Jumat, 18 November 2011

Semangkuk Baso Panas


Sore ini bumi sedang basah. Baru saja hujan lebat reda. Tidak biasanya, hujan tadi sangat menyeramkan. Gemuruh petir menggelegar berulang kali. Layaknya bunyi klakson mobil yang saling bersahutan kala lampu merah berganti dengan hijau, namun mobil paling depan tidak juga maju karena pengendaranya tidak sadar kalau lampu sudah berganti warna. Angin bertiup sangat kencang, sampai-sampai gorden warna cokelat yang menutupi jendela ghurfahku berkibar-kibar macam sangsaka merah putih saat upacara peringatan kemerdekaan di kecamatan-kecamatan pada tujuh belas Agustus. Keadaan luar menulari suhu dinginnya pada suasana kamar. Ghurfahku kini menjadi dingin. Air raksa warna biru yang ada di dalam termometer putih drastis menurun.

Saking kerasnya petir menyambar, Mamat terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata, lalu berkedip berulang kali. Nampaknya ia sedang berpikir, apa yang sedang terjadi sekarang ini? Kenapa ada suara keras berulang-ulang? Apakah Amerika sedang menyerang Indonesia? Atau Gunung Api Tangkuban Perahu sedang erupsi? Mamat masih tampak kebingungan. Sepertinya, nyawanya belum sepenuhnya kumpul semua. Dengan balutan selimut tebal kusam miliknya itu, ia serupa karung goni yang berisi jengkol seberat satu ton. Jika bukan karena kedipan matanya, semua orang yang melihat tidak akan tahu jika seonggok benda aneh itu adalah makhluk hidup. Petir kembali menggelegar. Mamat semakin cepat mengedipkan mata.

Beneran, ini tidak bohong. Selama lebih dari dua tahun tinggal di kota kembang, baru kali ini aku menjumpai hujan selebat dan seseram ini. Salah-satu temanku mengabariku lewat SMS. Katanya, di kos-kosannya, dia mendapati hujannya bercampur dengan butiran-butiran es kecil. Aku penasaran dengan berita itu, karenanya aku mengintip ke luar lewat jendela. Benar! Sesekali kujumpai butiran kecil es berjatuhan dari langit! Ini adalah untuk yang kedua kalinya aku melihat langsung dengan mataku sendiri hujan es. Menakjubkan!

Suhu semakin dingin saja. Langsung kukenakan jaket hitam tebalku. Aku duduk dipojokan kamar sembari menikmati suasana sore ini. Perlahan gemuruh hujan melemah. Sepertinya sebentar lagi hujan akan reda. Benar saja. tidak berselang lama, hujan lebat mereda. Hanya buih-buihnya saja yang masih melayang dan menari-nari di udara. Namun, suhu dingin masih enggan untuk pergi. Ia masih menetap disini, di ghurfahku.

Saat-saat dingin seperti ini, tiada kegiatan lain yang lebih nikmat selain makan yang hangat-hangat. Pikiranku melayang pada baso yang ada di pasar gerlong. Ingin rasanya aku segera menghangatkan tubuhku dengan baso itu. Betapa nikmatnya seandainya saja ada semangkuk baso panas dihadapan. Kuahnya masih panas, terlihat dari uap yang mengepul-ngepul diatas mangkuk. Saat dihirup uap yang mengepul itu, wanginya sangat pekat sekali. Air liur membanjir di mulut karena tidak tahan ingin segera menyantapnya. Dimasukan saos sambal sekitar lima sendok makan. Lalu dicampurkan pula setengan sendok makan air cuku. Kemudian sedikit kecap, dan disempurnakan dengan dua sendok kecil cabai ulek. Setelah diaduk, kuah basonya berubah menjadi warna merah kecoklatan. Air kuahnya semakin kental. Beberapa butiran baso kecil, satu buah baso besar, toge, sledri, sesin, dan bihun bercampur menjadi satu. Segera diciduk sedikit kuahnya. Setelah dicicipi, lidah ini langsung bergetar macam seorang bujang yang sedang melihat wanita cantik berjalan dihadapannya. Aroma hangat kuah itu menjalar keseluruh tubuh. Hangat sekali.

Baso yang paling besar di potong empat dengan menggunakan sendol dan garpu. Pada perut baso besar itu, terdapat daging cincang yang warnanya sudah menjadi cokelat. Salah-satu potongan baso besar itu diciduk lagi bersama toge yang layu karena kuah panas. Potongan baso dan toge itu bercampur dengan sedikit kuah. Saat cidukan itu masuk mulut. MasyAllah, nikmat sekali. Panas dan pedas bergumul menjadi satu. Semuanya disempurnakan oleh hembusan angin dingin sore hari. Luar biasa nikmatnya.

Aku tidak ingin kenikmatan yang luar biasa ini hanya kurasakan dalam hayalan saja. aku akan sesegera mungkin mewujudkan lamunan itu menjadi nyata. InsyAllah, sebentar lagi aku akan meluncur menuju pasar gerlong. Duhai mas baso pasar gerlong, tunggulah aku. Aku akan segera tiba.
***

Aku berjalan sendiri di jalanan geger kalong menuju pasar. Buih-buih air masih enggan untuk menghentikan tariannya. Buih-buih itu terombang ambing oleh angin lembut yang bertiup. Angin lembut itu menyapa wajahku yang tidak ditutupi. Buih air itu menempel pada mukaku. Aku usap buih itu. Segar dan dingin berbaur menjadi satu.

Beberapa motor berjalan pelan di jalanan. Pengendaranya mengenakan jas hujan, ada juga yang menggunakan jaket hujan. Sesekali, ada satu atau dua pengendara yang melajukan motornya dengan kencang. Jika diperhatikan, pengendara kencang itu tubuhnya tidak sedang terlindungi jaket atau jas hujan. Baju mereka basah kuyup. Aku bisa merasakan betapa dingin yang mereka rasa.

Aku tiba di pasar gerlong. Pada tempat parkir kendaraan, di salah-satu sudutnya, terdapat warung tenda yang beratapkan terpal biru. Kudapati ada beberapa pembeli disana. Empat orang laki-laki dan seorang perempuan. Kalau boleh menebak, jika dilihat dari penampilannya, sepertinya mereka semua adalah mahasiswa.

Tiga dari empat laki-laki itu duduk pada bangku panjang menghadap meja. Mereka sedang menambahkan saus dan kecap pada kuah basonya. Laki-laki tersisa masih mengobrol dengan mas baso. Sepertinya dia sedang mengeluarkan rayuan maut agar mas baso memberikan sedikit tambahan baso pada mangkuknya. Seorang perempuan duduk pada bangku panjang lain yang masih kosong. Sementara aku duduk di bangku panjang yang berhadapan dengan para pemuda yang sedang menikmati basonya. Bangku kami hanya dipisahkan oleh meja yang diatasnya terdapat beberapa botol saus.

Tiga pemuda di hadapanku saling berbisik. Sayup-sayup kudengar bisikan mereka. Jangan dianggurin tuh. Bisik salah-satu dari ketiga pemuda itu. Beberapa detik berselang, mereka bertanya sesuatu pada perempuan berbaju pink yang sedang menunggu giliran memesan. Perempuan itu menjawab. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pertanyaan yang dilayangkan para pemuda itu padanya. Tidak hanya itu, rayuan-rayuan keluar dari mulut pemuda itu. Tidak heran kenapa mereka mengeluarkan jurus maut, karena perempuan berbaju pink itu memang cantik, imut lebih tepatnya. Tapi sayangnya, karena terlampau berlebihan, tampaknya perempuan imut itu merasa terganggu dengan godaan-godaan para lelaki hidung belang itu. Jangankan dia yang tergolong sebagai manusia perasa, dirikupun, yang ditakdirkan Allah sebagai seorang lelaki, merasa illfeel mendengar rayuan gombal mereka. Enek aku mengupingnya. Kalau saja hidup ini merupakan permainan video game, dan aku adalah yang memainkannya. Akan aku gerakan tangan mas baso untuk memukulkan periuk basonya pada tempurung kepala pemuda hidung belang itu. Biar tahu rasa mereka. Namun sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu.

Tiba saatnya giliran perempuan berbaju pink memesan. Dia memesan baso dengan komposisi yang ia inginkan. Perempuan imut itu masih berdiri di samping kiri mas baso. Sepertinya dia mencoba untuk menghindar dari godaan para hidung belang yang mengganggunya. Mas baso membuat baso pesanan perempuan yang bediri disamping kirinya.

“ Campur Mas?” tanya mas baso padaku. Ia memutar kepalanya padaku. Mendengar pertanyaan itu, terbersit sebuah pemikiran dalam kepala. Rasa-rasanya, inilah saat yang tepat. Ia, benar, inilah waktu yang tepat untuk melakukan itu. Yaitu memberikan pelajaran berharga pada para lelaki hidung belang yang sedang rakus menyantap baso mereka.

Untuk sesaat aku terdiam di atas bangku panjang. Aku pura-pura berpikir menentukan komposisi baso yang hendak kupesan. Sesaat kemudian aku beranjak menuju mas baso. Aku berdiri disamping kanannya. Aku berdiri mematung sambil pura-pura mengamati tumpukan baso, mie kuning, bihun, dan beberapa sayuran di gerobak baso. Alarm dikepalaku berbunyi. Sekaranglah waktunya!

“ Campur Mas?” tanya mas baso sekali lagi.

“ Emmmm, komposisinya samain dengan Teteh yang ini aja, Mas,” ujarku pada mas baso. Ia melayani permintaanku. Sepintas, kudapati seorang perempuan berbaju pink yang berdiri di samping kiri mas baso melebarkan bibirnya. Perempuan imut itu tersenyum. Nampaknya ia memalingkan wajahnya padaku. Ia menatap diriku. Namun aku pura-pura tidak melihatnya.

Tiba-tiba saja, sesuai dengan harapanku, para pemuda gombal itu berhenti berceloteh. Mereka serupa burung pipit yang tidak sengaja menelan biji mangga. Mereka terdiam sejuta bahasa. Mereka membisu. Alhamdulillah, caraku berhasil. Aku senang.

Aku kembali duduk pada bangku panjang yang tadi kududuki. Namun kini, aku mengambil posisi agak mendekat pada para lelaki yang membisu dihadapanku. Aku santap baso bagianku dengan santai. Sambil melahap baso, dalam hati aku berbicara. Cara yang kalian tempuh tadi itu sudah kuno kawan. Sekarang sudah tidak berlaku lagi. Wanita itu lembut hatinya. Gunakanlah cara-cara yang lembut pula. Aku menyiduk lagi kuah basoku yang kental. Aku lahap lagi. Nikmat sekali.

Perempuan berbaju pink berjalan menuju bangku panjang sambil membawa semangkuk baso. Ia duduk pada bangku yang tadi ia duduki. Sepintas kudapati wajah perempuan itu berubah warna. Warna mukanya kini menjadi pink, persis dengan warna baju yang ia kenakan. Pink merona.

Untuk kalian para lelaki yang hanya bisa menunduk memandangi mangkuk baso yang kalian santap, gunakanlah cara-cara yang baik jika hendak menarik perhatian seoang wanita. Wanita itu lembut hatinya. Belailah hati mereka dengan cara yang lembut pula. Tapi, jika diriku boleh memberikan saran. Sebelum itu, lihat dulu kedalam diri kalian. Liat dulu niat kalian. Jika niatnya memang baik, maka berikanlah kelembutan itu. Tapi jika niat kalian salah, jangan sekali-kali untuk mengamalkan hal ini.

Dan untuk engkau wahai perempuan imut berbaju pink. Semoga Allah tidak mempertemukan kita kembali. Demi kebaikan kita bersama.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar