Jumat, 30 Agustus 2013

Buku Bersampul Warna Ungu (4)


Empat hari yang terlewat, interaksi Akang dengan buku-buku kuliah semakin intens saja. Tidak sedikit buku yang ia lahap habis demi kemudahannya dalam mengisi setiap soal yang diberikan para dosen. Dengan kesibukan itu, Akang sendiri tidak begitu sadar jika hari ini adalah hari Kamis. Empat hari sudah Akang bergelut dengan soal ujian. Besok, tidak ada jadwal ujian. Ada jadwal lagi nanti hari Rabu dan Kamis depan.

                Hari Jum’at besok memang tidak ada jadwal ujian. Tapi anehnya, beban pikiran yang dirasakan Akang malah lebih besar ketimbang empat hari lalu, saat ia bergelut dengan soal ujian. Penyebabnya hanya satu. Yaitu nasib kepulangannya untuk menghadiri acara remaja di kampungnya. Acara itu akan berlangsung Sabtu malam. Tepatnya setelah isya. Jadi, jika dihitung-hitung, acaranya hanya tinggal dua biji hari lagi. Sedangkan sampai sekarang. Hingga detik ini. Kondisi dompet Akang sedang sekarat. Itulah aktor utama yang sekarang membuat kepala Akang muter-muter seperti seekor kucing yang sedang ingin mencabut plastik yang tersangkut di kepalanya. 

                “Kenapa, Kang? Mukanya kusut gitu? Pusing mikirin soal ujian ya?” Mamat menoleh pada Akang yang sedang duduk menghempaskan punggungnya pada dinding kamar. Mamat kembali melihat buku di hadapannya. 

                “Gak kenapa-kenapa, Mat,” jawab Akang lemas sekali.

                “Mmmh,” gumam Mamat sambil tetap menatap buku.

                Jika melihat keadaan dompet yang seperti ini. Satu-satunya jalan agar Akang tetap bisa pulang kampung mungkin bergantung kepada orang yang sedang membaca buku di hadapan Akang, yaitu Mamat. Ya, satu-satunya jalan kini hanya tinggal itu. Akang meminjam uang untuk ongkos, kemudian dibayarnya nanti pas tanggal muda. Tapi, itupun jika Mamatnya sedang ada uang. Jika tidak!

                Baiklah. Biar perkaranya menjadi jelas, Akang segera mencoba peruntungannya. Sedikit demi sedikit Akang mulai mengumpulkan nyali. Pelan-pelan ia melepaskan sandarannya dari dinding. Akang menegakan duduknya, agak sedikit mendekat pada Mamat.

                “Mat,” panggil Akang ragu-ragu.

                “Mmmh.” Mamat masih membaca buku.

                “Mat,” panggil Akang lagi.

                “Hhhm. Iya,” Mamat menoleh pada Akang.

                Akang nyengir. Seperti sengaja ingin menunjukan susunan giginya. 

                “Ada apa, Kang?” 

                Akang nyengir lagi. “Anu, Mat. Saya mau minta tolong. Boleh?” 

                “Apa?”

                “Mau pinjam uang seratus ribu.”

                “Ooooh. Kirain teh apa. Bisa-bisa,” jawab Mamat pendek.

                Eh. Hanya segini sajakah perjuangan yang Akang lakukan? Segampang ini sajakah transaksi peminjaman itu? Akang numayan sedikit heran. Tadinya dia pikir akan sulit. Tapi ternyata tidak. Akang tersenyum. Dengan semua kemudahan ini, sepertinya takdir memang mengharuskan Akang untuk pulang kampung. 

                “Uang itu buat apa Kang ya?” Mamat bertanya. Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Akang.

                “Buat ongkos pulang, Mat.”

                “What! Mudik lagi?!”

                Akang sedikit terkejut tersebab ucapan Mamat yang sedikit meninggi.

                “Iya.”

                Mamat menutup buku yang sedang dibaca. Ia menggeser posisi duduknya. Kini Mamat menghadap pada Akang. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian diakhiri dengan sebuah senyuman menyelidik. “Hayoooo, pasti karena Si Kembang Desa itu ya? Ngakuuuu!” 

                “Bukan, Mat. Ini karena acara remaja yang kemarin-kemarin saya ceritakan itu. acaranya kan malam Sabtu nanti,” Akang mencoba meluruskan.

                “Alaaaah. Alesan aja itumah. Saya yakin kok, pasti ada penyebab lainya juga kan? Apalagi jika bukan karena rindu ingin segera berjumpa lagi dengan Si Kembang Desa, hehe...,” Mamat menunjuk wajah Akang. Akang hanya menanggapi dengan sebuah cengiran.

                DRRRT DRRRT DRRRT

                Getaran hape Akang menghentikan perdebatan Akang dengan Mamat. Akang mengambil hapenya yang tergeletak di meja laptop.

                Ada sebuah pesan masuk. Akang langsung membacanya. Serius sekali Akang membaca pesan itu.

                “Hah!” Akang sumringah. Lalu menatap Mamat.

                “Kenapa, Kang?” Mamat bertanya penasaran.

                “Sepertinya saya gak jadi pinjem uangnya, Mat.”

                “Lho, kenapa? Pulangnya gak jadi?” Mamat melipat keningnya.

                “Bukan, Mat.” 

                Akang nyengir. Ia memperlihatkan layar hape ke hadapan Mamat. Ia sengaja melakukan itu, supaya teman sekosannya itu bisa dengan mudah membaca pesan yang barusan datang.

                Mamat menyipitkan kedua matanya. Agar kalimat yang ada di layar hape Akang dapat dengan mudah terbaca.

                Coba cek rekening ya. Barusan saya kirim honor cerpen yang minggu kemaren dimuat. Selamat bersenang-senang, Bro. Kami tunggu cerpen berikutnya. 

                Mamat melotot. Kemudian ikut nyengir. Pesan itu datangnya dari seorang redaktur majalah remaja tempat cerpen-cerpen Akang biasa dimuat. 

                “Asiiiiik. Malam ini kita makan dimana nih, Kang?” Mamat merayu Akang.

                “Maunya dimanaaaa?” Akang meladeni tantangan Mamat.

                “Weisss. Beneran nih, Kang?” 

                “Hmm.” Akang mengangguk.

                “Kita makan ramen aja di restoran jepang ya,” usul Mamat.

                “Baik. Malam ini kita makan ya.”

                “Weisss. Mantaaaap!” Mamat manggut-manggut.

                “Malam ini kita makan di warteg samping mesjid langganan kita,” Akang melanjutkan kalimatnya yang tadi belum beres.

                “Eh????” raut wajah Mamat berubah seratus delapan puluh derajat.

                Akang nyengir menatap muka Mamat.
***

                Mata Akang berbinar. Penyebabnya adalah deretan angka yang tertera pada layar mesin ATM.

                “Wuiiih!” Akang terperanjat mendapati saldo di ATMnya kini ada setengah juta. Satu saja yang terpikir saat ini. Eh bukan, tapi dua. Bukan, bukan, tapi tiga! Pertama, adalah menyisihkan sedikit rezeki untuk membayar shodaqoh. Kedua, setelah ashar nanti Akang akan mentraktir Mamat makan ramen. Ucapan Akang pada Mamat tadi itu hanya untuk menjahili Mamat saja. Lalu yang ketiga adalah, setelah magrib nanti, Akang akan langsung meluncur ke toko buku. Selain membeli beberapa buku yang dibutuhkan, Akang juga ingin membeli sebuah buku bersampul warna ungu yang sudah beberapa waktu lalu memang telah diincar olehnya. Buku itu bukan untuk dia baca. Tapi untuk diberikan kepada seseorang di kampung sana. Semoga saja, saat di kampung nanti, akan ada kesempatan bagi Akang untuk memberikan buku ini kepada seseorang itu. Semoga saja. Semoga!
***

                Jam empat sore. Bis yang akang tumpangi masih melaju di tol Jakarta-Merak. Mobil besar itu meluncur membelah udara Serang yang panas menyengat. Akang duduk sambil memeluk tasnya. Pandangannya ia arahkan ke luar jendela. Pada deretan perbukitan yang memanjang mengikuti jalan. Bapak setengah baya yang duduk di samping Akang, sedang tenang di alam tidurnya.

                Jam setengah lima sore. Bis keluar pintu tol. Beberapa menit lagi akan segera tiba di terminal Pakupatan, Serang. 

                Hape Akang bergetar. Ada sebuah pesan masuk. 

                Akang merogoh saku celana. Belum juga pesan itu di baca, bibir Akang sudah tersenyum.

                Akang jadi pulang? Sudah sore kok belum datang. Acaranya tinggal beberapa jam lagi.

                Akang langsung membalas pesan Hena.

                Alhamdulillah Akang sudah ada di Serang, Na. Jika lancar, mungkin setengah enam tiba di kampungnya. Na do’ain atuh supaya jalannya lancar ya... :-)

                Hena membalas lagi.

                :-)
***

                Puji syukur kepada Sang Maha Baik. Acara yang barusan digelar berjalan sesuai harapan. Dari sisi hiburan, jika dilihat dari antusias warga, mereka semua terhibur. Semoga saja demikian juga dengan sisi syi’arnya. Semoga setelah acara ini, akan ada banyak lagi para remaja kampung yang ingin bergabung dengan pengajian remaja ini. Aamiin Yaa Allah. 

                Selepas evaluasi, semua panitia melakukan bersih-bersih berjamaah. Setelah semuanya dirasa beres, akhirnya tiba juga waktu untuk istirahat. Istirahat di rumah masing-masing.

                Akang pulang bareng dengan beberapa remaja pengajian. Mereka jalan bergerombol. Satu demi satu remaja itu izin duluan karena mereka berbeda jalan. 
                Saat ini gerombolan itu hanya tinggal empat orang saja. Seorang laki-laki dan tiga orang perempuan. Laki-laki itu adalah Akang. Dan satu dari tiga orang sisanya adalah Hena. Mereka berempat pulang ke arah yang sama. Akang berjalan di sisi jalan sebelah kanan, dan ketiga perempuan berjalan berdekatan di sisi jalan sebelah kirinya. Sesekali mereka mengobrol. Sekedar mengisi keheningan.

                “Akang, Hena, kami duluan ya,” ujar dua orang remaja perempuan. 

                “Iya. Hati-hati ya,” jawab Akang. Hena hanya memberi sebuah senyuman. Kedua remaja itu berpisah. Mereka masuk pada gang kecil meninggalkan Akang dan Hena berdua saja. Memang, di antara gerombolan tadi, rumah Akang dan Hena adalah yang paling jauh. 

                Akang dan Hena melanjutkan langkah. Keheningan malam kini mulai terasa. Akang mulai salah tingkah dan tak mampu mengisi perjalanan dengan obrolan. Beberapa langkah yang sudah terlewat hanya diisi dengan kebungkaman. Akang tak berkata. Hena tak bersuara. Hanya derap langkah mereka saja yang terdengar. 

                “Na,” akhirnya Akang membuka kata. 

                “Iya,” Hena menoleh pada Akang yang berjalan agak jauh di sampingnya.

                “Na suka baca buku?”

                Hena tersenyum. Pandangannya kembali mengarah pada jalanan. “Numayan. Tapi masih jarang-jarang sih. Cuman kalo pas lagi pengen aja baca bukunya,” Hena tersenyum lagi.

                “Ooooh,” Akang mengangguk pelan. Mereka masih tetap melangkah. Rumah Hena hanya tinggal sekitar lima puluh meter lagi. Sedangkan rumah Akang sekitar sepanjang lapangan sepak bola lagi.

                “Oya, Na kapan masuk pondoknya?”

                “Senin besok, Kang.”

                “Mmmh,” Akang mengangguk pelan.

                “Kalo Akang kapan ke Bandung laginya?” Hena bertanya balik.

                “Mungkin besok siang.”

                “Hah? Besok? Cepet amat?” Hena menoleh pada Akang.

                “Iya, Na. Akang masih ada ujian hari Rabu dan Kamisnya.”

                “Ooooh. Yang semangat ya ujiannya,” Hena tersenyum.

                Akang juga tersenyum. Tapi tidak pada Hena. Akang hanya tersenyum kepada jalan di hadapannya. “Na juga yang semangat di pondoknya ya.”

                Kedua remaja itu masih tetap melangkah pelan. 

                “Mmm, Na.” Panggil Akang.

                “Iya, Kang.”

                Akang melepas tas di punggungnya. Sambil tetap berjalan, Akang mengambil sebuah buku bersampul warna ungu. “Ini Akang ada buku bagus buat Na,” Akang menyodorkan buku di tangannya pada Hena.

                Hena menatap buku di tangan Akang, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah Akang. “Buku? Buat Hena?” Hena memasang wajah tidak percaya.

                “Iya,” Akang mengangguk. “Semoga buku ini bermanfaat untuk Na.”

                “Aduh,” Hena merasa tidak enak.

                “Ini,” Akang masih menyodorkan buku. Meskipun malu-malu, akhirnya Hena terima juga buku bersampul warna ungu itu.

                “Maksaih, Kang ya,” ucap Hena sambil melihat-lihat sampul bukunya. “Lho? Ini beneran buku punya Akang?”

                “Iya. Kenapa?”

                “Ini kan buku khusus untuk akhwat.”

                “Memang laki-laki gak boleh ya baca buku perempuan?” 

                Hena mesem. “Boleh sih,” ia menahan tawa kecilnya. “Memang Akang sudah baca semua buku ini?”

                “Belum, Na, hehe.”

                “Lho. Lalu kenapa?” Hena mengangkat buku di tangannya. Bermaksud mengsisyaratkan kenapa bukunya diberikan sedangkan yang punyanya belum membaca.

                Akang tersenyum. Ia tahu maksud isyarat Hena.

                “Akang beli buku itu memang bukan untuk Akang baca.”

                Hena menatap wajah Akang. Meminta penjelasan dari perkataan Akang barusan.

                “Akang beli buku itu memang diniatkan untuk dikasih ke Hena.”

                “Hmmm,” Hena bergumam seperti orang kaget. Kemudian ia tersenyum. 

                Akang dan Hena melanjutkan langkah lagi. Keheningan kembali mengiringi perjalanan dua remaja itu. Akang menatap jalan. Demikian juga dengan perempuan di sampingnya. Mereka sama-sama menyunggingkan senyum. Hanya itu saja. Ingin bicara tapi tak berani.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar