Jumat, 15 Maret 2019

Ke Bandung Lagi


"Kita harus menghormati guru. Jasa mereka sama besarnya dengan jasa orang tua. Kita turun ke bumi, wasilahnya sebab kedua orang tua kita. Dan nanti, setelah meninggal, insyaAllah kita naik ke surga itu karena ilmu yang telah diberikan oleh guru kita." Ujar Kyai Rofiq pada suatu pengajian.

"Kita harus memiliki guru. Guru yang dekat dengan Allah. Agar kita bisa dibimbing juga untuk dekat dengan Allah," tambah Kyai Rofik.

Beberapa bulan sebelumnya, Aa Gym memberi nasihat. "Kita harus mencari guru. Minta dalam doa. Minta guru yang dekat dengan Allah, dan bisa membimbing kita untuk dekat juga dengan Allah".

"Perbanyak membaca sholawat. Sebab sholawat bisa mewakili ketika kita belum menemukan guru." Ucap Kyai Rofiq.

***

"Berangkat pagi. Pulang Dzuhur, sebentar doang. Keluar lagi. Ashar datang. Sore berangkat lagi. Pulang magrib. Terus nanti malam masih akan keluar!" my Moon protes.

"Ya mau gimana lagi Mun. Ini kan kewajiban. Acaranya memang sudah selesai. Tapi peralatan yang sudah dipinjam harus segera dikembalikan. Biar besoknya tenang."

"Kak Niko mah ah," decak kecewa Si Cinta. Saya hanya mampu memandangnya yang tertunduk lemas. Sebab tak ada lagi kalimat yang bisa saya ucapkan untuk menghibur istri.

"Sabar Mun ya. InsyaAllah jika perlengkapan sudah kembali semua, saya langsung pulang."

Si Cinta hanya diam.

***
22.00

TUK TUK TUK. KREEEEEK.

"Assalamualaikum."

Tidak ada sahutan. Saya menghampiri kamar. Si Cinta sudah tidur. Mungkin terlalu lama menunggu saya datang.

Maafkan saya My Moon. Semoga tahun ajaran depan amanah saya sebagai pembina OSIS beralih pada orang lain yang lebih kuat dan hebat. Atau, jika amanah yang didapat tetap sama beratnya. Semoga hatimu yang kemudian menjadi kuat. Aamiin.
***

"Pak Niko!" panggil pak Amin, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

"Siap. Kenapa Pak Amin?"

"Dampingi santri lomba ke Lembang ya."

"Kapan?"

"Jumat, Sabtu, dan Minggu. Tiga hari."

"What! Jangan saya Pak ya. Coba yang lain saja. Kasihan istri. Kemarin-kemarin sudah sering saya tinggalin. Akhir-akhir ini beliau sering mual dan muntah lagi."

"Ini saya sudah mencari pendamping. Susah. Yang lain ada jadwal ngajar."

"Saya juga ada jadwal. Coba guru yang ngajar kelas 12 mapel non UN, kan mereka sedang tidak ngajar."

"Minggu ini kan mapel non UN mulai belajar lagi. Persiapan USBN. Saya sudah lihat-lihat jadwal. Susah nyari pendamping lain."

"Waddduh," saya menggaruk kepala. Sejenak berpikir mencari alasan untuk tidak pergi. Atau mungkin ada alasan lain yang lebih baik.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Saya belum memberi jawaban.

Empat detik.

"Saya mau berangkat, tapi istri saya ikut ya."

"Ikut ke Lembang?"

"Iya. Kasihan jika saya tinggal."

"Mmm. Nanti saya obrolkan dengan bu Tyas (kepala sekolah) dulu ya."

"Sip."
***

Hape berdering. Panggilan masuk dari pak Amin.

"Halo Assalamualaikum."

"Walaikumussalam. Pak Niko. Jum'at jadi berangkat ya. Istri boleh ikut."

"Boleh pak?"

"Iya."

"Oke deh. Makasih Pak Amin."

"Ya. Sekalian biar Antum dan istri bisa honey moon di Bandung. Hehe."

"Hehe. Siap Pak." Namun dalam hati saya berujar. Boro-boro bisa money moon pak, pasti akan sibuk mengurus santri. Tapi saya ada skenario lain yang sudah saya siapkan. Meski saya akan lebih banyak mengurus santri. InsyaAllah Si Cinta tetap akan ceria. Yakin dah!
***

Waktu itu, setelah menikah di rumah istri, di Pekanbaru. Sebelum pulang ke Banten, saya dan istri silaturahmi ke Bandung, ke pesantren kami, Ar-Risalah, Bandung Barat. Kami menginap satu malam. Sempat ikut satu kali pengajian bersama Kyai Rofiq.

"Ilmu itu ada dua. Satu, adalah ilmu yang kita peroleh dengan belajar. Dua, adalah ilmu yang kita dapatkan dengan tidak belajar. Lantas dari mana ilmu ini didapatkan? Ilmu yang kedua ini diperoleh dari doa guru. Doa guru yang soleh itu ampuh. Tidak sedikit cerita orang soleh zaman dulu yang saat di pesantren jarang belajar karena lebih sibuk berkhidmat pada guru, tapi saat mereka kembali ke tempat asal, mereka menjadi orang yang bermanfaat di daerahnya. Tidak sedikit juga kisah santri yang kecerdasannya saat di pesantren tidak tertandingi, tapi adab terhadap gurunya kurang baik, dan saat kembali ke kampung halaman, mereka tidak menjadi apa-apa." Jelas kyai Rofiq saat itu.

"Agar bisa mendapatkan ilmu yang kedua ini, adab kita terhadap guru harus baik. Supaya berkah ilmu kita. Sebab sejauh mana laku baik kita pada guru, sejauh itu pula keberkahan ilmu yang akan kita peroleh kelak." Kyai Rofiq menambahkan nasihatnya.

"Mungkin Niko dan Fatiha sekarang dalam hatinya berpikir seperti ini, 'Saya kan baru menikah, kenapa tidak diberikan nasihat pernikahan? Kenapa dikasihnya kok nasihat seperti ini?'. Betul begitu Nik?" Kyai melihat saya. Beberapa santri tertawa kecil. Saya hanya melebarkan bibir. Tersenyum.

"Nanti, saat sudah jauh, saat tidak di pondok lagi, kalian semua akan paham dengan pengajian sore ini," ujar kyai Rofiq pada saya dan pada semua santri.

"Untuk mendapatkan ilmu yang kedua. Adab kita harus baik pada guru. Berusahalah untuk mendapatkan doa baik dari seorang guru. Jika nanti kita sudah tidak di pondok lagi. Keberadaan kita sudah jauh dari guru. Berusahalah untuk terus sambung silaturahmi. Meski satu tahun satu kali. Atau setidaknya hati kita harus terus nyambung dengan guru. Dengan cara apa? Adalah dengan mendoakan guru kita."

Selepas pengajian sore itu. Saya dan istri sepakat untuk berusaha silaturahmi ke pondok. Jika ada rezeki dan waktu luang, kami sepakat untuk silaturahmi pada kyai dan ummi. InsyaAllah.
***

TUK TUK TUK

"Assalamualaikum," lirih istri saya di depan pintu depan rumah Kyai Rofik. Sayup-sayup terdengar jawaban salam dari dalam. Kaki istri saya gemetar.

KREEEK

Ummi melihat Si Cinta. Si Cinta juga sebaliknya. "MasyaAllah," ucap Ummi kaget.

"Ummiiii," istri saya menyambar tubuh Ummi. Guru dan murid itu berpelukan erat. Erat sekali. Seakan tak mau lepas lagi.

"Ummi apa kabar?" Tanya istri masih dalam pelukan.

"Alhamdulillah baik."

"Maaf Ummi, Fatiha tidak kasih kabar dulu akan ke sini."

"Iya gakpapa. Hayu duduk dulu," Ummi mempersilahkan kami untuk duduk di kursi kayu berukir.

"Mbak Azzaaaa," istri saya melambaikan tangan menyapa Fazza, putri pertama Ummi.

"Teteeeeh," Fazza membalas riang. "Kemarin Ummi mimpi teteh ke rumah loh. Teteh lari-lari ke rumah ini," tutur Fazza.

"Iya," potong Ummi. "Beberapa hari lalu Ummi mimpi Fatiha datang. Lari ke rumah ini. MasyaAllah, Alhamdulillah sekarang beneran datang ke rumah."

"Waaaah. MasyaAllah," istri menanggapi.

Perbincangan kedua guru dan murid itu terus berlanjut. Sesekali Fazza ikut gabung dalam obrolan. Sementara saya lebih banyak diam. Diam sebab masih belum hilang rasa takjub di hati saya. Takjub pada rengekan Si Cinta yang tidak jarang ingin silaturahmi ke pondok. Takjub pada mimpi Ummi yang di dalamnya ada sang murid yang selalu merindukannya. Takjub pada dua hati yang menyambung meski kini ada jarak yang memisahkan mereka. Teringat kalimat lama yang pernah diucapkan Kyai Rofiq pada santri. "Meski kita sudah jauh. Selalu doakan guru kita. Agar tetap nyambung hati dengan hati."

Di ujung obrolan. Sebelum saya izin ke Lembang untuk kembali mendampingi santri yang sedang lomba. Sebelum saya menitipkan Si Cinta beberapa hari di pondok. Saya menatap Ummi, "Ummi, mohon bantuan dan nasihat Ummi untuk istri. Sebab akhir-akhir ini beliau jarang ngafal dan murojaah lagi."

Saya melihat istri. Dia tersenyum malu. Malu pada Ummi. Pelan-pelan tangannya merayap ke paha saya.

Alamak!

Jari tangan istri berubah menjadi capit kepiting.

ALAMAK!

Lagi.

ALAMAK!!!!!!!

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar