Rabu, 22 Juni 2011

Kesempatan Kedua


Satu bulan menjelang wisuda PPM. Tidak terasa, hanya tinggal tiga puluh hari lagi jatahku tinggal di asrama darussalam tercinta. Banyak kenangan disini, dari yang pahit sampai yang manis, bahkan yang asem juga ada. Namun, aku sudah punya rencana lain agar aku tetap masih bisa berteduh di asrama ini. Apa itu? Aku akan mengikuti program santri lanjutan. Seperti yang sudah aku tuliskan di “Mulai Kangen” dulu.

Selepas wisuda, setiap santri dihadapkan pada dua pilihan, yang mana diharuskan memilih satu diantaranya. Pilihan pertama adalah menyelesaikan PPM, artinya, siapapun yang memilih ini, maka mereka mesti segera mendapatkan kos-kosan baru guna mendapatkan tempat berlindung selama masih menjalankan aktifitas kuliah di kota kembang ini. Adapun pilihan yang kedua adalah melanjutkan PPM. Bagi santri yang memilih lanjut, setidaknya satu tahun kedepan mereka akan tetap menjalankan rutinitas seperti sedia kala. Apapun pilihannya, yang jelas aku hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk semua sahabat seperjuangan, kaum Adam ataupun kaum Hawa. Bagi yang tidak melanjutkan, mudah-mudahan mendapatkan lingkungan tempat tinggal yang baik, atau, meskipun tidak mendapatkan yang diharapkan, aku harap sahabat bisa merubah lingkungan tersebut menjadi lebih baik.Sementara untuk yang melanjutkan, mudah-mudahan kita bisa menggunakan kesempatan kedua ini dengan sebaik-baiknya.

Aku akan membocorkan sedikit rahasia tentang diriku. Tapi awas, rahasia ini jangan dibocorkan kepada yang lain ya! Rahasia ini hanya untuk sahabat-sahabat PPM saja. Kelak, setelah kita sibuk dengan kehidupan kita masing-masing, entah itu tugas ataupun hal yang sejenis lainnya, dan Allah menakdirkan kita berpapasan di jalan,kemudian sahabat mendapati saya menunduk, atau pura-pura tidak melihat sahabat, saya beri tahu jawabannya sekarang. Semua itu bukan karena saya sombong, tapi itu semata-mata karena saya merasa malu, terlebih kepada kaum Hawa. jadi, saya harap, sahabat jangan sungkan-sungkan untuk menyapa, atau sekedar memberikan senyuman pada saya.Saya harap, sahabat-sahabat dapat mema’afkan kekurangan saya ini.

Khusus bagi sahabat yang memilih untuk melanjutkan, mari kita belajar untuk menjadi kakak tingkat yang baik. Kita harus menjadi panutan bagi adik-adik santri nanti. Mari kita tularkan semangat kita pada mereka, juga kita berikan peta yang telah kita buat selama satu tahun kebelakang, agar mereka tidak tersesat seperti yang telah kita alami dulu. Mari kita awali langkah dengan menghujamkan bismillah pada diri dan hati kita. Bismillahirrahmaanirrahiim.

***

Ba’da solat ashar di mesjid Baiturrahman, dekat pasar Gerlong, aku langsung meluncur menuju asrama. Satu langkah memasuki gerbang, otakku memerintahkan kepada kaki untuk mampir sejenak ke pohon jambu biji kecil di halaman depan asrama. Sebagai abdi yang baik, sang kaki menuruti permintaan sang raja. Aku berjalan menuju pohon jambu biji. Aku petik beberapa jambu yang sudah masak. Aku makan jambu biji itu sambil nongkrong di teras depan asrama. Sambil menikmati kecutnya rasa jambu, aku melihat beberapa orang di pinggir jalan depan asrama. Mereka melihat ke arah asrama. Satu diantara mereka menunjuk plang yang bertuliskan “Asrama Darussalam, asrama santri mukim ikhwan Da’aruut Tauhiid”. Jika dilihat dari komposisinya, sepertinya mereka adalah sebuah keluarga. Satu ayah, satu ibu dan dua anak.

Sang ayah mengenakan baju takwa. Disampingnya, seorang ibu menggandeng tangan kanan ayah. Ibu itu mengenakan busana muslim warna biru muda.Anak laki-laki mengenakan kemeja panjang warna coklat. Sementara anak yang satunya, yang lebih besar, dia perempuan, busana muslim hijau muda membalut tubuhnya. Mereka berjalan menuju gerbang asrama. Sang ibu melihat diriku, kemudian mengucapkan salam. Aku beranjak sambil menjawab salam beliau. Aku hampiri sebuah keluarga bahagia itu. Ibu itu memberikan tangan kanannya padaku. Aku salami beliau. Aku tempelkan tangan bersih itu pada keningku. Aku salami juga sang ayah. Kemudian kedua anak mereka. Kepada yang laki-laki, kami saling berjabat tangan, dan kepada yang perempuan, aku hanya menempelkan kedua tanganku di depan dadaku. Dia melakukan hal yang sama. Kami saling memberi senyum.

Ternyata, tujuan keluarga bahagia itu ke asrama adalah sekedar untuk melihat-lihat asrama yang tidak lama lagi akan menjadi tempat tinggal anak laki-laki mereka. Terus terang, aku sedikit canggung mengobrol dengan keluarga itu, namun, aku tetap mencoba untuk memberanikan diri. Toh,yang kulakukan bukan hal yang buruk ini, pikirku. Sore itu, aku berubah menjadi guide dadakan.

Aku persilahkan mereka masuk asrama. Yang pertama kali menyambut adalah ruang tamu. Dari ruang tamu itu ada sebuah pintu. Disamping pintu itu terdapat jendela berukuran besar. Dari jendela itu terlihat jelas aula yang berukuran numayan luas. di dalam sana terdapat tiga kamar santri. Sedikit jarak dari jendela besar itu terdapat sebuah pintu. Pintu itu adalah kamar sang mudabbir. Aku jelaskan semuanya pada sang ibu. Sementara ayah dan anak-anaknya hanya manggut-manggut takjub.
Kami melanjutkan langkah.

“ Wah, ada lapangan futsal A!” ucap sang ayah pada anak laki-lakinya.

“ Benar Pak, jika sedikit saja ada waktu luang, para santri langsung main futsal disini,” terangku pada sang ayah. Sang kakak perempuan memegang pundak adiknya. Sang adik tersenyum sambil menatap lapangan futsal.

Kami berjalan lagi. di persimpangan antara jalan mau ke halaman belakang dan kamar-kamar bawah, terdapat sebuah warung kecil. Aku jelaskan kalau warung itu adalah “warung jujur”. Kenapa demikian? Karena warung itu tidak memiliki kasir. Siapapun yang mau membeli, mereka bebas mengambil barang yang dibutuhkan. Sementara uangnya disimpan di tempat yang sudah disediakan.

Kami menuju halaman belakang. Disana terdapat tempat parkir motor para santri. Dibelakangnya ada tiga buah ruangan. Ruangan-ruangan itu adalah gudang. Belok kiri, terdapat beberapa anak tangga. Naik sedikit ada teras memanjang. Sebelah kirinya adalah kamar besar. Kamar itu disediakan untuk santri program APW. Disebelah kanan teras berturut-turut terdapat: dapur umum, kamar santri, kamar mandi dan kamar santri lagi. pada ujung teras sebelah dalam, ada pintu geser besar. Pintu itu adalah pintu alternatif menuju aula dari halaman belakang.

“ Kalau kamar adek yang mana?” tanya sang ibu.

“ Oh iya, mari bu,” aku giring mereka kambali ke warung jujur. Kami berhenti sejenak di depannya. Aku menunjuk ke arah kamar-kamar bawah. Disana terdapat berturut-turut dari yang terdekat dengan warung jujur: dua kamar mandi yang didepannya terdapat tempat mencuci pakaian, dan sisanya empat kamar santri. Kamar pertama dan yang paling ujung disediakan untuk santri DQ. Sementara kamar dua di tengah untuk santri PPM. Kamar nomer dua dari ujung, itu adalah kamarku. Itu ghurfah lima belas kebanggaanku.

Kami menuruni tiga anak tangga menuju kamarku. Aku persilahkan mereka masuk. Sang ibu dan anak laki-laki masuk, sementara sang ayah dan anak perempuan menunggu, mereka hanya melihat dari luar. Beruntung, ketika itu kamarku sedang dalam keadaan bersih dan rapih, karena beberapa saat sebelum itu, Hanif bersih-bersih kamar. Terima kasih Hanif, ucapku dalam hati.Di dalam kamar, aku jelaskan beberapa peraturan asrama dan PPM sebatas yang aku ketahui. Banyak pertanyaan yang ditanyakan sang ibu, baik itu tentang jam belajar, tentang pelanggaran, tentang perijinan, dan beberapa pertanyaan lainnya yang berhubungan dengan PPM.Alhamdulillah aku bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu.

Setelah dirasa cukup informasi yang didapatkan, keluarga bahagia itu pamit untuk pulang. Aku antarkan mereka sampai halaman depan. Sang ibu mengucapkan terima kasih karena merasa telah merepotkanku. Lagi, aku salami keluarga itu satu persatu. Persis seperti pertama kali mereka tiba.

“ Oh ya, saya boleh minta nomernya mas Niko, siapa tahu nanti ada yang ingin saya tanyakan tentang PPM ini pada Mas,” pinta anak laki-laki. aku berikan nomerku padanya. Setelah itu, mereka berjalan kembali menuju jalan depan asrama. Mereka pulang.

***

Ba’da magrib, ketika kami, para penghuni ghurfah lima belas sedang berkumpul dan mengobrol, hapeku yang tersimpan di atas lemari bergetar. Aku ambil hape itu. Kulihat, ada SMS masuk dari nomer baru. Aku buka.

Assalam, mas niko, ini deni, yg td ke asrama santri laki-laki DT. Oya, sy lupa ngasih nomer sy ke mas niko. Ni no sy mas, save yua. Oya, satu lagi mas, ada titipan salam dari mbak untuk mas niko, he....

Aku hanya bisa tersenyum membaca SMS itu. Melihatku tersenyum, Iqbal bertanya,” kenapa Ko, senyum-senyum sendiri?”

“ Nggak, ini saya dapat SMS dari calon santri baru,” jawabku sambil masih melihat layar hape.

Iqbal mendekat,” Dari yang tadi sore kesini?” tanya iqbal penasaran.

“ Iya,” jawabku sambil melihat waja Iqbal yang sumringah.

“ Bales SMSnya Ko, saya titip salam untuk tetehnya,he...” pinta Iqbal cengengesan.

“ Hmmmmm, tadi aja, disuruh nemenin saya gak mau, sekarang setelah orangnya gak ada, begini,” sindirku pada Iqbal. Iqbal hanya menanggapi sindiranku dengan nyengir kuda.

“ Emang tadi ada apa Ko?” Yoga ingin tahu.

“ Iya, saya penasaran nih, emang tadi ada apa gitu Kang?” Hanif ikut nimbrung. Sementara Farhan, dia tetap khusuk dengan bacaan Alqur’annya.

Aku dan Iqbal saling tatap. Kedua alisnya dia gerak-gerakan. Sepertinya dia hendak memberikan kode rahasia kepadaku. Namun sayangnya, aku tidak bisa membaca arti dari kode tersebut.

***

8 komentar:

  1. eh kenal Budi Nurdiansyah ga? tinggal disitu juga kalo ga salah

    BalasHapus
  2. jurusan apa dan angkatan berapa teh, Budi itu?
    dia tinggal di Asrama Darussalam juga?
    mungkin dia angkatan sebelum saya kayanya, alnya, untuk yang PPM 4 ini tidak ada..... :-)

    BalasHapus
  3. tulisan khas kg niko itu,1) real (nama tkoh,tmpat n alur kjadian),2) kbnyakan critanya about ahwat hmhmhm ada apa ini>>>>
    tp....bagus punya ciri khas "about female" hehhehe...

    BalasHapus
  4. Crtanya bgtu hdup, mgkn krna diambl dri pnglman sndri ya..?!

    Bgus, trskn prjuangn...!!!

    Mri crahkn dunia dngan pena..!!!

    BalasHapus
  5. hehehe iya disitu, angkatan tua nampaknya, anak matematika 2006 wkwkwkwk

    BalasHapus
  6. main main lah ke blog saya niko ... kamu geografi juga kan

    BalasHapus
  7. teh putri: iya saya geogafi juga teh, siap insyAllah nanti mampir... :-)

    BalasHapus