Kamis, 12 September 2013

Pemuda Istimewa (6)



                Tidak terasa, setahun sudah berlalu. Sekarang Akang sudah menggarap skripsinya. Sebuah karya tulis yang disyaratkan untuk sebuah kelulusannya. Sebuah tulisan ilmiah yang katanya akan didedikasikan untuk seluruh masyarakat Banten. Khususnya bagi masyarakat pantai Barat Banten. Sebuah skripsi yang berjudul “Kesiap Siagaan Mayarakat Pesisir Serang Barat, Terhadap Bencana Tsunami yang diakibatkan Letusan Gunung Api Anak Krakatau”. Antusias sekali Akang dalam menggarap judul ini.

                Sementara nun jauh di sana. Di sebuah pesantren modern di Banten bagian selatan, Hena sedang sibuk dengan dunia pesantrennya. Waktu satu tahun sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tidak mengeluarkan air matanya lagi kala sedang teringat pada kedua orang tuanya. Hena mulai mencintai lingkungan barunya. Ia mulai menyayangi teman-teman pesantrennya. Tempat ini. Tempatnya mencari ilmu ini. Sudah seperti rumah kedua bagi Hena.  

                Lalu, apa kabar dengan interaksi antara Akang dan Hena selama setahun terakhir? Tanpa dimulai dengan deklarasi resmi. Tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu, perlahan keduanya mulai membatasi interaksi. Tujuannya tidak lain adalah untuk fokus terlebih dahulu dengan skripsi bagi Akang, dan agar fokus terlebih dahulu dalam mencari ilmu untuk Hena. Tapi, alasan itu sebenarnya adalah alasan nomer yang kesekian. Alasan yang sesungguhnya tersimpan sangat rapih di sudut hati kedua remaja itu.
***

                Setelah direnungkan lebih jauh, interaksinya dengan Hena, semakin lama semakin mencair saja. Meskipun itu hanya lewat SMS, tapi tetap saja ada hati yang bermain disana. Akang sudah mulai merasakan ketidak beresan itu. Jadi, apa kabar dengan semua ucapannya yang sering dia wasiatkan kepada para remaja pengajian? Apa kabar dengan sebuah prinsip yang selama ini dia genggam dengan sangat erat? Dan bagaimana kabar rasa malunya terhadap Allah yang selalu memperhatikan gerak geriknya, bahkan hingga kelebatan pikirannya, dimanapun dan kapanpun? Apa kabar dengan semua itu?

                Semua pertanyaan itu mulai mengusik jiwa Akang. Setiap kali pertanyaan itu muncul di benaknya, maka setiap itu pula Akang merasa malu terhadap dirinya sendiri. Malu dengan wasiatnya untuk para remaja pengajian bahwa seorang remaja yang baik itu harus mampu menjaga interaksinya dengan lawan jenis. Malu dengan prinsipnya bahwa dia tidak akan berlebihan dalam berhubungan dengan kaum hawa, kecuali dalam batas-batas yang dianjurkan saja. Malu pada prinsipnya bahwa dia akan langsung mengunjungi orang tua atau wali seorang wanita yang akan ia jadikan sebagai pendamping hidup saat telah menemukannya kelak. Dan diatas itu semua, Akang malu kepada Allah Yang Maha Mengetahui segalanya. Malu. Sangat malu.

                Astaghfirullahal’adzim! Akang selalu menggemakan istighfar setiap kali kelebatan perasaan itu mengusik kalbunya. Satu hal saja yang membantu Akang dalam menjalani masa-masa kritis itu. Adalah kesibukannya dalam menulis skripsi. Fokus untuk segera menyelesaikan kuliah. Untuk urusan pendamping hidup, nanti juga akan ada jalannya jika memang sudah waktunya. Itulah yang perlahan mampu menenangkan jiwa Akang kembali.
***

                Di mata Hena, Akang adalah seorang pemuda yang berbeda dengan pemuda kebanyakan. Saat pemuda lain sedang asyik dengan dunia mudanya, tapi Akang malah sibuk dengan remaja mesjid lainnya yang jumlahnya hanya dapat dihitung dengan jari saja. Bersama remaja itu, Akang giat dalam mengadakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya bisa menanamkan karakter baik untuk para remaja dan anak-anak kampung. Bahkan, meskipun beberapa tahun terakhir ini keberadaan Akang sudah tidak di kampung lagi. Semangat itu. Semangat yang pernah disuntikan oleh Akang, masih berkibar di angkasa kampung.

                Bagi Hena, Akang adalah seorang pemuda yang berbeda. Tapi, justru perbedaan itulah yang membuat dirinya menjadi istimewa. Ibarat sebuah bola warna hijau di antara jutaan bola warna kuning yang berserakan pada sebuah kolam. Itulah Akang. Hena tahu, mungkin tidak hanya dia yang memiliki pemikiran seperti itu. Boleh jadi remaja putri lainnya juga memiliki pemikiran yang serupa. Bahkan, ada sebagian dari kelompok ibu-ibu yang terang-terangan memuji Akang. Hena pernah mendengar dengan gendang telinganya sendiri. 

                “Andai saja anak perempuan saya seumuran dengan Akang, pasti akan saya jodohkan dia dengan Akang.” Celetuk seorang ibu di sela-sela rumpiannya dengan ibu-ibu lain. 

                Tidak jarang Hena mendapati hal semacam itu. Naasnya, Umminya Hena juga ikut-ikutan terkena virus serupa itu. Seringkali dalam perbincangan kedua anak beranak itu, Ummi menggodai Hena. Menggodai bahwa kelak dia akan menjadi istrinya Akang. Hena selalu cemberut. Ia menekuk wajahnya jika Umminya sedang berbuat jahil seperti itu. Sementara Ummi, dia hanya tertawa saja.

                Sekali lagi, di mata Hena, Akang merupakan seorang laki-laki yang istimewa. Dan, kemudian hal inilah yang membuat diri Hena bangga berbalut bahagia saat bisa dekat dengan sosok pemuda yang satu ini. Ada rasa tidak percaya mendatangi hatinya. Benarkah ini? benarkah dia bisa sedekat ini dengan pemuda istimewa itu? Hena membekap senyum di mulutnya dengan tangannya sendiri. Ia menatap langit-langit kamarnya. Dan terus tersenyum hingga kedua matanya terpejam.

                Namun, ada yang aneh dengan yang terjadi setelahnya. Ternyata, rasa bangga berbalut bahagia yang disebabkan oleh perasaan yang tak terwakilkan oleh kalimat itu memudar seiring bersama kedekatnnya dengan Akang. Kian lama, kian dekat dirinya dengan pemuda istimewa itu. Namun kian dekat, kian pudar pula sebuah rasa yang tak terwakilkan oleh kalimat itu. Aneh. Kenapa bisa begitu? Ketika masih jauh dan berharap bisa dekat, rasa yang tak terwakilkan oleh kalimat itu sangat banyak sekali. Bahkan terkadang, pada waktu-waktu tertentu, bisa meluber seperti bak mandi yang sudah penuh oleh air, tapi kerannya tetap dibuka. Tapi sekarang, saat bayangan terdahulu telah terwujud, mengapa rasa yang tak terwakilkan oleh kalimat itu jadi memudar? Semakin jauh, semakin terus memudar, dan terus memudar. Apakah memang benar jika sebuah keindahan yang dibayangkan kala masih berharap mendapatkan sesuatu itu jauh lebih besar dibandingkan dengan ketika telah mendapatkan sesuatu itu? Apakah memang benar jika keindahannya berbanding terbalik dengan semakin lamanya memiliki sesuatu itu? Kian lama, kian menghilang rasa indah itu? Benarkah?

                Setiap kali Hena memikirkan misteri ini, setiap itu pula dia teringat dengan sebuah cerita dan pesan yang pernah diwanti-wantikan oleh sang Ummi. Tersebab cerita itu, Hena sangat ingin mengikuti jejak yang pernah dibuat oleh Umminya. Juga, tersebab pesan yang diwanti-wantikan itu, sekuat tenaga dia untuk bisa mengelola rasa ketertarikannya kepada lawan jenis agar tetap berada pada yang sewajarnya saja.

                Ummi pernah bercerita, bahwa saat menikah dengan Abah dulu, belum pernah sekalipun Ummi berinteraksi dengan Abah. Ummi memang mengenal Abah, pun sebaliknya, Abah juga mungkin mengenal Ummi. Jadi, sebelum ijab-qabul itu diucapkan, Ummi dan Abah benar-benar mampu menjaga kesucian diri mereka, dan kesucian itu akhirnya benar-benar diperuntukan kepada orang-orang yang mampu menjaga kesucian dirinya pula. Ummi dan Abah, mendapatkan pendamping yang memang pantas untuk masing-masing. 

                Ummi juga pernah berucap, bahwa keindahan hubungannya dengan Abah itu benar-benar sangat tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Keindahannya hakiki. Tidak semu seperti keindahan yang dirasakan oleh orang-orang yang menganut faham pacaran. Indahnya benar-benar indah. Sebuah keindahan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang melakukan pacaran setelah pernikahan. Bukan oleh yang lain. Dan, karena hal inilah Hena sangat ingin mengikuti jejak sang Umminya. 

                Ummi pernah berucap pula, bahwa rasa ketertarikan terhadap lawan jenis itu adalah fitrah manusia. Siapapun di muka bumi ini, yang namanya manusia, pasti akan merasakannya. Jadi, saat fitrah itu sedang menyerang, sementara kesiapan untuk menikah belum ada, maka langkah terbaik yang harus dipilih adalah bagaimana caranya sang manusia itu bisa mengelola rasa yang bertandang ke hatinya agar tetap berada pada jalan yang benar. Bukan membunuhnya! Atau juga memperturutkannya! Buatlah parit yang baik untuk mengalirkan rasa itu supaya bisa bermuara pada lautan yang hakiki. Dan, karena pesan ini, Hena selalu berusaha untuk membatasi interaksinya dengan lawan jenis. Mungkin, setelah sedikit kesalahan yang dia lakukan, remaja putri ini akan segera memulainya kembali. Memulai langkah mulia yang kemarin sempat tersendat. Sekarang, hanya satu saja yang ada di kepalanya, yakni belajar. Jangan dulu memikirkan sesuatu yang jauh dari jangkauan usianya. Terlebih masalah jodoh. Usianya masih sedikit. Masih sekolah pula. Pokoknya belajar. Belajar dan belajar. Untuk jodoh, nanti juga akan datang sendiri.
***

                Kala ada dua orang insan yang sedang berusaha saling menjauh untuk menjaga kesucian diri mereka, pada saat yang bersamaan tersebarlah sebuah kabar yang entah dari mana datangnya. Kabar itu tersebar ke seantero kampung. Cepat sekali kabar itu menyebar. Seperti padang ilalang kering yang terlalap api. Merambat bersama tiupan angin. Cepat sekali.

                Desas-desus itu membicarakan bahwa Akang, seorang pemuda yang aktif di kegiatan-kegiatan keagamaan telah berpacaran dengan seorang putri guru ngaji. Yaitu dengan Hena. Layaknya manusia saat mendapati berita pada umumnya, mereka juga demikian terhadap berita hangat yang satu ini. Terdapat banyak tanggapan pada kabar ini. 

                “Tuh begitu tuh kelakuannya orang munafik. Mulut dengan hatinya berbeda. Bilangnya aja kalau islam itu tidak mengenal pacaran. Sendirinya saja melakukan.” Tanggapan yang keluar dari mulut seorang penduduk kampung yang sebelah sana.

                “Pengajian remaja hanya dijadikan kedok saja. Padahal tujuan utamanya adalah ajang untuk mencari jodoh. Pengajian remaja macam apa itu?!” Seloroh warga lain yang pada awal pembentukan pengajian remaja ini memang sudah sangat anti pati.

                “Hah! Akang jadian dengan Hena? Ooooh, pantesan aja kalau pas pengajian mingguan sedang ada Akang, Hena sangat semangat. Itu tho alasannya.” Ucap remaja putri lain yang mungkin ada sedikit rasa cemburu di dadanya.

                “Akang mendapatkan Hena? Waduh! Saya kalah siap euy!” Tanggapan sebagian kecil remaja yang menaruh hati pada Hena.

                “Ooooh. Begitu ya? Sepertinya mereka dijodohin itu sama Abah Haji.” Rumpian salah-satu kelompok ibu-ibu.

                “Wajarlah, mereka sama-sama baik. Memang pantas kalau mereka jadi.” Tanggapan warga kampung di sebelah sananya lagi. Dan masih banyak lagi tanggapan yang mengeluarkan berupa bunyi-bunyian lainnya. 

                Kabar hangat ini akhirnya tiba juga di Bandung. Akang mendengarnya dari mulut sang adik perempuannya langsung. Ketika itu, kedua kakak-beradik itu sedang mengobrol saling tanya kabar. Hingga akhirnya terjadilah perbincangan itu.

                “Katanya Akang pacaran ya dengan Hena?” tanya sang adik.

                “Hah?” Dada Akang terhenyak mendengar pertanyaan itu. “Kata siapa?”

                “Itu kata orang-orang.”

                “Gak. Itu tidak benar. Itu Cuma Gosip aja mungkin, Dek.” Akang mencoba menerka-nerka sekaligus meluruskan.

                “Tapi beneran juga gak papa kali, Kang. Hena kan cantik, hehe...,” canda sang adik sebelum topik pembicaran beralih ke tema yang lain.

                Pasca obrolan dengan adik perempuannya, Akang terbengong menatap langit-langit kosan. Kabar itu? kabar tidak benar itu? Dari mana bermula? Akang bertanya-tanya. Berbagai skenario coba-coba Akang buat. Tapi, kesemua skenario itu tidak ada satupun yang menghasilkan jawaban yang memuaskan bagi batin Akang. Justru, tersebab percobaan pemikiran itu membawa Akang secara tidak sengaja membuka sebuah kotak pada memori hatinya. Adalah Hena. Seperti percikan api di hutan dengan daun-daun yang sudah kering, perlahan api itu membesar dan membesar. Hingga melahap seluruh isi hutan itu. Seperti itulah kondisi hati Akang sekarang. Bayangannya kepada Hena mulai menyeruak lagi. 

                Tanpa berpikir dua kali, Akang mengambil hape. Ia mengetik sebuah pesan yang isinya numayan panjang.

                Bismillahirrahmaanirrahiim. 

                KLIK

                Pesan terkirim.

                Assalamu’alaikum. Punten Na. Barang kali Hena sudah mendapat kabar tentang sebuah berita yang membicarakan Akang dan Na. Akang baru dapat kabar ini barusan. Jika Na sudah mendengar, ditanggapi dengan bijak aja ya. Barang kali berita itu sedikit mengganggu hati Na. 

                Satu menit Akang menunggu. Belum ada balasan.

                Lima menit menunggu. Belum juga ada balasan dari Hena.

                Setengah jam berlalu. Balasan itu tidak kunjung datang juga.

                Acara menunggu pesan balasan itu terpotong oleh adzan ashar. Akang beranjak dengan malas. Kenapa tidak ada balasan? Tanya Akang pada diri sendiri. Dan, sebuah pertanyaan itu memunculkan keinginan Akang untuk mencoba menghubungi Hena lagi nanti.
***

                Ibarat aliran air yang dibendung, seperti itulah apa yang Akang rasakan pada Hena. Rasa ketertarikannya pada remaja putri yang satu ini, yang sempat dia bendung selama satu tahun terakhir ini, tanggulnya jebol karena berita yang barusan Akang dengar. Berita itu, berita tentang dirinya dan remaja putri itu kembali memicu getaran di hatinya. Seperti bendungan dimanapun di dunia ini, saat jebol, alirannya akan lebih deras dari yang biasanya. Sebab tersimpan tenaga super besar yang telah lama mengendap. Gelombang deras menghantam dada Akang dan menyuruhnya untuk segera menghubungi Hena lagi. Sekuat jiwa Akang mencoba menahan gelombang itu. Namun sayang seribu kali sayang, Akang tak pernah mampu meghalau gelombang super besar itu.

                Tidak apa-apa, Kang. InsyaAllah Hena tidak terganggu oleh berita itu. 

                Pesan balasan yang diberikan Hena. Satu menit sebelumnya, Akang mencoba mengirim pesan yang hampir serupa dengan yang kemarin ia berikan. Akang tersenyum mendapati jawaban Hena yang seperti ini. setidaknya jawaban itu sesuai dengan apa yang ia harapkan.

                Dada Akang kembali bergejolak. Apakah saling berkirim pesan kali ini hanya akan berhenti sampai disini saja? Atau akan terus dilajutkan dengan bahasan yang lainnya? Kemudian, jika berlanjut, topik apakah yang akan mereka bahas? Akang kembali berpikir mencari-cari itu.

                Bibir Akang menyeringai. Sepertinya dia telah menemukan topik yang akan coba dibahas. Telah lama Akang ingin mengetahui jawaban atas persoalan ini. Jawaban Atas sebuah pertanyaan yang telah lama bersemayam di sudut hati Akang. Lalu mungkinkah jawaban itu akan Akang temukan pada hari ini? 

                Tujuan inti dari pertanyaan itu adalah untuk mengetahui sebuah perasaan yang ada pada dada Hena. Apakah pada dada itu tersimpan perasaan yang serupa dengan apa yang ada pada dada Akang? Itu saja. Tidak lebih tidak kurang. Dan, meskipun nanti jawabannya serupa, Akang tidak akan melangkah lagi. Dia akan menghentikan langkahnya hanya sampai pada titik itu saja. Meskipun misalnya nanti langkah itu akan berlanjut, pastinya tidak akan pernah bisa. Sebab masih ada sebuah protal yang menghalangi mereka. Yakni usia. Akang masih kuliah. Terlebih Hena yang masih sekolah. Sekali lagi. Akang hanya ingin mengetahui perasaan Hena terhadap dirinya saja. Itu sudah cukup untuk menenangkan hatinya yang kini mulai bergejolak lagi. Itu saja sudah cukup. Itu saja sudah cukup.

                Na target menikah pada usia berapa?

                Akhirnya, Akang berani juga memencet tombol kirim. Tidak begitu lama, Hena langsung membalas.

                Hah. Pertanyaannya berat, Kang. Susah menjawabnya. Lebih gampang jawab solam matematika, atau fisika, hehe. Kalau soal itu sepertinya masih jauh, Kang. Hena kan masih sekolah.

                Belum sempat Akang membalas, Hena sudah mengirim sebuah pesan lagi.

                Ada angin apa ya Akang menanyakan hal ini?

                Akang tersenyum. Sepertinya semuanya berjalan dengan apa yang Akang harapkan.

                Jawabannya mungkin agak panjang, Na. Tapi coba Akang persingkat saja ya. Tapi sebelumnya Akang mau tanya dulu nih. Beneran Na mau tahu jawabannya? 

                Hena membalas.

                Mangga atuh, Hena ingin tahu. :-) 

                Akang tersenyum lagi. Manis sekali senyumannya.

                Bismillahirrahmaanirrahiim.” Akang meyakinkan diri.

                Akang gak tahu takdir Allah nanti seperti apa. Akang sebagai manusia hanya bisa berencana dan berdoa aja. dikabulkan atau tidaknya itumah hak Allah... Nah, kalo Akang boleh berkata jujur. Akang kan udah numayan tua (hehe), rencananya, jika lancar, tiga tahun dari sekarang, jika ada jalannya, Akang hendak melamar Na untuk jadi pendamping hidup Akang (walaupun Akang belum tahu nanti akan diterima atau tidak, tapi Akang akan tetap mencoba). Soalnya saat itu kan Na baru keluar dari pesantren. dan akang juga gak tahu apakah Na memiliki hati atau tidak pada Akang.>>> (Masih berlanjut)

                Isi pesannya terlalu banyak. Padahal ini sudah Akang ringkas. 

                Akang mengirim pesan lanjutannya. 

Kemudian, Na kan tahu, dalam islam interaksi dengan lawan jenis itu dibatasi. Akang ingin, jika Na memiliki hati yg sama dgn Akang. Akang harap kita tetap menjaga interaksi kita untuk tidak berlebihan. Kita saling mengingatkan saja dalam hal kebaikan ya. >>> (Masih ada lanjutannya)

Akang mengetik pesan lanjutannya lagi.

Itulah rencana Akang. Cuman, Akang tidak tahu kedepannya takdir Allah itu seperti apa. Apakah kita memang berjodoh atau tidak. Untuk hal itu, Akang serahkan saja pada Allah. Nah, kalaupun nanti tidak berjodoh. Kita tetap tidak akan rugi karena interaksi kita tidak berlebihan. Kemudian, kita juga tidak rugi karena telah mendapatkan ilmu dari saling mengingatkan pada sebelum-sebelumnya ini... Intinya, kita serahkan saja kedepannya pada Allah. karena Dia tahu apa yg terbaik untk makhlukNya...

Akang terdiam sejenak. Ia tidak tahu, reaksi apa yang Hena munculkan nun jauh di Banten bagian selatan sana. 

Oh, itu jawabannya. :-) 

Satu saja sebenarnya yang membuat Hena berani membubuhkan lambang senyuman di akhir pesannya. Adalah “Serahkan semuanya pada sang Takdir”. Kalimat inti inilah yang membuat perasaan Hena serasa lega. Seluas lapangan sepak bola. Bahkan lebih. Sebab siapalah yang mengetahui hari esok? Hanya Allah lah yang mengetahui. Tugas makhluk hanyalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.

Akang boleh bertanya satu hal lagi?  

Senyuman di bibir Hena terhapus saat membaca pesan dari Akang yang ternyata masih berlanjut. Masih ada lagi? Gumam Hena.

Mangga atuh, Kang.

Akang mengirim lagi.

Tapi sebelumnya Akang minta Na jawab dengan jujur pertanyaan Akang ya. Jawab apa adanya saja. Sesuai dengan apa kata hati Na.

Kening Hena mulai melipat.

InsyaAllah, Kang.

Hena sedikit was-was menanti isi pesan dari Akang. Dan akhirnya tiba juga.

Tadi kan Akang sudah mengatakan semuanya tentang isi hati Akang untuk Hena. Nah, sekarang Akang ingin tahu perasaan Hena. Apakah isi hati Na serupa dengan yang Akang rasakan? Na, jangan khawatir. Setelah Na menjawab nanti, Akang tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak. Akang hanya ingin tahu saja seperti apa perasaan Na untuk Akang. Itu saja.

Pesan balasan dari Hena baru tiba ke hape Akang setelah lima menit waktu berlalu.

Perasaan seperti apa maksudnya, Kang? 

Belum satu menit, pesan Akang sudah tiba.

Apakah Na memiliki perasaan yang sama dengan perasaan Akang terhadap Na?

Lagi-lagi. Pesan Hena baru tiba setelah lima menit waktu berlalu.

Na harus jawab?

Beberapa detik berjalan. Pesan Akang sudah tiba lagi.

Iya... :-)

Satu menit berlalu. Pesan jawaban Hena belum tiba.

Lima menit berjalan. Belum juga ada getaran di hape Akang.

Tujuh menit. Akang masih diam menatap layar hapenya.

Sepuluh menit. Akang masih setia memandangi layar hape.

Lima belas menit. Semakin erat Akang menggenggam hape. Kedua matanya masih terfokus pada hape di genggamannya.

DRRRT DRRRT DRRRRT

Hepe Akang akhirnya bergetar juga. Pelan-pelan Akang membuka pesan dari Hena.

Bagi Hena, Akang adalah seorang pemuda yang sangat istimewa. Jujur, Hena merasa gembira saat bisa akrab dengan Akang. Dan Hena merasakan sebuah kenyamanan setiap kali sedang berinteraksi dengan Akang. Mungkin, jika ada perempuan lain yang tahu dengan kedekatan kita ini. Hena yakin, sepertinya mereka akan merasa cemburu dan menginginkan posisinya berada pada posisi Hena sekarang... Tapi, jika untuk perasaan (yang orang-orang sebut cinta), jujur, Hena tidak memiliki perasaan itu untuk Akang. Perasaan Hena biasa-biasa saja... Sebelumnya Hena memohon maaf Kang ya, apabila jawaban Hena ini agak kurang berkenan di hati Akang. Sekali lagi. Jujur, Hena sangat bahagia bisa dekat dengan pemuda istimewa seperti Akang.

Akang mematung menatap layar hape. Detak dadanya seperti berhenti bergerak. Bumi seperti sedang berhenti berotasi. Tiga menit berjalan Akang masih seperti tak sadarkan diri. penyebabnya hanya satu saja. Sebuah perkiraan indah di awal tidak terjadi pada dirinya. Ternyata, Akang salah tebak. Ternyata, Akang salah duga. Kenyataan berjalan membelok pada jalan yang tidak Akang perkirakan. Akang masih mematung. Terpaku menatap layar hape.

Maafkan Hena, Kang ya. Hena harap silaturahim kita tetap terjaga meskipun setelah peristiwa ini terjadi. Jujur, Akang adalah pemuda istimewa bagi Hena.

Jemari Akang bergetar merengkuh hape. Jari-jarinya gemeletak di atas keypadnya. Akang hendak mengetik sebuah jawaban untuk Hena. Tapi berat sekali jari itu untuk digerakan. Berat sekali. 

Jemari Akang masih bergetar. Perlahan Akang memencet tombol kirim.

Hena tidak usah meminta maaf. InsyaAllah Akang terima dengan ikhlas semua keputusan Na. Mungkin takdirNya memang harus seprti ini Na.

Akang melepaskan hape dari genggamannya. Hape kecil itu berdebam menghantam kasur lipat tipis. Akang rebahan. Ia menarik nafas panjang. Kedua matanya ia pejamkan. Dalam sekali. Sepertinya, yang terjadi pada Akang sekarang ini disebabkan oleh kurangnya kesiap siagaan hati Akang dalam menerima jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya. Akang lupa. Saat memulai langkah tadi, ia tidak memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. 

Akang kembali menarik nafas panjang. Matanya masih terpejam dalam.

Semoga saja. Jika takdir memang menggariskan Gunung Api Anak Krakatau di Selat Sunda, kelak akan meletus kembali. Berharap, semua penduduk yang ada di wilayah pantai Barat Banten, telah siap siaga dalam menghadapi bencana yang pernah terjadi pada tahun 1883 itu. Sebuah bancana maha dahsyat yang mampu menelan korban sebanyak 10.000 jiwa. Semoga saja mereka telah siap siaga dalam mepersiapkan diri untuk menghadapai maha bencana ini. Sebab, jika penduduk tidak siap, pasti kesedihanlah yang akan muncul setelahnya. Seperti rintihan para korban pada bencana 1883. Seperti rintihan hati Akang hari ini.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar