleh menempelkan apapun di dinding dan di lemari, maka ustad Hamdani mencopot kertas folioku.Astaga, lagi-lagi aku harus menelan pil pahit karena telah melalaikan hal yang kecil-kecil. Dalam kasus yang ini, ada dua perkara kecil yang aku lupakan. Pertama adalah tentang peraturan asrama, dan yang kedua adalah telah lalai tidak segera menyalin data hasil penelitian pada Ms. Excel. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah apa alasan yang akan aku sampaikan kepada Prof. Dede Rohmat yang dikenal sebagai dosen paling killer. Haruskah aku jujur tentang peristiwa semua ini? Ataukah memanipulasi data agar mendapatkan nilai yang baik? Atau bagaimana??? Aku bingung. Sangat.

Rabu, 12 Januari 2011

Mulai Kangen


Biasanya, jika aku sudah mudik ke kampung halaman, hati ini terasa berat ketika akan balik lagi ke Bandung karena perkuliahan hanya tinggal beberapa hari lagi akan masuk. Tapi entah kenapa? Pada liburan kali ini, aku tidak merasakan itu lagi. Liburanku masih beberapa hari kedepan, namun, aku sudah ingin segera balik ke Bandung. Apa penyebabnya? Aku sendiri masih bingung apa sumber dari semua ini. Namun, jika direnungkan lebih dalam lagi, mungkin Program Pesantren Mahasiswa (PPM) Daarut Tauhiid (DT) penyebabnya. Mengapa bisa begitu? Iya, sudah hampir setengah tahun ini aku tinggal di asrama Darussalam, asramanya santri ikhwan. Disana tempat aku berteduh dari ganasnya suhu dingin yang menusuk-nusuk tulang pada dini hari. Disana aku ditempa supaya menjadi manusia yang penuh disiplin dan tanggung jawab diri. Pokoknya, di asrama ini aku melakukan banyak hal, dari mulai membuka mata sampai menutupnya kembali.

PPM kini ada di sebagian isi hatiku dan filenya sudah berkarat di memori otakku. Jika memang kenyataanya seperti ini, mungkin ketika periode PPM tahun ini selesai, aku akan utarakan keinginanku kepada Ustad Mardais, selaku penanggung jawab untuk melanjutkan belajar di program ini. Karena setahuku, bagi para santri mahasiswa yang sudah habis masa belajar di PPMnya (satu periodenya disesuaikan dengan satu tahun perkuliahan di kampus), maka habislah masa tinggal di asramanya. Bagi para santri, untuk melanjutkan hidupnya, otomatis mereka harus mencari kos-kosan baru. Namun, bagi santri yang ingin melanjutkan belajarnya di PPM, tetap diperbolehkan, tapi diharuskan melewati beberapa tahap tes terlebih dahulu. Bagi santri yang lolos, mereka menyandang gelar “santri lanjutan”.

Ada beberapa alasan mengapa aku ingin tetap menjadi santri PPM. Alasan yang pertama sudah jelas, karena aku telah memaparkannya di muka. Alasan selanjutnya adalah lingkungan. Lingkungan di ponpes DT, khususnya di lingkungan asrama santri, mengkondisikan para penghuninya untuk benar-benar memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Waktu solat benar-benar terjaga. Jujur, solat awal waktu amatlah sulit dilakukan ketika aku masih ngekost dulu. Namun, disini, walaupun masih ada sedikit rasa malas, kami terkondisikan untuk terus menjaga solat pada awal waktu, dan ini sangatlah bermanfaat bagi kami para santri.

Selanjutnya, disini kami dibiasakan untuk selalu menjaga kerapihan. Setiap hari kami melakukan operasi bersih (opsih), karenanya asrama selalu tampak bersih dan rapih. Seorang santri memiliki jatah dua hari dalam seminggu untuk melakukan opsih. Hari yang pertama para santri bebas memilih satu hari dari hari Senin sampai hari Sabtu. Untuk opsih ini aku memilih hari Rabu, karena pada hari ini jadwal kuliahku masuk siang. Jadi, pada pagi harinya aku bisa leluasa melakukan opsih. Dan yang satunya adalah hari Minggu. Pada hari ini semua santri diwajibkan untuk opsih bersama. Jam tujuh teng kami dikumpulkan di lapangan futsal. Setelah diabsen, kang Hakmal selaku mudabir (pembimbing santri), membagi tugas kepada para santri. Ada yang ditugaskan membersihkan kamar mandi, satu kamar mandi dibersihkan oleh satu orang. Kamar mandi di asrama ada lima ruang, jadi yang bertugas membersihkan ada lima santri. Ada juga yang bertugas membersihkan aula asrama, halaman depan, halaman belakang, dapur, dan lapangan futsal. Tempat favoritku melakukan opsih adalah di lapangan futsal. Karena tugasnya hanya mencabuti rumput liar yang mulai menjalar. Sejauh ini, dari awal tinggal di asrama, aku selalu mendaptkan jatah membersihkan lapangan futsal. Semua yang kudapatkan ini bukanlah tanpa perjuangan. Beberapa saat sebelum kami dikumpulkan di lapangan futsal, secara diam-diam aku menemui kang Hakmal di kamarnya. Dengan sedikit mengeluarkan rayuan dan beberapa arugumentasi, akhirnya kang Hakmal setuju untuk menugaskanku opsih di tempat yang aku inginkan. Peristiwa ini selalu terulang pada setiap minggunya. Untungnya, sejauh ini belum ada santri yang curiga dengan strategi rahasiaku ini.

Waktu opsih hanya satu jam. Jam delapan pas, kang Hakmal meniup sebuah peluit pertanda opsih selesai. Setelah itu ada pengumuman melalui pengeras suara yang ada di kamar mudabir. Meskipun pengumuman ini bunyinya sama setiap minggunya, para santri tetap menyambutnya dengan sangat meriah dan dengan perasaan gembira, seakan kami baru pertama kali mendengarnya. Pengumuman itu adalah tentang akan ada pertandingan futsal antar kamar. Momen inilah yang ditunggu-tunggu oleh para santri. Kamar mana yang mendapatkan juaranya itu tidak dipentingkan, karena tujuan utamanya adalah penyegaran kembali pikiran setelah beraktifitas selama enam hari penuh. Namun, sejauh ini, kamar nomer tiga belas, yang tidak lain adalah kamarku, merupakan kamar yang sering menggondol titel juara kompetisi futsal antar kamar. Hadiah bagi juaranya adalah mendapatkan jatah untuk mandi pertama kali dan waktunya bebas tidak ditentukan. Hadiah ini sangatlah sebanding dengan banyaknya tenaga yang dikeluarkan, karena sesungguhnya, salah-satu peraturan mandi di asrama, dipatok waktunya hanya sekitar lima menitan, dan ditambah lima menit jika kita sekaligus akan buang air besar. Jadi, penghargaan ini tidak kami sia-siakan begitu saja. Yang biasa ketika mandi tidak bisa tenang karena banyak santri lain yang menggedor-gedor pintu memintaku untuk segera menyelesaikan mandi, kali ini semua itu tidak ada, yang ada hanyalah suasana tenang diselimuti kesegaran.

Ponpes DT, termasuk asrama ikhwan darussalam didalamnya, memiliki konsep dan standar tersendiri untuk kerapihan. Konsep ini hukumnya kudu bin wajib diterapkan oleh semua orang yang berhubungan dengan DT, baik itu para ustad, para karyawan, begitupun dengan para santri semua program. Konsepan itu dirumuskan dalam sebuah kata “BEBASKOMIBA”. Bebaskomiba merupakan sebuah akronim dari kalimat: BErantakan > rapihkan, BASah > keringkan, KOtor > bersihkan, MIring > luruskan, BAhaya > amankan. Jadi, jika santri atau siapapun itu yang menemukan kejanggalan-kejanggalan yang termaknakan dalam konsep bebaskomiba tersebut, maka tanpa harus diperintah, mereka harus melaksanakannya, agar tercapai suasana bersih dan rapih, khususnya di lingkungan asrama santri.

“Allah itu indah dan menyukai keindahan. Untuk itu, sudah selayaknya kita menjaga keindahan, dimanapun berada. Terlebih-lebih di lingkungan Daarut Tauhid, pesantren kita bersama. Marilah kita menjaga agar lingkungan kita tetap dalam keadaan bersih, rapih, juga indah, dengan cara menerapkan konsep BEBASKOMIBA,” ujar Aa Gym di ceramahnya beberapa waktu yang lalu.

Senin, 03 Januari 2011

Si Keling (Si Hitam)


Sesuai dengan janjiku dulu, yaitu akan menanyakan kepada orang tuaku perihal kenapa adik laki-lakiku dipanggilnya “Adam”, padahal nama aslinya adalah “Fadlan”.

“ Oh, itu, awalnya Fadlan dipanggil ‘Dam-dam’, namun, seiring berjalanya waktu, berkurang menjadi ‘Dadam’, kemudian berkurang lagi menjadi ‘Adam’, begitu ceritanya, A,” jawab Ibuku atas pertanyaan penasaranku.

“ Trus, kata ‘Dam-dam’nya berasal darimana???” tanyaku lagi.

“ Kalo yang itu Mamah juga tidak tahu, A. Panggilan itu muncul begitu saja, entah siapa yang memulainya? Mungkin Bapak, Mungkin Adek, mungkin juga mamah, soalnya itu sudah lama, mamah agak-agak lupa, maklum udah mulai tua, he....” ibu mengakhiri jawabannya dengan tawa ringan. Tawa itu mencairkan suasana di meja makan. Di salah-satu kursi, Adam tetap khusuk makan, padahal kami sedang membicarakannya.

Di tulisanku terdahulu yang berjudul “Misteri Sepuluh Juni”, dijelaskan kalau aku dan Adam lahir pada tanggal dan bulan yang sama, yaitu tanggal 18 Juni, karenanya kami memiliki sifat yang sama, yakni sama-sama gila dengan yang namanya sepak bola. Selain itu juga, kami sama-sama terlahir sebagai orang pemalu, terlebih-lebih kepada lawan jenis. Namun, sekarang itu hanya menjadi cerita lalu, ketika Adam masih duduk di bangku sekolah dasar. Adam skarang dengan Adam masa lalu sangat-sanatlah berbeda. Menurut kabar dari oang yang dapat dipercaya, di sekolah (SMP Negeri 1 Cinangka), tempat akku juga dulu menuntut ilmu, Adam menjadi idola para wanita.

“ What!!! Adam adik saya menjadi idola wanita di sekolah? Padahal dia kan keling (baca: hitam)! Bagaimana bisa dia menjadi idola???” tanyaku kaget kepada mata-mataku di sekolah.

“ Iya A Niko, Adam itu memang hitam, tapi kata para siswi yang saya tanya kenapa mereka mengidolakan Adam, alasannya adalah Adam itu hitam manis, selain itu juga penampilannya selalu keren.”

Adam, adik laki-lakiku keren??? Keren dilihat darimananya? Setahuku, kalau mau berangkat sekolah, dia selalu berpenampilan amburadul. Bajunya dikeluarkan, dua kancing baju paling atasnya tidak dikancingkan, mungkin dia sengaja agar dadanya yang kerempeng tetap terlihat orang-orang. Model rambutnya teracung ke atas menyerupai marcusuar di pelabuhan peninggalan Belanda. Jika sedang menggunakan parfum, dari radius seratus meter kita sudah bisa mencium keberadaan dia. Bahkan, menurut cerita ibuku ketika setelah mengambil raport Adam, wali kelasnya berujar kalau kelakuan Adam itu sangat menghawatirkan, dia selalu menggoda para siswi sekelasnya, bahkan dari kelas yang lainnya juga.

“ Adam sangat berbeda dengan kakaknya Bu. Kalau dulu, Niko tidak seperti itu, dia orangnya pendiam dan penampilannya selalu rapih, sedangkan Adam, dia menghawatirkan Bu. Kalau semester depan prilaku Adam masih seperti ini, saya tidak yakin dia bisa mempertahankan peringkat satunya,” ujar ibuku meniru kata-kata yang diucapkan Pak Harun, wali kelas Adam.

“ What!!! Adam dapat renking satu??? Yang benar saja!!!” ucapku kaget.

“ Iya, benar A,” jawab ibu sambil memperlihatkan raport Adam kepadaku.

Oh my God, yang benar saja, dengan penampilan dan perilaku seperti itu, dan dengan tidak pernah sama sekali belajar atau membaca buku, dia bisa mendapatkan renking satu. Ini sungguh aneh tapi nyata dan benar-benar membuat aku bingung.

“ Mungkin Adam memiliki kelebihan yang sama dengan Aa. Aa masih ingat kan masa-masa SMP dulu? Pernahkah dulu Aa belajar? Tidak kan? Tapi kenapa Aa bisa mendapat renking pertama?” ibuku membuka masa lalu mencoba mengingatkanku.

Ibuku benar. Mungkinkah dia menuruni sifat yang aku miliki? Jadi, kalau memang seperti itu, berarti cerita yang aku tulis di “Misteri Sepuluh Juni” itu benar adanya. Misteri itu benar-benar terjadi. Dulu aku memang tidak pernah belajar, tapi sering mendapatkan renking satu, bahkan bisa menggondol predikat siswa terbaik di sekolah dua periode berturut-turut, yaitu ketika aku kelas dua dan kelas tiga SMP. Tapi kalau misteri ini benar, darimana Adam mendapatkan sifat yang bisa membuat dia tidak keluar keringat dingin jika berhadapan dengan lawan jenis? Ah, aku tidak mau ambil pusing, karena hanya Allah dan Adam yang mengetahui semua ini. Tapi, rasa-rasanya aku harus mengetahui rahasianya, iya, aku benar-benar harus mengetahui rahasia ini. Dan, orang yang mungkin aku tanya perihal ini tidak lain dan tidak bukan adalah adikku sendiri. Keuntungan yang mungkin dapat aku petik dengan mengetahui rahasia ini adalah, aku tidak akan pernah gugup lagi jika berhadapan dengan lawan jenis, terlenih-lebih yang memiliki paras cantik jelita, hehe.......

“ Teh, Ada Pak Niko...”


Salah-satu kebiasaan di kampungku jika malam Jum’at tiba adalah semua pengajian pembelajaraan membaca Alqur’an diliburkan. Jadi anak-anak dibiarkan mengaji di rumah masing-masing. Pada malam Jum’at ini dikhususkan untuk membaca surat Yasin. Untuk kaum Adam, dari yang muda sampai yang tua, kami melakukan ngaji yasin bareng di mesjid. Pelaksanaan ngaji yasin bareng ini waktunya adalah ba’da solat magrib. Dan untuk kaum hawa, mereka mengaji yasinnya hanya dirumah saja. Namun, beberapa tahu belakangan ini, setelah dibangun majlis khusus pengajian untuk ibu-ibu, mereka juga melaksanakan pengajian yasin berjama’ah yang bertempat di majlis tersebut. Biasanya, ibu-ibu pengajian itu selalu membawa air putih pada botol bekas air minum kemasan. “ Air ini adalah air Yasinan, air ini sudah ada do’anya, jika ingin pintar, minumlah air ini, tapi harus dibarengi juga dengan belajar yang rajin.” Jawab salah satu ibu-ibu yang ada di kampungku ketika aku tanya soal mengapa dia selalu membawa air putih jika pengajian yasin berjamaah.

Biasanya, sebelum yasinan dimulai, ada beberapa orang yang menitipkan untuk dido’akan. Banyak macam jenis permintaan do’a yang diutarakan. Seperti: supaya disembuhkan dari sakit yang diderita oleh kerabatnya, supaya hajat yang diinginkan segera terkabul, supaya diselamatkan dalam perjalanan jauh yang akan segera ditempuh, supaya dimudahkan di tanah rantau bagi yang akan bekerja atau menuntut ilmu di luar kota atau di negeri orang, dan masih banyak lagi macam do’a yang lainnya. Bapakku pun pernah suatu hari minta tolong dido’akan agar aku dimudahkan segala urusannya dan dimudahkan dalam menerima ilmu. Permintaan do’a ini, bapak ucapkan hanya beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Bandung untuk kuliah. Biasanya, yang memimpin yasinan ini adalah para ustad yang ada di kampungku, dan salah-satunya adalah Ustad Nardi, bapaknya gadis kembang desa pujaanku.

“ ...mudah-mudahan Niko dimudahkan dalam menerima ilmu...mudah-mudahan Niko mendapatkan jodoh yang baik secara lahir-batin dan keluarganya kelak berada dalam bingkai sakinah, mawadah, warahmah...Amin.” potongan do’a yang dibacakan Ustad Nardi (Abah Haji) di penghujung pengajian. Semua jama’ah pengajian mengamininya, termasuk juga aku. Bersamaan dengan ketika Abah Haji mendo’akanku agar mendapatkan seorang jodoh yang baik, dalam hati aku turut berdo’a agar orang yang dimaksud itu adalah anaknya abah haji sendiri, yaitu Hena Maharani si gadis kembang desa yang cantik dan pintar mengaji.

Petang ini, setelah solat magrib berjama’ah di mesjid, sebelum yasinan dimulai, aku hendak pulang ke rumah terlebih dahulu mengambil hape yang tertinggal di lemari baju. Siapa tahu ada telefon penting dari dosen atau dari teman-teman di organisasi. Kebetulan, liburan mudik kali ini aku memiliki satu tugas penting dari organisasi yang aku ikuti yaitu LEPPIM (lembaga penelitian dan pengkajian intelektual mahasiswa). Organisasi ini bergerak dalam bidang penelitian dan pembuatan karya tulis ilmiah. Untuk kepengurusan Leppim periode tahun ini, aku diamanahi sebagai sekertaris umum (sekum). Dan tugas yang ada di pundakku sekarang adalah menjadi ketua pelaksana dalam acara musyawarah besar istimewa (mubeis). Pada mubeis ini akan coba dilakukan penggabungan dua organisasi penelitian di Universitas Pendidikan Indonesia, yaitu leppim dan BSO-KIR-UPI. Rencananya, BSO-KIR akan digabung dengan Leppim, dan untuk nama dari hasil peleburan itu telah disepakati oleh kedua belah pihak untuk tetap menggunakan nama Leppim. Untuk itu, supaya mubeis ini berjalan dengan lancar, aku rela menggunakan waktu liburanku untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan mubeis ini.

Bergegas aku berjalan menuju rumah. Beberapa meter di depan, aku melihat Muhamas Iqrodinul Mujahidin (Ikri) berjalan belok kiri menuju rumahnya. Ikri adalah adiknya Hena Maharani. Sekarang dia duduk di kelas dua SD Negeri Cipacung. Aku pernah mengajar dia ketika masih menjadi guru honor di SD dimana dia bersekolah, yang juga tidak lain adalah SD tempat aku menuntut ilmu dulu. Sambil berjalan, Iqri menoleh ke belakang dan melihat diriku, kemudian melanjutkan berjalan menuju rumahnya yang sudah dekat.

“ Assalamu’alaikuum..........” ucap Iqri dengan suara keras, padahal dia masih jauh dari pintu. Karena tidak ada yang menyahut, Iqri mengucapkan salam lagi berkali-kali hingga terdengar jawaban salam dari dalam rumah. Aku hafal dengan suara yang menjawab salam itu. Pemilik suara itu adalah Hena, kakak perempuan Iqri. Menyengaja aku memperlambat jalanku. Terdengar suara pintu terbuka. Walaupun pandanganku ke arah jalan, telingaku ini aku pasang seoptimal mungkin agar bisa mendengar suara Hena dari kejauhan.

Sambil berjalan pelan aku menangkap pembicaraan Iqri kepada tetehnya,” Teh, ada Pak Niko tuh di jalan,” ujar Iqri dengan suara polos. Meskipun aku mendengar, tapi sayang aku tidak dapat melihat kejadian itu, karena aku malu. Namun, imajinasiku menggambarkan bahwa, ketika Iqri berbicara bahwa ada aku di jalan, dia melihat dan menunjuk ke arahku.

Aku mendengar suara pintu yang tertutup.

“ Teh, kenapa pintunya ditutup??? Iqri belum masuk teh, tolong bukain lagi...!” ujar Iqri sambil mengetuk-ngetuk pintu. Entah apa yang menyebabkan Hena menutup pintu, padahal Iqri masih ada di luar. Apakah ada sesuatu yang akan dia ambil di dalam rumah? Apakah Umi Itoh memanggil dia untuk dimintai tolong menyiapkan makan malam? Apakah Hena malu kepadaku karena peristiwa di balik jendela kemarin? Atau apa??? Jawabannya adalah hanya Allah dan Hena yang mengetahuinya.

Cerita Petang Hari


Petang ini aku berada di kampung halamanku tercinta lagi. Mungkin sekitar satu minggu ke depan, aku akan tetap di sini. Iya, satu minggu liburan sebelum menghadapi ujian akhir semester ini merupakan waktu yang sangat tepat untuk menyegarkan otak sebelum bekerja menghadapi hari ujian. Ditambah lagi tempat yang digunakan untuk refresh otak tersebut merupakan tempat yang paling indah di muka bumi ini, yaitu tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan.

Salah satu hal yang paling aku rindukan dari kampung halaman jika aku berada di negeri orang adalah solat berjamaah di mesjid kampungku. Bagaimana indahnya lembayung senja yang menempel di kaki langit barat. Bagaimana sejuknya udara petang di perkampungan. Bagaimana damainya mendengarkan tilawah alquran yang keluar dari mulut pemuda pemudi mesjid. Bagaimana ramahnya senyuman para ibu yang aku temui di sepanjang jalan menuju mesjid, mereka sedang membujuk anak-anak mereka yang lucu-lucu agar segera pulang kerumah. Alhamdulillah, petang ini aku merasakan itu lagi.

Gelap perlahan menelan terang. Gumpalan awan putih tebal berubah warnanya menjadi jingga. Untuk sesaat angin menjadi diam karena terjadi peristiwa perubahan arah, dari angin laut menjadi angin darat. Rembulan mulai menampakan cahaya peraknya. Sekumpulan burung pipit yang bersarang di pohon mangga depan rumahku mulai beristirahat di istananya.

Entah kenapa, setiap kali aku melewati rumah dia (bidadari surgaku, yang sudah aku beritahukan pada tulisan-tulisan sebelumnya), hati ini berubah tidak keruan. Padahal, aku hanya berjalan melewati rumahnya. Iya, karena rumah Hena berada diantara rumahku dan mesjid. Mau tidak mau, jika aku solat berjamaah di mesjid, aku pasti melewati rumahnya. Jarak antara rumahku dengan rumah Hena kurang lebih hanya lima puluh meteran, begitupun antara jarak rumah Hena dengan mesjid, yaitu sekitar lima puluh meteran juga.

Antara rumah Hena dengan jalan, hanya diselingi oleh lapangan bulu tangkis yang sekarang sudah dialih fungsikan menjadi halaman. Dua pohon mangga berukuran numayan besar berdiri tegak di halaman tersebut. Di depan rumahnya terdapat sebuah teras berukuran luas. Teras ini merupakan tempat belajar membaca alquran anak-anak kampung. Ustad Nardi- aku biasa memanggilnya “Abah haji”- dan Umi Itoh adalah pengajarnya. Mereka adalah orang tua Hena, gadis pujaan hatiku. Menurut kabar dari orang kepercayaanku yang aku tugaskan untuk memata-matai Hena, sekarang, dia mulai membantu orang tuanya untuk mengajari anak-anak mengaji. SubhanAllah, kabar baik ini semakin membuat hatiku yakin, jika aku sukses nanti, dialah wanita yang akan aku jadikan sebagai pendamping hidupku kelak. Ya Allah, kabulkanlah permintaan hambaMu ini. Amin.

Setiap kali hendak pulang dari solat berjamaah, suara-suara anak kecil yang sedang membaca Alquran pasti kudengar ketika aku melewati rumah Hena. Begitupun dengan petang ini. Aku mendengarkan celotehan itu kembali. Sambil berjalan, sayup-sayup aku mendengarkan suara anak kecil yang sedang melafalkan huruf hija’iyah (huruf arab) dan ada juga yang sedang terbata-bata membaca surat-surat pendek. Ingin sekali aku melihat anak-anak dengan suara lucunya itu. Namun, aku malu, takut ketika menoleh, disana ada Hena dan kedua orang tuanya.

“ Pak Nikoooo.....,” teriak salah-satu anak perempuan. Dengan ragu-ragu aku menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namaku. Ternyata yang memanggil itu adalah anaknya tetanggaku, namanya Vina. Dia merupakan salah-satu murid kelas empat SD yang pernah aku ajar ketika masih menjadi guru honor di SD kampungku. Di teras depan itu, Vina melambay-lambaykan tangannya.

“ Pak Niko, Pak Niko, Pak Niko... kapan ngajar lagi, Pak...???” beberapa anak lainnya juga memanggil namaku. Mereka melambaykan tangannya. Beruntung, mengajinya belum dimulai, jadi Abah Haji dan Umi Itoh belum ada disana, begitupun dengan Hena. Aku membalas lambayan tangan mereka. Mereka masih memanggil-manggil namaku. Memang dasar anak-anak.

Pintu depan ada yang membuka. Aku sedikit kaget. Malu jika seandainya yang keluar adalah Abah haji atau Umi Itoh. Perlahan pintu itu terbuka. Pandanganku masih terpaku pada sebuah pintu kayu bermotif batik itu. Sebuah tangan terlihat memegang gagang pintu. Tangan itu mendorong pintu hingga terbuka semakin lebar. Terlihat tangan itu terbalut busana muslim berwarna merah muda. SubhanAllah, aku sangat mengenal busana itu. Pemiliknya adalah wanita pujaanku, Hena. Aku bingung dengan apa yang hendak kulakukan. Tetap bertahan melihat ke arah pintu hingga dia keluar atau berpaling dan mempercepat jalan menuju rumah. Namun, rasa rindu yang besar mendorongku untuk tetap bertahan.

Pintu semakin lebar terbuka, namun belum juga pemilik tangan indah itu keluar. Apa gerangan yang menahannya untuk segera keluar? Ingin rasanya aku segera melihat wajah seorang bidadari yang telah lama tidak kulihat. Ingin rasanya aku menatap wajah wanita yang selalu memberikan inspirasi dalam setiap tulisan-tulisanku. Ingin rasanya aku beradu pandangan dengan seorang wanita yang selalu hadir dalam setiap mimpi di malam-malamku.

Seorang wanita keluar dari persembunyiannya. Dia berdiri mematung di depan pintu yang terbuka. Salah-satu tangannya masih memegang gagang pintu. MasyaAllah, mendadak bumi berhenti berotasi. Jarum jam berhenti berputar. Anak-anak yang melambaikan tangannya kepadaku berhenti bergerak dan menjadi patung. Wanita itu melihat kepadaku. Mata kami beradu pandangan. Tiba-tiba angin petang menerpa tubuhku. Sejuknya terasa sampai ke hati. Dia tersipu malu dan menundukan matanya karena tatapanku. Bidadariku masuk lagi ke istananya. Pintu tertutup kembali. Entah kenapa, tubuhku tetap mematung memandangi pintu itu. Hanya beberapa sentimeter di samping pintu, terdapat sebuah jendela berukuran lebar. Jendela itu diselimuti gorden berwarna biru tua. Aku mengalihkan pandangan dari pintu ke jendela karena ada seseorang di dalam rumah yang sedikit menyingkapkan gorden. Gorden itu tersingkap. Wajah seorang wanita cantik terlihat jelas karena tersinari lampu yang menerangi teras depan. Wanita di balik jendela itu adalah Hena. Dia mencoba mengintip diriku. Oh, dada ini terasa semakin sejuk saja. Karena ketahuan mengintip, Hena menutup gorden itu kembali. Sesaat sebelum gorden tertutup, sepintas aku menangkap aroma malu dari wajah Hena. Tidak lama berselang, pintu depan terbuka kembali. Mudah-mudahan ini Hena, pikirku dalam hati. Namun, bayanganku itu keliru, yang keluar bukan Hena, akan tetapi Abah Haji, kemudian diikuti oleh Umi Itoh. Beruntung, mereka tidak melihatku sedang berdiri mematung dijalan memandangi istana mereka. Bergegas aku berjalan kembali menuju rumahku. Sambil berjalan, aku menangkap suara anak-anak memanggil-manggil namaku. Aku pura-pura tidak mendengar dan semakin mempercepat jalanku.