Jumat, 15 Maret 2019

Jodoh InsyaAllah


-Kata kakek-

Kakek pernah berucap. "Terlahir sebagai laki-laki, kamu harus cerdas. Sebab nanti wanitamu akan menyerahkan seluruh hidupnya kepadamu. Setiap langkah dan tindak tanduknya sejalan dengan lidahmu. Dia tunduk pada setiap kata-katamu. Menjadi seorang yang cerdas. Adalah bentuk cinta paling besar dari laki-laki untuk wanitanya".

Kata kakek, laki-laki itu boleh memilih wanita manapun untuk dinikahi. Tapi, jika sudah memilih. Dia adalah satu-satunya wanita yang hanya ada di hatimu. Kapan itu dimulai? Dimulai bukan saat ijab-qabul. Tapi saat kamu memutuskan untuk memilih dia. Memilih dia yang akan mengusap air mata saat kamu menangis nanti.

Kata kakek, jika nanti sudah memilih. Setelahnya, akan kamu temui pada setiap detik yang berdetak, kamu selalu ingat rumah yang di dalamnya ada wanitamu. Rindu adalah sebuah kata yang akan kamu rasakan setiap harinya.

Ketika deret kata "Aku cinta kamu" belum memiliki muara. Maka resah adalah ganjarannya. Itulah kenapa Kakek pernah berujar,  "Dengan menyempurnakan separuh agama,  insyaAllah hidupmu akan paripurna".

Kamu bukan laki-laki istimewa yang memiliki raga dan jiwa nan sempurna. Kamu hanyalah laki-laki separuh. Demikian juga dengan wanitamu kelak. Dia hanya wanita separuh. Bila nanti telah tiba waktunya. Kamu dan dia harus berlapang dada. Rengkuh dengan erat wanitamu. Agar kamu dan dia menjadi satu. Menyempurna. Begitu ucap Kakek sekira ratusan jam yang lalu.

Terima kasih, Kakek. Semoga kalimat-kalimatmu menjadi penerang di sana. Sebagaimana hari ini yang benderang menyadarkan saya. "Berhenti menunggu sempurna. Segera berjalan selangkah demi selangkah. Nanti akan sampai (pada kesempurnaan). InsyaAllah.".

***

-Pesan kyai-

Kyai pernah berpesan. Jika nanti sudah siap menikah. Tempuh dua jalan. Satu, minta petunjuk pada Allah SWT dengan solat istikhoroh. Dua, minta nasihat dan saran pada orang-orang yang mencintai kita: orang tua, guru, dan saudara. Sebab orang yang mencintai kita pasti akan memberikan nasihat terbaik.

Kata Kyai. Bila nanti sudah siap menikah dan serius. Datanglah dengan baik-baik. Hindari maksiat. Sebab sejauh mana kamu menghindari maksiat sebelum menikah. Sejauh itu pula kebahagiaan yang akan kamu rasa setelah menikah kelak.

Bismillah. Saya melangkah.

***

-Sowan-

Sekira tiga tahun lalu, kami, para santri ikut Kyai,  sowan ke guru beliau,  Mbah Maimun Zubaer, di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Hendak mendengarkan nasihat-nasihat sejuk beliau. Sekalian akan ikut pengajian pasaran kitab Al-hikam yang akan disampaikan oleh syekh dari Suriah.

***

-Mimpi-

Selepas beberapa kali solat istikhoroh. Juga banyak untai doa memohon untuk dipilihkan satu wanita dari beberapa wanita yang saya perhatikan dalam diam. Suatu malam, dalam tidur saya bermimpi. Saya dan teman-teman santri Ar-risalah, Bandung, membersamai Kyai silaturahmi ke Sarang. Hendak menemui Mbah Maimun Zubaer. Saat di Sarang, Kyai mengisi pengajian. Mengkaji kitab Al-hikam. Hikmah yang nomer empat.

Saya terbangun. Diam sesaat. Menarik nafas memikirkan isi mimpi. Al-hikam nomer empat.

Saya masih berbaring. Memikirkan isi mimpi. Al-hikam nomer empat.

Perlahan saya duduk. Menarik nafas. Memikirkan isi mimpi. Al-hikam nomer empat.

Saya beranjak. Melangkah pelan menuju lemari buku di depan kamar. Memikirkan isi mimpi. Al-hikam nomer empat.

Saya menghampiri lemari buku.  Saya ambil terjemah kitab Al-hikam. Saya buka, mencari hikmah nomer empat. Saya baca: Istirahatkan dirimu untuk mengurus sesuatu yang telah diurus oleh selain dirimu. Jikalau rezeki,  jodoh, telah ditentukan oleh-Nya,  maka tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan.  Berusaha saja dengan sebaik mungkin,  kemudian bertawakal kepada-Nya.

Allah. Allah. Allah. Mohon ampuni hambaMu yang penuh dosa ini.

Sejak malam itu. Saya jernihkan hati dari beberapa wanita yang bertandang di dalam dada. Saya pasrahkan semuanya pada DIA.

"Yaa Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23).

"Yaa Tuhan kami, anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Furqon: 74).

***

-Berkah-

Ingatan saya terbetot ke belakang. Sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Ke Bandung kota penuh kenangan. Memori mengerucut pada sebuah pesantren di pinggiran kota. Pesantren Ar-risalah. Kemudian mengerucut lagi ke sebuah rumah tembok bercat putih. Rumah kyai Rofiq.

Kami, para santri biasa mengaji di ruang tamu Kyai. Sebagian santri putra di ruang tamu. Sebagian lain di teras depan karena ruang tamu sudah penuh. Sementara santri putri duduk berdempetan di ruang tengah. Antara ruang tamu dan ruang tengah dibatasi dengan hijab dari rotan. Di sela pengajian, biasanya kyai menyediakan minum dan makanan ringan untuk santri. Ada seorang santri putri yang tidak sengaja saya lihat. Ketidak sengajaan yang terus berulang jika saya sedang duduk ngaji di baris depan dekat kursi kyai. Biasanya dia yang menyuguhkan minum dan kudapan untuk santri putri. Dan bagian santri putra dia simpan di dekat hijab. Nanti akan diambil oleh santri putra yang duduk di dekat rotan pembatas itu.

Adalah Denis Yulianti. Saat di pesantren kyai memberinya nama Fatiha. Selain mengaji dan menghafal Al-quran, Fatiha suka menghabiskan waktunya di rumah kyai. Dia berusaha untuk membantu Ummi. Dia kerjakan apa yang mampu dikerjakan. Mengasuh dan mengantarkan anak kyai sekolah. Masak dan mencuci bareng Ummi. Membersihkan rumah. Dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Banyak kisah yang pernah saya dengar tentang keberkahan ilmu yang diraih santri sebab perilaku baik pada gurunya. Dalam banyak cerita itu, kehidupan sang santri penuh dengan keberkahan. Tidak hanya untuk dirinya saja. Tapi juga menular kepada orang-orang yang hidup di sekitarnya. Juga menular kepada orang-orang yang hidup bersamanya.

"Sejauh mana laku baikmu pada guru, sejauh itu pula keberkahan ilmu yang akan kamu peroleh kelak," ujar Kyai waktu dulu.

***

-Maju-

[6/7 18.56] Niko: Assalamualaikum. Selamat malam Ustadz. Punten. Saya mohon saran dan nasihat Ustadz. Beberapa hari kebelakang saya terpikir Fatiha. Jika beliau belum ada yang meminang dan menurut Ustadz saya baik untuk Fatiha dan Fatiha baik untuk saya. InsyaAllah saya akan coba maju untuk menghubungi beliau. Mohon nasihat dari ustadz.

[6/7 20.29] Kyai Rofiq: Wa'alaikum salam wr wb. Kalau Fatiha memang masih sendiri. Nanti saya dialog dulu dengan Ummi ya, Niko.

[6/7 20.31] Niko: Baik Ustadz.

***

[8/7 15.58] Kyai Rofiq: Assalamualaikum wr wb. Bismillah, Niko, saya dan Ummi sudah menghubungi Fatiha. Dia dan keluarganya menyerahkan ke kita.
Saya dan Ummi setuju dan mendukung. Tapi tetap kita sarankan ke Fatiha agar istikhoroh dulu karena itu rahasia Allah. Jadi malam ini dia istikhoroh -in syaa Allah-. Sebaiknya Niko juga istikhoroh. Fatiha tadi juga cerita bahwa dulu pernah mimpi dilamar ikhwan dan dulu memang tanya ke kita, tapi tidak menyebutkan namanya. Sekarang dia mengaku jika ikhwan itu adalah Niko. Fatiha pesan agar Niko langsung telfon orang tuanya, tidak ke dia. Ini nomer telfon orang tua-nya. 081*********. Jadi sebaiknya Niko langsung telfon.

[8/7 16.20] Niko: Walaikumussalam. Baik Ustadz. InsyaAllah malam ini saya juga akan istikhoroh. Mohon doa dari Ustadz dan Ummi. InsyaAllah besok atau lusa saya akan telfon orangtua Fatiha.

***

[9/7 19.57] Niko: Assalamualaikum. Ustadz punten. InsyaAllah malam ini saya ingin telfon orangtua Fatiha. Tapi saya malu Ustadz. Khawatir salah bicara. Mohon doanya Ustadz.

[9/7 20.13] Kyai Rofiq: Wa'alaikum salam wr wb. Bismillah saja. Kedua orang tuanya sudah menunggu telfon dari Niko. Sukses in syaa Allah.

***

-Mohon izin-

"Sebelum saya menyampaikan maksud baik saya. Saya mohon izin untuk bercerita dulu, Bu. Boleh? "

"Silahkan Dek Niko," jawab ibu di seberang pulau.

"Alhamdulillah selama tiga tahun saya tinggal satu pesantren dengan Fatiha. Meski tidak banyak interaksi, insyaAllah saya sedikit tahu bagaimana kebaikan-kebaikan Fatiha. Saya sudah bertanya kepada Kyai. Saya juga sudah diskusi dengan mamah dan bapak. Dengan mengucap Bismillahirrahmaanirrahiim, saya memohon izin untuk meminang Fatiha menjadi istri saya."

Obrolan berlanjut. Lebih lama dari yang saya bayangkan. Dan lebih banyak kalimat keluar dari jumlah pertanyaan dan jawaban yang telah saya siapkan pada secarik kertas. Untungnya. Perbincangan ini tidak semenyeramkan yang saya lamunkan sebelumnya.

"Dek Niko."

"Iya, Bu. "

"Sekarang giliran Ibu yang ingin bercerita boleh? "

"Mangga, Bu. "

"Ini masih sebatas hayalan Ibu saja ya. Jadi begini. Tidak lama sebelum malam ini. Kami sudah merencanakan pernikahan tetehnya Fatiha. Pernikahan itu insyaAllah akan dilaksanakan enam September nanti," jelas ibu Fatiha.

"Sebelum Dek Niko telfon. Kami sudah diskusi dengan keluarga. Bila nanti Dek Niko datang untuk melamar Fatiha. Bagaimana jika pernikahannya dibarengkan saja dengan pernikahan tetehnya. Ini masih sebatas khayalan ibu dan keluarga saja. Silahkan nanti Dek Niko obrolkan saja dulu dengan keluarga."

***

-Doa terbaik-

[9/7 21.08] Niko: Assalamualaikum, Ustadz. Alhamdulillah saya sudah telfon orangtua Fatiha. InsyaAllah saya akan diskusi dengan mamah dan bapak. Mohon selalu doa terbaik dari Ustadz. Semoga diberikan jalan yang terbaik. Terima kasih banyak Ustadz.

***

[10/7 07.59] Kyai Rofiq: Niko, bagaimana hasil dialog dengan orangtuanya Fatiha? Dan bagaimana pendapat bapak dan mamah Niko?

[10/7 08.02] Niko: Alhamdulillah semalam, selepas telfon orangtua Fatiha. Saya langsung bicara dengan mamah dan bapak. Mamah dan bapak insyaAllah setuju dengan usulan orangtua Fatiha. Jika ada takdirNya, pernikahannya dibarengkan dengan tetehnya Fatiha. Mohon doanya dari ustadz dan Ummi.

[10/7 08.06] Kyai Rofiq: Dzulhijjah Jum'at ketiga berarti?

[10/7 08.07] Niko: InsyaAllah kata ibu Fatiha demikian Ustadz.

[10/7 08.08] Kyai Rofiq: Alhamdulillah.
Permintaan saya disampaikan apa tidak? Saya meminta agar Fatiha tetap diberi kesempatan oleh Niko untuk sebulan sehari atau dua hari setoran  hafalan ke Ar-Risalah, sebab saya ingin dia tetap melanjutkan hafalannya.

[10/7 08.12] Niko: InsyaAllah saya juga berfikir tentang itu Ustadz. Saya ingin Fatiha tetap setoran ke Ummi. InsyaAllah diusahakan dalam satu bulan Fatiha harus ada setoran hafalan ke Bandung.

[10/7 08.41] Kyai Rofiq: Alhamdulillah saya dan Ummi sangat bahagia dengan kabar baik ini, Niko. Semoga Allah mudahkan semuanya. Aamiin.

[10/7 08.44] Niko: Aamiin Yaa Allah. Mohon selalu doa terbaik dari Ustadz dan Ummi.

***

-Pekanbaru-

Pesawat berputar di langit Pekanbaru. Bersiap untuk mendarat di kota bertuah. Setiap detik yang berdetak. Degup jantung bertambah cepat. Sebab di bandara sudah ada yang menunggu: Orangtua Fatiha.

Jika boleh berharap. Ingin sekali pesawat tetap di atas. Terus berputar tidak turun ke darat. Karena saya malu. Malu yang teramat sangat.

Pesawat mendarat. Saya dan paman melangkah ke luar bandara. Di sana, sekitar dua puluh meter di tempat penjemputan. Ada empat buah senyum manis yang mengarah pada saya dan paman. Senyum milik ayah, ibu, paman, dan tantenya Fatiha.

Dalam perjalanan dari bandara ke rumah Fatiha. AC mobil dipasang dingin. Entah mengapa, dahi saya lembab dengan keringat. Kedua telapak tangan juga kuyup. Why?

Di ruang tamu, keluarga besar Fatiha berkumpul. Minus Fatiha yang masih di Bandung. Kami berbincang. Saya lebih banyak mendengar.

"Fatiha itu cucu kesayangan nenek," ujar ibu Fatiha sambil melihat nenek. Nenek mengiyakan dengan anggukan sumringah. Setelah kalimat ini. Obrolan lebih banyak berkisah tentang Fatiha. Dan saya masih lebih banyak mendengarkan. Sesekali tertawa karena penuturan ibu dan nenek.

Allah. Allah. Allah. Hampir pada setiap kisah ibu dan nenek, saya kagum pada skenario Sang Maha Agung. Kepingan-kepingan puzzle impian saya tentang sosok pendamping hidup. Seperti telah tersempurnakan malam itu.

"Allah itu Maha Baik. Dulu saya sering berkhayal ingin punya istri yang usianya jauh di bawah saya. Sekarang, insyaAllah khayalan itu akan menjadi nyata. Allah tidak hanya memberikan apa yang kita inginkan. Tapi memberikan apa yang kita butuhkan dan inginkan," tutur saya menanggapi kisah-kisah ibu dan nenek. Kemudian kami tertawa renyah. Alhamdulillah.

Perbincangan kami melahirkan beberapa keputusan. Adalah: InsyaAllah walimah Fatiha tidak bersamaan dengan tetehnya. InsyaAllah 6 September 2018, Kamis malam, bada isya, adalah akad saya dengan Fatiha. Kemudian insyaAllah, hari Sabtu, 8 September 2018, adalah resepsinya. Dan insyaAllah, akad dan resepsi tetehnya Fatiha akan dilaksanakan dua bulan berikutnya.

Satu lagi. InsyaAllah untuk syukuran di rumah saya (Kampung Cipacung. RT 21/07. Desa Karang Suraga. Kecamatan Cinangka. Serang. Banten) akan dilaksanakan hari Minggu, 2 September 2018.

"Yaa Tuhan kami, anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikan kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Furqon: 74).


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar