Rabu, 13 Juli 2011

Majelis Mobil


Bandung sedang basah. Beberapa hari ini kota kembang mulai diguyur hujan lagi. Godaan untuk solat berjama’ah di mesjid semakin berat saja. Dingin, becek, dan basah adalah beberapa alasannya. Terlebih untuk solat isya dan subuh. Mungkin itulah mengapa pahala berjama’ah kedua solat itu lebih dari yang lain.Jika kita solat isya berjama’ah, seakan-akan kita melaksanakan solat sunnah setengah malam, dan jika kita solat subuh berjama’ah, seakan-akan kita melaksanakan solat sunnah semalaman. Itulah yang aku ingat. Mohon direvisi jika ada kesalahan.

Suhu Bandung terasa lebih dingin dari sebelum-sebelumnya. Petang ini, angin lembut menyelinap masuk kamar lima belas melalui celah-celah jendela dan lubang kecil di bawah pintu. Perlahan angin itu memenuhi ruang kamar. Jaket hitam perserang tak kuasa melindungi tubuhku dari rasa dingin itu. Aku sedikit menggigil, namun, tidak separah ketika pertama kali aku menginjakan kaki di kota ini.

Jam dinding menunjukan pukul setengah tujuh. Langit semakin gelap.Asrama tampak lengang, seperti tidak ada aktifitas. Aku seorang diri di kamar ini, hanya ditemani oleh beberapa barang yang membisu.

“ Niko......” seseorang memanggil namaku di luar, namun, hanya suaranya saja yang terdengar, orangnya tidak tampak.

“ Ko...., Niko...” suara itu terdengar sekali lagi. aku melihat ke arah jendela tak bergorden. Disana tidak tampak sesosok makhlukpun.

“ Niko.....” sekali lagi suara itu memanggil namaku. semakin keras saja. Mataku masih memandang pada jendela. Tidak berselang lama, muncul sesosok makhluk berperawakan kekar, namun badannya tidak terlalu tinggi. Adalah kang Rudi, bagian logistik DT. Dia masuk membuka pintu dan langsung duduk di samping kiriku, dengan jarak satu meteran.

“ Malam ini sampai besok, antum ada agenda tidak?” tanya kang Rudi tiba-tiba. Tangannya memain-mainkan kunci mobil yang sedang dia pegang. Untuk sesaat aku masih bengong sendiri, karena pertanyaan itu datangnya tiba-tiba. Otakku masih loading untuk mencernanya.

Aku memandang langit-langit kamar, hendak mengingat-ingat apa saja agendaku untuk malam ini sampai besok.

“ Besok pagi, sampai menjelang jum’atan tidak ada. Terus, kalau untuk malam ini palingan hanya ikut kajian ma’rifatulloh aja di Daruul Hajj. Memang ada apa kang Rud?” aku memberi tahu kang Rudi.

“ Bagus! Berarti tidak ada agenda yang terlalu penting. Kalau begitu, antum ikut ke rumah saya ya di Majalengka! Bareng Farhan juga. Kita angkut barang kesana. Berangkatnya setelah isya. Perjalanan mungkin sekitar satu setengah jam. Kita tidur disana, terus pulang laginya setelah subuh. Nah, untuk kajian ma’rifatulloh, kita dengarnya lewat radio saja di mobil,” terang kang Rudi panjang lebar. Mendengar semua itu, aku sedikit berfikir. Kang Rudi menunggu jawabanku, sementara diriku, diam mencari jawaban. Kami sama-sama diam.

“ Ke Majalaya, kerumah kang Rud. Sama Farhan juga. Angkut barang. Pulangnya mungkin sekitar jam tujuh pagi ya?” aku bertanya sebagai pertimbangan.

“ Iya,” jawabkang Rudi pendek. Dia masih menunggu jawabku.

Aku berfikir sekali lagi. Aku melihat kang Rudi. “ Siap kang Rud. Saya ikut.”
***

Selepas solat isya di mesjid Baiturrahmaan, aku segera balik ke asrama. Gerimis turun lagi. Mobil pick-up kijang hitam sudah terpalkir di halaman depan asrama. Baknya masih kosong. Kaca mobilnya terlihat berembun.

Pintu asrama sudah terbuka, berarti sudah ada orang yang duluan masuk. Benar, sudah ada kang Rudi dan Farhan di dalam. Merekamembawa potongan kayu.

“ Hayu Niko,” ajak kang Rudi.

“ Siap kang,” jawabku sambil setengah lari menuju kamar lima belas.

Aku ganti pakaian. Celana olahraga PPM dan kaos warna abu-abu yang kupilih, kemudian disempurnakan dengan jaket hujan tebal. Segera aku susul kang Rudi dan Farhan ke halaman belakang, menuju tumpukan kayu, triplek, beberapa kaca, tumpukan tenda bekas dan beberapa kotak amal mesjid. Kami pindahkan semua barang itu ke bak mobil.Semua barang itu menggunung memenuhi bak mobil. Barang-barang itu dilindungi terpal penutup. Penutup itu diikat kuat, agar tidak berjatuhan ketika mobil melaju kencang.

Alhamdulillah.....” ucap kang Rudi, sesaat selepas menyelesaikan ikatan terakhir. Kedua tangannya dia adukan, bermaksud menghilangkan kotoran yang tertempel di tangannya. Terlebih dahulu kami masuk asrama menuju keran wudhu. Kami membersihkan kotoran yang tertempel di tubuh dan pakaian.

DEBB DEBBB

Hampir berbarengan aku dan kang Rudi menutup pintu mobil.

“ Siap!” tanya kang Rudi kepadaku dan Farhan.

“ Siap.” Jawab kami berbarengan.Kang Rudi yang nyetir, Farhan duduk di tengah dan aku duduk di sebelah kiri dekat jendela. Aku sedikit membuka kaca jendela. Angin dingin masuk memenuhi setiap sudut ruang depan.

Bismillahirrahmaanirrahiim,” gumam kang Rudi, bersamaan dengan menjalankan mobil. Kijang pick-up hitam keluar asrama, melaju membelah kedinginan Geger Kalong.Semakin lama, semakin jauh kami meninggalkan darussalam tercinta. Di luar, tetesan air dari langit masih mengguyur bumi, membasahi kaca mobil.

Memasuki tol, mobil melaju kencang. Hujan semakin deras. Pembersih kaca mobil bergerak bolak-balik membersihkan kaca depan. Di dalam, kami khusuk mendengarkan ceramah Aa Gym lewat radio. Melalui kaca depan, aku melihat beberapa mobil yang terkejar dan banyak mobil juga yang mengejar.

Ceramah Aa Gym selesai. Radia MQ FM memutar sebuah lagu islami. Lagu selesai, kang Rudi mematikan radio.

“ Gimana kabar si dia Ko?” tanya kang Rudi padaku tiba-tiba.

“ Si dia siapa kang Rud?” aku balik tanya.

“ Yang dulu ngobrol di depan K-pe sehat,” kang Rudi mengingatkan. Aku sedikit kaget, ternyata kang Rudi masih ingat toh, peristiwa itu.

“ Oooh, sudah tidak kang, belum waktunya.”

“ Belum waktunya gimana?” kang Rudi tanya lagi.

“ Konsentrasi kuliah dulu kang,” jawabku sekenanya.

“ Bagus! Antum telah memilih jalan yang benar Ko,” reflek aku melihat kang Rudi. Kang Rudi juga melihatku, namun hanya sebentar, dia memalingkan wajah lagi melihat jalan. Sementara Farhan, hanya duduk mematung memandangi pembersih kaca yang terus bolak-balik.

“ Nih, Farhan! Niko! dengerin omongan saya!” kang Rudi menegakan tubuhnya. Dia membenarkan posisi duduknya. Aku dan Farhan menatap kang Rudi yang sedang nyetir. Farhan memalingkan pandangannya lagi pada pembersih kaca mobil yang sedang bergerak bolak-balik.

“ Untung antum sudah tidak ada hubungan itu lagi, Ko, jadi saya bisa lebih leluasa ngomongin hal ini,” kang Rudi melirik padaku.

“ Begini. Harus kalian ketahui, setan yang menggoda orang yang belum nikah dengan orang yang sudah nikah itu berbeda. Kepada yang belum nikah, setan selalu membisikan agar selalu berdekatan dengan yang bukan mahromnya. Itulah yang dinamakan pacaran. Bahkan semakin kesini, semakin aneh lagi, sekarang sudah muncul istilah TTM, HTS dan yang sejenis lainnya.

“ Berbeda lagi jika sudah menikah, setan akan selalu membisikan agar pasangan suami-istri itu berpisah, atau dengan kata lain bercerai,” terang kang Rudi kepada kami. Farhan melihat kang Rudi, lalu kembali melihat pembersih kaca yang masih bergerak.

Antum-antum harus tahu hal ini, karena usia-usia antum itu sedang krisis-krisisnya, yang mana keinginan untuk mengenal lawan jenis itu sedang besar-besarnya. Disaat inilah godaan itu akan terasa berat. Setan tiada henti dalam berupaya membisikan hitam itu pada usia-usia seperti kalian.

“ Saya penasaran ingin bertanya pada antum, Ko. Apa yang biasa antum lakukan atau rasakan ketika menjelang tidur atau lagi sendiri pada saat masih ada hubungan dengan akhwat itu dulu? Melamun kan?! Melamunin dia kan?!Antum merindukan dia kan?!!” tanya kang Rudi padaku, namun dia jawab sendiri pertanyaan-pertanyaannya. Aku hanya bengong melihat kang Rudi. Dalam hati aku membenarkan pernyataannya itu.

“ Begini Ko. Harus antum ketahui lagi. Rasa rindu antum pada akhwat itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa rindunya sepasang suami-istri yang sedang merindu. Saya berani sumpah untuk hal itu, karena saya sendiri yang merasakannya.

“ Terus terang, saya juga dulu pernah pacaran. Kalau boleh jujur, saya menyesali hal itu. Banyak waktu yang tersita hanya karena memikirkan pacar saya yang belum tentu jadi jodoh saya, dan ternyata itu terbukti sekarang. Kalau saja waktu bisa diputarkembali, saya akan menggunakan waktu sia-sia itu untuk menghafal Al-Qur’an, mungkin sudah nambah berapa banyak ayat yang sekarang saya hafal.

“ Sampai sekarang saya masih merasa heran kepada para lelaki yang memberikan sesuatu kepada pacarnya. Apa coba untungnya? Malah banyak mudharotnya! Mending ngasih sesuatunya itu kepada ibu atau saudara-saudaranya. Itu lebih bermanfaat, lebih berkah, juga mendatangkan pahala,” terang kang Rudi.

Mobil masih melaju dengan kencang, membelah jalan tol. Hujan semakin deras, bersamaan dengan itu, semakin cepat pula pembersih kaca mobil bergerak. Bagiku, kendaraan yang kami tumpangi ini bukan hanya sekedar mobil biasa, tapi sudah menjadi majelis mobil, lebih tepatnya majelis munakahat.

“ Sudah, yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita harus menatap hari esok. Jadikan peristiwa kemarin sebagai pembelajaran untuk kedepannya. Jangan sampai kita jatuh pada lubang yang sama,” ujar kang Rudi dengan suara yang sedikit lebih tenang.

“ Oh ya, ngomong-ngomong usia kalian berapa, Han, Ko?” tanya kang Rudi padaku dan Farhan.

“ Usia saya dua puluh kang,” jawab Farhan, dengan tidak memalingkan pandangannya dari pembersih kaca mobil yang sedang bergerak.

“ Saya dua puluh dua kang Rud,” jawabku pendek.

“ Wah, berarti sebentar lagi kalian nikah atuh ya? Apalagi antum, Ko. Idealnya, dua atau tiga tahun lagi antum harus sudah menikah tuh, Ko,”ucap kang Rudi sambil tersenyum, namun pandangannya tetap melihat jalan.

“ Segera persiapkan segala sesuatunya dari sekarang, terutama sekali ilmu munakahat. Bahkan, ekstremnya saya katakan, wajib hukumnya mempelajari ilmu ini bagi yang hendak menikah,” suara kang Rudi mulai meninggi kembali.

“ Dan satu lagi yang perlu diingat! Sebelum menikah, yang dibayangin itu jangan yang enak-enaknya aja, tapi bayangin juga yang pahit-pahitnya, agar tidak kaget ketika nanti kita benar-benar mengalaminya.Masalah dalam rumah tangga itu sangat rumit, setidaknya menurut yang pernah saya alami sendiri. Untuk menghadapinya, hanya satu kuncinya, yaitu sabar, titik,” nasihat kang Rudi padaku dan Farhan.

“ Oh ya, gimana, antum sudah menentukan calon istri belum, Ko?” tanya kang Rudi kepadaku. Aku diam tidak menjawab. Kang Rudi menanggapi diamku hanya dengan tertawa ringan.

“ Saya minta ma’af dulu sebelum berbicara hal ini pada antum. Begini, Ko. Ini hanya sebagai pertimbangan saja ya. Ingat! Ini hanya sebagai bahan pertimbangan saja untuk antum. Sekiranya antum belum ada calon, saya sarankan antum per-istri akhwat yang satu ini,” kang Rudi mencoba memberikan saran.

“ Akhwat yang mana kang????” tanyaku penasaran.

“ Akhwat ini baik, Ko, dia penurut, akhlaknya baik, setidaknya sejauh saya mengenal dia. Dia akhwat PPM juga, Ko,” jelas kang Rudi. Farhan melihat kang Rudi, lalu beralih melihatku.

“ Dia itu siapa kang?” celetuk Farhan. Sepertinya dia juga penasaran.

“ Namanya ‘BUNGA’ (nama samaran, untuk menjaga privasi orang yang dimaksud),” jawab kang Rudi. Kami terdiam seketika, yang terdengar hanyalah deruman mesin mobil dan suara deras hujan. Aku dan Farhan saling pandang satu sama lain. Aku melihat kang Rudi. Dia mengangguk padaku.

Aku terdiam lagi. Aku memikirkan apa yang barusan kang Rudi katakan. Aku pandangi jalanan, mobil-mobil saling berkejaran.

“ Tapi tetap, keputusan sepenuhnya berada di tangan antum, Ko, karena ini sifanya hanya rekomendasi saja. Cuman, si bunga itu, menurut pengamatan saya, jika sudah menjadi istri, dia akan menjadi seorang istri yang baik, Ko,” ujar kang Rudi.

“ Iya kang Rud, insyAllah dia akan menjadi pertimbangan saya, itupun kalau nanti dianya mau kang, he...” aku nyengir kuda.

“ Sip. Tapi, siapapun nantinya yang antum pilih, satu kunci agar antum bisa mendapatkan istri yang baik, yaitu, antumnya harus menjadi orang baik dulu.Itu kunci rahasianya,”sabda kang Rudi.

Mobil belok kiri mengambil jalur keluar tol. Mobil terus berbelok dengan lancar, tubuh kami seperti tertarik ke sebelah kanan, aku menyender pada Farhan, Farhan menyender pada kang Rudi, dan kang Rudi menyender pada pintu sebelah kanan. Hujan belum juga reda. Pembersih kaca mobil masih bekerja. Farhan setia memandangi benda bergerak itu. Dia benar-benar setia.
***

1 komentar:

  1. -DEBB DEBBB-nya Pas banget..,
    -BUNGA.. BUNGA.. Apaan? Bilang FULANAH gitu..!! (Hmm..)
    -Kang Farhaaaaannn!!!
    (Kau Membuatku Geram.., GGgrrRRHhh...)


    apapun, fav. ane yg ini nih :

    “ Begini. Harus kalian ketahui, setan yang menggoda orang yang belum nikah dengan orang yang sudah nikah itu berbeda. Kepada yang belum nikah, setan selalu membisikan agar selalu berdekatan dengan yang bukan mahromnya. Itulah yang dinamakan pacaran. Bahkan semakin kesini, semakin aneh lagi, sekarang sudah muncul istilah TTM, HTS dan yang sejenis lainnya.

    “ Berbeda lagi jika sudah menikah, setan akan selalu membisikan agar pasangan suami-istri itu berpisah, atau dengan kata lain bercerai,” terang kang Rudi kepada kami. Farhan melihat kang Rudi, lalu kembali melihat pembersih kaca yang masih bergerak.

    BalasHapus