Jumat, 29 Juli 2011

Nasibmu Darussalam


Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan sekarang. Aku tahu itu, wahai Darussalam yang melindungiku, juga melindungi semua orang yang ada disini, di dirimu, dari dinginnya udara dan teriknya sengatan matahari. Kamu pasti sedang menjerit sedih. Sedih karena ulah orang-orang yang kamu lindungi itu.Tapi jangan khawatir wahai darussalam, semua itu akan ada waktunya. Waktu dimana semua perbuatan akan ada ganjarannya. Disanalah waktunya, waktu untuk kamu utarakan semua kekesalanmu kepada yang telah menciptakanmu dan menciptakan semua orang itu, orang-orang yang kamu anggap tidak memiliki hati itu.Jangan khawatir wahai Darussalam. Bersabarlah.
***

Darussalam dalam masa peralihan. Masa-masa ini adalah masa yang mana barang-barang tergeletak dimana-mana dan tidak pada tempatnya. Masa-masa beberapa orang santri yang tidak melanjutkan program, mengemasi barang mereka untuk migrasi ke tempat tinggal mereka yang baru. Masa-masa penantian beberapa santri yang berasal dari negeri seberang untuk segera berjumpa dengan sanak saudara di kampung nun jauh disana. Masa-masa jiwa banyak santri yang merasa telah berjumpa dengan yang namanya kebebasan. Kebebasan yang menyesatkan. Iya, aku berani mengatakan ini sebagai kebebasan yang menyesatkan.

Masa peralihan ini terjadi hanya beberapa hari setelah pelepasan santri, atau penutupan program satu periode. Pada masa ini, tidak ada lagi rutinitas pembelajaran. Pada masa ini, para santri tidak lagi dibangunkan sebelum subuh, oleh mudabbir untuk segera berangkat menuju mesjid DT guna solat berjamaah.Pada masa ini, para santri dibiarkan bangun sendiri-sendiri. Sang mudabbir hanya akan membangunkan beberapa santri yang setelah adzan subuh selesai belum kunjung juga bangun. Mungkin, cara seperti ini dilakukan guna melatih para santri untuk belajar bangun sendiri. Pada masa ini, sang mudabbir tidak lagi meungumumkan lewat pengeras suara siapa-siapa saja yang piket sampah dan piket mengambil galon air minum. Semua itu dibiarkan begitu saja. Mungkin sang mudabbir ingin menguji seberapa jauh kesadaran para santri akan kebersihan, lebih jauh lagi tentang kesadaran para santri akan sebuah amanah.
***

Beberapa santri yang tidak melanjutkan program, mereka sudah tidak lagi tinggal di darussalam, namun, sesekali mereka datang kesini. Aku tahu, hati mereka belum bisa lepas sepenuhnya akan kenangan disini. Aku yakin itu. Dan bagi santri yang melanjutkan, mereka harus rela menerima keputusan yang dibuat oleh pihak logistik asrama. Mereka harus rela digiring menuju satu kamar. Untuk sementara, paling tidak selama bulan Ramadhan, mereka harus rela tidur tumpuk-tumpukan dengan santri yang melanjutkan lainnya. Hal ini karena, kamar-kamar lainnya di isi oleh santri program dauroh ramadhan.

Pagi ini, di teras depan kamar yang ukurannya lebih besar dari kamar yang lain, barang-barang tertumpuk tidak keruan. Semuanya bercampur aduk, hingga membuat siapapun tidak bisa membedakan mana sampah dan mana barang yang masih bisa dipakai. Tidak hanya itu, di dalam kamarpun keadaannya tidak berbeda jauh dengan yang di teras, bahkan lebih parah. Sampah, barang dan manusia bertumpuk menjadi satu. Di dalam kamar itu, tidak sedikit santri yang sedang tertidur pulas. Tadi, setelah solat subuh, mereka melanjutkan tidur mereka. Posisinya sumrawut, ada yang terlentang, tengkurep, menyamping, dan posisi aneh lainnya. Badan mereka dibalut oleh selimut super tebal.

Tiga buah jam dinding yang tertempel pada dinding kamar, serempak menunjukan pukul delapan. Ketiga jam dinding itu semuanya miring. Mungkin, mereka jadi miring seperti itu karena tertular virus yang bersemayam pada orang-orang yang ada di kamar. Mungkin. Hanya Allah yang tahu apakah itu benar atau tidak.

Tidak semua santri yang hari ini mendapatkan amanah piket menjalankan tugasnya. Mereka sibuk dengan dengkurannya di atas kasur lipat. Mereka tampak menikmati petualangannya di alam mimpi. Mereka bahagia. Tapi apakah mereka benar-benar bahagia? Jika ukurannya hanya hari ini, mungkin benar. Tapi, apakah mereka lupa dengan akan datangnya hari esok. Hari dimana semua perbuatan dimintai pertanggung jawabannya. Hari dimana semua lintasan pikiran akan ditanyai. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.
***

Wahai kawan, coba dengarkan suara hatiku ini. Sungguh, aku sangat kesal kepada mereka yang tidak menjalankan amanah yang diembankan kepada mereka, yaitu amanah kebersihan dan mengambil galon air minum. Sering kudapati, hanya seorang saja yang membersihkan semua sampah yang ada di Darussalam untuk di buang ke tempat pembuangan sampah. Padahal, ada banyak santri yang mendapatkan amanah ini selain seorang santri yang tadi. Lalu apa kerja mereka yang tidak menjalankan amanahnya itu? Menurut penuturan mereka, mereka sedang dalam keadaan sibuk. Bahkan, karena saking sibuknya, mereka mengatakan untuk tidak diganggu terlebih dahulu. Apakah kesibukan mereka itu? Mereka sibuk bermain game, mereka sibuk berselancar di dunia maya, mereka sibuk berpetualang di alam mimpi mereka. Itulah kesibukan mereka.

Wahai kawan, apakah kalian lupa dengan hari esok. Hari dimana semua perbuatan akan ada pertanggung jawabannya. Mungkin, orang yang kalian anggap menerima saja dengan apa yang telah kalian lakukan, yaitu tidak membantu membersihkan sampah dan mengambil galon air minum, padahal itu adalah amanah kalian juga, hati dia benar-benar dalam keadaan ikhlas? Beruntung kalau iya, jika tidak! Ingat, akan ada dua hal yang akan kalian pertanggung jawabkan kelak. Pertama, kalian tidak menjalankan amanah, dan yang kedua, kalian telah mendzolimi orang tersebut. Ingat! Esok, kalian akan berada pada hari yang dijanjikan itu. Pasti.

Wahai kawan, jangan salahkan siapa-siapa jika kelak kalian menemui sebuah kesulitan. Karena mungkin, kesulitan yang datang menghampiri kalian itu tidak lain adalah buah dari perbuatan yang selama ini telah kalian lakukan, yang mungkin kalian tidak menyadari itu. Ingat kawan! Ketika aku, ataupun kalian yang telah berbuat dosa atau kesalahan, itu merupakan seakan-akan kita sedang meletakan ranjau di depan kita sendiri, yang nantinya akan kita injak sendiri, bukan oleh orang lain. Ingat itu kawan!

Kepada siapapun perempuan yang telah Allah izinkan untuk membaca tulisan ini, aku berpesan pada kalian. Ketika suatu hari nanti ada seorang laki-laki yang bertamu ke rumah, dengan maksud menjadikan kalian sebagai seorang istri, mohon diperhatikan terlebih dahulu siapa laki-laki itu. Jika mereka termasuk pada golongan orang-orang yang telah disebutkan di atas, jangan sungkan-sungkan untuk menolaknya. Dan kepada para akhwat PPM, jangan mau jikalau esok, lusa, atau kapanpun itu, salah-satu dari ikhwan PPM memintamu untuk menjadi istri mereka, dengan catatan, jika ketika itu keadaan mereka masih seperti sekarang ini. Termasuk diriku. Jika ikhwan yang akan meminangmu itu sudah berubah tidak seperti sekarang lagi, dan kalian menyukainya, silahkan terima. Tapi, jika keadaannya masih belum berubah, jangan ragu, buang saja mereka ke laut. Termasuk diriku. Ingat itu!
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar