Jumat, 15 Maret 2019

Laki-laki


"Mun, Allah itu baik ya. DIA banyak mengabulkan mimpi-mimpi saya. Tidak sedikit memang yang belum tercapai. Tapi banyak juga yang sudah terwujud," ucap saya di sela obrolan sebelum tidur.

"Alhamdulillah," My Moon menanggapi.

"Mun."

"Ya."

"Saya punya mimpi baru."

"Apa?"

"Anak pertama nanti laki-laki."

Si Cinta menatap saya tajam. Melotot. "Perempuan!"

"Laki-laki!"

"Perempuan!!"

"Laki-laki!!"

"Perempuan!!!!!!!"

"Laki-laki!!"

"Perempuan! Orang Mun yang hamil!!!!"

"Saya penyebab kehamilannya!"

"Iiiiih!!!!!!!"

***

IMPIAN

Biasanya, jika sudah memiliki mimpi, atau keinginan, atau cita-cita, saya tanamkan benih itu dalam-dalam di jiwa saya, agar kuat akar yang menopang tumbuhnya pohon mimpi itu. Saya tuliskan mimpi saya di buku harian. Saya coretkan mimpi saya di karton besar. Lalu saya tempelkan karton itu di dinding kamar. Supaya bisa saya tatap setiap kali akan tidur. Hingga perlahan mengendap di alam bawah sadar, lalu menuntun setiap pikiran dan tindakan saya menuju tercapainya impian itu.

Ketika SMA, saya memiliki mimpi menjadi pemain sepak bola profesional. Saya ingin masuk skuad PERSERANG U-18. Selain berdoa dan berusaha dengan terus berlatih, saya tempelkan kata "PERSERANG" di dinding kamar. Alhasil, saat kelas dua SMA, Alhamdulillah saya berhasil tembus tim PERSERANG junior. Mengalahkan ratusan remaja kabupaten Serang yang juga ikut seleksi.

Selepas SMA, saya ingin kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), di kota kembang, Bandung. Di antara alasannya adalah: supaya bisa nyantri sambil kuliah. Sejak kenal Aa Gym di tv, saya berkeinginan besar untuk belajar di pondok beliau, yaitu Daarut Tauhiid, yang letaknya tepat di samping kampus UPI Bandung.

Saya tulis kata "Universitas Pendidikan Indonesia" di dinding kamar. Saya lihat setiap akan tidur. Setiap kali saya melihat tulisan itu, setiap itu pula semangat saya bertambah besar kobarannya. Hasilnya, Alhamdulillah saya lolos seleksi nasional masuk kampus. Saya jadi mahasiswa UPI Bandung jurusan pendidikan geografi. Setahun berselang, saya mondok di pesantren Daarut Tauhiid. Ikut program pesantren mahasiswa. Bertemu dengan Aa Gym, dan menjadi santri beliau. Lebih tepatnya santri sableng. Sebab jika dihitung-hitung, waktu untuk bermain futsal lebih banyak dibanding waktu yang saya habiskan untuk ikut mengaji. Haha.

Saat masih mahasiswa, satu lagi mimpi besar yang saya miliki, yaitu balik ke kampung halaman. Jika sudah wisuda nanti, saya ingin pulang kampung. Berbakti pada tanah kelahiran. Mengamalkan secuil ilmu demi kemajuan desa tercinta. Saya catatkan mimpi itu di buku harian. Alhamdulilah, selepas wisuda, takdir menuntun saya untuk balik kampung. Saya mengajar di SMA Nurul Fikri Boarding School Cinangka, Serang, Banten, yang letaknya hanya sekitar 13 kilometer saja dari rumah.

Setelah resmi pulang kampung. Mimpi saya berikutnya adalah memiliki istri yang usianya lumayan jauh di bawah saya. Sebab ada mimpi berikutnya yang mengekor, adalah memiliki banyak anak. Dan salah satu jalan agar bisa memiliki banyak anak yaitu dengan menikahi wanita yang masih muda. Agar lebih banyak kesempatan melahirkannya. Ternyata, Allah Yang Maha Baik kembali mengabulkan mimpi saya. Usia istri saya adalah delapan tahun di bawah saya. Haha.

Masih ada banyak mimpi yang sudah saya tuliskan. Dan banyak dari mimpi itu yang sudah terwujud. Juga tidak sedikit mimpi yang masih belum tercapai (InsyaAllah dalam proses tahap pencapaian). Contohnya adalah mimpi anak pertama laki-laki. Agar kelak bisa memimpin adik-adiknya yang insyaAllah akan ada banyak. Aamiin.

***

SHOLAWAT

Satu tahun sebelum saya melamar istri saya, ternyata beliau sudah diberikan bocoran oleh Allah melalui mimpi. Selepas mimpi itu, setahun berselang, saya benar-benar maju untuk melamarnya.

Satu minggu sebelum anak Pak Boim lahir, pagi-pagi sekali istri saya bercerita. "Kak Niko, semalam Mun mimpi, istri Pak Boim sudah lahiran, anaknya laki-laki." Tujuh hari setelah ucapan itu, Pak Boim memberi kabar di grup Whats App, bahwa istri beliau sudah lahiran, anaknya laki-laki.

Mendapati dua peristiwa itu, saya merasa horor juga pada istri. Pada beberapa kesempatan, bila istri ingin menceritakan mimpinya, selalu saya awali dengan sebuah pertanyaan yang sama. "Mimpinya bagus atau tidak?". Jika istri bilang bagus. Saya akan mendengarkan. Tapi jika istri bilang tidak. Saya urung untuk mendengar. "Saya gak mau dengar ya. Sepertinya itu hanya bunga tidur saja. Perbanyak dzikir, sholawat, dan tilawah ya." Saya akhiri dengan kalimat anjuran ini.

Saya penasaran, amal kebaikan apa yang istri saya kerjakan. Selidik punya selidik, ternyata istri saya istikomah membaca sholawat minimal seratus sebelas kali setiap harinya. Amalan ini diberikan oleh Kyai Rofiq saat di pondok dulu. Oooh.

Dengan membaca sholawat atas Nabi Muhammad SAW, itu merupakan salah satu bukti kecintaan kita kepada Baginda Nabi SAW. Bukankah dia yang memiliki rasa cinta akan selalu menyebutkan nama orang yang dicintainya? Bukankah dia yang memiliki rindu pada seseorang akan selalu memanggil nama orang yang dirindukannya?

Kecintaan kita pada Baginda Nabi akan tercermin pada sholawat yang kita lantunkan. Entah itu dengan lantang, atau lirih di dalam hati. Dengan membaca sholawat, semoga rasa cinta kita pada Baginda Nabi SAW terus bertambah dan bertambah lagi. Hingga menjadikan cinta kita pada beliau menjadi cinta ranking satu setelah kecintaan kita pada Allah SWT. Sebab Umar bin Khotob ra saja ditegur Nabi ketika beliau berkata seperti ini. "Saya mencintaimu Rasul, melebihi cinta saya kepada siapapun di dunia ini, kecuali cinta saya pada diri saya sendiri."

Kemudian Nabi SAW berkata. "Umar, imanmu belum sempurna, hingga engkau lebih mencintai diriku ketimbang cintamu pada siapapun, termasuk cinta pada dirimu sendiri."

Mendengar teguran Rasul SAW, kemudian Umar ra merevisi kalimatnya. "Mulai saat ini, Demi Allah, saya lebih mencintai dirimu lebih dari siapapun di dunia ini, termasuk cinta saya pada diri saya sendiri."

Lalu Rasulullah SAW berkata lagi. "Wahai Umar, sekarang imanmu telah sempurna."

Semoga kita semua bisa meletakan cinta pertama kita, setelah cinta pada Allah, untuk Nabi Muhammad SAW. Semoga kita bisa membalas besarnya rasa cinta beliau untuk kita sebagai umatnya. Sebagaimana yang tergambar pada beberapa peristiwa yang dulu pernah dikisahkan oleh guru ngaji kita ketika masih kecil.

Satu. Ketika isro-mi'raj, Rasul bertemu dan berbincang langsung dengan Allah SWT. Saat itu Allah mendoakan Nabi, "Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segala karunia-Nya."

Pada peristiwa istimewa seperti itu, pada kebahagiaan besar sebab bisa bertemu langsung dengan Tuhan semesta alam, siapa yang diingat Nabi waktu itu?

"Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami (Nabi dan umatnya) dan semua hamba Allah yang Sholeh." Harapan Nabi SAW yang beliau ucapkan pada Allah. Yang beliau ingat adalah kita, umatnya. Pantaskah jika sekarang kita tidak meletakan cinta terbaik kita untuk Rasul SAW?

Dua. Saat detik-detik menjelang kematian, kalimat yang Nabi ucapkan dan yang paling beliau khawatirkan bukan keluarganya, bukan pula para sahabatnya, tapi adalah ini, "Umatku, umatku, umatku." Yang paling beliau ingat adalah kita, umatnya. Pantaskah jika sekarang kita tidak meletakan cinta terbaik kita untuk Nabi SAW?

Sholu 'ala Nabiy!

Allahumma sholli wa salim 'alaa nabiyyinaa Muhammad!

***

"Mun, semoga laki-laki ya."

"Perempuan!"

"Tapi impian saya sering terwujud lho."

"Gakpapa. Waktu itu Mun mimpi lihat dede (bayi)."

"Tapi kan waktu itu mimpinya gak tahu dedeknya laki-laki atau perempuannya."

"Tapi kayaknya dede perempuan."

"Semoga laki-laki."

"Semoga perempuan! Hayu kita buktikan. Impian Kak Niko, atau sholawat Mun yang menang."

Waddduh . Sepertinya saya harus menyiapkan juga nama untuk dede perempuan nih. Ada usul? Hehe.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar