Selasa, 23 Januari 2018

Botol Mimpi


NGIIIK NGIIIK NGIIIK

Suara spidol yang bergesekan dengan papan tulis.

TUKKK

Dentuman suara hasil tekanan spidol yang membuat titik pada akhir huruf yang saya tulis. White board yang tadi mulus. Kini sudah ada beberapa tulisan huruf, angka, dan gambar.

BAYU DWI NUR WICAKSONO

MUHAMMAD ALAWI ABDURROHIM

NCP

Di bawah tiga baris nama itu ada gambar sebuah pohon rindang. Lalu tepat di samping pohon ada angka yang dikurung sebuah garis kotak.

8-3

"Apa itu Stadz?" Tanya seorang santri.

"Siapa itu Stadz?" Tanya santri yang lain.

Saya tidak menjawab. Hanya memberi senyum saja.

"Apaan itu Stadz?" Tanya santri yang lain lagi.

"Dulu," ucap saya pendek. Lalu diam lagi. Para santri serius melihat saya.

"Dulu. Saya pernah seperti teman-teman sekarang. Saya nyantri. Belajar di pesantren. Tidur bareng dengan banyak orang dalam satu kamar."

Beberapa santri merapatkan badannya ke meja. Menyimpan tangan di atas meja. Guna menopang tubuhnya yang condong ke depan.

"Saat itu menjelang pesantren usai. Mas Bayu, Alawi, dan saya sepakat untuk mengikat janji. Janji untuk berkumpul pada setiap tahun di suatu tempat yang hanya kami bertiga saja yang tahu."

"Kami tuliskan seratus mimpi pada sebuah kertas. Mas Bayu satu lembar. Alawi satu lembar. Juga saya." Saya goreskan ujung telunjuk kanan saya ke telapak tangan kiri. Menguatkan kalimat yang saya ucapkan.

"Setelah selesai. Kami gulung ketiga kertas itu. Lalu kami masukkan pada sebuah botol. Dan botol itu kami kubur di bawah pohon besar yang ada di sebuah taman di kampus UPI."

"Botol itu kami kubur sore hari. Pada tanggal delapan Maret."

"Semenjak itu. Setiap tanggal delapan pada bulan ketiga. Kami wajib bertemu di bawah pohon tempat terkuburnya botol mimpi-mimpi kami. Pada hari itu kami keluarkan botolnya. Kami keluarkan juga tiga buah kertas di dalam botol. Kami ambil mimpi kami masing-masing. Kemudian kami coret beberapa tulisan mimpi yang sudah kami wujudkan. Terakhir. Kami tambahkan beberapa tulisan mimpi terbaru kami. Lalu botol kembali dikubur pada tempat yang sama."

"Begitu terus setiap tahunnya. Pada tanggal delapan di bulan ketiga. Kami berkumpul untuk mencoret mimpi yang sudah mewujud. Lalu menambahkan mimpi-mimpi baru. Kemudian botol dikubur lagi. Dan akan kembali digali pada tahun berikutnya."

Saya melihat wajah para santri. Semuanya. Tanpa terkecuali. Wajah mereka cerah merona. Senyum melengkung. Mata mereka berkerlip seperti bintang di malam cerah.

"Sekarang," saya memberi jeda. "Mas Bayu sudah menjadi dosen D3 jurusan penerbitan di UI. Alawi menjadi ustadz di Bandung."

"Waaah," gumam para santri lirih.

"Dan saya. Alhamdulillah berhasil mencoret salah satu mimpi terbesar saya. Sekarang saya berdiri di tanah kelahiran saya."

"Saat kuliah. Saya berjanji pada diri. Apapun yang terjadi. Setelah lulus nanti. Saya harus kembali ke daerah. Mengabdi pada tanah kelahiran. Apapun peran saya nanti. Pokoknya saya wajib kembali."

"Mimpi besar itu terwujud. Dan sekarang saya bisa bertemu dengan teman-teman di dalam kelas ini." Saya tutup kalimat saya dengan sebuah senyuman.

"Cieee," lirih santri berjamaah.

"Kemarin saya sudah menghubungi Mas Bayu dan Alawi. Sekedar mengingatkan tentang perjumpaan kami pada angka delapan dan tiga. Yang insyaAllah hanya tinggal hitungan dua bulan saja."

"Kalau lagi pada sibuk gimana itu Stadz?" Celetuk seorang santri.

"Sebisa mungkin kami utamakan harus pada tanggal itu. Tapi jika memang tidak bisa. Kami mundurkan beberapa hari. Kami cari hari Sabtu atau Minggu yang berdekatan dengan tanggal delapan Maret."

"Oooh."

"Dan sekarang!" Saya memberikan penekanan pada ucapan saya. "Adalah waktunya untuk teman-teman!"

Saya melangkah ke dekat meja guru.

"Saya akan bagikan sebuah kertas pada semuanya. Silahkan tuliskan semua mimpi yang teman-teman miliki. Semakin banyak semakin bagus. Jika sudah selesai. Kumpulkan kertasnya ke saya. Nanti saya akan cari botol untuk tempat menyimpan kertas mimpi teman-teman. Kemudian kita cari sebuah tempat di NF yang sekiranya tidak akan berubah hingga tahun-tahun yang akan datang. Kita tanam botol mimpi teman-teman di sana."

"Oke!"

"Sekarang tanggal berapa?" Saya bertanya.

"Tiga belas Januari." Jawab beberapa santri serempak.

"Nanti. Tahun depan. Atau tahun-tahun berikutnya. Entah itu tiga tahun. Lima tahun. Atau sepuluh tahun kedepan. Siapapun diantara teman-teman yang ingin melihat, mencoret, atau menambahkan mimpi. Harus pada tanggal yang sama dengan sekarang. Botol mimpi boleh digali hanya pada tanggal tiga belas bulan kesatu saja. Hanya pada tanggal itu!"

"Teman-teman banyak orang. Akan sangat sulit bagi teman-teman bisa berkumpul pada hari itu. Ingat! Peraturannya hanya satu saja. Siapapun yang kelak merindukan botol mimpi. Silahkan datang ke tempat rahasia teman-teman pada angka tiga belas dan satu. Silahkan gali. Lihat. Coret. Dan tambahkan lagi mimpi. Kemudian harus dikubur lagi. Wajib!"

"Sepakat?!"

"Sepakaaat!"

"Untuk teman-teman kita yang masih di Jordan. InsyaAllah mimpi-mimpi mereka akan menyusul masuk botol pada tahun depan."

"Stadz. Sebentar lagi bulan Maret. Ustadz akan ke Bandung lagi dong?"

"Ya."

"Gimana kalo bentrok dengan ngajar?"

"Saya akan izin. Jika tidak diberi izin. Seperti apa yang saya katakan tadi. Akan kami mundurkan pada hari Minggu setelah tanggal tiga."

"Ya yaaa." Santri yang tadi bertanya manggut-manggut.

"Sepertinya pertemuan tahun ini akan sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya."

"Kenapa Stadz?"

"Karena Mas Bayu dan Alawi sudah ada gandengan. Istri-istri mereka mungkin akan diajak. Hehe."

"Jiaaaaaaah. Jomblo. Nasib nasib. Haha."

"Hahahahahha!" Santri lain ikut terbahak.

Terkadang. Pada momen-momen tertentu. Anak-anak saya berubah menjadi anak yang menyebalkan. Seperti hari ini. Ah sialan! Hahaha.
***

Tutup Telinga


TRING!

Hape berdering. Sebuah pesan whatsapp masuk. Langsung saya buka.

(Pak Niko tulisan yang dipost di grup menarik. Boleh saya muat di web Nurul Fikri ya).

Begitulah kira-kira isi pesannya. Dari Ibu Fifi. Amanah beliau di bagian sekretariat umum (sekum).

(Mangga Bu. Semoga bermanfaat bagi yang membaca. Semoga semakin banyak yang akan mendoakan mimpi para santri yang ada di foto itu).

Sehari sebelum pesan ibu Fifi masuk. Saya membagikan catatan harian guru di grup whatsapp guru dan pegawai Nurul Fikri. Judul tulisannya adalah Mimpi. Isinya adalah tentang mimpi-mimpi para santri yang tertulis pada sebuah kertas. Kemudian difoto untuk diabadikan.

(Pak Niko, kualitas foto yang dibagikan kurang bagus. Mungkin karena kamera hape kali ya. Jika bisa nanti foto ulang saja ya. Nanti dari bagian sekum yang akan ambil fotonya. Pak Niko tolong kondisikan anak-anaknya ya).

Ibu Fifi kembali mengirim pesan. Berselang beberapa jam dari pesan pertama.

(Baik Bu).

Langsung saya sampaikan berita baik ini kepada anak-anak X IPS 1.

"Ada kabar baik untuk teman-teman," ujar saya di depan kelas. Wajah anak-anak tak sabar menunggu sang kabar.

"Foto tentang mimpi-mimpi kita. Saya tuliskan dan bagikan di grup guru dan pegawai NF. Dan, pihak sekum minta tulisan itu untuk dimuat di web NF." Sampai kalimat ini saya berhenti dulu. Senyum merona bermunculan di bibir para santri.

"Tapi. Karena kualitas fotonya kurang bagus. Jadi kita diminta untuk foto ulang. Pake kamera Bagus. Nanti dari sekum yang akan fotonya."

"Yeeeeey!" Anak-anak bersorak. Mungkin kegirangan.

"Semoga dengan dimuatnya foto teman-teman di web NF nanti. Akan ada lebih banyak lagi orang yang melihat. Kemudian akan lebih banyak pula yang mendoakan agar semua mimpi teman-teman bisa terwujud."

"Aamiiiiiiiiiiiin!" Teriak anak-anak berjamaah.

***

Saya dan anak-anak sudah berkumpul di depan gedung SMA tholib. Menunggu untuk difoto ulang. Anak-anak sudah berseragam rapih. Kertas mimpi sudah mereka genggam.

TRING!

Pesan dari ibu Fifi.

(Pak Niko. Dari sekum berhalangan hadir. Nanti yang akan foto adalah Adit kelas dua belas. Saya sudah bilang. Pak Niko dan anak-anak tunggu saja di SMA).

Kami mengobrol sambil menunggu. Beberapa anak mengambil kursi kelas untuk keperluan pemotretan. Saat itu adalah jam istirahat. Jadi banyak santri kelas lain yang memperhatikan kami.

"Mau ngapain ini Stadz?" Tanya seorang santri kelas lain.

"Mau foto kelas."

"Oooh."

Adit tiba. Dia menghampiri saya. Sedikit ngobrol tentang teknis pemotretan.

Adit menyiapkan kamera. Saya mengkondisikan anak-anak untuk berbaris rapih. Lengkap dengan kertas mimpi di genggaman tangan masing-masing. Tidak sedikit santri lain yang melihat dan memperhatikan kami.

"Oke. Semuanya lihat kamera." Titah Adit.

"Ciiiirrsss!" Saya bilang. Anak-anak mengikuti.

CKREKKK!

"Itu kamu mau jadi juragan. Juragan apaan? Haha." Ucap seorang santri yang melihat kami. Telunjuknya mengarah pada salah-satu tulisan anak. Reflek saya memandang pada wajah anak yang ditunjuk. Dia hanya tersenyum dingin. Ingatan saya langsung melesat pada sebuah kenangan beberapa tahun silam. Ketika tidak sedikit orang yang meragukan mimpi-mimpi yang saya ucapkan.

Saya berprasangka baik jika ucapan santri tadi hanya bercanda. Saya juga tetap berprasangka baik jika anak yang ditunjuk tadi paham bahwa ucapan itu hanya sebuah gurauan. Tapi saya juga tidak harus diam saja. Saya harus berbuat sesuatu untuk anak-anak. Karena boleh jadi. Suatu hari nanti. Entah kapan dan dimana. Anak-anak akan menemui ucapan-ucapan yang benar-benar akan menyerang mimpi mereka. Meremehkan keinginan mereka. Meragukan mereka untuk bisa mewujudkan cita-cita mereka.

Saya sudah tak sabar untuk segera menemukan momen yang pas guna membagikan sebuah kisah sederhana yang dulu telah mampu membantu saya bertahan dalam keyakinan saya. Membantu saya tetap percaya akan terwujudnya cita-cita. Tidak peduli berapa banyak orang yang meragukan. Bahkan menertawakan. Sebuah kisah yang saya dapatkan dari seorang teman yang saat ini telah banyak merengkuh mimpi-mimpinya. Seorang kawan yang telah dua atau tiga langkah melaju di depan saya. Saya sudah tidak sabar ingin menceritakan kembali kisah kecil ini kepada anak-anak. Tak sabar.

***

"Assalamualaikum," saya ucapkan saat masuk kelas. Dengan langkah masih melaju. Sebagian anak-anak menjawab salam. Sisanya masih asik berbincang.

Saya simpan tas saya di kursi guru. Lalu mengambil spidol di atas meja. Tanpa bersuara saya menghampiri papan tulis. Pelan-pelan saya menggambar sebuah menara tinggi. Perlahan obrolan anak-anak meredup. Mungkin mereka penasaran dengan apa yang akan saya lakukan. Kemudian saya menggambar sebuah katak kecil di bawah menara.

"Oooh. Saya tahu," lirih seorang anak di belakang.

Saya berbalik badan. Menghadap anak-anak. "Ada yang tahu kenapa saya menggambar in?" Saya menunjuk papan tulis.

"Cerita katak yang lomba memanjat menara, Stadz," ujar seorang anak.

"Iya Stadz. Itu cerita katak yang lomba panjat menara," ujar anak yang lainnya.

"Eh. Teman-teman sudah tahu cerita ini?"

"Sudah Stadz," ucap beberapa anak berbarengan.

"Tadinya saya akan bercerita tentang kisah katak kecil ini. Tapi karena sebagian teman-teman sudah tahu. Mmm..." Saya menyisir anak-anak. "Coba acungkan tangan yang sudah tahu!"

Empat puluh persen dari anak-anak mengacungkan tangan mereka.

"Oke. Adakah yang berani ke depan untuk menceritakan kisah ini?"

Sebagian dari yang tadi mengangkat tangan kini menurunkan tangannya.

"Saya Stadz." Pinta seorang anak.

"Saya stadz!" Pinta anak yang lain. Dia mengangkat tangan lebih tinggi lagi. Faqih namanya.

"Oke. Faqih maju," saya menunjuk Faqih.

Faqih beranjak. Ia melangkah ke depan. Siap untuk bercerita.

***

# Suatu hari, berkumpul sejumlah katak kecil di sebuah lapangan luas yang di tengahnya berdiri sebuah menara yang sangat tinggi. Mereka sedang melakukan pemanasan. Sebab sebentar lagi perlombaan menaiki menara akan segera dimulai.

# Terdapat banyak katak besar yang berkumpul di sekitar menara. Mereka bersorak sorai tidak sabar ingin segera melihat perlombaan. Setiap menit, semakin banyak saja katak besar yang berdatangan untuk menonton. Lapangan yang luas itu penuh sesak oleh para penonton itu.

# PRIIIIIITT!!!! Peluit ditiup. Perlombaan dimulai. Para katak kecil mulai berlari menghampiri menara. Beberapa dari mereka sudah mulai menaiki menara super tinggi itu.

# Semakin banyak katak kecil yang sudah menaiki menara. Para penonton berteriak menyaksikan perlombaan. Sebagian besar dari mereka meragukan para katak kecil untuk bisa menaiki menara sampai ke puncaknya. Mereka berteriak lantang, “Menaranya tinggi! Mereka tidak akan mungkin sampai ke puncaknya!”. Kemudian ada juga katak besar yang berteriak seperti ini,” Tidak akan ada yang berhasil! Saya sangat yakin! Menaranya sangat sulit untuk dinaiki!”

# Beberapa katak kecil berhenti memanjat. Mereka menyerah untuk tidak melanjutkan perlombaan.

# “Benar kan?! Kata saya juga apa. Mereka pasti tidak akan berhasil dalam perlombaan ini!” teriak para penonton dengan suara lantang.

# Namun, sebagian katak kecil lain tetap lanjut memanjat. Mereka adalah katak kecil yang memiliki semangat yang cukup tinggi. Perlahan mereka memanjat lagi.

# Para kumpulan penonton mulai bersorak lagi. Kali ini semakin banyak saja katak besar yang meragukan para peserta lomba. Mereka yakin bahwa tidak akan ada satupun katak kecil yang berhasil memanjat sampai ke puncak. “Iya benar! Tidak akan ada yang berhasil! Mustahil mereka bisa sampai ke puncak menara!”

# Semakin lama, semakin banyak saja katak kecil yang berjatuhan. Kini hanya tinggal beberapa katak saja yang tersisa dan tetap menaiki menara.

# “Tuh kan benar?! kata saya juga apa?! Mereka tidak akan berhasil!” teriak para penonton di bawah menara.

# Satu demi satu katak yang tersisa itu mulai berjatuhan. Kini hanya tinggal hitungan jari saja katak kecil yang tersisa.

# “Sudah jangan dipaksakan! Percuma! Kalian tidak akan berhasil!” ucap sekumpulan penonton di sudut lapangan.

# Katak tersisa berjatuhan. Mereka menyerah. Mereka berhenti mengikuti lomba. Tapi, masih ada satu katak kecil yang tetap naik. Dia terus naik, seperti tidak kenal lelah.

# “Tuh lihat. Katak kecil itu tampak kelelahan. Sebentar lagi dia pasti akan jatuh juga!” ujar beberapa penonton. Tapi sayangnya, satu-satunya katak yang tersisa itu tetap memanjat.

# Sang katak kecil terus memanjat. Keringat bercucuran. Nafasnya terengah-engah. Dia mulai merasa lelah, namun tetap memanjat.

# Dan akhirnya, sang katak kecil itu berhasil menuju puncak. Dia bersorak di atas menara. Gembira kerena telah menjuarai perlombaan ini.

# Para katak lain penasaran. Mereka heran dengan keberhasilan si katak kecil. Bagaimana bisa dia melakukan hal aneh ini? bagaimana bisa katak sekecil itu bisa memanjat hingga ke puncak menara super tinggi itu? Mereka bertanya kepada sang katak kecil.” Bagaimana Anda bisa melakukan ini?”

# sang katak kecil itu tidak menjawab. Setelah diselidiki, ternyata sang juara itu tuli. Dia tidak bisa mendengar.

(Inti cerita yang Faqih kisahkan sesuai dengan cerita yang ingin saya berikan pada anak-anak. Untuk keperluan tulisan. Saya sempurnakan cerita Faqih menjadi seperti yang di atas)

***

"Oke bagus! Beri tepuk tangan untuk Faqih!" saya bertepuk tangan. Anak-anak ikut bertepuk tangan.

"Jadi hikmahnya apa, Faqih?" Saya bertanya.

"Menurut saya hikmah dari cerita ini adalah: Kalimat yang tertuju kepada kita itu akan mempengaruhi sikap dan prilaku kita. Untuk itu, kita harus berusaha untuk mendengarkan kalimat yang baik saja. Jangan dengarkan dan segera lupakan setiap kalimat negatif yang bisa meruntuhkan semangat kita dalam berjuang meraih mimpi. Kita harus bersikap tuli terhadap setiap kalimat yang pesimis. Yakinkan pada diri bahwa kita bisa."

"Mantap!" Saya mendekati Faqih. "Oke terima kasih Faqih. Silahkan kembali."

Faqih kembali duduk. Warna wajahnya puas telah membagi cerita.

Saya diam di hadapan anak-anak.

"Jadi. Jika suatu hari nanti ada orang yang meragukan bahkan menertawakan mimpi teman-teman. Maka teman-teman jangan dengarkan semua kalimat itu! Tetap yakin pada diri! Bahwa teman-teman bisa mewujudkan mimpi teman-teman itu! YAKIN!"

Anak-anak tajam menatap saya. Terlebih anak-anak yang baru mendengar kisah katak kecil yang juara lomba panjat menara yang barusan Faqih kisahkan.

Saya melangkah ke meja guru. Bersiap memulai jam wali kelas minggu ini.
Demikian.
***

Kamis, 21 Desember 2017

Anak Krakatau


"Alhamdulillah. Setelah sekian lama, akhirnya sore ini bisa lengkap juga." Pak Okin tersenyum menatap tiga santri bimbingannya satu persatu. Nida, Zulfa, dan Putri membalas senyum ramah Pak Okin.

"Sebelum kita bergelut dengan soal-soal lagi. Saya ada kabar gembira untuk teman-teman."

"Asiiiik," Zulfa bersorak. Girang.

Bola mata Nida membulat. Sumringah bercampur penasaran.

"Apaan tuh Pak?" Putri tak sabar bertanya.

"Proposal kita di-ACC kepala sekolah. InsyaAllah Minggu depan kita akan ada kunjungan ke pos pengamatan gunung api Anak Krakatau di Pasauran," Pak Okin menutup kalimatnya dengan senyuman.

"Yeee, jalan-jalan!" Zulfa mengangkat kedua tangannya.

"Alhamdulillah," lirih Nida pelan. Kedua telapak tangannya menutup mulutnya sendiri. Gestur pertanda gembira.

"Pak Okin dan kita-kita aja yang berangkat? Atau gabung dengan cabang olimpiade lainnya juga?" Putri bertanya.

"InsyaAllah nanti kita akan gabung juga dengan tim olimpiade kebumian," jelas Pak Okin.

"Asiiik!" Seru Zulfa.

"Kita ngapain aja di sana Pak?" Tanya Putri.

"Banyak," jawab Pak Okin. "Kita akan mengamati Anak Krakatau dengan teropong. Kita akan melihat alat pencatat gempa."

"Seismograph?" Potong Zulfa.

"Ya. Pokoknya kita akan belajar banyak di sana." Lanjut Pak Okin. "Kita akan melihat lebih dekat gunung api yang disebut-sebut sebagai pemilik letusan terdahsyat dalam sejarah manusia modern."

Putri, Nida, dan Zulfa menatap Pak Okin. Letusan terdahsyat?! Pertanyaan serupa terlantun di kepala ketiga santri perempuan itu.

Mendapati tatapan ketiga santri bimbingannya seperti itu. Pak Okin tak sabar untuk melanjutkan tuturannya tentang gunung api yang bersemayam di selat Sunda. Laut sempit antara pulau Jawa dan Sumatra.

"Ya. Sampai sejauh ini. Letusan anak Krakatau pada tahun 1883 merupakan letusan terdahsyat di era manusia modern. Menurut bukti-bukti tertulis. Letusannya terdengar hingga ke Australia dan Afrika. Dentumannya sampai pada telinga seperdelapan penduduk dunia. Abu vulkaniknya mengelilingi dunia. Menutupi atmosfer bumi. Karenanya, dua tahun Eropa tidak menjumpai musim panas. Sebab sinar matahari hanya remang-remang saja akibat terhalang debu. Suhu global turun satu koma lima derajat saat itu."

"Selepas letusan dahsyat itu. Diikuti juga dengan bencana tsunami yang menelan korban lebih dari 36.000 jiwa. Jumlah yang sangat banyak ketika itu. Tidak terbayang jika letusan itu terjadi hari ini. Mungkin korbannya akan jauh lebih banyak dari angka itu."

Nida meringis mendengar penjelasan Pak Okin. Zulfa menyipitkan mata. Putri mengernyitkan dahi.

"Kira-kira nanti akan meletus lagi gak ya?" Zulfa bertanya lirih. Keningnya melipat.

"Tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi lagi," Pak Okin menjawab pertanyaan cemas Zulfa. "Sampai hari ini ukuran gunung api Anak Krakatau terus bertumbuh." Tambah Pak Okin.

"Pak," Putri mengangkat tangan. "Saya penasaran kenapa namanya harus Anak Krakatau? Kenapa tidak Krakatau saja?"

Pak Okin tersenyum.

"Sebelum letusan 1883. Gunung api ini bernama Krakatau. Tapi karena letusan dahsyat yang saya tuturkan tadi. Massa gunung itu hancur. Dan empat puluh tahun pasca letusan. Dari kawah yang tersembunyi di dasar laut, muncul gunung baru. Gunung ini terus bertumbuh sampai hari ini. Pertumbuhannya sekitar lima meter pertahun. Gunung api Inilah yang sekarang kita sebut sebagai Anak Krakatau."

"Perlu teman-teman ketahui. Pada saat letusan dahsyat 1883. Gunung Krakatau tingginya sekitar 800 meter. Sekarang, Anak Krakatau tingginya sudah mencapai lebih dari 200 meter. Ingat. Tinggi ini adalah di atas permukaan laut ya. Anak Krakatau adalah Gunung api bawah laut. Jika kita ukurnya dari dasar laut, tingginya pasti akan jauh dari angka itu."

"Iiih, takuuut," Zulfa melirik Putri dan Nida.

"Hehe," Pak Okin tertawa renyah.

"Jika Anak Krakatau meletus kira-kira tsunaminya sampai ke kita gak ya? Sekolah kita kan lumayan tinggi dan jauh dari pantai." Nida melihat Pak Okin. Lalu melirik Zulfa dan Putri. Entah pertanyaan ini untuk Pak Okin atau untuk kedua teman di sampingnya. Atau mungkin untuk semuanya.

"Mungkin saja bisa sampai." Jawab Pak Okin. "Kenapa? Takut ya?"

Nida mengangguk.

"Hehe. Jangan takut. Kita semua pasti akan mati. Hanya saja: waktu, tempat, dan cara bagaimananya saja yang masih menjadi rahasia. Entah itu karena letusan Anak Kakatau atau bukan. Kita tidak akan pernah tahu. Dan sesungguhnya bukan itu yang perlu kita khawatirkan. Yang harus kita khawatirkan adalah dalam kondisi bagaimana kita meninggal nanti. Dalam kondisi baik atau tidak. Guru saya di pesantren dulu pernah bilang bahwa kita sering berdoa minta hidup enak dan baik. Tapi justru kita lupa untuk meminta mati dalam keadaan baik. Karena itu, teruslah berdoa meminta supaya kelak kita bisa meninggal dalam kondisi baik."

"Tapi tetap saja lumayan takut Pak, hehe." Putri tertawa kecil. "Semoga saja Anak Krakatau gak akan pernah meletus lagi. Aamiin."

"Aamiin." Ucap Zulfa dan Nida bersamaan.

"Lagian kalau meletus kan kasian Pak Okin-nya belum menikah, hehe." Ujar Putri bercanda. "Oya, omong-omong Pak Okin kenapa sih belum menikah? Saya pikir dengan usia Pak Okin sekarang sudah sangat layak untuk menikah. Dua kakak laki-laki saya saja sudah menikah semua lho Pak. Kakak yang pertama mungkin seusia dengan Pak Okin. Kakak saya yang Kedua lebih keren lagi. Dia menikah hanya selang satu minggu setelah sidang skripsinya."

"Gak. Pak Okin nikahnya nanti saja dua atau tiga tahun lagi. Nunggu angkatan kita lulus sekolah dulu," tukas Zulfa melirik Putri. Lalu Nida.

"Yeeey." Sahut Putri membalas.

Nida diam saja.

"Padahal guru-guru jomblo di sini cantik-cantik lho Pak Okin. Mungkin saja kan satu di antaranya ada yang suka pada Pak Okin, hehe." Putri menggoda.

"Gak boleh!" Ucap Zulfa.

Putri mengabaikan Zulfa. Ada senyum di bibirnya.

"Ibu Hilda cantik tuh Pak. Saya pikir cocok banget dengan Pak Okin, hehe." Putri menggoda Pak Okin lagi. "Tanda-tanda jodohnya sudah ada. Vespa Pak Okin dan motor maticnya bu Hilda sama-sama berwarna kuning. Hehe."

Pak Okin diam saja. Hanya sebuah senyum yang dia berikan.

"Kok senyum doang? Hayo ngaku. Pak Okin suka ya ke Bu Hilda?" Putri menyerang lagi.

"Pak Okin tahu tidak apa yang pernah Ayah saya katakan pada kedua kakak laki-laki saya sebelum keduanya menikah?" Putri bertanya. Tapi pertanyaan yang sesungguhnya tidak butuh jawaban Pak Okin. Sebab dijawab ataupun tidak. Putri akan kembali melanjutkan kata-katanya.

"Ayah bilang begini. Jika ada laki-laki yang sudah cukup usia tapi belum menikah juga. Maka itu menandakan bahwa laki-laki itu tergolong kedalam laki-laki yang lemah. Lemah dalam hal apa? Pertama adalah lemah iman. Biasanya alasan mereka belum menikah karena belum punya harta yang cukup. Mereka lupa bahwa Allah itu Maha Kaya. Allah telah menjamin akan membuka rezeki bagi siapa saja yang telah menikah. Ini janji Allah."

"Kedua adalah lemah mental. Mental mereka lemah dengan terus beralasan bahwa mereka belum yakin ataupun belum siap hati. Tapi sejatinya itu tiada lain dan tiada bukan hanya karena mental mereka saja yang sudah seperti tempe. Lembek."

"Ketiga adalah lemah komunikasi. Komunikasi dengan siapa? Yaitu komunikasi dengan orang tua. Yang lebih parah adalah mereka mengatakan belum dapat restu orang tua. Padahal ngomong saja belum."

"Dan yang terakhir. Ini adalah yang paling mengkhawatirkan." Putri menghentikan kalimatnya. Dia beranjak dari duduknya. Melangkah ke samping Nida. Sedikit menjauh dari kursi beton. Posisi berdirinya seperti sedang bersiap untuk melangkah.

"Dan yang terakhir," Putri melanjutkan kata-kata yang dulu pernah dikatakan Ayah untuk kedua kakaknya. "Kenapa seorang laki-laki belum juga menikah padahal sudah mencapai usia menikah? Adalah mungkin karena laki-laki itu," Putri menatap Pak Okin. Tersenyum. "Adalah mungkin karena laki-laki itu lemah syahwat. Hehe. Maaf Pak Okin. Saya hanya mengatakan apa yang Ayah saya katakan saja." Putri bergegas melangkah. "Saya izin ke toilet dulu ya Pak," Putri minta izin sambil melangkah cepat. Kemudian dia tertawa lepas.

Zulfa terbahak.

Nida membekap mulutnya menyembunyikan tawa.

Pak Okin hanya tersenyum saja. Entah perasaan apa yang ada di dadanya. Mungkin sedikit merasa tersentil. Atau mungkin juga merasa geli. Yang pasti tatapnya kini mengarah pada tumpukan kertas yang berisi soal-soal olimpiade geografi satu tahun yang lalu. Senyumnya belum mau pergi.
***

Jam lima lewat lima menit. Pak Okin sudah duduk di jok vespanya. Vespa warna kuning yang Pak Okin beri nama Si Mamat. Kenapa Si Mamat? InsyaAllah akan saya kisahkan asal mulanya nanti. Mungkin di episode berikutnya. Atau berikutnya lagi.

Nida, Zulfa, dan Putri berdiri bersisian menghadap vespa Pak Okin.

"Makasih untuk hari ini Pak ya," ujar Putri.

Pak Okin tersenyum. Lalu mengangguk.

"Maafkan saya soal yang tadi Pak. Itu niatnya cuma becanda saja, hehe." Tambah Putri.

"Iya. Kamu jahat Put," ucap Zulfa.

"Gak papa kok. Justru karena kalimat Ayah Putri itu saya jadi lebih sadar bahwa memang sepertinya saya harus segera menikah."

"Yeeee. Alhamdulillah," Putri bersorak. "Pak Okin tahu tidak. Pas umroh kemarin, saya menyelipkan sebuah doa untuk Pak Okin."

Pak Okin menggeleng.

"Di depan Kabah saya berdoa agar Pak Okin bisa mendapatkan istri yang baik dan cantik. Nurut pada titah Pak Okin." Bibir putri melebar. Tersenyum merekah. Kedua tangannya menggenggam tali tas hitam yang dia gendong.

Zulfa melihat Putri. Nida juga. Nida semakin erat memeluk buku-buku yang dia rengkuh di dadanya.

Bulatan mata Pak Okin berbinar. "Alhamdulillah. Makasih Putri. Semoga demikian juga dengan Putri nanti," Pak Okin balas mendoakan. "Semoga demikian juga dengan Nida dan Zulfa nanti. Aamiin."

Awan kelabu berarakan. Pelan-pelan menutup langit sore.

Pak Okin melihat langit. "Sepertinya akan hujan. Hayu kita pulang," ajak Pak Okin.

JGRES GRES. JGRESS GRESS.

Pak Okin menyalakan mesin vespanya.

GRENG GRENG GRRENG

Pak Okin memainkan gas.

"Saya duluan ya. Jangan lupa terus ulik semua soal-soalnya."

"Iya Pak. Hati-hati ya," ucap Putri.

Zulfa menoleh pada Putri. Nida diam saja. Menunduk. Erat memeluk buku.

"Assalamualaikum," Pak Okin pamit.

GRENG GRENG GRENG

Vespa kuning meluncur. Meninggalkan Nida, Putri, dan Zulfa.

Belum jauh Si Mamat meluncur. Gerimis berhamburan. Perlahan butiran air yang tertumpah dari langit menderas. Baju dan celana Pak Okin basah.

Si Mamat masih meluncur. Hujan bertambah deras. Sepertinya harus berteduh dulu. Pikir Pak Okin dalam hati.

Melihat saung di depan salah satu asrama santri perempuan. Pak Okin meminggirkan vespanya. Bermaksud berteduh di sana.

Vespa berhenti. Di standarkan. Buru-buru Pak Okin menuju saung. Tatapnya menunduk melihat jalan. Setengah berlari.

Alhamdulillah. Aman. Pak Okin mengkibaskan kemejanya. Juga celana. Bermaksud menghilangkan butiran air yang menempel.

Pak Okin melihat Si Mamat. Lalu pandangnya bergeser beberapa derajat ke sebelah kiri. Ada sebuah motor matic di sana. Motor matic warna kuning.

Pak Okin melirik ke saung bagian belakang. Ada seorang perempuan berdiri. Mematung. Adalah ibu Hilda. Pandang Pak Okin bertabrakan dengan tatap ibu Hilda. Reflek keduanya saling melempar senyum. Namun belum ada kalimat ataupun kata.

Pak Okin kembali melihat vespanya. Tangannya dia lipatkan di dada. Mencoba mengusir dingin. Jiwa Pak Okin perlahan menggigil. Entah tersebab hembusan angin yang menabrak tubuhnya. Atau entah karena isi dadanya yang penuh tanya. Kalimat apa yang harus dia keluarkan untuk menyapa seorang perempuan yang saat ini sedang berdiri tidak jauh di belakangnya.

Pak Okin masih mematung. Hujan bertambah deras. Cipratannya semakin besar membelai tubuh Pak Okin. Hembusan angin juga menguat.

WUSSSSSHHHH

Pak Okin menggigil.
***

Semangat Itu Menular

Dulu, saat status masih sebagai mahasiswa tingkat awal. Ketika semangat berprestasi sedang membara. Tidak sedikit seminar dan kajian pelecut berprestasi yang saya ikuti. Dari yang free hingga yang berbayar. Pada beberapa seminar itu. Ada satu kalimat yang sering saya dengar. Sebuah kalimat yang sama tapi diucapkan oleh para pemateri yang berbeda-beda. Adalah: Semangat itu menular. Ya. Bahwa semangat itu menular. Katanya.

Lantas? Apakah benar semangat itu bisa menular? Jika boleh saya menjawab. Maka jawabannya adalah YA. 

Oke. Saya akan bercerita dua buah kisah tentang semangat yang menular ini. Keduanya nyata. Begini.

Kisah pertama. Saya punya seorang teman. Namanya Yoga. Asal Subang, Jawa Barat. Akan sangat panjang jika kisah kami saya ceritakan semua. Saya akan berbagi sepenggalnya saja. 

Beberapa hari yang lalu. Hape saya berdentang. Ada sebuah WA masuk. Dari Yoga. Begini isinya:

Ko. Kamu sahabat pertama saya yang mengenalkan dan memotivasi saya tentang sebuah mimpi. Waktu itu saya hanya menulis lima mimpi saja. Saya lihat tulisan mimpi kamu banyak, Ko. Lebih dari lima. Saya lima saja mikirnya lama banget. Saking gak punya mimpinya. Saya jadi penasaran untuk menulis banyak mimpi juga. Saya contek mimpi-mimpi kamu saat itu, Ko. Bangun tidur. Jam tiga pagi. Saya tulis seratus mimpi yang sama dengan mimpi yang kamu tulis. Begitu mengalir. Banyak. Dan Alhamdulillah. Perlahan satu persatu mimpi-mimpi itu tercoret, Ko. Sampai kemarin. Takdir-Nya saya mencoret mimpi saya lagi. Yaitu mimpi ingin punya rumah di Bandung. Mungkin ini adalah mimpi yang tidak terbayang bisa saya wujudkan. Tapi Allah menakdirkan saya mampu mewujudkannya. Terima kasih kawan. Kamu telah menginspirasi saya dengan mimpi dan harapan yang selalu kamu sampaikan kepada saya dengan menggebu-gebu. Jika nanti ke Bandung. Silahkan datang ke saung saya. Tidak begitu besar memang. Tapi cukup untuk sekedar bercerita tentang masa lalu kita yang sangat indah. Saya gemetaran menulis ini, Ko. Sampai-sampai saya keluar air mata. Hayu kejar terus mimpi kita! Yakin kita akan coret semuanya!
***

Dulu. Saya sering berkata kepada teman-teman saya. "Jika tidak ingat bahwa saya ini laki-laki. Mungkin saat ini saya akan menangis". Saya ucapkan jika sedang menemui momen yang cukup mengharukan. Tapi perlahan saya sadar. Bahwa laki-laki juga adalah manusia. Dengan berat hati. Saya ingin jujur. Air mata saya meleleh selepas membaca kalimat demi kalimat yang dikirimkan sahabat lama saya. Yoga. 

Terima kasih, Kawan. Semangat dan kebahagiaanmu yang telah Kau ceritakan, membuat lentera mimpi-mimpi saya yang mulai redup kini insyaAllah membara kembali. Sungguh benar. Bahwa semangat itu menular. 

Kisah kedua. Waktu itu saya pernah menulis catatan harian guru. Judulnya "Mimpi". Tulisan yang bercerita tentang mimpi saya dan mimpi anak-anak saya di kelas X IPS 1. Tidak lama setelah saya membagikan tulisan sederhana itu. Seorang santri perempuan (tholibah) kelas X IPS 2 menodong saya.

"Stadz, saya ingin difoto juga!" Tembaknya.

Kening saya mengkerut. "Foto?"

"Iya, Stadz. Foto yang bareng tolib itu. Yang ada kertas tulisan cita-citanya." Dia menjelaskan.

"Iya. Kami juga ingin difoto seperti mereka Stadz. Supaya cita-cita kami bisa dilihat dan didoakan banyak orang." Ucap tholibah lain.

"Oh...," saya mulai paham maksud mereka. 

Saya duduk di kursi guru. "Oya, teman-teman tahu darimana foto dan tulisan itu?"

"Dari hape ayah saya. Pas saya lihat hape ayah, ada foto ustadz dan tholib anak-anak Ustadz, hehe." Ujar seorang tholibah putrinya seorang ustadz di tempat saya mengajar. 

"Oh...," Saya manggut. "Oke. InsyaAllah nanti kita foto ya. Tapi sebelumnya teman-teman harus tuliskan dulu mimpi teman-teman di kertas. Tulisannya yang besar dan berwarna." 

"Oke Stadz!" Jawab mereka berbarengan. 

"Teman-teman sudah punya cita-citanya kan?!"

Sebagian tholibah menjawab sudah. Namun sebagian sisanya hanya menggeleng saja. 

"Lho. Katanya mau
foto mimpi. Kok mimpinya belum punya?" Saya tujukan pada yang menggeleng.

"Masih bingung Stadz, hehe."

"Pokoknya saya tidak akan mulai foto jika semuanya belum ada tulisan cita-citanya!" 

"Iya deh Stadz. Nanti kita mikir dulu cita-citanya."

Saya beranjak dari kursi. Berdiri di depan kelas. Diam sejenak. Menggaruk kepala belakang. Mencoba berpikir. 

"Saya boleh minta dua buah kertas." Pinta saya pada tholibah.

"Buat apa Stadz?" Tanya seorang tholibah.

"Sini minta dulu. Nanti akan saya jelaskan untuk apanya." 

Rencananya. Saya akan sampaikan juga simulasi pentingnya memiliki mimpi yang pernah saya sampaikan pada anak-anak saya (X IPS 1) kepada mereka. Semoga setelahnya mereka tidak bingung lagi dalam menentukan cita-cita. Lalu berusaha keras untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Aamiin.
***

"Oke. Semuanya lihat ke kamera dan bilang CIIIRS!" Titah saya.

"CIIIIIIIIIIIIIIIIIRRRRRSSSS!!!!" 

Hari itu. Saya disadarkan lagi. Bahwa semangat itu memang menular. Benar-benar bisa menular. Karenanya. Selalu perhatikan dengan siapa kita berteman. Sayyidina Umar bin Khotob ra pernah berkata. Ceritakan kepada saya dengan siapa dia berkawan. Maka saya akan tahu orang seperti apa dia. Wallahualam.
***