Senin, 30 Oktober 2017

Mimpi

Ketika pertemuan sekolah dengan orang tua siswa, ada informasi menarik yang diungkapkan oleh Ibu Ani Hanifah saat memaparkan program bimbingan dan konseling sekolah. Intinya, ada beberapa persoalan siswa yang paling sering muncul. Peringkat tiga teratas adalah: Belum terbiasa tinggal di asrama, belum menemukan bakat dan minat yang dimiliki, dan belum menemukan orientasi masa depan/cita-cita. Dari tiga hal mendasar ini, kemudian mereka belum menemukan alasan kuat untuk selalu bergairah dalam menjalani hari-hari sekolah.

Saya manggut-manggut mendengar penjelasan Ibu Ani. Teringat saat kuliah BK di kampus dulu.

Kemudian saya teringat satu hal lagi. Yang masih ada kaitan antara kenangan masa kuliah dengan materi Ibu Ani. Adalah menemukan dan menguatkan cita-cita. Kala itu saya berbincang dengan Kang Jayus. Teman satu kosan yang sekarang sudah menjadi dosen muda di Surya Institut. Buah dari obrolan ringan itu kemudian membuat saya semakin bergairah untuk segera menemukan mimpi saya, lalu berjuang keras untuk menjadikannya nyata.

Oke. Saya akan coba. Saya akan coba menyampaikan kembali apa yang saya dapat dari Kang Jayus kepada anak-anak. Semoga mereka bisa merasakan apa yang dulu saya rasakan. Semoga siswa yang belum menemukan impian, segera berusaha untuk menemukannya. Dan semoga siswa yang sudah menentukan mimpinya, terus berusaha keras untuk segera mewujudkannya.

Ah, saya tak sabar ingin segera bertemu anak-anak. Tak sabar.

***

"Acungkan tangan bagi siapa saja yang sudah memiliki cita-cita?"

"Angkat tangan yang tinggi bagi siapapun yang sudah memiliki impian?!" Saya menegaskan.

Anak-anak mengangkat tangan mereka. Antusias!

"Oke. Turun." Saya menyisir wajah anak-anak satu persatu.

"Sekarang angkat tangan bagi yang belum memiliki mimpi, atau yang masih ragu dalam memilihnya?"

Pelan-pelan lima anak mengangkat tangan mereka. Ragu-ragu.

Saya menunjuk satu dari mereka. "Jika boleh saya tahu, kenapa belum memiliki cita-cita?"

"Masih ragu-ragu, Stadz, hehe." Jawabnya sambil menyeringai. Tidak yakin.

"Kamu kenapa?" Saya menunjuk yang lain.

"Bingung Stadz. Kebanyakan."

"Hahahaha." Kelas bergemuruh. Siswa yang satu ini memang tidak jarang membuat kelas dihias tawa karena celotehnya.

"Yaa yaaa," saya manggut dan tersenyum ikut terhibur.

Saya berjalan ke meja. Mengambil dua lembar kertas kosong yang sudah saya siapkan. Lalu kembali ke depan kelas.

Satu lembar kertas ada di tangan kanan saya. Satunya di tangan kiri. Kemudian bersamaan saya remas keduanya. Anak-anak melihat apa yang saya lakukan. Terfokus pada tangan saya yang meremas kertas. Mereka diam saja. Dari warna wajahnya, tampaknya mereka penasaran dengan apa yang akan saya lakukan.

"Saya minta dua orang untuk membantu saya. Silahkan dua orang ke depan!"

Dua siswa beranjak maju. Saya minta mereka berdiri berseberangan. Satu di pojok kanan. Satunya di pojok kiri.

Kelas mendesis oleh bisikan. Bisikan anak-anak yang menertawakan dua temannya di depan. Akan diapakan mereka? Mungkin itu tanya dalam kepala mereka.

"Coba teman-teman perhatikan dua bola kertas ini!" Saya angkat bola kertas di tangan saya. "Ini apa?"

"Bola kertas Staaaaadz," jawab siswa berjamaah.

"Benar. Sekarang saya akan berikan dua bola ini pada teman kita," saya melangkah ke pojok kanan. Memberikan bola pada siswa yang berdiri. Dia menerima dengan wajah yang masih bingung. Masih belum paham maksudnya.

"Oke teman-teman. Sekarang saya minta semuanya perhatikan dua teman kita yang ada di depan. Perhatikan juga dua bola kertasnya. Perhatikan apa yang akan saya perintahkan. Semuanya. Jangan terlewatkan momen apapun, meski satu detik saja. Lalu di akhir saya minta ada yang bisa menarik kesimpulan dari simulasi ini."

"Baik. Ini instruksi pertama saya." Saya memberi jeda. Melihat wajah-wajah di hadapan saya. "Bagi yang pegang bola. Saya minta lemparkan satu bola!"

"Kemana Stadz?" Tanya siswa yang pegang bola. Wajahnya penuh tanya.

Saya tidak jawab. Hanya tersenyum saja. Langkah pertama simulasi ini berhasil.

"Saya minta lemparkan satu bola!" Saya mengulang perintah saya.

"Kemana Stadz?" Dia bertanya lagi.

Saya tidak jawab.

"Silahkan lemparkan satu bola!" Sekarang saya melihat wajah yang memegang bola. Dia melihat saya. Ada pertanyaan pada sorot matanya. Kemana Stadz? Saya jawab dengan gestur terserah. Dengan muka masih bingung dia ragu-ragu melempar bola kertas ke depan.

"Oke!"

Saya kembali melihat anak-anak. Rupa-rupa wajah mereka. Ada yang mengernyitkan dahi. Menyipitkan mata. Mengangkat alis. Mereka mencoba mencari maksud.

"Instruksi selanjutnya. Saya minta lemparkan bola kedua pada teman kita yang sedang berdiri di sana!" Saya menunjuk siswa di pojok kiri depan.

TUWIIIIING!

Bola kertas terbang ke seberang kiri. Mengenai tubuh yang mematung berdiri.

Saya diam beberapa detik. Melihat wajah siswa satu Persatu. Senyum mulai terlukis pada beberapa bibir mereka. Ada yang mengangguk-angguk seperti sudah memecahkan sebuah teka-teki berhadiah besar.

Saya masih diam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"Angkat tangan yang paham dengan arti dari simulasi ini?"

Tujuh siswa mengangkat tangan. Berebut ingin ditunjuk.

"Kamu!" Saya menunjuk yang acungan tangannya paling tinggi.

"Lemparan pertama belum jelas tujuannya. Jadi bingung akan melempar kemana. Tapi lemparan kedua, karena tujuannya sudah ada. Bola langsung dilempar pada instruksi pertama."

"Lantas apa artinya?"

"Kita harus memiliki tujuan yang jelas. Kita harus memiliki impian yang jelas. Supaya kita tidak bingung dalam menjalani hidup ini." Jawabnya yakin.

"Yakiiiin?" Saya menguji.

"Yakin Stadz!"

"Yang lain bagaimana?"

"Iya Stadz. Sama. Setujuuu."

"Oke. Kalau memang seperti itu. Lalu apa yang harus teman-teman lakukan sekarang?"

"Miliki cita-cita!"

Saya tersenyum puas. Jika digambarkan dengan sebuah kata. Kata itu adalah: Bahagia! Sungguh.

"Mulai hari ini. Diawali dari detik ini. Di kelas ini. Mari kita pilih satu impian kita. Yang sudah, silahkan perkuat lagi. Bagi yang belum, tentukan impian itu sekarang juga!"

Pada akhir sesi. Saya membagikan kertas pada anak-anak. Saya perintahkan untuk menuliskan impian mereka. Dengan jelas!

Di ujung waktu. Kami berfoto bersama. Menunjukkan mimpi-mimpi kami. Menunjukkan mimpi kami pada kamera. Menunjukkan mimpi kami pada dunia!

Setelah sesi foto bersama usai. Anak-anak kembali duduk.

"Oke teman-teman. Foto ini akan saya simpan baik-baik. Saya sangat berharap. Sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang. Ketika kita melihat kembali foto ini. Kita tersenyum mengenang memori hari ini. Sebab pada waktu itu kita semua sudah benar-benar membuat mimpi kita menjadi nyata!"

"Aamiin!!!!!!!" Teriak semua siswa.

Saya melihat foto di hape saya. Lalu tersenyum. Sebab di antara anak-anak. Ada saya di sana. Ikut menggenggam sebuah kertas yang ada tulisannya. Saya tidak mau kalah oleh mereka. Saya juga ingin terus menghidupkan impian saya. Terus. Terus sampai mewujud. Hehe.

***

Nurul Fikri, Cinangka, Serang, Banten. Senin, 21 Agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar