Senin, 30 Oktober 2017

Kecerdasan Sosial

"Saya adalah wakil orang tua teman-teman di sini. Jika teman-teman butuh bantuan atau apapun, silahkan ceritakan pada saya," ucap saya di sela-sela pembelajaran.

"Asiiiiiiik," ujar beberapa santri dengan bibir mengembang. Juga wajah sumringah.

"Tapi!" Saya mengangkat telunjuk. Tanda sebuah persyaratan. "Selama permintaan itu baik, dan saya bisa melakukannya. InsyaAllah akan saya bantu," saya melanjutkan kata.

"Kemudian. Karena saya adalah wakil orang tua. Jadi teman-teman juga harus nurut. Tentang apapun itu. InsyaAllah semuanya adalah untuk kebaikan teman-teman semua. Sebab tidak ada orang tua yang ingin anak-anaknya celaka."

"Yaaa...," duduk tegap beberapa siswa melemah. Namun, senyum mereka masih ada.

"Demi kebaikan."

"Iya Stadz."

***

"Saya ingin cerita."

Jika ada kata "cerita" dalam kalimat saya. Biasanya kelas menjadi hening. Para santri fokus melihat saya.

"Begini. Ketika sosialisasi international education program yang ke Jordan kemarin. Ada beberapa orang tua yang berharap dan bahkan menekankan agar pihak sekolah memberikan fokus lebih pada rasa persaudaraan antara santri yang ikut ke Jordan dengan yang tidak. Dan saya menangkapnya, sesungguhnya kalimat itu mengarah pada rasa persaudaraan pada semuanya."

"Kemudian. Seusai acara, saya sempat berbincang dengan salah satu orang tua teman-teman," saya berhenti sebentar. "Uniknya, isi obrolan kami memiliki inti yang serupa dengan harapan orang tua yang saya katakan tadi. Yang beliau tanyakan adalah bagaimana hubungan putranya dengan teman-temannya."

"Jika kita tarik sebuah kesimpulan, maka benang merahnya adalah kecerdasan sosial. Bagaimana sikap teman-teman pada orang-orang sekitar. Bagaimana kepedulian teman-teman pada kawan-kawan."

"Pertanyaannya. Mengapa yang dikhawatirkan dan ditanyakan orang tua teman-teman itu adalah rasa persaudaraan dan kepedulian teman-teman? Mengapa yang ditanyakan itu bukan bagaimana nilai akademik atau nilai pelajaran teman-teman?"

Mereka diam. Tidak ada yang menjawab.

"Karena kecerdasan sosial itu jauh lebih penting dari nilai rapot teman-teman."

"Saya sangat berharap. Mulai detik ini, kita semua harus saling peduli. Saling mengingatkan. Kita ikut senang saat teman senang. Kita sedih ketika teman sedih." Saya menekankan kalimat dengan sebuah kepalan tangan.

***

Esoknya. Ujian pertama akan kami mulai. Setengah jam sebelum kelas usia. Saya mengarahkan para santri untuk melakukan pemilihan perangkat kelas. Yakni ketua kelas dan jajarannya. Setelah diskusi tentang cara pemilihan, akhirnya kami putuskan dengan cara musyawarah mufakat.

Santri mulai bermusyawarah. Hasilnya mengerucut pada tiga nama. Dari sini diskusi mulai alot. Hingga akhirnya diputuskan untuk melakukan voting.

Voting dilakukan. Hasilnya disambut sorak riuh rendah. Saya hanya tersenyum melihat pandangan di hadapan saya. Ya, hanya tersenyum. Sebab tidak ada satupun santri yang menampakkan wajah tidak terima dengan hasil pemilihan. Tidak satupun.

Kelas kami tutup dengan foto bersama. Para santri yang terpilih sebagai perangkat kelas saya arahkan untuk jongkok/berdiri selutut. Sementara yang lain untuk berdiri di belakang.

"Ciiiirrss!" Titah saya sambil pegang kamera hape.

Bersamaan dengan senyum anak-anak di depan. Saya ikut tersenyum. Satu saja sumbernya. Adalah kebersamaan mereka. Memang banyak yang mengatakan bahwa hanya Allah yang tahu apa isi hati seseorang. Tapi, ustadz saya di pesantren dulu pernah berkata seperti ini. "Allah melihat hati. Manusia tidak bisa melihatnya. Tapi fisik itu (penampilan, ucapan, raut wajah, dll) menunjukkan bagaimana isi hati."

Alhamdulillah. Ujian pertama insyaAllah telah kamu lewati. Saya yakin, akan ada ujian lebih berat di depan nanti. Semoga kami bisa melaluinya. Meski saya yakin itu tidak mudah.

***

* Rabu, 2 Agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar